Monday, June 22, 2009

Melocerita Eks Rumah Kontrakan Kami



Sebelas tahun lalu…….

Dua bulan sebelum Amartya lahir, kami harus pindah. Rumah petak tempat kami tinggal di Pisangan, Jakarta Timur, habis masa kontraknya. Yang punya rumah tak sudi memperpanjangnya dan merencanakan menjualnya. Agak blingsatan juga ketika pertama kali mendengar keputusan tak terduga itu. Untungnya, lewat koran Pos Kota kami dengan cepat menemukan rumah kontrakan baru yang cocok harganya. Sebuah rumah di kompleks perumahan Pondok Kopi, juga di Jakarta Timur.

Rumah itu lumayan besar. Ada tiga kamarnya. Dapurnya lega. Kamar mandi ada dua meskipun yang berfungsi cuma satu. Dan yang paling kami syukuri tentu tarif kontraknya yang terjangkau. Yang punya rumah seorang birokrat yang ditempatkan di Indonesia Timur. Ia punya banyak rumah di Jakarta, tetapi entah kenapa, menurut dia, rumah yang kami tempati itu yang paling alot mendapatkan pengontrak. Tentu ini menjadi faktor penting yang harus saya syukuri. Dengan begitu, saya bisa menawar harga sewa di bawah harga pasar.

Dibandingkan dengan rumah-rumah lain di kompleks tersebut, jelas lah yang kami tempati ini yang paling sederhana. Sama sekali belum ada renovasi. Mungkin karena si empunya membelinya sekadar untuk investasi, maka rumah itu dibiarkan masih asli seperti pertama kali dibangun. Catnya sudah mengelupas di sana-sini. Kaca nako di beberapa jendela rada macet, harus susah payah bila ingin membukanya. Tarifnya yang cuma Rp3 juta per tahun untuk sebuah rumah tipe 70 tentu membuat kami tahu diri untuk tak menuntut macam-macam.

Betapa pun sederhananya rumah itu, ia terasa akrab. Saya mencintainya sangat. Banyak alasannya. Diantaranya, karena rumah itu ada di Pondok Kopi, kawasan yang tak asing lagi bagi saya. Dulu semasa SMA, saya mondok di rumah Om yang jaraknya hanya dalam hitungan menit dari rumah kontrakan kami. Saya masih ingat beberapa detail kawasan itu. Dan tiap kali melihat lalu-lalang metromini dengan suara tape dan klaksonnya yang seperti saling berteriak, barisan tukang sayur di pagi hari dan warung sate yang mulai sibuk menjelang senja, penjual martabak bangka dengan neon terang-benderang di malam hari, selalu mendatangkan bisikan ‘wah, saya sudah di dekat-dekat rumah nih,’ manakala tiba di kawasan itu.

Pondok Kopi juga adalah kawasan yang dengan mudah mengungkit kenangan masa kecil. Di sepanjang jalan menuju kawasan itu banyak tukang tambal ban. Sudah rahasia umum bahwa sebagian besar yang empunya dan pekerja di usaha semacam ini adalah kawan-kawan sesama Halak Hita. Pagi-pagi sekali ketika kios-kios mereka mulai buka, sudah pasti terdengar lolongan lagu-lagu Batak dari tape yang disetel keras-keras. Saya suka tersenyum sendiri menyaksikan kontras antara wajah-wajah bersiku-siku di satu sisi dengan lagu mendayu-dayu di sisi lain yang mengiringi mereka mengerjakan bagian-bagian sulit membongkar ban.

Tetapi ada alasan lain –dan yang terutama-- mengapa saya mencintai rumah Pondok Kopi itu. Tak bisa saya jelaskan secara persis tetapi selalu bisa saya rasakan. Yakni pada atap rendah berandanya, yang karatan dan seakan merunduk. Sehingga tiap kali saya memasuki rumah itu sepulang kerja, ia seolah sosok yang mengucapkan selamat datang sambil mengangguk-angguk. Seperti sahabat akrab yang mengerti kelelahan sahabatnya. Sehingga ia maklum saja seandainya, misalnya, saya duduk dulu sebentar di kursi bambu di beranda itu sebelum memasuki rumah. Sambil melepas sepatu dan menikmati semilir angin Pondok Kopi yang tak bisa dibilang sejuk.

