Wednesday, October 21, 2009

Namboru, Kau Harus Tanggung Jawab!


Saya membayangkan gadis itu duduk bersimpuh setengah terkulai. Kepalanya merunduk, diletakkannya di pangkuan Namboru, wanita tua yang duduk di kursi di hadapannya. Gadis itu menangis. Penuh sedu sedan. Dan ia dapat merasakan si Namboru, saudara perempuan ayahnya itu, mengelus-elus kepalanya. Si Namboru mungkin berusaha menghibur. Tapi apa mungkin? Sesungguhnya kedua wanita itu sama-sama menderita. Sama-sama dilanda sedih menyadari betapa sakitnya cinta yang dikhianati.

Gadis itu baru saja mendapat kabar yang meluluh-lantakkan hatinya. Kekasihnya pergi, menyunting perempuan lain. Padahal, mereka sudah bertunangan lama. Bukan hanya keluarga kedua belah pihak, teman sebaya dan orang sekampung pun sudah tahu tentang perjodohan mereka. Tapi kini semua berantakan. Gadis itu malu. Juga setengah putus asa. 

Tak ia sangka akan begini jadinya. Sebab cintanya yang begitu dalam, adalah hasil dari ia memupuknya sedikit demi sedikit sampai kemudian ia pasrahkan untuk sang kekasih saja. Dan ia merasa sangat yakin. Sebab pujaan hatinya itu bukan siapa-siapa, melainkan orang yang sudah ia kenal dari kecil. Dia adalah putra si Namboru. Dan dalam tradisi Batak, anak Namboru atau lazim disebut pariban adalah jodoh yang paling pas bagi seorang perempuan.


Gadis itu tak pernah lupa bagaimana awal-mula romansa itu terjadi. Si Namboru datang ke rumahnya dan dengan takzim berbicara kepada ayahnya. Dijelaskannya keinginan hatinya untuk meminang si gadis untuk jadi menantunya. Tak sampai di situ. Si Namboru juga membujuk ibu si gadis. Menggunakan segala cara untuk mewujudkan cita-citanya.

Namboru, Marsapata tu homa Au
Tante, kepadamu lah kutukan ini
Tinodom au gabe parumaenmu
Engkau memilihku untuk jadi menantu
Damang i disomba ho
Demi itu engkau menyembah ayahku
Dainang i dielek ho
Engkau membujuk ibu
Asa tung gabe tarunduk au
Agar aku mau


Si gadis  juga masih ingat, bagaimana ayahnya berbicara kepada dirinya. Berpesan agar pinangan si Namboru dituruti saja. Sebetulnya berat baginya untuk segera memberi jawaban. Hanya rasa hormat kepada orang tua lah yang membuatnya menundukkan diri mengiyakan perjodohan itu. Lagipula, ia sudah mengenal si Namboru demikian lama. Ia bukan lagi orang asing di rumah mau pun di tengah keluarga. 

Tung maol do hualus hata mi
Sesungguhnya sulit ku memberi jawab
Damang i do naso boi tarjua au
Bujukan ayah lah yang tak mungkin kutolak
Asa saut ma sakkapmi
Sehingga terwujud lah rencanamu
Saut pangidoan mi
Terwujud permintaanmu
Au gabe parumaen mi....
Aku jadi menantumu

Kini semua yang manis itu tinggal kenangan. Setelah menamatkan studi dan meraih gelar sarjana, si pujaan hati berpaling kepada wanita lain. Ia kepincut pada gadis yang bukan boru Batak. Perempuan dari Tanah Seberang pula: orang Jawa. Si gadis merasa dilukai dua kali.

Maka si gadis yang patah hati itu hanya bisa menangis. Ingin ia marah, tetapi kepada siapa? Si Namboru yang ada di hadapannya mungkin bisa ia salahkan sebagai 'sutradara' dari semua ini. Tapi bagaimana ia akan tega melihat wanita tua yang juga tengah berwajah mendung itu? Bukan kah sesungguhnya mereka sama-sama disakiti oleh seseorang yang sama-sama mereka kasihi pula?.


