Saturday, August 29, 2009

Tentang Tante Lores dan Segelas Kecil Milo



Segelas coklat Milo pasti tak istimewa bagi kebanyakan anak-anak sekarang. Tapi 30 tahun lalu ia sangat menghipnotis. Dan, seorang bocah Sarimatondang yang menjelang remaja, begitu menginginkannya. Sampai terbayang-bayang. Terbawa ke dalam mimpinya dan berbisik dalam hati: “Nanti kalau aku sudah besar dan bisa cari uang sendiri, akan kubeli Milo sekaleng penuh. Kuminum terus-menerus tak henti-henti dan sepuas-puasnya….”


Tak perlu diherankan. Di masa itu satu-satunya saluran televisi nasional hampir setiap malam menayangkan iklan coklat bubuk itu. Lewat Mana Suka Siaran Niaga TVRI advertensi Milo muncul berupa gambar hidup serombongan anak-anak yang dengan segala kegesitannya menenggaknya penuh gairah. Sampai tumpah-tumpah. Berkeringat dan lelah, tetapi senyum mereka penuh kepuasan. Cerdas. Kuat. Modern. Semua anak-anak pasti ingin berbagi kegembiraan begitu.


Anak-anak Sarimatondang menontonnya dengan kagum. Juga si bocah yang menjelang remaja itu. Dan, Milo jadi nama yang akrab sekarib kerabat. Semua anak tahu nama itu. Bisa membayangkan seperti apa rupanya sampai serinci-rincinya. Sayangnya, pada saat yang sama ia terasa jauh. Bahkan tak tersentuh. Sebab Milo di kampung yang perekonomiannya masih mengandalkan pertanian tradisionil itu, adalah minuman mahal dan di luar prioritas budget rumah tangga. Tak ada kedai yang menjualnya. Juga di pasar desa yang hanya beroperasi dua hari dalam sepekan, ia sulit ditemukan.


Bagaimana pula mengharapkan ada pedagang yang menjual Milo? Kala itu hampir tak ada keluarga yang bisa secara rutin menikmati hidangan ala Empat Sehat, apa lagi Lima Sempurna. Kecuali untuk para bayi, susu adalah minuman langka yang hanya terhidang pada saat-saat hari gajian atau sehabis menjual hasil panen. Itu pun baru sebatas susu kental manis kaleng yang kadang-kadang takaran airnya sengaja dibikin berlebih agar hemat dan cukup dibagikan kepada kakak-beradik. Coklat bubuk Milo? Wah, para ibu-ibu harus berpikir seribu kali untuk tertarik membelinya. Apalagi kalau segera terlintas untuk membandingkannya dengan air tajin beras merah, alternatif ‘susu coklat’ yang bisa dihidangkan dengan cuma-cuma. Pasti tercipta rasa bersalah tiap kali muncul godaan ‘bermewah-mewah’ dengan minuman sekelas Milo.


Maka bocah asal Sarimatondang itu tak bisa berbuat banyak kecuali menyimpan mimpinya tentang Milo dalam-dalam. Tak pernah terlintas untuk memintanya kepada ibunya karena jawabannya sudah dapat ia tebak. Kedua orang tuanya hanya guru desa dengan pendapatan yang pas-pasan. Punya anak enam orang, semuanya masih kecil-kecil. Juga di rumah masih menumpang dua orang namboru (adik perempuan ayah) dan Oppung (kakek). Meminta disediakan minuman kelas atas seperti Milo pasti akan dicap sebagai sikap mentang-mentang atau pajago-jagohon.



()()()

Tapi selalu ada jalan. Dan dunia ini adalah lahan bagi berbagai perjumpaan.


Syahdan, bertahun-tahun kemudian si bocah Sarimatondang sepenuhnya menjadi remaja. Ia menamatkan sekolah SMP-nya. Di desanya belum ada sekolah SMA, sehingga alternatif paling masuk akal adalah melanjutkannya ke Pematang Siantar. Ini adalah sebuah kota dagang dan kota birokrasi nomor dua terbesar di Sumatera Utara. Jauhnya 25 kilometer dari kampung halaman. Ke sini lah anak remaja itu dikirimkan orang tuanya indekos. Tak perlu susah-susah mencari rumah. Sebab di kota ini sudah lama bermukim seseorang yang ia sapa dengan panggilan Tante. Adik ibunya.


