Thursday, July 02, 2009

Tuhan, Ngobrol Yuk!


Di depan kasir ketika memesan makanan, muncul kekikukan kecil. Perempuan muda itu hanya memesan segelas teh tawar dan dua potong donut kecil. Itu saja. Saya mendesak-desak agar tambah lagi, ia keukeuh dengan pilihannya. Dalam hati saya berguyon, seandainya semua urusan mentraktir perempuan bisa sesederhana ini, setengah restoran Jakarta akan mengalami penurunan omzet secara drastis.


Hari itu saya ‘menjamu’ Kris. Di sebuah kedai cemilan tak jauh dari kantor. Pada satu Jum’at siang belum lama ini. Kris sebenarnya adalah sapaan ringkas untuk sebuah nama yang lumayan panjang: Cecilia Krismariana Widyaningsih. Dia seorang ibu rumah tangga muda. Bekerja sebagai editor freelance. Perkenalan dengannya bermula dari korespondensi kami sebelumnya. Lewat email kami banyak berdiskusi soal dunia perbukuan setelah ia tahu saya pernah menulis dan menyunting beberapa buku. Ia mengenal beberapa orang kolega saya. Ia juga beberapa kali membaca the beautiful sarimatondang, sama seperti saya yang kerap mengunjungi blognya, My Writing.


Meski begitu obrolan kami lambat laun mengalir juga. Kami secara serius banyak bertukar pendapat perihal pekerjaan editor yang dewasa ini ternyata sudah demikian luas daripada sekadar menyunting naskah. Di sela-sela itu, Kris ada bercerita tentang kejenuhannya di Jakarta dan ingin suatu saat kelak menetap di kota kelahirannya Yogyakarta. Jakarta baginya terlalu bergegas. Padahal ia terbiasa dengan keheningan. Makanya ia begitu terpesona pada kampung halaman suaminya di Belitung ketika suatu hari berlibur ke sana. “Apakah Sarimatondang seperti itu juga?” kata dia, yang segera saja saya iyakan, meskipun saya tak tahu pasti. Kris juga penggemar fanatik becak dan ia sangat kecewa karena tak tahu dimana menemui kendaraan favoritnya itu di Jakarta. Saya sedikit ge-er ketika dia berkata bahwa buku-buku favorit saya adalah juga favorit suaminya (Antara lain buku-bukunya Umar Kayam dan Romo Manguwijaya). Tapi tatkala saya tahu bahwa Kris penggemar Delon, panas juga hati ini. Sebab pujaan saya tentu saja (biasa lah, orang Batak norak) Judika.


Seingat saya dalam pertemuan itu dia agak hemat tertawa, bahkan untuk hal yang menurut saya amat lucu. Ia lebih banyak diam dan menyimak. Ketika dimintai pendapat atau tanggapan, sangat hati-hati dia menjawab. Donut kecil di hadapannya yang sebenarnya sekali telan bisa langsung ludes, hanya disentuhnya kadang-kadang dengan comotan-comotan kecil. Saya yang rada-rada pecicilan ini terpaksa jadi ikut-ikutan serius dan bergaya priyayi berada di hadapannya. Takut salah kata dan salah sikap pula.



Perempuan (apalagi perempuan Jawa) memang kerap dilekatkan dengan segala hal yang gemulai. Tak jauh-jauh lah dari Kris yang jadi teman ngobrol hari itu. Saya jadi ingat pada petuah-petuah orang tua yang digambarkan oleh Nh Dini pada novel ‘Pada Sebuah Kapal.’ Diceritakannya tentang pandangan ibunya, yang menganggap ‘anak perempuan adalah wakil dari kehalusan, kesucian dan keindahan.’ Jika perempuan tertawa terbahak-bahak bahkan oleh sesuatu yang amat lucu, para ibu akan mengerutkan kening sebab hal semacam itu dianggap tidak senonoh dan kampungan. “Itu lah pengaruh pergaulan dengan anak-anak kampung,” kata sang Ibu suatu kali dalam novel Pada Sebuah Kapal itu. “Seorang putri tidak akan membuka mulutnya selebar itu. Orang-orang perempuan zaman dulu hanya memperlihatkan gigi-giginya yang rintip di depan. Kalau nenekmu melihat kalian, apa yang dikatakannya……” begitu lah sang ibu ‘marah-marah’, yang segera disambut tawa terkikih para gadis-gadis yang dipetuahi.