Beranda itu memang jadi tempat favorit, selain ruang tamu yang lumayan luas. Seandainya ia bisa menulis, beranda itu pasti telah menghasilkan berjilid-jilid cerita tentang perbincangan yang didengarnya. Sambil menunggu tukang bakso atau tukang roti lewat, kami sering mengobrolkan apa saja di sana. Pada malam hari ketika suasana senyap mulai terasa, beranda itu sering jadi tempat merenung dan mengenang-ngenang apa yang patut dikenang, sambil menunggu hawa panas jadi adem menjelang tengah malam.

Tatkala Amartya lahir --dan bertahun-tahun sesudahnya-- rumah itu bertambah ramai. Bapak dan Mamak datang dari kampung ingin menjadi saksi utama kelahiran cucu yang lama ditunggu-tunggu. Dua adik laki-laki saya kemudian ikut bergabung yang menyebabkan rumah Pondok Kopi itu kadang-kadang seperti ‘pasar pagi’ di saat-saat sibuk. Dan lagi-lagi beranda itu jadi saksi bisu tentang banyak hal yang kami perbincangkan dan renungkan. Di beranda itu, misalnya, adik-adik lelaki saya sering ‘menjamu’ teman-temannya sekadar minum teh manis dan makan kacang goreng. Kadang-kadang diramaikan oleh suara gitar dan paduan suara gadis-gadis yang jadi karib mereka.

Bapak dan Mamak yang tak kuat pada panasnya hawa Jakarta, juga banyak menghabiskan waktu di beranda itu sambil mengomel sekaligus mengagumi betapa besar dan bergegasnya Jakarta. Sementara untuk saya dan istri, beranda itu kerap menjadi ‘pemanasan’ untuk merundingkan beberapa hal di satu waktu, atau bahkan mempertengkarkan hal lain di kala lain. Si Mbak yang mengasuh Amartya banyak memanfaatkan beranda untuk membujuk ‘anak asuh’nya melahap serealnya di saat-saat anak kami itu muncul sifat rewelnya.

()()()

Beberapa jam setelah Amartya lahir, Mamak mendekati saya sembari memberi sebuah bungkusan. Bungkusan itu diperolehnya dari suster di rumah sakit tempat istri saya menjalani operasi caesar. Bungkusan itu berisi ari-ari Amartya. “Bawa lah ini ke rumah. Tanam lah di sana,” kata Mamak.

Saya agak bingung. Walau saya tahu ada kebiasaan menanam ari-ari di berbagai tradisi, termasuk Batak, saya juga tahu bahwa banyak orang Jakarta yang tak terlalu menghiraukan kebiasaan itu. Ari-ari bayi seringkali ditinggal begitu saja di rumah sakit. Saya ingin sekali mengatakan kepada Mamak bahwa akan sulit lah menenteng-nenteng ari-ari di Jakarta ini. Tapi ingat pada wajahnya yang demikian serius ketika memberi perintah, urung juga niat itu.


Hari itu memang saya tak ingin berbantah dengan Mamak. Ada kejadian yang membekas beberapa minggu sebelumnya. Kejadian yang menyadarkan saya bahwa kendati zaman makin canggih, pengetahuan makin lengkap, hidup makin mudah, tetapi selalu ada hal-hal yang tak bisa kita atasi dengan otak dan rasio belaka. Dan, Mamak pada usianya yang sudah sebegitu tua, pantas didengar untuk hal-hal semacam itu.

“Aku heran melihat kau,” kata Mamak suatu kali, sambil seperti biasa, memasang wajah berkerut.

