Monday, June 08, 2009

Presiden para Pecundang



Dulu pasti banyak orang masih malu-malu mengakui. Tapi sekarang rasanya tak ada lagi yang minder untuk jadi fan fanatik Tukul Arwana. Tiga bulan lalu saya memang agak-agak tersipu-sipu. Seorang sahabat yang sudah lama sekali tak bersua, datang berkunjung ke kantor dan memergoki wallpaper di monitor komputer saya bergambar Tukulman alias Tukul berkostum superman. Di dalam hati ada sedikit gerundelan. Kok nggak terpikir menggantinya dengan sesuatu yang lebih terkesan elit atau intelek. Semisal gambar mobil jaguar atau lukisan wajah Socrates. Padahal untuk menyambut sobat yang datang dari jauh itu saya sudah siaga jauh-jauh hari, termasuk mematut-matut diri di cermin agar terlihat keren ketika berjumpa.

Kini tak ada lagi rasa malu itu. Malah bangga lah yang muncul seandainya pun ketahuan sebagai penggemar Tukul sang face country, money city (wajah ndeso, rejeki kota). Keberhasilannya menjadi host acara Bukan Empat Mata yang tersohor itu telah membukakan mata khalayak. Berwajah ndeso, berpembawaan norak, agak-agak telmi dan tidak nyambung untuk hal-hal yang kita sebut sebagai gaya hidup kosmopolitan, ternyata bukan malapetaka. Sebaliknya, dalam diri Tukul hal itu menjelma jadi energi sukacita dan optimisme mengarungi hidup. Lebih dari itu, kita diajaknya menemukan kenyataan bahwa menjadi diri sendiri yang otentik itu lah kunci sintas (survive).

Pasti lah ada banyak alasan yang berbeda-beda untuk menjadi penggemar komedian yang makin hari makin tampak matang menguasai audiensnya itu. Sebagian orang mungkin menyenangi acara Bukan Empat Mata karena gaya obrolan yang santai dan kocak dengan bintang tamu yang lagi in. Yang lain mungkin senang bisa menertawakan sekaligus mencemooh wajah ndeso sang host. Tak ketinggalan pula orang-orang yang suka pada kekonyolan yang tercipta baik oleh tingkah khas Tukul mau pun oleh dialognya dengan bintang tamu yang sangat sering terpeleset jauh dari yang kita bayangkan.


Lalu saya bertanya dalam hati. Apa sebenarnya alasan saya menjadi penggemar Tukul? Senang dalam caranya berkelit dan mematahkan cemoohan orang menjadi tawa sekaligus memukul balik sang pencemooh? Spontanitas perubahan mimiknya dan gerak-gerik tubuhnya manakala menemukan pernyataan yang tak terduga-duga? Pada wajah ‘bego tapi belagu’-nya ketika ia menemukan sesuatu yang tak ia mengerti di laptop di hadapannya? Candaan-candaan nakal kepada bintang tamu wanitanya, yang sesungguhnya adalah representasi dari imajinasi jahil para penontonnya? Keluwesannya menemukan celah untuk memperlucu sesuatu, walau pun celah itu tampak sangat sempit dan harus disambar dalam tempo singkat? Atau pada keahliannya meniru-niru cara berbicara, berjalan dan berlagak para bintang tamunya sehingga kita terpingkal-pingkal karena menyadari bahwa dalam diri tiap orang yang kita anggap keren, ternyata ada ‘Tukul’-nya juga?

Tampaknya semua itu turut menjadi pendorong saya menjadi pengagum Tukul. Namun ada satu alasan lagi yang saya kira juga penting, kalau bukan yang terpenting. Di mata saya, aksi-aksi yang ditunjukkan Tukul bukan sekadar potret seorang penghibur yang lagi action atau pekerja bisnis entertainmen yang sedang bekerja. Lebih dari itu, Tukul adalah corong yang menyuarakan kegelisahan dan keresahan yang sadar atau tidak sadar, sering tak bisa kita ucapkan, tapi Tukul telah menyampaikannya. Melalui pertanyaan-pertanyaannya, bahasa tubuhnya, ledekan-ledekannya, ia dalam banyak hal telah mendobrak mitos-mitos tentang kesempurnaan para orang-orang hebat dan terkenal. Lewat gaya bertanya dan bercandanya yang urakan, kita merasa ikut terwakili ‘menguliti’ para selebriti itu. Lalu dalam hati kita berkata, ‘ah, apa juga saya bilang. Keren-keren, cantik-cantik, tapi anda-anda selebriti itu kayak kita-kita ini juga, kan?’