Sang Tante bekerja sebagai guru Bahasa Inggris di sebuah SMEA Negeri. Suaminya, yang akrab dengan panggilan Bapauda yang berarti adalah Om, bekerja sebagai guru juga. Anak mereka tiga orang, masih kecil-kecil. Yang paling sulung bahkan baru di bangku TK. Rumah mereka cukup besar dengan jendela yang banyak dan lebar-lebar. Model rumah Nias, kata orang-orang, menyebut pulau kelahiran si Bapauda. Letak rumah itu di kawasan di dekat sebuah pabrik rokok. Masih banyak lahan kosong dan pohon-pohon di sekitarnya sehingga bila malam tiba, sepi segera terasa. Tentu dalam hemat orang tua si remaja asal Sarimatondang itu, ini adalah tempat ideal untuk belajar. Apalagi ada Tante yang bakal bertindak sebagai ibu pengganti. Si remaja van Sarimatondang menyambutnya dengan senang.


Yang tak disangka-sangkanya adalah rumah ini menjadi tempatnya pertama kali menggenapi mimpinya minum coklat Milo yang telah lama menghantuinya. Pengalaman itu begitu berkesan dan mendalam sehingga tak pernah lekang dari kenangannya sampai kelak ia tua. Dan, uniknya, hal itu didapatinya dengan cara yang agak berbeda dengan ‘dendamnya’ tatkala menyaksikan siaran TVRI tempo hari. Jika dulu ia berangan-angan akan memuaskan rasa penasarannya pada coklat Milo dengan menenggaknya bergelas-gelas tiada henti sampai tumpah-tumpah, meminum coklat Milo di rumah itu justru dialaminya dengan cara lain, yang di kemudian hari, ia jadikan ‘trade mark’ mengenang sang Tante.


Coklat Milo yang dirindukannya itu hadir dalam bentuk gelas kecil yang sekali tenggak sudah habis. Setiap pagi si Tante tak pernah alpa menghidangkan minuman tersebut sebagai pelengkap sarapan seisi rumah, termasuk bagi si udik van Sarimatondang. Menu sarapan boleh berganti-ganti. Kadang-kadang nasi goreng dengan suwiran telur dadar. Kala lain roti dengan selai kacang atau srikaya. Besok lusa nasi putih dengan sepotong tongkol dan tumis kangkung. Namun yang tak pernah ketinggalan adalah coklat Milo hangat itu. Selalu dalam segelas kecil yang sekali tenggak, isinya pasti lenyap.


Ya, sekali tenggak habis lah coklat hangat itu. Sebab gelas yang jadi tempatnya disuguhkan berukuran kecil. Sebuah gelas bening yang terbuat dari beling, kira-kira setengah ukuran gelas standar. Tanpa tangkai. Dan coklat itu selalu dalam keadaan hangat yang terukur, sehingga siap diminum tanpa perlu harus menunggu lebih agak dingin lagi. Kalau mengikutkan perasaannya, kadang-kadang si remaja Sarimatondang memang masih merasa kurang dengan porsi seirit itu. Benar-benar kurang dramatis ia rasakan ‘pertemuan’nya dengan coklat Milo bila dibandingkan dengan cita-citanya semasa masih bocah dulu. Tapi melihat seisi rumah juga disiplin mencukupkan diri dengan gelas kecil, ia menyesuaikan diri juga. Bahkan makin lama justru menerimanya sebagai cara baru meminum coklat hangat: tidak boleh berlebih-lebih, tidak boleh ada sisa. Cukup di gelas kecil sekali tenggak. Dan kebiasaan yang ditanamkan sang Tante pun membekas sampai jauh.


()()()


Lalu ajal menjemput Tante. Ia dipanggil Tuhan. Pada dinihari 7 Agustus lalu, saya menerima telepon dari kampung halaman yang mengabarkan berita duka itu. Tante Lores, demikian saya memanggilnya (nama panjangnya, Lorestina Damanik) menghembuskan nafasnya yang terakhir di rumah sakit tempatnya dirawat di Pematang Siantar. Tak terlalu mengejutkan, sebenarnya. Sebab sudah lama ia menderita diabetes yang berkomplikasi dengan penyakit lain. Berkali-kali ia menjalani perawatan di berbagai rumah sakit di P.Siantar, Medan bahkan juga pernah dibawa ke Penang.


