Friday, October 30, 2009

The Small and Beautiful Pieces from the Past

Pecahan-pecahan masa lalu sering muncul dalam bentuknya yang lebih segar oleh benda-benda atau kejadian yang kita temukan di masa kini. Pasti bukan cuma saya yang setuju akan hal ini . Sekali waktu, seorang wanita yang duduk di sebelah saya di atas kereta dalam perjalanan ke tempat kerja, secara spontan saja menyelutuk begini: "Ih, ibu itu kayak Bu Iin."


Ujarannya itu begitu kentara terdengar sampai-sampai ia malu dengan muka memerah ketika ia sadar penumpang yang duduk sebarisan dengannya mendengar dengan jelas apa yang dia katakan.



"Siapa itu Bu Iin?" tanya saya, agak sok akrab. Dalam hati saya berpikir, siapa tahu ibu di sebelah bisa jadi teman ngobrol yang asyik. Setidaknya dalam 30 menit ke depan.

"Topinya itu loh, Pak. Mirip Bu Iin, guru saya di Sekolah Dasar dulu. Orangnya judes, tapi baik. Saya lancar hitung-hitungan perkalian karena Bu Iin," kata dia.

Saya diam, tapi mata saya arahkan kepada ibu bertopi yang dimaksud. Dia duduk di seberang sebelah kiri dari bangku kami, kira-kira 10 meter jaraknya. Di atas kereta itu, si ibu bertopi memang jadi kelihatan menonjol. Ia memakai topi 'koboi' yang lebar berwarna hijau telor, mirip yang sering dikenakan almarhum Lady Diana yang bisa kita saksikan pada berbagai fotonya.



"Apa Bu Iin sering memakai topi seperti itu, Bu?" saya bertanya, mencoba melanggengkan percakapan.

"Hampir setiap hari Pak. Dan antingnya yang besar-besar tak pernah ketinggalan," kata dia.

Sekali lagi saya mengarahkan pandangan kepada si ibu bertopi lebar. Dugaan saya usianya 50-an tahun. Lingkaran lebar topinya meneduhkan pipi dan keningnya dari terpaan sinar matahari pagi dari jendela kereta. Pulasan kosmetik di wajahnya dan warna merah menyala di bibirnya, membawa pikiran saya kepada pertanyaan berapa lama kira-kira ia bersolek sebelum naik ke kereta ini. Setengah jam? Satu jam?


"Kalau saya melihat ibu-ibu bertopi lebar, selalu saya teringat kepada Bu Iin. Dia sangat berkesan bagi kami murid-muridnya. Sewaktu lulus dari SD, kami sampai memeluk-meluk dia, karena sedih harus berpisah," kata wanita di sebelah saya.


Saya terdiam, tetapi tak lama kemudian saya menimpali. "Besok saya akan coba memakai topi lebar. Siapa tahu akan disangka Bu Iin." Maksud saya sebenarnya mencoba melucu. Tapi karena bakat itu tak ada pada saya, jadi lah si lawan bicara cemberut dan malah seakan mengambil jarak duduk.


Ups. Salah saya memang. Percakapan kami baru sebatas saling lempar celetukan, sudah berani-beraninya saya berguyon berakrab-akrab.


Belakangan ketika kereta sudah berhenti dan para penumpang akan turun, si ibu bertopi lebar dengan wanita yang di samping saya tadi jadi juga berkenalan.Dan ketika si topi lebar tahu dirinya disangka Bu Iin, ia terpingkal-pingkal sambil menutup mulutnya. "Nama saya si Anu, bukan Bu Iin," kata wanita itu, menyebut namanya sambil merapikan topinya. "Topi lebar ini saya pakai karena saya harus sering pergi berkeliling mengantarkan klien melihat rumah dan toko. Panas Bo!," kata dia lagi. Meskipun begitu ia mengatakan senang dan malah bangga disangka sebagai Bu Iin yang guru. Pekerjaannya yang sesungguhnya adalah broker properti.

()()()

Dalam mengenang Sarimatondang yang beautiful, saya juga sering seperti wanita yang duduk di samping saya di atas kereta. Sekilas saja sebenarnya kita terpukau oleh benda-benda tertentu, tetapi ia sudah bisa langsung menyegarkan lagi pecahan-pecahan kenangan di kampung halaman.