Tukul, pria bertampang pasaran ini, dalam hemat saya bukan sekadar ikon wong ndeso, wong cilik dan orang norak, tetapi juga adalah pahlawan. Ia pahlawan bagi orang-orang yang kecewa, dicemooh, dipinggirkan, diabaikan bahkan dianggap tidak ada. Melalui Tukul, kita-kita yang kerap merasa sebagai orang-orang yang kalah, para pecundang (loser), mendapat rasa nyaman karena terwakili tetapi sekaligus juga terlindungi. Hampir keseluruhan diri Tukul mewakili kepecundangan itu. Keterbata-bataannya manakala dipaksa memasuki perbincangan di luar kemampuan wawasannya, roman mukanya yang entah kenapa, seperti tak bisa dipermak lagi untuk bisa naik kelas sedemikian rupa, dan yang terutama adalah riwayat hidupnya yang kita semua tahu, berasal dari lapisan yang seolah semua orang sepakat bahwa ia memang pantas diolok-olok.

Uniknya, tatkala menyaksikan Tukul beraksi, tidak sedikit orang yang segera disadarkan bahwa betapa hebat atau tidak hebatnya pun kita, pada diri tiap kita manusia sesungguhnya selalu ada sisi-sisi kepecundangan. Ini paling tidak saya rasakan manakala duduk terdiam menyaksikan Tukul mengerjai atau dikerjai oleh Vega dan para bintang tamunya. Ketika Tukul dengan susah-payah mencoba membaca laptopnya, misalnya, tapi sudah keburu ditimpa dengan sindiran-sindiran sengak yang menyebabkan mata Tukul mendelik (saya kira dia kadang-kadang tersinggung juga), kita seperti disadarkan bahwa kita pun sering mengalami hal seperti itu. Sudah berusaha sekuat tenaga, tapi oleh prejudice yang entah datangnya darimana, tetap saja dianggap pecundang.


Di Bukan Empat Mata kita bisa menyaksikan hampir semua olok-olok tentang kepecundangan itu dengan mudah dialamatkan kepada Tukul. Tetapi selalu saja ada cara dirinya untuk melihat sisi lain dari cemoohan tersebut. Tak heran bila di tiap ‘debat kusir’ dirinya dengan tamunya, Tukul selalu tampil sebagai pemenang, atau paling tidak, merasa dirinya sebagai pemenang. Dan ketika dengan berbagai aneka gaya dia berkata, ‘Kembali ke lap……’ yang segera diaminkan khalayaknya dengan teriakan ‘Top,’ maka kita gembira karena tahu, Tukul idola kita itu telah memerankan diri sebagai pahlawan kita para pecundang ini. Dia yang seperti bola karet empuk yang dijadikan umpan banyolan dan tertawaan, ternyata pada gilirannya berbalik menjadi singa podium yang didengar suaranya dan diikuti perintahnya bahkan dengan segala kenorakan dan sifat sok tahunya itu. Apalagi yang lebih menyejukkan bagi kita-kita para pecundang daripada menyaksikan ikon kita itu dielu-elukan dan ditepuktangani?