“Apa yang mamak herankan?” Saya bertanya karena memang benar-benar tidak tahu. Saya sudah menduga perbincangan kami akan demikian seriusnya, mengingat cara Mamak tadi, menggamit lengan saya mengajak duduk di beranda ini, berdua saja.

“Aku heran. Sebentar-sebentar, kalian lihat buku. Kalau perut istrimu mulas, kau lihat buku. Kalau kakinya agak bengkak, kau lihat buku. Apa kau pikir buku itu bisa menjelaskan segala hal?,” Mamak bertanya.

Saya terdiam karena kini mengerti. Mamak rupanya memperhatikan juga semangat kami yang kadang-kadang berlebihan tetapi juga sering diimbuhi kepanikan menanti lahirnya sang bayi. Harus saya akui, istri dan saya memang sering berlaku sangat 'ilmiah' dalam mempersiapkan diri jadi orang tua untuk pertama kalinya.

Dulu, beberapa hari setelah dokter mengkonfirmasi kehamilan istri, kami berdua segera pergi ke toko buku. Kami membeli beberapa buku panduan kehamilan, tetapi yang paling berkesan adalah sebuah edisi khusus majalah yang diperuntukkan bagi pasangan muda yang menanti kelahiran. Pada edisi khusus tersebut, dijelaskan secara rinci –lengkap dengan foto-foto—tentang apa saja yang berkait dengan proses kehamilan dan usia kandungan. Begitu lengkap dan rincinya penjelasan yang diberikan sehingga kita bisa cepat ge-er seolah-olah sudah sehebat dokter kandungan bila usai membacanya.

Saya dan (terutama) istri agak-agak fanatik pada bacaan tersebut. Sehingga tiap kali dia merasakan perubahan pada kandungannya, kami segera bergegas mengambil majalah itu. Kami membolak-baliknya, mencoba mengacu pada keterangan yang ada di sana. Setelah itu memasang muka manggut-manggut seolah mengerti apa yang terjadi.

Mamak yang sudah berada di Jakarta satu bulan sebelum kelahiran Amartya, agaknya mengamati tingkah-polah kami. Dan bukannya senang, ia malah cemas.

“Aku tahu, buku-buku itu ditulis oleh orang yang pintar-pintar. Tidak ada salahnya juga kalian baca-baca buku semacam itu. Tetapi dalam urusan seperti ini, yang kau hadapi adalah urusan hidup-mati. Dan urusan hidup-mati sepenuhnya ada pada Tuhan. KepadaNya lah pertama kali kau datang bila ada yang sesak dalam pikiranmu. Bukan malah kepada buku pintarmu itu,” kata Mamak.

Saya masih terdiam karena selalu terasa berat berbantahan dengan Mamak. Beranda itu hening. Malam sudah begitu larut dan suara Mamak terdengar demikian jelas. Tiba-tiba saya sadari betapa dekatnya Mamak duduk di dekat saya.


“Hadapi lah ini dengan hatimu. Jangan andalkan pikiran dan pengetahuanmu. Berserah. Jangan cepat panik. Ikuti apa yang jadi suara hatimu. Lang halani gogoh, Bapa (jangan andalkan kekuatanmu, anakku),” Mamak melanjutkan nasihatnya dengan nada berbisik. Tangannya diletakkannya di bahu saya. Dari beranda, saya melihat langit penuh bintang. Dan ketika Mamak mengakhiri nasihatnya, saya melihat dia tersenyum ketika saya mengatakan, “Ya Mak. Aku akan perhatikan nasihat Mamak.”

Bagaimana pun, saya harus mengakui ia telah melewati saat-saat seperti ini jauh lebih awal dan lebih panjang dari saya.