Di sela sedu sedannya, akhirnya si gadis  berkata dengan terbata-bata. Menumpahkan perih hatinya di hadapan si Namboru. “Namboru, kalau kesedihan ini adalah kutukan,” kata dia, “Biar lah kau yang menanggungnya.” Sebab, “Dulu engkau sampai-sampai menyembah ayah ketika melamarku. Engkau juga membujuk ibu agar aku sudi. Dan, karena itu aku mengiyakan keinginanmu untuk jadi calon menantumu. Tetapi kini justru keputus-asaan lah upah cintaku. Ya, Namboru, engkau lah yang menanggung kutuk ini.”  

Hape dung tarunduk au di hatami
Ternyata setelah aku memenuhi keinginanmu
Hupasahat sasude na holokki
Dan kuserahkan cinta sepenuh hati
Nang akka dongan naposo nga sude umbotoi
Teman dan kolega pun semua sudah tahu
Dung leleng au nga sai tarpaima i
Setelah lama ku menunggu
Dapot anakmi ma sarjana nai
Dan putramu menamatkan kuliahnya
Panikkotan do upani holokki
Ternyata hanya kesia-siaan yang jadi ganjaran sayangku 
Boru Jawa boru Jawa dipasaut anak mi
Justru gadis Jawa yang dipersuntingnya

***

 
Mungkin cerita itu agak terlalu melankolis dan dramatis. Terlalu emosional dan berlebihan pertumpahan air mata yang terjadi. Tapi tak bisa lagi saya mencari cara yang lebih baik untuk menggambarkan lagu berjudul Namboru Marsapata Tu Homa (Tante, Kepadamu lah Kutukan Ini). Pernah lebih lima kali  dalam satu hari saya memutar ulang lagu ini. Mencoba menghafal syairnya dan merenungkan suasananya, seraya tak henti-henti mengagumi suara Grup Ladies, kelompok vokal perempuan yang menyanyikannya. Tetap saja yang tergambar di benak  adalah keadaan haru biru. Preman Pasar Senen yang sangar-sangar itu pun saya kira pasti tertegun dengan mata basah bila menyempatkan diri mendengar dan merenungi kisah dalam lagu ini.


Perjumpaan dengan lagu Namboru sebenarnya kebetulan belaka. Beberapa bulan lalu, Leo Siadari, keponakan yang bermukim di Bandung, datang menginap di rumah membawa laptopnya. Lalu semua koleksi lagu-lagu yang tersimpan di sana dia copy ke laptop saya, termasuk lagu-lagu Batak. Ada ratusan jumlahnya. Dan, ketika sebelum lebaran dokter menganjurkan agar saya banyak istirahat dan minum air putih, maka sepanjang liburan  kemarin saya memutuskan untuk menghabiskan sebagian besar waktu luang untuk leyeh-leyeh sambil mendengar lagu-lagu Batak. Saat itu lah saya terkesima ketika menyadari ternyata begitu banyak lagu Batak yang bercerita tentang Namboru yang dimintai pertanggung-jawaban oleh calon menantunya karena perjodohan yang kandas. Lagu Namboru, Marsapata Tu Homa, (Sudah saya googling berkali-kali, tetapi belum ketemu siapa pencipta lagu ini. Sabar ya.....) hanya lah salah satu saja.

Namboru dalam adat Batak memang sering digambarkan memiliki kedudukan yang strategis. Walau dalam tradisi patrilineal kedudukan perempuan selalu berada di bawah bayang-bayang pria, tak berarti kaum perempuan tak punya cara untuk menembus kebuntuan struktur silsilah yang tak berpihak pada mereka. Dan kaum Namboru kerap berhasil memainkan kartu trufnya sehingga tak terlempar terlalu jauh dari lingkup keluarga besarnya.