()()()


Di koran Kompas ada seorang penulis yang sering mengulas soal kepecundangan. Namanya Herry Tjahjono. Di tiap akhir tulisan, selalu dicantumkan predikat dirinya yang Corporate HR Director dan Corporate Culture therapist. Tapi dasar anak udik, otak kecil saya ini selalu membawa ingatan ke masa-masa SMP dulu di Sarimatondang tiap kali membaca nama itu. Soalnya, dulu saya selalu ternanti-nanti akan cerpen-cerpen yang dikarang oleh penulis bernama serupa di majalah Gadis dan terutama majalah Anita Cemerlang. Bahkan ada cerita bersambungnya dengan tokoh utama bernama Amanda, yang sampai sekarang saya masih penasaran ingin mengetahui bagaimana akhir ceritanya. Cerita itu begitu menyentuh. Tertancap dalam. Tapi tak pernah bisa saya ikuti dengan tuntas. Maklumlah. Saya hanya bisa baca Anita Cemerlang kala itu manakala tante yang bekerja di P.Siantar sudah usai membacanya. Dan rupanya si tante membeli majalah itu secara ketengan, bukan berlangganan. Lenyap sudah kesempatan mengikuti perjalanan nasib si Amanda, meskipun sampai hari ini rasanya masih ingin mengetahui bagaimana kelanjutan kisah cinta gadis yang digambarkan berwajah lembut dan mendung itu, yang ditaksir berat oleh seorang pemuda yang perokok, tapi anehnya Amanda sendiri benci pada lelaki perokok.

Saya kok begitu yakin bahwa Herry Tjahjono yang cerpenis itu adalah juga Herry Tjahjono yang corporate culture therapist (maaf, kalau salah). Tapi tentu kali ini hal ini tidak relevan. Yang penting, seperti saya katakan tadi, adalah menyimak ulasannya tentang pecundang.

Menurut dia (Kompas 26 Mei), ada dua tipe manusia. Pertama, mereka yang respon kehidupannya ditentukan oleh kondisi sekitarnya (conditional people). Jika kondisi serba krisis, penuh tekanan, mereka kehilangan spirit, dan cenderung meringkuk, atau paling tidak sekadar mengamankan diri. Mereka ini lah menurut Herry Tjahjono para medioker atau sering menjadi pecundang (the loser) dalam kehidupan.


Kata Herry Tjahjono lagi, orang-orang seperti ini sering memandang sukses dan kebahagiaan sebagai penantian, tergantung dari kondisi yang berpihak. Bagi mereka, sukses dan kebahagiaan adalah cap-cap yang dilekatkan kondisi sekitar. Jika lingkungan menentukan, sukses identik uang dan kekayaan, maka mereka tak pernah sukses seberapa pun uang dan kekayaan di kantongnya. Jika sukses diidentikkan dengan jabatan direktur, mereka belum merasa sukses dan bahagia sebagai senior manager atau general manager meski jutaan orang mencari pekerjaan atau bawahannya sekedar hidup dengan upah minimum.

Tipe kedua adalah mereka yang memandang hidup sebagai pilihan, keputusan, tak peduli kondisi sekitar (unconditional people). Maka, segelap apa pun kondisi sekitar,mereka lah yang menentukan, memilih, untuk tetap bersukacita, bersemangat,termotivasi, optimistis menyapa kehidupan. Manusia semacam ini disebut manusia besar (great people), the winner. Orang yang tetap bisa bersukacita dan memilih untuk bersemangat meski krisis mengancam jabatan dan pekerjaan adalah orang yang memenangi hidup.


Ironisnya, di mata Herry Tjahjono, sebagai bangsa kita sering kali telah menjadi pencundang. Mengamati berbagai fenomena, semisal ‘dipermalukannya’ Indonesia ketika Malaysia memulangkan ribuan TKI dari negeri itu, Herry Tjahjono memandang kita sebagai orang-orang yang kalah "luar- dalam". Kata dia, "Selama ini secara an sich rakyat adalah orang-orang yang terpinggirkan, teraniaya, dan korban, baik oleh kemiskinan atau berbagai ketidakadilan kehidupan lain. Bahkan secara harfiah kita adalah orang-orang yang 'diusir' di negeri sendiri (ingat berbagai adegan kekerasan, penggusuran, dan penghancuran rumah-rumah yang "dianggap liar" di televisi). Kita, diusir di luar dan di dalam."