()()()


Persis di depan beranda rumah kontrakan kami, ada sepetak 1 x 3 meter tanah yang berfungsi sebagai taman. Sebagaimana para kaum ‘kontraktor’ pada umumnya yang kadar ‘rasa memiliki’-nya sangat rendah kepada rumah kontrakannya, taman kecil itu hanya saya isi dengan satu dua tanaman murah. Ada niat menanam pohon mangga atau jambu, tapi hati kecil ogah-ogahan. Sebab dengan segera diri ini tersadar bahwa kami hanya akan tinggal sementara di rumah itu dan sudah pasti bukan kami yang akan menikmati buah dari tanaman itu nanti.

Sepetak taman kecil itu lah yang segera teringat di benak saya tatkala menerima perintah dari Mamak untuk menanam ari-ari Amartya. Tak ada lagi tempat yang lebih tepat selain taman kecil itu.

Tak sempat saya tanya tadi bagaimana pandangan tradisi Batak tentang menanam ari-ari. Dalam hati hanya saya aminkan bahwa apa pun maksudnya, menanam ari-ari bayi pasti lah untuk tujuan dan harapan yang baik. Maka ketika tiba di rumah dari rumah sakit dengan menenteng plastik ari-ari, tanpa sempat mengganti pakaian, saya segera bekerja menyiangi dan menggali tanah di taman itu. Tak sampai setengah jam, saya sudah merasa lega. Tunai sudah perintah ibu saya jalankan. Ari-ari putri saya telah bersemayam dengan damainya di halaman rumah kontrakan kami.


Dan waktu terus berjalan. Di tanah yang menutupi lubang tempat ari-ari itu kami tanami perdu-perduan yang ternyata tumbuh subur. Tidak terasa tiga tahun kami menempati rumah kontrakan itu, dan tiba waktunya untuk pindah. Saat-saat terakhir meninggalkan rumah itu saya sempat memandangi beranda itu serta taman kecil tempat ari-ari putri saya bersemayam. Dalam hati saya berkata, suatu saat nanti, saya masih akan kembali ke sini.

Tahun-tahun selanjutnya, sekali-dua kali kami sempat melintasi rumah itu bila ada keperluan atau acara keluarga di dekat-dekat kawasan Pondok Kopi. Namun semakin belakangan hari kian jarang juga, apalagi kawasan Jakarta Timur cukup jauh dari tempat kami tinggal kini.

Dua bulan lalu, saya terpikir untuk mendatangi rumah eks kontrakan itu. Soalnya, tak jauh dari kawasan Pondok Kopi ada acara arisan keluarga yang akan kami hadiri. Maka saya menyusun rencana. Kami akan datang lebih awal. Sebelum ke rumah yang ketempatan arisan, kami akan singgah di eks kontrakan kami itu. Saya ingin mengambil sebentuk kenang-kenangan dari rumah tempat dimana ari-ari putri saya tertanam.


Saya teringat pada ‘curhat’ seorang profesor baru-baru ini seolah mengeluh karena tidak sempat ‘menyelamatkan’ ari-arinya. Dengan nada canda ketika menyampaikan pidato pengukuhannya, dia berkata agar hati-hati menangani lumpur Lapindo di Sidoarjo. “Bagaimana pun saya termasuk korban. Ari-ari saya tertanam di situ,” kata sang profesor, bercanda. Saya berharap semoga bisa terhindar dari kekecewaan seperti yang dialami si profesor. Karena itu saya berniat mengambil satu atau dua kepal tanah dari taman kecil di halaman rumah itu, untuk dibawa dan ditanam kembali di halaman rumah kami di Ciputat.

Setengah jam sebelum mencapai eks rumah kontrakan itu, hati saya sudah mulai degdegan. Jalanan menuju Pondok Kopi yang ramai oleh metromini, motor, pedagang keliling, warung-warung di pinggir jalan dan para tukang tambal ban, menyegarkan lagi ingatan pada masa-masa repot dan penuh trial and error membesarkan Amartya. Beberapa menit sebelum menikung memasuki gerbang masuk perumahan itu, saya rasakan jantung makin kencang berdegup. Gereja yang dulu masih seperti yang dulu. Di halamannya masih banyak orang yang berdiri dan berkerumun, karena ibadah tampaknya baru saja usai. Rumah eks kontrakan kami tak sampai 100 meter dari gereja itu.