Tetapi, apakah betul ada kata ‘siap’ ketika kita menerima kabar duka? Tak pernah, saya kira. Ia selalu datang seolah sebagai kejutan. Sebagian karena memang tak diduga-duga. Tapi bahkan ketika semuanya pun sudah demikian terang benderang, tetap saja datangnya kematian terasa menyentak. Perpisahan dengan orang yang terkasih selalu terasa terlalu cepat.


Maka itu lah yang membuat dada serasa sesak ketika menyadari si Tante telah tiada. Di ujung telepon pagi dinihari itu, terdengar suara tangisan Boi, putra sulung Tante, tersendat-sendat tapi demikian keras. Ayah seorang putri itu penuh sedu sedan dan hanya bisa terbata-bata menjawab ucapan belasungkawa yang kami sampaikan. Boi yang periang, yang suka bercanda dan punya banyak teman di seantero Siantar, begitu tidak berdayanya pada menit-menit awal kepergian Mamaknya. Keadaan yang saya kira menyelimuti juga ayahnya, Bapauda Zendrato, dan tiga orang adiknya, Wilga, Peter dan Rina.


Tante Lores sebenarnya sudah hampir dekat pada masa pensiunnya sebagai pegawai negeri. Usianya 60. Anak-anaknya semua sudah dewasa. Tinggal seorang lagi yang belum menikah. Ia sudah sempat menggendong dua cucu. Dalam tradisi Simalungun, meninggal dunia dalam keadaan semacam ini sudah dianggap nyaris sayurmatua, sebuah status terhormat dalam mengakhiri hidup.


Namun tetap saja ia terasa pergi terlalu pagi. Dan itu pasti lah karena rasa kehilangan ini datangnya berlandaskan cinta. “Brief is life, but love is long,” kata tokoh dalam drama karangan seorang penyair Inggris. Dan kita mengaminkan itu sebagai sebuah bentuk keluhuran manusia. Bahwa di satu sisi kita mengakui perjumpaan dan kebersamaan dalam hidup alangkah fana. Tapi pada saat yang sama manusia beruntung diberi kemungkinan mengenang. Memelihara dan memupuk kasih sayang. Dan itu lah yang sesungguhnya akan bertahan lama. Abadi. Tak punah dimakan zaman.


Saya akan mengenang Tante Lores terutama oleh ketegasannya, disiplin yang diteladankannya dan hidup sederhana yang demikian mendarah daging pada dirinya dan kemudian ia tanamkan kepada keluarganya. Ketegasan dan disiplin pula lah yang barangkali ingin ia pertunjukkan kepada saya dan seisi rumahnya, lewat pengalaman meminum segelas kecil Milo yang habis sekali tenggak, selama dua tahun saya mondok di rumahnya. Seolah ia ingin menunjukkan bahwa untuk segala hal ada porsinya. Termasuk untuk hal-hal yang enak dan menyenangkan, seperti segelas coklat hangat.


Sekali waktu tatkala Tante masih gadis dan menempuh kuliah di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas HKBP Nommensen di P. Siantar, ia memboyong saya menginap di tempat kos-nya. Saya masih duduk di sekolah dasar ketika itu. Mungkin kelas III atau IV, saya sudah lupa. Yang jelas, saat itu masa liburan panjang sedang berlangsung. Dan agaknya, ia merasa kasihan dan perlu memberi pengalaman ‘kota’ kepada saya keponakannya.