Salah satunya adalah dengan menyodorkan anak lelakinya untuk mempersunting putri paman, seperti yang terjadi pada kisah dalam lagu Namboru, Marsapata Tu homa. Dengan berbagai cara si Namboru membujuk dan merayu kakak atau adik lelakinya agar sudi mengambil anaknya sebagai menantu. Siapa pula pria yang tak kan luluh oleh wajah memelas adik/kakak perempuannya? 

Si Namboru tak bisa disalahkan bila gencar melakukan lobi-lobi seperti itu. Keinginanya pasti lah untuk sesuatu yang baik. Yakni untuk mempertahankan dan melanggengkan jejaring kekerabatan. “Daripada kepada orang lain, kan lebih baik dijodohkan kepada seseorang yang sudah karib dan tau bibit, bebet dan bobotnya?” begitu lah kira-kira pertimbangannya.

Kenginan si Namboru makin tak bisa ditolak karena rasa berutang mau pun tanggung jawab para lelaki Batak kepada saudara perempuannya demikian besar. Jika dari sosiologi kita mengenal konsep keluarga batih yang terdiri dari hanya ayah, ibu dan anak-anak, dalam tradisi Batak secara de facto si Namboru pun kerap termasuk ke dalam keluarga inti. Sebab, para Namboru lah biasanya yang 'diimpor' untuk jadi pengasuh anak-anak. Dari sana tercipta  hubungan yang mendalam antara anak-anak dengan Namborunya. Seringkali karena rasa hormat dan keakraban kepada Namboru, si gadis tak bisa berkata tidak  tatkala dijodohkan dengan anak Namboru.

Sayangnya, banyak cinta yang berbelok di tengah jalan.  Dan sang Namboru jadi serba salah karena lakon yang 'disutradarai'nya ternyata tak berlangsung mulus. Anak manusia punya jalannya sendiri. Dan orang tua tak pernah sepenuhnya bisa mendiktenya. Seperti kata Kahlil Gibran, your children are not your children;they come through you but not from you, maka mereka yang dijodohkan acap kali berubah pikiran justru di saat-saat terakhir. Lalu luka dan perih tak bisa terhindarkan.


Itu pula yang tergambar pada satu lagu lama yang saya lupa siapa penyanyi dan penciptanya (Kalau tidak salah, salah satu personil perempuan Eddy's Group). Lagu itu mengiris-iris hati. Terus terang, untuk lagu yang ini saya tak pernah berhasil menginterpretasikan suasana yang  bersahabat antara si gadis dengan si Namboru, seperti pada lagu yang dinyanyikan Grup Ladies. Walau nadanya lembut dengan tempo lambat, liriknya penuh amarah dan sindirian kepada sang Namboru.
Bila pada lagu terdahulu saya dapat membayangkan si gadis tak bisa menumpahkan kekesalannya kepada si Namboru karena keduanya merasa sama-sama terluka, pada lagu kedua ini kemarahan si gadis tampaknya lebih besar. Dan ini dapat dipahami. Bayangkan lah. Sesungguhnya si gadis sudah sempat menjalin cinta mendalam dengan seorang pria. Hanya karena ingin menyenangkan hati kedua orang tuanya akhirnya ia sudi memenuhi keinginan si Namboru. Tak dinyana, risiko yang telah ditempuhnya itu diganjar pengkhianatan.
Maka gadis itu protes dalam keputusasaannya kepada Namboru. "Namboru, katakan, kemana aku harus pergi?. Walau aku tak akan mengutukmu, tapi ganjaran dari penderitaan ini pasti akan kau tanggung. Jangan anggap remeh!" 