Namun, alangkah terperanjatnya kami ketika kendaraan saya hentikan, tepat di depan eks rumah kontrakan kami. Saya tersadar betapa telah bertahun-tahun tak pernah lagi melintas dan menjenguknya, sehingga tak tahu bahwa ia telah berubah. Berubah sedemikian drastisnya, sampai-sampai saya seolah tak lagi mengenalinya.

Ya, rumah eks kontrakan kami itu kini telah menjadi rumah yang demikian megah. Rumah bertingkat yang tinggi dengan kusen dan pintu yang kekar. Tak ada lagi beranda yang merunduk ramah itu. Ia berganti dengan teras beratap tinggi warna-warni. Begitu necis. Begitu resik. Dan tentu saja, bukan kursi bambu yang saya rindukan yang jadi tempat duduk di sana.

Yang paling membuat dada terasa sesak adalah taman kecil tempat saya dulu menanam ari-ari Amartya. Tak ada lagi taman itu kini. Lenyap. Samasekali tak ada taman di rumah itu. Semua ruang telah dipakai menjadi bangunan. Tak ada tanah sejengkal pun, bahkan seandainya saya ingin menjumput sekadar sebagai kenang-kenangan.

Tak sampai 10 menit kami berhenti untuk segera melanjutkan perjalanan. Penyesalan memang selalu datang belakangan. Diam-diam, saya makin menghayati mengapa suara The Black Sabbath begitu sedihnya ketika menyanyikan lagu House for Sale…..

(selesai)

Ciputat, Minggu 21 Juni 2009

nb: tulisan ini terinspirasi dari email yang dikirimkan Mas Bud di kota S yang mengeluh tak bisa menceritakan kampung halaman kepada anak-anaknya, karena dulu ketika kecil selalu berpindah-pindah mengikuti pekerjaan orang-tuanya. Juga kepada Mbak L di B, yang setiap dua tahun degdegan mencari kontrakan baru mengikuti rotasi penempatan suaminya.


4 comments:

  1. paling ga amartya punya 'kampung halaman' pak.
    kenang2an yang menumbuhkan keinginan kuat untuk terus maju kan?

    ReplyDelete
  2. Lagu nya Lucifer lae, bukan Black Sabbath. Boruku Abigail juga lahir di rumah kontrakan. Waktu itu aku nggak tahu apa yang harus di tanam di rumah apakah ari-ari saja atau berikut dengan womb (pembungkus janin)nya. Yang sempat aku selamatkan adalah tali yang melilit diperutnya yang lepas sendiri setelah kering sedang womb nya diminta perawat untuk diteliti katanya. Tali yang kemudian lepas sendiri sesudah mengering itu aku simpan untuk dibawa pulang ke tanah air nanti dan suatu saat akan aku tunjukkan kepada nya.

    ReplyDelete
  3. @wyd: setuju! terutama kalimat yg terakhir. semoga. :-)

    @fernando: ya, lucifer, bukan black sabbath, ternyata. trims sudah membetulkannya. hm, ide yg baik menyimpan tali pusar. tp gimana cara mengawetkannya ya?

    salam

    ReplyDelete
  4. Sebenarnya kalimat diawetkan memang kurang tepat saya gunakan karena yang saya lakukan adalah memasukkan ari-ari itu dalam sebuah kantung plastik yang bisa di vacuum. Yah mudah2an bisa tahan lah sampai dia mengerti apa isi nya.
    Anyway, saya (salah satunya) pernah sukses mengompori seorang blogger untuk membukukan blog nya dan sukses (kalau pernah baca tentang the naked traveller dan kebetulan menurut pengakuannya dia juga punya darah Batak). Saya yakin tulisan Lae juga punya potensi untuk itu.

    Mardongan holong,

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...