Saturday, July 18, 2009

selamat jalan, om mansen....

(03 juni 1937-03 juli 2009)

tulisan ini dibuat dengan penuh dukacita, malu dan rasa bersalah. juga dengan huruf kecil semua. pertanda merasa betapa kecil bahkan tiada berartinya diri ini dibanding dia, yang telah pergi. om mansen purba sh. budayawan simalungun. tokoh politik, tokoh gereja, pembawa bendera keluarga tetapi yang terutama guru. guru 'marsimalungun.' guru yang tekun dan tak bosan-bosannya mengingatkan bahwa 'ahap' atau rasa menjadi simalungun lah fundasi dari keberadaan simalungun. mungkin seperti rasa yang juga menjadi dasar bagi jutaan penduduk indonesia menjadi bangsa indonesia. seperti rasa yang dulu disiram dan dipupuk oleh para pendiri bangsa.


dulu ketika blog simalungun bloggers club rampung saya buat, om mansen lah yang pertama memberi komentar. dia yang paling rajin mengirimkan sms, memberi saran dan kritik atas tampilan blog yang saya kerjakan sekadar sebagai hobi belaka. ketika soeharto berpulang, ia juga mengirimi saya sms mengabari berita kematian itu. dan ia tak menggunakan kata 'mangkat', melainkan modom (tidur) untuk mantan presiden indonesia itu. begitu berkesan agaknya perihal keberpulangan soeharto dan perbincangan sms kami mengenai hal itu, sehingga ia menuangkannya dalam tulisan di blognya.


beberapa minggu sebelum 'kepergiannya' ia mengirimkan komentar menginformasikan perubahan tempat dirinya memposting sesuatu mengenai (marga) sigumonrong di blognya. betapa menyesalnya saya telah mengabaikan posting itu. dan telah agak lama pula kami tidak saling berkomunikasi. padahal.......banyak bahkan superbanyak yang seharusnya saya tanyakan.


ada sedih, mengantarkan kepergiannya, karena banyak pekerjaan yang seharusnya mendapatkan kemurahan hatinya, jadi terbengkalai. termasuk upaya menerjemahkan blog-nya yang dituliskannya dalam bahasa simalungun. memoarnya dalam bahasa simalungun yang ia harapkan bakal ada yang menerbitkannya, dia publish di http://marayak70tahun.blogspot.com. jika rampung, memoar itu dimaksudkannya pula sebagai kado bagi perayaan ulang tahunnya yang ke 70 (dua tahun lalu). beberapa bab diantaranya pernah saya usahakan menerjemahkan ke dalam bahasa indonesia. dan hanya tiga hari setelah saya kirimkan kepadanya meminta koreksi, sudah ia kembalikan lagi kepada saya dengan catatan-catatan yang teliti dan kritis. sungguh dia adalah guru yang perfeksionis.

juga pernah dikirimkannya naskah catatan perjalanan pdt j.w. saragih, tokoh perintis berdirinya gereja kristen protestan simalungun (gkps) dan tokoh terdepan dalam menumbuhkan kesadaran dan kepercayaan diri orang simalungun untuk berdiri sama tinggi dengan kawan-kawan batak toba. naskah itu diketik dengan mesin ketik tradisionil, dalam bahasa simalungun pula. kami pernah seakan 'berlomba' siapa yang akan lebih dulu mencapai finish menerjemahkannya ke dalam bahasa indonesia. tetapi perlombaan itu agaknya akan terhenti. dan saya sampai sekarang belum juga menyentuh sedikit pun naskah itu.


berkecil hati, karena saya yang mengaku-ngaku sebagai muridnya, ternyata sangat terlambat mengetahui 'kepergiannya'. dan ironis, tak ada yang memberi kabar secuil pun. kadang-kadang teknologi informasi dan komunikasi memiliki absurditasnya sendiri. konon ketika gedung wtc pencakar langit di amerika sono rontok ditabrak pesawat para teroris, sebagian besar orang indonesia lah yang lebih dulu tahu lewat tayangan cnn, ketimbang orang-orang di amerika, apalagi di eropa.

ada yang tak kan pernah terlupa dan membuat bangga. dua tahun lalu menjelang perayaan ulang tahunnya yang ke 70, ia mengirimkan sms dan juga email berisi permohonan. ia meminta izin membukukan tulisan saya di blog ini tentang dirinya. alasannya, memoar yang sudah ia mulai tuliskan ternyata belum rampung juga. dan karena itu sebagai 'pengganti' buku yang direncanakan tersebut, tulisan bersambung saya tentang dirinya di blog ini, ia bukukan dengan judul sama, 'kenalkan, mansen purba sh, guru saya marsimalungun.'

tentu saja saya kegirangan. 'murid' mana yang tak gembira, bila gurunya sendiri yang akan membukukan karyanya tentang sang guru itu? bukan kah itu dapat diibaratkan, seorang socrates meminta izin kepada plato untuk membukukan karya plato tentang socrates?

lebih berbahagia lagi karena ayah yang ternyata diundang pada perayaan ulang tahun yang dilangsungkan di kota pematang siantar itu, menelepon dengan nada bangga. ia bangga karena menyaksikan buku kecil karya anaknya dibagikan dan dibaca banyak orang pada perayaan ulang tahun yang khusyuk itu. "nggak percuma kau belajar sama beliau," kata ayah, yang mengenal dekat beliau tatkala sama-sama menjadi perutusan sinode bolon (akbar) gkps.

kini om mansen telah pergi. dan tetap ada penyesalan. kenapa diri ini tak menyempatkan diri mengirimkan sms pada hari-hari terakhirnya? sekadar bertanya apa kabar? menanyakan apa pendapatnya tentang kampanye pileg dan pilpres? atau ini justru pertanda. agar kita makin lapang dan makin terbiasa jauh darinya. sebab, makin lama kita sudah didewasakan oleh pelajaran-pelajaran darinya?


tempo hari itu ia menulis sesuatu tentang liturgi yang digunakan pada momen ualang tahunnya. dan kata dia, dirinya menangis membaca liturgi itu. terharu mengingat semua yang baik yang telah ia terima dari orang tuanya semasa mereka hidup. dan itu jadi salah satu alasan penting untuk bersyukur dalam perayaan ulang tahunnya.


kini om mansen mungkin menangis juga. tetapi menangis bahagia. ia mungkin telah bertemu dengan orang-orang yang dulu melahirkan dan membesarkannya sehingga ia jadi tokoh yang dihormati. lebih utama lagi, ia telah bertemu dengan sang maha agung. yang mencipta segala kehidupan ini.


selamat jalan om mansen......

e.e. siadari


tulisan lain yang berkaitan dengan om mansen purba bisa di klik di sini,

1 comment:

  1. Turut berdukacita Bang.....

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...