Pada gilirannya, kekalahan demi kekalahan yang berlangsung secara kontinu, menurut Herry Tjahjono, bisa membawa kita memasuki patologi kejiwaan yang disebut defeatism. Yakni sikap menerima dan (sadar atau tidak) berpengharapan untuk selalu menjadi orang kalah atau pecundang. Yang selalu menyerah sebelum melakukan sesuatu, dan ini tidak berhubungan dengan kemampuan, melainkan lebih terkait sikap (attitude).



()()()


Betapa mengerikannya bila defeatism itu terjadi. Tetapi kita berbahagia karena masih punya seorang Tukul Arwana. Pada semua bentuk sosok dan tingkah polahnya, kita temukan sisi-sisi kepecundangan. Tapi hal itu ia kembalikan kepada kita bukan sebagai defeatism, melainkan dalam bentuk gurauan, keriangan dan pada akhirnya optimisme. Tukul adalah sebentuk pesan yang hidup, yang berkata bahwa walau kita kaum pecundang ini selalu dicemooh, dipinggirkan, kalah dan bahkan ditinggalkan, bukan berarti keadaaan yang menyedihkan itu harus diratapi. Sebaliknya, itu semua kita olah lagi sehingga keterpurukan yang datang beruntun dengan cara kita sendiri jadi sumber energi baru untuk melangkah, bahkan melawan.


Lebih dari itu, Tukul melalui penampilan dan celetukannya yang pasti lah hasil improvisasinya yang di luar skenario, seringkali berhasil menunjukkan bahwa beda antara mereka yang sering dielu-elukan sebagai pemenang di satu sisi dan pecundang di sisi lain, hanya lah setipis rambut dibelah tujuh. Dalam banyak kasus hal itu bahkan jadi relatif. Pemenang sekarang, tapi oleh pergantian ‘cuaca’ dapat menjadi pecundang di kemudian hari.


Untuk semua ini, lagi-lagi Tukul yang telah kita nobatkan jadi pahlawan para pecundang itu, memberikan penghiburan dan ketenteraman. Oleh dia, kita disadarkan dan diingatkan pada kebajikan klasik. Bahwa kita semua, dihadapanNya, adalah kaum kalah dan kaum pecundang yang tidak ada harganya. 'Tidak boleh ada yang memegahkan diri,' begitu sering terlontar suara dari mimbar rumah-rumah ibadah. Dan, hanya karena rasa SayangNya yang tak terhingga (ya, sayang dengan S besar) itu lah maka kepala bisa tegak kembali. Berterimakasih kepada kepecundangan yang telah diangkat dari lumpur. Dan wajah bisa tersenyum seraya menimang-nimang dalam hati betapa menyenangkannya menyadari ada rasa Sayang yang sedemikian besar dan abadi. Yang membuat hidup dapat kita jalani dengan riang dan kocak seperti Tukul. Biar pun dunia mencap kita apa saja, sebagai pecundang atau pun pemenang.

Mas Tukul, walau tawaran mungkin akan beruntun datang, jangan tergiur jadi Presiden, kecuali jadi Presiden para pecundang, ya?

selesai



Ciputat, 7 Juni 2009

9 comments:

  1. Anonymous6:40 AM

    hidup tukul! hidup katro! hidup norak! hahahaha, bacaan segar di malam begini....

    ReplyDelete
  2. naomi5:36 AM

    co cweeeeet......

    ReplyDelete
  3. dah brapa lama aq tunggu2 updatenya. akhirnya datang jg :-). kemana aja? mmg tukul antik. apa yg punya blog jg antik kyk tukul? hehehehe

    slamat mlm bang, jgn lama2 updatenya. bete nungguin tau!

    yun

    ReplyDelete
  4. Saya mau usul Pak. Bikin biografinya Tukul saja Pak. Pasti menarik bila ditulis dengan gaya mendalam dan tidak hanya menonjolkan kelucuannya. Gaya mendayu-dayu kayak sarimatondang lah tentunya. Pasti akan unik.....:-)

    Saya tepekur dan berterimakasih terutama untuk kata-kata ini:"Dan wajah bisa tersenyum seraya menimang-nimang dalam hati betapa menyenangkannya menyadari ada rasa Sayang yang sedemikian besar dan abadi....".