Umar Kayam dalam satu kolomnya juga mengisyaratkan hal serupa. “Nduuuk, kalau makan jangan banyak-banyak. Saru. Malu-maluin. Cukup sedikit saja. Kalau mau makan banyak nanti tidak payu rabi, lho. Tidak ada yang mau mengawini kamu,” begitu biasanya petuah itu. Dan, bukan cuma porsi makanan yang penting. Cara juga. “Nduk, kalau makan tundukkan kepalamu jangan nengok kemana-mana. Tidak usah tergesa-gesa. Meskipun lauknya enak dan mirasa, jangan terus telap-telep, dokoh, sakpiring dikuras habis. Alon, Nduk, alon. Saru kalau putri makan telap-telep. Nanti…”


()()()


Tapi kita sudah lama mengenal petuah, ‘Don’t judge the book by its cover.’ Walau oleh iklan sering disebut bahwa kesan pertama menentukan selanjutnya, tak berarti 'sampul buku' merupakan isinya. Tampaknya begitu pula lah halnya dengan perempuan. Juga Kris. Di balik sikapnya yang serba hati-hati, tertib dan tertata, termasuk ketika dengan serba cermat mencomot donut kecilnya seakan enggan meninggalkan secuil pun remah untuk dibereskan pelayan kafe, ada juga sisi dirinya yang konyol, iseng, bahkan sangat nakal.


Dan itu justru menyangkut hal yang tak boleh dipandang sepele. Kris berani konyol, iseng, bahkan sangat nakal manakala mengungkapkan perenungannya tentang sang Maha Besar yakni apa yang kita sebut Tuhan. Berbeda dengan caranya mencomot donut-nya yang serba ‘jaim’ yang menyebabkan kita bisa mencapnya 'satu lagi wanita biasa' yang jadi stereotip perempuan Timur, justru ketika bicara tentang sang Pencipta ia lebih rileks. Dan, pada saat-saat seperti itu lah Kris menyentil dan membanyol dengan celoteh-celoteh nakalnya.


Bagi Kris, Tuhan adalah sahabat yang karib. Dan karib di sini bukan kiasan. Benar-benar seperti akrabnya dia dengan kawan-kawan kuliahnya atau rekan seasramanya. Karena itu Tuhan boleh diajak bercanda. Tuhan adalah tempat kita bisa curhat dan ngobrol. Dan ngobrol dalam hal ini ia kontraskan dengan monolog, suatu komunikasi searah yang selama ini menurutnya telah mereduksi bahkan menindas pengertian doa yang sebenarnya. Ketika merenungkan keberadaan Tuhan di hadapan manusia (dan sebaliknya) Kris tak ragu-ragu berkata bahwa Tuhan itu sering bertindak konyol dan tidak semestinya. Tuhan juga sering 'iseng' membuat teka-teki sehingga manusia penasaran dan akhirnya mengenali diriNya dan diri sendiri. Tuhan pun kadang-kadang menyebalkan, tidak tahu waktu, sehingga menurunkan hujan tatkala manusia masih ingin cuaca cerah, atau sebaliknya membiarkan kemarau berkepanjangan manakala manusia berharap hujan.


Saya sampai pada kesimpulan ini setelah membaca buku karyanya yang ia kirimkan beberapa hari setelah pertemuan kami. Judulnya, Tuhan, Ngobrol Yuk! diterbitkan oleh Penerbit Gloria Cyber Ministries. Terbit pertama kali pada 2006, yang di tangan saya adalah cetakan kedua (November 2006). Buku setebal 142 halaman itu berisi kumpulan refleksi dan catatan ringan Kris semasa dia ikut jadi awak sebuah media online nasrani (www.glorianet.com). Tulisan-tulisan itu pada awalnya termuat di media tersebut sebelum akhirnya dibukukan.