Tempat kosnya bersama sejumlah mahasiswi lainnya adalah sebuah rumah bertingkat di tepi jalan besar di kawasan Pecinan. Para anak-anak kos ini tinggal di lantai dua. Dan selama ‘berlibur’ di sana, setiap pagi sang Tante akan membangunkan saya dan meminta agar cepat-cepat mandi. Lalu ia akan memanggilkan penjaja kue yang lewat di jalanan (sampai sekarang saya masih ingat nama kue sarapan ala Tionghoa yang populer: Cipeng), sebuah ritual yang saya tunggu-tunggu. Sebab kue Cipeng itu begitu nikmat saya rasa. Setelah itu, baru ia memberi ‘kuliah singkat’ yang intinya adalah meminta agar saya baik-baik di rumah, sebab dia akan pergi kuliah sebentar. Jangan pergi kemana-mana, tetap lah di rumah. Lalu ia menunjuk ke lemari bukunya yang tidak terlalu besar. Di sana sudah tersedia komik-komik cerita Alkitab yang rupanya sudah disediakannya bagi saya sebagai lalapan melewatkan waktu.


Sambil kuliah ia mencari duit. Sore hari si Tante sudah ditunggu oleh murid-murid les privat Bahasa Inggrisnya. Umumnya rumah para murid itu tak jauh dari tempat kos si Tante. Ke sana, cukup ditempuh dengan berjalan kaki, dan itu sebabnya selama liburan itu saya juga turut diajaknya menemaninya mengajar. Seperti biasa, sejak dari rumah dia sudah mewanti-wanti agar nanti ketika si Tante menjalankan tugas mengajarnya, saya harus duduk manis mendengar dan memperhatikan saja. Tak boleh berisik. Tak boleh lasak. Duduk dan diam di tempat.


Tentu saya mengiyakan.


Dan sampai kini pengalaman itu tak juga bisa lupa. Bahkan seolah kembali jadi segar pemandangan tatkala Tante duduk di ujung meja makan di rumah murid les privatnya itu, sementara sang murid duduk di salah satu sisinya. Sesekali si Tante beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri papan tulis kecil yang sudah tersedia pula di dekat meja makan itu. Saya hanya bisa melihat dari tempat duduk yang agak jauh., di ujung meja lainnya. Dengan mata yang seolah tak rela berkedip. Mungkin karena takjub melihat murid si Tante yang umurnya hanya beberapa tahun di atas saya, tetapi sudah cas cis cus berbahasa Inggris.


Sambil si Tante mengajar, adakalanya sang murid permisi sebentar dan pergi ke dapur. Sekembali dari sana, si murid sudah duduk manis lagi mengikuti pelajaran meskipun kali ini di tangannya sudah ada es mambo yang dijilatinya sambil menyimak apa yang diucapkan gurunya. Sekali lagi, dari jauh saya kembali takjub. Bukan lagi pada cas cis cus-nya bahasa Inggris sang murid, melainkan membayangkan betapa nikmatnya es mambo. Tak sedikit pun saya lihat Tante keberatan dengan keadaan itu. Wajah dingin dan seriusnya tetap ia perlihatkan sepanjang jam pelajaran les privat. Kadang-kadang saya merasa tersiksa karena tak bersalah apa-apa kok ikut kebagian ‘wajah dingin’ itu. Tetapi biasanya segera sesudah kami melangkah keluar dari pintu rumah sang murid, si Tante kembali menjadi Tante yang saya kenal. Yang tegas tetapi akrab. Dan di ujung jalan, pernah ia bertanya, “Kau pasti menginginkan es mambo seperti yang tadi kan? Nah, sekarang kita akan beli es mambo.”


Di lingkungan keluarga besar, taraf hidup ekonomi keluarga si Tante lah yang paling mapan dibandingkan dengan kakak mau pun adik-adiknya. Namun kesederhanaan hidupnya tampaknya tak banyak berubah bahkan ketika anak-anaknya sudah lepas dari tanggungannya. Sedari dulu ‘makan di luar’ selalu menjadi acara penting bagi keluarga itu. Namun ‘penting’ dalam hal ini dugaan saya bukan karena frekuensinya yang begitu sering, melainkan karena persiapan dan perencanaan budget untuk ‘makan di luar’ itu begitu cermatnya.