Pecahan-pecahan kenangan itu, bila dilihat dengan kacamata masa kini, tentu tak lagi harus seperti aslinya di masa lalu. Waktu pasti telah banyak mengajarkan dan memberikan tiap orang cara memandang sesuatu. Entah itu yang kita sebut kebijaksanaan, entah yang kita juluki kedewasaan. Terlalu klise untuk diulang-ulang, tetapi memang harus selalu diingat nasihat yang entah dari siapa saya pernah mendengarnya. Bahwa masa lalu tak boleh mengurung apalagi menghentikan langkah menuju yang di hadapan. Bahwa seharusnya lah dari pecahan-pecahan kenangan, manusia belajar siapa dirinya dan kemana ia berakar. Sebab akar yang kuat tak kan pernah membuat pohon lemah, tetapi justru sebaliknya.


Beberapa pekan belakangan ini saya mencoba cara baru dalam memelihara pecahan-pecahan kenangan tentang kampung halaman. Kali ini mediumnya bukan lagi blog, tetapi fesbuk. Jika  para fesbuker umumnya menulis s
tatusnya untuk memberitahukan keberadaannya mau pun apa yang terbetik di pikirannya, saya mencoba menyuguhkan hal lain. Pada status fesbuk saya, yang saya ketengahkan adalah benda-benda atau kejadian tertentu yang bisa menyegarkan ulang kenangan pada kampung halaman.

Mula-mula agak kagok dan aneh juga. Namun, lama-lama saya temukan juga ritme pemutakhiran status dengan topik benda-benda penggugah kenangan itu. Apalagi, sejak awal akun fesbuk Par-Sarimatondang yang saya aktifkan kurang lebih enam bulan lalu itu, memang dimaksudkan sebagai perpanjangan dari blog The Beautiful Sarimatondang.

Saya usahakan mengisi status tiga kali sehari: pagi sambil berangkat kerja; siang pas jam makan dan sore hari di perjalanan pulang kantor. (Tidak selalu berhasil saya memelihara disiplin ini. Kadang-kadang bolong-bolong juga). Yang muncul pada akhirnya memang semacam kronik-kronik sepanjang satu sampai dua paragraf, yang saya usahakan diperkuat oleh gambar yang mendukung. Saya namakan kronik-kronik itu sebagai the small and beautiful pieces from the past.

Maunya saya sih, semoga kronik-kronik itu bisa menggugah pembacanya menggali lagi sesuatu yang baik dari kejadian-kejadian yang terlewat. Sebab kerap kali kita manusia di masa kini terlalu  dihanyutkan oleh pengejaran akan masa depan yang tak tentu arah sehingga sering melupakan darimana titik berangkat. Dan, ehm.  Nasihat ini bukan orisinil dari saya loh, melainkan nyontek dikit-dikit dari sana-sini setelah membaca-baca The Lexus & Olive Tree nya Thomas L. Friedman.

Berikut ini adalah beberapa bentuk status fesbuk Par-Sarimatondang yang muncul dalam bentuk kronik itu. Ingin sekali menghibur diri sendiri dan teman-teman lewat cuplikan-cuplikan tak penting itu. Tetapi kalau tidak merasa terhibur pun, kritik dan saran ditunggu. Apalagi bila sudi meng-add akun fesbuk Par-Sarimatondang: thebeautifulsarimatondang@yahoo.com.

Penguasa Lapangan Sarimatondang (26 Oktober 2009)
"Presiden boleh berganti-ganti, kabinet bertukar-tukar, rezim naik turun, tetapi kalau penguasa lapangan sepak bola Sarimatondang tetap lah mereka-mereka ini, sebelum dijadikan 'jagal.' Selamat makan siang, dear friends......"

Saya menulis status seperti ini di fesbuk tatkala baru selesai makan siang di arena jajanan kaki lima beberapa blok dari kantor. Di perjalanan, saya menyadari betapa banyaknya spanduk berjudul 'sedia soto kaki.'  Spontan saja saya teringat pada kerbau-kerbau yang selalu merumput di lapangan bola Sarimatondang. Dan, kemudian muncul lah status seperti di atas.

Sejak dulu, lapangan Sarimatondang memang kerap digunakan sebagai tempat menggembalakan kerbau. Tak mengherankan bila yang lebih banyak menguasai lapangan itu bukan para pemain klub Persesa (Persatuan Sepak Bola Sarimatonadang) yang legendaris tapi kini sudah tidak aktif, melainkan para hewan-hewan yang biasanya akan berubah menjadi gulai itu kalau ada pesta perkawinan.

Seorang teman berkomentar atas foto itu yang membuat saya terbahak-bahak sendirian di kantor ketika membacanya. Kata dia: "Nggak juga. Sebagian dari mereka-mereka ini ikut duduk kok di kabinet. Ha13X....."