Membaca buku ini kita jadi tahu bahwa Kris selalu punya alasan untuk ngobrol, curhat, ngeyel-ngeyelan bahkan bercanda dengan Tuhan. Tidak harus ketika ber'saat teduh' di pagi hari atau tatkala berkontemplasi di gedung gereja. Baginya, Tuhan patut dijangkau pada tiap kesempatan. Ditilang polisi karena menerobos lampu merah (halaman 64), dia ingat dan bertanya kepada Tuhan. Menemukan foto jadul dirinya yang jelek dan ingin dilupakannya, ia ingat Tuhan (halaman 44). Ketika mencuci pakaian dan menemukan uang terselip di saku (halaman 48), lagi-lagi ingat Tuhan. Mendengar ada pengumuman orang meninggal dunia dari pengeras suara di mesjid dekat rumah (halaman 42), ia juga ingat Tuhan. Dan pada saat-saat demikian, ia mencoba mencubit dan mengguncang-guncangkan pemahamannya tentang Tuhan. Dengan iseng. Dengan konyol. Dan kadang-kadang subversif seolah mengejek pemahaman kita tentang Tuhan yang sudah tertanam jauh sejak kita di Sekolah Minggu dulu.


Melalui Tuhan, Ngobrol Yuk!, Kris mengajak kita mengenal Tuhan yang tidak diam di Langit yang Ketujuh atau di Surga yang mahamisteri. Justru Tuhan-nya Kris adalah Tuhan yang terjangkau, hadir dan bersama-sama dengan manusia mengalami pahit-getir hidup. Tuhan yang tidak disandera oleh wibawanya sehingga manusia takut dekat-dekat kepadaNya. Sebaliknya Tuhan -nya Kris adalah Tuhan yang dapat ditemui kala kedinginan oleh guyuran hujan deras sambil mengendarai motor (halaman 54), Tuhan yang tidak melulu ingin dipuji-puji dan dirayu oleh umatnya, tetapi justru Tuhan yang 'ngefans' dengan kita manusia (halaman 128). Tuhan-nya Kris adalah Tuhan yang tahu bahwa manusia itu kadang marah, ngambek dan bahkan suka melawan. Tetapi pada saat yang sama, Kris juga mengerti bahwa manusia juga lah --oleh keterbatasannya--yang tak kan mungkin mengerti Tuhan sepenuhnya (halaman 127). Dan karena itu, tak kan mungkin bisa mendapatkan jawaban yang tuntas atas semua masalah yang dihadapinya.


Itu lah sebabnya, pada hampir semua tulisan di dalam buku ini, Kris selalu seperti seseorang yang akhirnya sampai pada pencariannya setelah ia kesana-kemari membolak-balik pemahamannya. Kris samasekali bukan seorang yang diam dan menanti Tuhan menyodorkan jawaban yang sudah jadi. Bagi Kris Tuhan justru harus ditemukan dan dicari. Diajak ngobrol. Dicandai. Dan dari sana lah manusia akan menemukan sendiri jawaban, meskipun jawaban itu tidak selalu stabil. Kadang baru tapi kadang kuno. Kadang segar tapi bisa juga klise. Kadang selesai tetapi bisa juga menghadirkan pertanyaan baru. Namun yang jelas, Kris sudah puas telah melakukan 'proses' mencari.


