Saturday, August 01, 2009

Gadis yang Memainkan Piano

Tak sampai berjam-jam. Hanya beberapa menit saja sebenarnya. Tapi gadis itu telah berhasil mencuri hati. Dan membawanya penuh-penuh. Sampai jauh. Sampai berpuluh tahun. Tak lekang juga. Tetap tinggal sebagai kenangan. Seorang gadis yang memainkan pianonya. Mengiringi ibadah yang ramai dipadati pengunjung yang sebagian besar adalah kami para mahasiswa. Dan diam-diam dari jauh mata mengamatinya penuh kagum. Betapa dekat irama yang dimainkannya. Tapi begitu tak terjangkaunya dia. Sebab hanya beberapa saat itu saja kesempatan melihat dirinya. Gadis yang tak kami tahu siapa namanya. Dimana ia tinggal, kemana akan pulang dan siapa yang akan mengantarkannya. Tapi mahasiswa udik ini, yang hanya bisa membayangkannya penuh rasa minder, telah terenggut perhatiannya.


Begitu lah. Sampai berpuluh tahun kemudian, siluet ‘gadis yang memainkan piano’ itu kerap muncul tiap kali melihat orang memainkan bahkan membicarakan piano. Juga tatkala beberapa tahun lalu, istri saya memberi usul yang mengejutkan. Menurut dia, saatnya anak kami Amartya belajar piano. Banyak sudah dipelajarinya bacaan perihal sisi-sisi positif mengenalkan musik kepada anak sejak usia dini. Dan belajar piano, menurut istri saya, adalah salah satu cara terbaik.



Bukan hanya itu yang mendorong dia memberi usul yang rada progresif itu bagi ukuran lelaki kampungan seperti saya. Di masa kuliah ia juga punya sahabat dekat dan hingga kini masih tetap dekat. Seorang wanita yang pandai memainkan piano. Konon, menurut istri saya, di rumah si teman ada lebih dari satu piano. Keluarga itu memang keluarga pemain piano. Tiap kali si teman gundah atau malah sedang bersukacita, sang teman akan duduk dan membiarkan jarinya menari-nari di atas tuts piano. Tak perduli tempat dan waktu. Apakah saat mereka sedang berada di rumahnya. Atau di aula kampus yang ada pianonya. Bahkan ketika berjalan-jalan di mal dan menemukan piano dijejerkan untuk dijual. Sang teman akan begitu saja dengan kecintaannya memainkan piano itu. Nah, istri saya berpikir, punya anak gadis yang bisa memainkan piano, pasti membuat rumah penuh keriangan, bukan?


Tak pelak ‘gadis yang memainkan piano’ menjadi semacam ideal bagi istri saya dan saya. Dengan budget yang tertatih-tatih kami kemudian mencicil sebuah piano tua, sebab membeli yang baru jelas tak mampu. Ketika mendatangi toko piano bekas itu, kami naksir berat pada sebuah Steinway yang dimata saya tak beda jauh dengan lemari kayu butut di rumah kami di kampung halaman. Jelas lah, kami kesengsem padanya bukan karena modelnya tapi terutama pada harganya yang  acceptable dengan kantong. Ketika kami mengamat-amati si Steinway itu, wiraniaga toko ada menerangkan sejarah perjalanannya hingga dilego ke toko itu. Dia bercerita siapa saja yang pernah memilikinya, dari mulai orang beken hingga orang biasa-biasa saja. 



Saya tak terlalu hirau pada celoteh si wiraniaga. Yang pokok, mata saya berbinar-binar tatkala benda seberat 300 kg itu sudah bertengger di ruang tamu kami. Paling menyenangkan lagi, kami tak membutuhkan kabel atau aliran listrik untuk membunyikannya. Kapan suka, dentingkan saja tutsnya. Dan sambil tertawa-tawa seperti anak-anak yang baru mendapatkan mainan baru, piano itu sampai berminggu-minggu saya mainkan dengan cara saya sendiri. Amartya sering mencibir polah saya yang urakan  karena rupanya di tempat lesnya, benda ini diperlakukan cukup tertib. Persis seperti perlakuan supir kepada mobil juragannya…


Itu lima tahun lalu.


Sekarang piano tua itu masih juga menghias rumah kami. Tapi dalam memandanginya manakala saya sedang leyeh-leyeh di sofa di dekatnya, makin berwarna-warni lah yang muncul di pikiran. ‘Gadis yang memainkan piano’ yang selama bertahun-tahun sering muncul hanya berupa siluet dalam angan, kini menjelma pada sosok yang lebih nyata. Yakni pada sosok putri saya, tatkala ia dengan ‘penuh perjuangan’ memainkan lagu-lagu yang dipelajarinya di tempat kursusnya.


Ada rasa iba tiap kali dulu Amartya dengan bersusah payah harus memelototi buku John Thompson’s dan Beyer-nya, mengulang not-not yang dirasakannya sulit. Ia bahkan pernah menangis karena tak kunjung mulusnya sebuah lagu ia selesaikan. Lalu kami bicara dari hati ke hati. Dan untuk sementara kami memutuskan dia istirahat dulu dari les piano. Tak berapa lama, ia berpindah dari kelas piano klasik ke pop, yang kami anggap lebih mudah.



