Sunday, May 03, 2009

Buku-buku Humor Bisa juga bikin Kita Menangis…….



Buku humor tentu diharapkan mendatangkan tawa. Namun di sela anekdot, lelucon mau pun cerita satiris yang tersaji, kerap muncul kejutan-kejutan yang seolah membuat kita tersedak. Lalu mata mengembang dan basah. Dada sesak. Kita menangis. Mungkin karena berempati pada tokoh yang ada pada kisah. Mungkin karena terharu ketika menyadari bahwa di dunia yang sudah tua ini masih juga keluhuran-keluhuran yang langka itu tak berhenti hadir. Atau mungkin naluri kita saja yang bicara. Bahwa hati kita yang membatu ini, ternyata masih peka juga oleh sentuhan kelembutan, bahkan dari selembar naskah humor……..

Tahun 1993 Arswendo Atmowiloto menulis buku ber genre humor dengan judul Menghitung Hari. Buku saku yang tipis ini berisi pengalaman-pengalamannya selama dirinya mendekam di penjara Cipinang karena kasus Tabloid Monitor tempo hari. Pengalaman-pengalaman yang lucu, naïf, unik, konyol tapi juga yang mengundang rasa haru. Arswendo sendiri, seperti yang dikatakannya dalam buku ini, pada awalnya berpikir bahwa dijerumuskannya dirinya ke penjara hanya lah ‘guyonan sesaat,’ tetapi pada perjalanannya ia menyadari bahwa kenyataan berkata lain.

Yang paling istimewa pada buku ini, menurut saya, adalah kemampuan penulisnya menarik hikmah singkat yang lucu tapi bernas. Arswendo tak lagi dendam pada masa lalu. Juga tak mau mencari kambing hitam. Penjara ternyata benar-benar ia jadikan sebagai tempat belajar lagi tentang hidup. Seperti pelajaran yang juga akan kita dapati dari salah satu cerita pada buku itu tentang bajaj.


Nonton Bajaj

Pada hari tertentu, biasanya Rabu, ada beberapa napi yang cukup lanjut usianya berdiri dekat dapur. Mereka seperti gelisah menunggu sesuatu.

Saya tadinya tak begitu memperhatikan, meski pun merasa heran juga. Karena kalau para napi menunggu dibesuk, biasanya mereka berada dekat ruang besukan, bukan dekat dapur.

Baru kemudian saya mengerti, bahwa mereka yang sudah lewat umur ini sekadar menunggu…….bajaj. Kendaraan itu sesekali memang masuk membawa sayuran atau apa untuk dibawa ke dapur.

Bajaj?

Ya, karena kendaraan itu tak pernah dilihat secara langsung oleh mereka yang sudah menghuni tempat ini selama dua puluh lima tahun atau lebih.


Arswendo kemudian menutup tulisan ini dengan kesimpulan yang bunyinya begini:

Hikmah:

Seseorang bisa bahagia oleh hal-hal yang kelihatannya sederhana dan sepele bagi orang lain, karena orang lain itu luput mengenali bagaimana bisa bahagia.


Membaca kisah itu, dalam benak tersembul pertanyaan susul-menyusul. Kerinduan apa kira-kira yang membuat para napi uzur itu bisa demikian sabarnya setiap pagi menunggu bajaj, benda jelek, berisik, lamban tapi masih juga sok lincah berkelit dan ngebut di jalanan jakarta yang ramai dan bergegas? Kepuasan seperti apa yang mereka rasakan tatkala bisa menyentuh si roda tiga oranye yang mungkin hanya beberapa menit singgah di dapur penjara yang terisolasi itu?

Tak bisa kita tebak dengan pasti, tapi dari mereka-rekanya mungkin kita akan bisa ikut tertular imajinasi yang menyenangkan. Siapa tahu satu dari para jompo narapidana itu bisa merasakan syukur dari mengenang masa kanak-kanak berimpit-impit naik bajaj ke sekolah ketika akan menerima rapor kelulusan. Yang lain mungkin mengingat ber-bajaj ria dengan kedua orang tua keliling Monas sambil menyaksikan air mancur yang bisa menari dan bernyanyi. Dan pasti ada pula yang selalu mengenang bajaj sebagai kendaraan paling asyik berkencan, sebab tiap kali sang bajaj menikung dengan tajam, pada saat itu pula ia bisa mencuri dekat mendekap sang pacar......

+++

Empat tahun lalu, Andrias Harefa juga menghadiahi saya buku humor yang ditulisnya bersama Hendri Bun. Judul buku itu, Be Happy, Memulung Keceriaan dari Sekolah Kehidupan. Di atas tanda tangan yang dibubuhkannya di sampul buku itu, ia menulis pesan singkatnya: Eben, tertawa lah lebih buanyak…..!!