Lihat lah, misalnya, bagaimana ia sampai pada kesimpulan tentang siapa yang paling menderita karena 'patah hati.' Setelah ia mengulas bagaimana itu Cinta Kapitalis, maka Kris sampai pada kesimpulan bahwa, ....kurasa, pribadi yang paling merasakan pahitnya cinta yang terkhianati atau yang enggak berbalas itu adalah Tuhan sendiri. (halaman 35). Yang dia maksud dengan Cinta Kapitalis adalah cinta yang umumnya terdapat pada manusia, yakni cinta yang selalu menuntut balas. Cinta yang mengharuskan keduabelah pihak saling memberi dan menerima. Cinta yang tak bertepuk sebelah tangan. Dan menurut Kris, justru Tuhan lah yang paling banyak menderita cinta yang bertepuk sebelah tangan itu.


Kupikir kebahagiaan itu adalah pilihan, tulis Kris di bagian lain bukunya (halaman 76). Orang dapat memilih menghitung berkat yang ia terima lalu bahagia atau menghitung hal-hal buruk yang ia terima lalu sedih, lanjut Kris, dalam tulisan yang berjudul Lalu Mereka Hidup Bahagia Selamanya. Kris sampai pada kesimpulan ini setelah sebelumnya beranjak dari pemahaman yang menurutnya seakan sudah tertanam dalam di masyarakat. Yakni hidup ini linier, seperti dongeng-dongeng happy ending yang selalu diakhiri kata-kata .Lalu mereka hidup bahagia selamanya. Menurut Kris, kebahagiaan itu pilihan, sama seperti menikah atau tidak menikah adalah pilihan. Orang bisa bahagia dengan menikah, tapi tak berarti orang juga akan tidak bahagia bila tidak menikah.


Kebahagiaan, yang dalam buku ini merupakan tema yang banyak menarik perhatian Kris, sangat diyakininya merupakan hasil dari proses. Bahkan dapat dikatakan, Kris melihat nilai paling berharga dari segala sesuatu adalah proses. Dan itu lah yang ia lihat pada 'jejak' Tuhan di dunia ini. Makanya aku salut banget sama Yesus yang mau menjadi sahabat manusia. Dia benar-benar Sahabat yang mau peduli dengan proses, bukan hasil...Yang mau bersakit-sakit untuk memberi teladan bagaimana sih hati yang penuh cinta itu...., tulis Kris (halaman 63), dalam menyentil makin banyaknya orang lebih memilih bicara tentang hasil daripada proses.


Pada akhirnya walau Kris seringkali seperti konyol lewat perenungan-perenungannya ini, sesungguhnya dia samasekali mengakui keagungan kasih Tuhan-nya. Dan, ini dia jelaskan dengan menyentuh tapi sekaligus lucu, lewat pengalamannya semasa kecil. Di masa bocah ia selalu bergairah bila diajak ke pesta perkawinan karena senang melihat pengantin yang pasti lah didandani sedemikian rupa sehingga ganteng dan cantik. Tapi pernah ia kecewa suatu kali karena pengantin yang dibayangkannya akan rupawan, ternyata jelek dan tidak imbang dengan pasangannya. Wah, Bu, kok pengantin cowoknya, jelek sih.....,katanya, sebal.


Dan, manusia, menurut Kris, adalah pengantin jelek itu. Tuhan lah pasangannya, yang dengan KasihNya, mau mencintai. Karena itu, ketika Tuhan mencintai kita, kupikir itu adalah hal yang sangat luar biasa.........Kita adalah pengantin yang jelek.....dan kupikir Tuhan mempunyai hati seluas samudera. Kok bisa ya dia mencintai manusia? (halaman 94).


()()()



Di blog ini saya pernah mengutip motto Rumah Sakit PGI Cikini yang berbunyi sedare dolorem opus divinum est. Meringankan penderitaan adalah pekerjaan Ilahi. Maka menulis pun, menurut saya, adalah bagian dari pekerjaan Ilahi bila ia dapat memberikan penghiburan. Menghibur orang lain (pembaca) tetapi juga menghibur diri sendiri.


Sebagian besar yang kita dapatkan dari Tuhan, Ngobrol Yuk! ini adalah juga penghiburan. Pada mulanya, renungan-renungan Kris ini pastilah berguna untuk menghibur dirinya sendiri. Tetapi selanjutnya, penghiburan itu terasa juga pada pembaca terutama karena Kris mengajak kita melihat Tuhan sebagai teman. Dia adalah teman ngobrol yang baik melebihi teman yang superkarib sekali pun.