Sampai kini pun, menurut saya, ia belum berhasil melalui bagian-bagian yang paling menentukan dalam bermain piano. Menurut dugaan saya yang awam ini, ia kerap terlalu patuh pada buku ‘partitur’ di hadapannya ketimbang menggunakan intuisinya. Padahal, di bidang lain, semisal ketika kami nyasar menuju suatu tempat, justru Amartya lah yang sering pemberi solusi lewat feeling dan rekaan ingatannya yang tajam.




Ada kalanya ia seperti demikian bencinya sehingga berhari-hari tak menyentuh benda kayu persegi empat yang kadang-kadang memang terlihat angker itu. Ibunya berusaha membujuk. Saya tak kurang akal, berusaha merayunya dengan mengatakan bersedia menjadi vokalis bersuara ‘mbah surip’ asalkan ia mau mengiringi. Ia bergeming. Seolah duduk di hadapan tuts itu adalah siksaan baginya.




Sering saya hampir menyerah. Tapi istri saya tidak. Rupanya ia sudah tak asing lagi pada kisah-kisah tentang sulitnya anak-anak diajak akrab dengan piano. Dan referensinya tentang hal ini tak main-main. Menurut dia, sebagian besar pianis terkemuka di Tanah Air, mempunyai kesulitan serupa menghadapi anak-anak mereka di masa awal. Tetapi kebanyakan berakhir dengan happy ending.


Entah darimana ia dapat inspirasi, tetapi saya pernah rada-rada manggut-manggut (jarang-jarang lho….) ketika istri saya berkata bahwa sebagian besar orang memang akan benci melihat musik sebagai disiplin. Tapi anak-anak –suka atau tidak—sejak dini harus diperkenalkan dengan cara demikian. Saya mencoba berkilah bahwa banyak musisi hebat tidak datang dari sekolah musik, melainkan karena mencintai musik dengan hatinya. Istri saya menjawabnya dengan berkata, bahwa kami tidak sedang mencetak seorang musisi. Sebab, kata dia lagi, apakah Amartya kelak jadi pianis atau tidak, anak kami itu sendiri lah yang akan menentukan. Yang sedang kami lakukan, menurut istri saya, adalah memberi kesempatan kepada anak kami mengenal musik dari sisinya yang lain. Bukan dari ‘sisi menyenangkan’ dan ‘sisi glamour’nya, yang dengan cuma-cuma telah didapatkannya dari melihat penampilan para musisi di panggung show,. Melainkan dari sudut ‘berakit-rakit ke hulu’ nya bermain musik. Dengan demikian kelak ia bisa menghargai musik sebagai sebuah perjalanan. Yang pada gilirannya, menghargai pekerjaan apa pun dari sudut pandang yang demikian.


Seiring dengan waktu, tanpa sadar kami berbagi peran sebagai yin dan yang. Evil dan Angel. Si gelap dan si terang. Si galak dan si lembut. Istri saya menjelma menjadi ‘ratu tega’ yang memaksa-maksa Amartya berlatih. Bila perlu membiarkan anak kami itu bersungut-sungut tak menentu arah. Sedangkan saya jadi si melankolik yang dengan setengah terpaksa, melembut-lembutkan suara untuk membujuk bila Amartya ngambek.



Tak bisa dikatakan kami telah berhasil. Bahkan makin hari saya makin menurunkan harapan dengan mengatakan, tak ingin lagi membayangkan kelak Amartya  jadi pianis hebat yang melakukan konser tunggal di gedung kesenian kota-kota besar dunia. Juga harapan agar  ia jadi komponis yang lagu-lagu ciptaannya dimainkan oleh orkestra terkenal, saya jauh kan. Cukup lah hati ini akan terhibur bila di hari tua saya nanti ia sesekali menjenguk kami dan memainkan lagu Anju Au menemani saya menyeruput teh di sore hari. Atau mungkin meramaikan malam Natal keluarga dengan Away in A Manger yang legendaris itu. Dan sudah akan merupakan bonus yang istimewa jika nanti di suatu masa saya  duduk di meja makan di rumahnya, dia menjerang air untuk membuatkan kopi sambil berceloteh tentang musik. Seperti Rachael Ray memasak sambil tak henti-hentinya nyerocos tentang hidangan yang sedang ia siapkan (sexy, kan?).


Maka kami gembira bukan kepalang ketika pada liburan panjang bulan kemarin, sanggar seni Lifia tempat Amartya bergabung, mengikutkannya untuk pentas menunjukkan kebolehannya. Pemimpin sanggar ini sekaligus juga guru les piano dan vokal putri kami. Dan ia tampaknya ingin menguji keberanian anak didiknya tampil di audiens yang lebih luas. Amartya kebagian memainkan piano dan mengiringi teman-temannya, di samping juga menyanyikan ‘Ke Ujung Dunia’ nya Gita Gutawa. Dalam dua pekan, mereka tampil di tiga mal: BSD Plaza, Bintaro Plaza dan Slipi Jaya.