Sai tudia Nama au da namboru da
Kemana lah aku pergi wahai Namboru
Marsapata tu ho ma Lakka ni tondi hi
Kau lah yang menanggung kutuk atas takdirku
Ai ilumi ma namambaen damang dainang
Airmata mu yang berlinang membuat ayah ibu terbujuk
Bogas hi ikkon marsirang Mangoloi hatami
Lalu aku harus memutuskan cinta demi menuruti kemauanmu

Reff
Tumagon tuhalak
'Apakah lebih baik (dijodohkan) kepada orang lain?'
Didok ho tu dainang
Kau berkata kepada ibu
Sirang mai bogas hi
Dan putus lah cintaku
Atik pe martopi hian
Padahal, siapa tahu itu lah sesungguhnya belahan jiwaku
 Hape dung hon mulak Tanda ki o amonge
ternyata setelah pertunangan terlaksana
Boru ni halak dipasaut anak mi
Anakmu justru mempersunting perempuan lain
 

Alani hatam ma songonon taonon hu
Karena anjuranmu lah, aku menderita begini
Alai anggo bura tahe tung dao doi sian au
Walau aku tak kan mengutuki engkau
 Sude sapatakku Na tu ho o amonge
Namun, percaya lah balasan dari semua ini 
So tung leas roham jalo on mu doi
Pasti akan kau terima dan jangan anggap enteng


***



Pada suatu hari tatkala asyik mendengar lagu-lagu ini pada laptop di kamar tidur, saya dikejutkan oleh suara istri saya dari belakang. Rupanya ia mulai curiga dan penasaran mengapa saya bisa begitu tergila-gilanya pada lagu yang di telinganya tak lebih dari lagu cengeng mendayu-dayu ala Iis Sugianto. Ketika saya mengatakan bahwa lagu ini bercerita tentang seorang gadis yang protes kepada Namboru-nya karena sang pacar kepincut dengan wanita Jawa, istri saya ngakak setengah mati. Mungkin  ia merasa lucu karena lagu itu melibatkan orang Jawa. Tetapi mungkin juga karena ia selalu tak habis pikir kenapa suaminya masih juga mau dininabobokan lagu picisan yang mengilik-ilik keharuan.
Kemudian dengan sedikit bercanda dia memberi pendapat bahwa si gadis tak seharusnya protes kepada si Namboru. “Mestinya dia tanya dong kepada cowok yang tak tahu diri itu, kenapa dia meninggalkannya,” kata dia.

“Lho, kok kamu menyalahkan perempuan itu? Kok kamu tak membela kaum mu sih?” Saya bertanya.

“Saya bukan bermaksud mau membela siapa-siapa. Saya tak mau turut campur dengan urusan cinta orang lain. Tapi jelas lah saya harus membela Namboru,” kata dia sambil tertawa.

Saya ikut tertawa tetapi sekaligus menyadari ada yang  aneh. Walau banyak lagu yang menggambarkan begitu sadisnya seorang Namboru, herannya sampai sekarang saya belum pernah bertemu dengan perempuan Batak yang tidak ngefans sama Namboru-nya. Selalu saja mereka berkata yang bagus-bagus tentang sang Namboru.
Atau hanya di depan kita kah mereka begitu?
(selesai)

Ciputat, 18 Oktober 2009
Catatan: Mohon bantuan pembaca memberi informasi siapa pencipta kedua lagu tersebut.

3 comments:

  1. waduh saya ga nemu apa hubungan antar gambar dengan tulisan sampai bagian akhir tulisan saya baca.
    tadinya saya kira si cowok jatuh cinta sama gadis bule :)

    ReplyDelete
  2. @wiyd: susah cari foto wanita jawa :-)

    ReplyDelete
  3. Horass ito...
    Kebetulan aq lagi nyari lagu yg bisa menggambarkan kekecewaan saat ditinggalkan pariban ito,tp yg ketemu malah lagunya Marsapata tu Ho ma Namboru..
    Dalam sekali artinya yaa ito.. :)
    Itulah adat kita,terkadang sangat mengecewakan,sama sprti lagu itu ito,setelah sukses si boru na asing do di todo..

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...