Apa pun omongan orang, bagiku mengobrol (dengan teman) itu sangat penting....Obrolan itu memperkaya kehidupan kami. Kami bisa saling berbagi, saling mengingatkan.......,” kata Kris tentang pentingnya mengeluarkan isi hati.  Dan bila mengobrol dengan teman sudah sedemikian pentingnya, mengobrol dengan Tuhan, bagi Kris, lebih jauh dari itu. ...Bagiku 'mengobrol' dengan Tuhan adalah acara yang jauh lebih penting.....Aku bercerita tentang diriku, dan Tuhan menghiburku serta mengingatkanku tentang berkat-berkat yang Ia berikan.... (halaman 123-124)


Mengakhiri membaca buku karya Kris ini, saya mencoba membayangkan seperti apakah dia dan manusia seperti dirinya di hadapan sang Khalik yang ditulisnya itu. Dan, mungkin karena di rumah saya punya seorang putri yang mulai beranjak remaja, saya lantas membayangkan Kris seperti itu. Seorang gadis remaja kecil yang mencoba belajar berenang dengan ditunggui Bapa-nya.


Gadis kecil itu selalu akan mencoba menyelam menjauhi Bapa-nya sebisanya, bukan karena benci, tetapi karena ingin menguji kemampuan sampai seberapa banyak sudah ajaran Bapa-nya bisa ia praktikkan. Tiap kali ia menjauh dari sang Bapa, pada saat itu pula ia sadar bahwa mata dan tangan sang Bapa tak pernah lepas mengawasinya. Tiap kali ia merasa sudah terlalu jauh dan kekuatannya belum cukup, saat itu juga ia kembali ke haribaan Bapa. Memeluknya, mencandainya. Belajar lagi. Menimba energi lagi. Sampai kemudian mencoba 'berenang' lagi, untuk jarak yang lebih jauh dari sebelumnya. Sampai kelak ia bisa berenang sendiri menjelajahi hidup yang dianugerahkan kepadanya. Sambil tetap di dalam hati ia menyadari bahwa sang Bapa tak pernah jauh dari jangkauan.


Kris, perjalanan penulis dan kita manusia, memang begitu, bukan?


(selesai)


Ciputat, Minggu, 29 Juni 2009

6 comments:

  1. waktu itu aku sudah makan dari rumah, bang. jadi, ambil makannya dikit. biasanya makannya jg buanyaaak :))

    klo bertemu sekali emang biasanya masih jaim... hihihi

    ReplyDelete
  2. Anonymous7:04 AM

    kalo ketemu, boleh kan pinjem bukunya? :)

    ReplyDelete
  3. Bang, kapan2 ngobrol yuk! Tp nanti giliran abang yg banyak ngomong, aku yg banyak makan hehe

    ReplyDelete
  4. Gigin Gustaf5:59 PM

    Benar pak. Tuhan tidak hanya bisa ditemui di surga mahamisteri. Tp juga di pinggir jalan tiap hari dg menjatuhkan 1000 an ke tangan pengemis. Apa buku ini ada dijual di toko buku?

    ReplyDelete
  5. @kris: kapan2 kita buktikan lg, seberapa banyak yang kris maksudkan makan buanyaaaak' itu ya ...:-)

    @ anonymous: boleh,tp jgn dibawa pulang bukunya ya....sy cuma punya satu hehehe

    @ helena p: boleh....tp belum deal, siapa yg bayar nih hahahaha

    @gigin: setuju pak! mungkin baik tanya ke penerbitnya pak. di googling aja cari alamatnya.

    ReplyDelete
  6. Prijanto Putra2:53 AM

    Menarik....menarik....Mengupas sudut pandang perempuan tentang Tuhan selalu menarik memang. Salam Pak Siadari.

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...