Dulu ketika anak-anaknya masih kecil dan saya tinggal di rumah itu, pergi ke ‘Pajak Horas’ (di Siantar, Pajak =Pasar) merupakan acara yang akan membuat heboh seisi rumah. Sebab selain belanja keperluan keluarga, si Tante akan mengajak kami jajan mie pangsit atau bihun kuah di sebuah kedai langganannya di lingkungan pasar itu. Seminggu sebelum acara itu tiba, anak-anak sudah demikian looking forwardnya. Termasuk dengan duduk manis mengerjakan pe-er di sore hari agar ikut ‘diajak’. Dan kunjungan ke ‘Pajak Horas’ itu memang selalu sukses. Rugi pula bila dilewatkan. Sebab harus menunggu satu bulan lagi baru ada kunjungan serupa.


Tiap kali akhir Tahun tiba, semua anggota keluarga besar berkumpul di rumah kakek di Sarimatondang. Keluarga si Tante akan tiba paling pagi dan sore hari kembali lagi ke Siantar. Di kala seperti ini, pasti si Tante lah yang paling awal dan paling rajin mewanti-wanti anak-anaknya serta keponakan-keponakan lain agar segera pergi ke kebun belakang rumah. Ia meminta mereka untuk memanjat kelapa, memetik daun singkong, labu siam mau pun cabai, menebang pisang yang sudah tua bila ada, untuk kemudian dimasukkan ke mobil yang nanti akan membawa mereka pulang.


Selintas mungkin akan muncul pikiran, untuk apa sih si Tante repot-repot membawa hasil bumi itu? Bukan kah di Pajak Horas di Siantar sayur-mayur semacam itu dengan mudah ia dapatkan? Tapi dari mengamati kebiasaannya berkali-kali, akhirnya saya temukan juga pesan yang ingin disampaikannya. Sebab nanti sore-sore sebelum ia dan keluarganya pulang, ia akan mengumpulkan para keponakan-keponakannya yang telah repot-repot memetik sayur itu. Lalu ia membagi-bagikan uang, sebagai ‘jerih-payah’ telah ikut berpeluh mengumpulkan hasil bumi tadi. Sebuah pesan yang baik, sebab dengan begitu para anak-anak tadi akhirnya dapat memahami bahwa uang yang mereka terima itu bukan sedekah, melainkan upah.


Rumah mereka di Siantar adalah persinggahan yang teduh. Bukan hanya karena besar dengan jendela yang banyak dan lebar-lebar, melainkan oleh keramahan dan keramaian anak-anaknya yang samasekali tak pernah menunjukkan diri sebagai ‘anak kota.’ Boi dan Peter, dua anak lelaki di keluarga ini, dalam pandangan saya adalah adik-adik yang serbabisa untuk berbagai hal ‘pekerjaan lelaki.’ Memanjat kelapa, memotong dan menguliti ayam, mengupas nangka bahkan mencangkul dan menyiangi makam kakek adalah ketrampilan-ketrampilan anak kampung yang sangat mereka kuasai dan sampai sekarang saya tak tahu entah darimana mereka pelajari. Bersama-sama dengan mereka kita akan merasa direriungi oleh adik-adik yang sigap memberi pertolongan. Sama seperti ayah-ibu mereka yang juga tak kalah tangkas membantu tetek-bengek kepada keluarga kakak dan adik-adiknya, yang sering membutuhkan pinjaman dana untuk membiayai sekolah anak-anak mereka.


()()()



Kini telah berpekan-pekan beliau pergi. Pelan-pelan air mata akan mengering. Duka akan lenyap.Tetapi yang indah dan baik akan tetap terkenang. Sebab brief is life, but love is long. Dan Tante telah mencapai finish pada pertandingan yang ia jalani. Isi doa dan harapan kita tentu lah ia telah memenangi dan disemati mahkota oleh Dia yang empunya kehidupan. Pada saat yang sama kita yang ia tinggalkan mewarisi kasih dan cintanya, yang telah ia pertunjukkan sedemikian rupa. Sehingga sampai puluhan tahun kemudian, saya masih tetap mengenang Tante sebagai perempuan teladan dalam soal ketegasan dan disiplin. Diantaranya lewat segelas kecil Milo setiap pagi.

Selamat jalan, Tante.


selesai


ciputat, 30 agt 2009

1 comment:

  1. Surung S.12:13 AM

    Jadi ingat ibu kosku di jogja. Gak pernah lupa nyuguhin teh manis hangat tiap pagi....

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...