    Kok sepertinya saya menangkap bahwa ini bukan hanya hasil perenungan tetapi datangnya dari pengalaman pribadi. Kalau saya benar, tambah saya amini kebenarannya Pak. Tidak sendirian Bapak yang demikian. Masih banyak orang lain yg mengalami hal serupa. Terus berkarya Pak.

    ReplyDelete
  5. Sama kita pak. Penggemar fanatik Tukul. Hahahaha. Kapan bisa dia kita ajak minum tuak sambil markombur2 ya? Di Sinaksak atau di Sarimatondang? hahahaha. Horas ma di bapauda. Las roha manjaha. Sian fesbuk do dapot au situs muna on. tabe ma


    R. Simarmata

    ReplyDelete
  6. tambunan12:03 AM

    Sdr. Siadari.
    Saya sangat terkesan dengan blog my beautiful sarimatondang ini. Kecintaan dan kerinduan Anda kepada desa kelahiran sdr sangat menyentuh hati sehingga kadang-kadang saya menduga ada rasa bersalah juga pada pembaca bahwa mereka tidak dapat sebegitu dalam mencintai desa kelahirannya. Atau pun kalau ingin sedemikian, belum tentu mereka memiliki tempat/tanah kelahiran yang mereka banggakan. Maklumlah semakin modern kita, semakin sering berpindah-pindah tempat kita, yang menyebabkan kita tidak memiliki orientasi tertentu tentang tanah kelahiran.

    Saya juga sangat menyenangi cara Anda menuturkannya meskipun saya akui untuk orang seumur saya membutuhkan waktu yang lumayan. Saya diingatkan dengan cara bercerita para orang tua di zaman dahulu yang perlahan-lahan tapi tertanam dalam-dalam.

    Begitu dulu komentar saya kali ini. Tentang si Tukul ini, yah, bagaimana pun harus lah bangga kita padanya. Dulu ada Gepeng. Ada juga Bagio. Semua itu perwakilan wong cilik yang menjadi pengantara kita dalam menyampaikan uneg-uneg.

    Salam hormat dan horas-horas,

    G.Tambunan
    (Par-Sibolga)

    ReplyDelete
  7. dear friends, terimakasih sudah berkunjung.

    @anonymus:kalau di kami orang batak, katro itu disebut 'parhuta-huta' hahahaha.

    @naomi: ah, masa sih tukul sweet... bukannya malah asem? :-)

    @yun: gak kemana-mana. tapi kadang2 malas kalau lagi nggak ada ide. makanya sering2 dong tinggalin jejak biar kita semangat bikin update-nya hahaha

    @agnes: usul yg bagus. ada channel ke mas tukul gak? hahaha. bercanda. menurut sy sih, tiap kita manusia ada 'sisi tukul'nya dan ada sisi pecundangnya.makanya akan sangat menyedihkan bila tak bisa merasakan 'ketukulan' kita...

    @simarmata: daripada mengajak tukul minum tuak di sinaksak, ada usul lebih jitu. gimana kalau kita ajak aja dia buka lapo hahahaha. udah banyak loh rumah makan yg pake dia jadi ikon-nya....

    @tambunan: wadduh, resmi kali bapak ini, sampai pake sdr di depan nama sy. urusannya jadi sangat serius ya. hahaha. tapi bagaimana pun saya harus berterimakasih untuk saran dan komentarnya. bagaimana kalau saya panggil tulang saja? soalnya oppung boru (dari mamak) boru sihaloho tuh.....

    ReplyDelete
  8. Anonymous2:05 AM

    This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  9. Anonymous2:11 AM

    Ben, udah lama gak duduk-duduk dan ngopi bareng lagi? Masih ingat pojok di perpus CSIS tempat kita dipelototin penjaganya karena ngobrol kencang-kencang? hahahaha

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...