Tak usah dibayangkan ini sebuah pentas profesional dengan tata acara dan tata cahaya yang selangit. Ini tak lebih dari ajang melatih percaya diri. Tapi bohong lah jika saya mengatakan tak serius mengikuti persiapan Amartya untuk event ini. Kami bahkan berusaha sekuat tenaga untuk berlagak sebagai ‘manajer’ yang all out mendukung dan menyemangati Amartya yang agak moody ketika berlatih. Pengalaman serupa sudah pernah kami rasakan, ketika dulu sekali, putri kami itu bersama puluhan teman-temannya harus tampil di acara yang sedikit lebih serius, Family Recital Piano di sebuah gedung di Pondok Indah. Amartya sempat demam beberapa hari, tetapi untungnya mulus juga di hari H.



Kali ini Amartya tak perlu demam dalam mempersiapkan diri untuk ‘show’nya. Ia memang sempat senewen ketika dalam latihannya di rumah, beberapa kali macet di bagian reffrain First Love-nya Nikka Costa, lagu yang akan dimainkannya. Ia bahkan sempat terpikir untuk memainkan Bunda-nya Melly Goeslaw saja, lagu yang lumayan lancar di jemarinya. Kala lain, hanya beberapa hari menjelang hari H, ia dikejutkan perubahan acara, karena ia juga harus mengiringi teman-temannya menyanyikan lagu ‘Gembala.’



Thank God, Amartya berhasil melewati keraguannya sendiri. Dan, ketika tiba hari H –sambil kami berjibaku memacu kecepatan di jalan raya karena takut terlambat ke tempat acara – alangkah leganya hati menyaksikan Amartya dan kawan-kawannya dapat menikmati detik-detik menegangkan itu. Mal dimana pun memang tak bisa kita harapkan akan bisa hening dan sepi dari lalu lalang orang. Tetapi dengan berbagai keterbatasan itu, anak-anak ini mampu mencuri perhatian pengunjung. Pada awalnya para penonton dadakan itu hanya setengah hati bertepuk tangan, tapi pada beberapa penampilan puncak memberi aplaus meriah.


Ada yang aneh. Menyaksikan Amartya memainkan piano pada keyboard, sambil sesekali ia mencuri pandang ke arah kami ayah-ibunya seakan meminta restu, hanya sekelebat saja siluet 'gadis yang memainkan piano ' dari masa puluhan tahun lalu itu sempat melintas. Bayangan itu dengan cepat meredup dan tak bersisa. Sebab, si buah hati semata wayang agaknya telah mampu merajai hati ayahnya. Lebih kuat dan lebih dalam. Lebih manis dan lebih lembut. Lebih tulus dan lebih jujur. Sekaligus lebih akrab dan apa adanya. Bahkan dibandingkan dengan pianis mana pun. Termasuk dengan gadis yang memainkan piano pada suatu ketika di suatu masa puluhan tahun silam. Yang tidak pernah saya tahu siapa namanya, kemana ia pulang dan siapa yang akan mengantarkannya.


Ciputat, Sabtu, 1 Agustus 2009

Keterangan foto (dari atas ke bawah)

1. Amartya memainkan piano pada keyboard mengiringi teman-temannya
2. Sebelum berangkat sekolah, pada usia 8 tahun
3.Mengiringi teman-temannya di plaza BSD
4. Amartya menyanyikan lagu 'Ke Ujung Dunia'
5.Mengiringi teman-temannya di plaza Bintaro
6.Bersama Bu Titi, guru les piano dan vokalnya di S;ipi Plaza
7.Seusai acara mendapat pembagian piagam di Plaza Bintaro
8. Amartya memamerkan piagam seusai pentas di plaza BSD

6 comments:

  1. Helena5:15 PM

    touchy indeed bang. mau nangis, hiks. peluk cium utk amartya

    ReplyDelete
  2. Anonymous10:44 PM

    Kapan2 pengen ketemu Amartya dan mau tau apa rahasia untuk merajai hati papanya..hahahahaha....

    ReplyDelete
  3. Mula-mula kukira judulnya GADIS YANG MEMAKAN PIANO. Makanya penasaran hahaha, ternyata Sanina ini sedang curhat tentang boru hasiannya..... Maju terus Sanina. Salam sama si Amartya ya

    ReplyDelete
  4. I recently came across your blog and have been reading along. I thought I would leave my first comment. I don't know what to say except that I have enjoyed reading. Nice blog. I will keep visiting this blog very often.


    Sara

    http://pianonotes.info

    ReplyDelete
  5. Marojak Manalu12:16 AM

    Siapa dia lae, gadis yang memainkan piano itu?

    ReplyDelete
  6. aduhhh... sampai merinding membacanya bang.. sukses untuk Amartya. aku saja yang sudah bangkotan ini mau ponggol jari2ku menekan tuts piano itu tak jelas nadanya. GBU.

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...