Memang betul. Tiap kali saya membacanya, buku saku itu masih juga berhasil mendatangkan senyum di kulum. Entah ketika saya membolak-baliknya sambil menonton televisi, ketika mengusir rasa sepi di atas kereta, mau pun tatkala menghabiskan ritual 5 menit-an setiap pagi di kloset kamar mandi.


Namun dari banyak cerita kocak di buku itu, ada satu yang istimewa dan tak pernah terlupa. Bukan tawa terbahak-bahak yang dimunculkannya, melainkan senyum bercampur mata yang berkaca-kaca. Mungkin karena di rumah saya punya seorang putri yang kini beranjak remaja. Tetapi saya kira yang terutama adalah karena sentuhan kisah itu pada kesadaran kita, bahwa, banyak sekali alasan untuk bersyukur dalam kenyataan sehari-hari. Bahkan bila pun punya anak remaja nakal seperti Dona…..

Surat Nakal

Seorang ibu masuk ke kamar putrinya dan melihat surat tergeletak di atas kasur. Dengan hati berdebar dan tangan gemetar ia membaca surat itu.

“Ma, dengan sangat menyesal dan mohon ampunan Mama, saya harus bilang saya kabur dengan pacar baruku. Saya cintaaa banget sama dia dan dia juga kereeeen…. banget dengan tato di seluruh tubuhnya, juga tindikan dimana-mana. O ya, dia pake motor gede lo, Ma.

Bukan itu aja, Ma. Saya sedang hamil dan Samson bilang kami akan bahagia tinggal di pondoknya di hutan. Dia pengen punya banyak anak, dan itu emang impianku.

Oya, Ma, ternyata mariyuana tuh nggak akan membahayakan kok dan kami berencana menanamnya untuk kami dan juga teman-teman.

Sementara itu kami berdoa mudah-mudahan ilmuwan bisa cepat menemukan obat penyembuh AIDS supaya Samson lekassembuh.

Mama nggak perlu khawatir, Dona kan udah 15 tahun, udah tau gimana jaga diri. Mungkin Dona akan mengunjungi Mama untuk ngenalin cucu Mama.”

Dengan cinta,

Anakmu,

Dona.

NB:

Ma, nggak kok. Semuanya boongan, hihihihihi. Sekarang Dona lagi di rumah tetangga sebelah. Dona cuma mau nunjukin bahwa masih ada hal lain yang lebih jelek dalam hidup ini daripada sekadar nilai rapor yang banyak merahnya.

TUH ADA DI MEJA BELAJAR DONA……

I LOVE YOU MA…..!!

+++

Kemarin, kami menghadiri sebuah acara pengucapan syukur di rumah seorang kerabat. Dan tak henti-hentinya kami diminta untuk selalu menyempatkan diri mencari alasan untuk bersyukur. Teringat pada acara itu, saya kini menyadari bahwa saya temukan lagi satu alasan untuk bersyukur. Termasuk dari kenyataan hidup yang sering konyol dan menyebalkan seperti yang dikisahkan oleh buku-buku humor.

--selesai-

Catatan:

Ada beberapa orang pengunjung yang bertanya kenapa blog ini lama sekali baru dimutakhirkan. Tidak ada alasan apa-apa kecuali yang klise. Yakni waktu untuk berblog-ria yang makin sempit belakangan ini, plus alasan lain yang malu-maluin: komputer dan laptop di rumah terserang virus sehingga harus lumpuh berminggu2. Hahahaha

Sumber Bacaan

1. Be Happy, Memulung Keceriaan dari Sekolah Kehidupan, Andrias Harefa dan Hendri Bun,2005, Gradien Books

2.Menghitung Hari, Hikmah Kebijaksanaan dalam Rumah Tahanan/Lembaga Pemasyarakatan, Arswendo Atmowiloto, Pustaka Utama Grafiti, 1993

5 comments:

  1. risma3:01 AM

    kalau aku malah kangen mau lihat becak motor kayak di siantar....

    nice story bang.

    ReplyDelete
  2. anna tiarta1:20 AM

    Dasar mellow ni si abang. Baca buku humor masih sempat2nya terharu. Tapi bukan cuma abang yang gitu. Bokapku juga. Nonton berita aja masih sempat2nya nangis hahahaha

    ReplyDelete
  3. nanti bikin buku baru aja, bang: BUKU HUMOR YG BIKIN MENANGIS siapa tahu laris lo! kan lumayan. hehehe. aku sih kangen dengan becak. di jkt nggak ada becak. kalau ada, pasti bukan jkt namanya ya? hehehe

    ReplyDelete
  4. Anonymous4:31 AM

    bajaj bikin pekak telinga, minyak wangiku berganti bau asap, rambut kerenku jadi awut-awutan...tapi kog gw gak bosen naik itu yah? apa aku jatuh cinta sama supirnya atau bajajnya atau yang duduk di sebelahku? :P

    ReplyDelete
  5. saya tertarik surat nakal. lucu. ampun deh punya putri yang nekat nulis surat begitu buat mamanya....

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...