Kegembiraan dari Membeli Lappet:

"Kalau di Sarimatondang, kalimat paling menyejukkan di pagi hari adalah kalau Mamak bilang begini:'Lao jo ho, tuhor lappet i kode ni Bapatuam Sidabutar ne!' Pasti langsung sigap berlari dg hati berbunga2"


Terjemahan bebas dari kalimat Bahasa Batak itu adalah: "Pergi dulu kau, beli lappet di kedai Pak De Sidabutar!". Dan, kalimat semacam ini di pagi hari memang jadi semacam kabar baik. Sebab hal itu berarti sarapan pagi itu tak lagi cuma dengan nasi, singkong rebus dan ikan asin. Melainkan juga lepat ketan (atau beras) yang nikmat dan mak nyus.

Status ini, seingat saya, saya tulis di atas kereta pada pagi hari dalam perjalanan ke kantor. Beberapa menit sebelumnya di rumah, saya menghabiskan segelas teh manis dan sekerat roti. Tapi itu justru mengingatkan saya pada lappet, sarapan yang dulu kami anggap mewah dalam menyambut pagi di Sarimatondang. 

Sejumlah kawan fesbuk bersahut-sahutan membaca ini karena ternyata hampir semuanya punya pengalaman serupa. Dan lucunya, karena dulu kita begitu bersemangatnya ingin pergi membeli lapet, akhirnya jadi kebingungan tatkala tiba di kedai Pak De Sidabutar itu. Soalnya ketika ditanya, 'beli lapet ketan atau lapet beras?,' si pembeli tak bisa menjawab karena sebelum berangkat tadi, dia  lupa menanyakannya kepada Mamak. Akhirnya harus pulang ke rumah lagi untuk memperjelas. Harap dicatat, kejadian ini berlangsung ketika kebiasaan ber-SMS-an masih di alam mimpi.

Magic Jar Ala Sarimatondang

"Ini adalah MAGIC JAR di rumah kami di Sarimatondang, tahun 1980-an. Serius loh!. Orang memang menyebutnya SELIMUT. Bisa jugaGOBAR. Tapi di tahun 1980-an, tiap pagi Mamak akan memasukkan nasi untuk makan siang ke panci besar. Panci itu kemudian dibungkus dgn selimut. Lalu ditaruh di kamar. Dengan begitu, sewaktu siang nanti, nasi masih hangat. Maklum lah, jangankan magic jar, kompor gas pun masih tak terbayangkan.....a small beautiful piece from the past. slamat sore dear friends..."

Yang ini saya tuliskan ketika sore-sore tatkala bersiap pulang dari kantor. Rumah selalu mengisi ingatan kita pada saat-saat berkemas meninggalkan pekerjaan. Namun, kehangatan home yang tersimbolkan pada selimut, ternyata di benak saya justru berbelok menjadi 'magic jar' ala Sarimatondang.


Beberapa teman memberi komentar atas keterangan dan foto ini. Diantaranya yang bersifat reflektif adalah dari rekan sekampung yang mengatakan begini: "Jadi ingat masa lalu, bagaimana orang tua mempunyai gagasan cemerlang untuk membuat nasi tetap hangat. Mantaf!"


Rantang Kebanggaan

"Kalau dulu sebuah keluarga sudah punya rantang, wuih, bangganya setengah ampun. Sebab, rantang akan jadi alat serbaguna untuk dipakai kala darmawisata sekolah ke Medan Fair, Belawan, Berastagi dll. Rantang juga 'dipamerkan' sebagai tempat nasi kala 'marjagal2' di gereja. Di Sarimatondang ada rumah makan 'kelas menengah' kepunyaan Wak Rantang. Mungkin karena sebagian menu masakannya ditaruh di rantang. A small piece from the past. Selamat makan siang dear friends...."

Diantara teman-teman fesbuker tatkala membaca status ini, ada  ada yang mengatakan begini: "ha..ha..betul! rantang orang simalungun biasanya dibungkus taplak meja. Jadi teringat kalau 'Marraun' hu Medan fair...berangkat subuh, singgah di Sembahe, makan pagi, ke Medan fair, ke taman buaya, dll..jadi tarsunggul diri lae.."

Saya sendiri pun punya kenangan sedih tentang rantang.

Syahdan ketika duduk di kelas tiga SMP, sekolah kami melakukan darmawisata ke Berastagi, Medan Fair, Belawan, Kabanjahe dan Parapat. Demikian bersemangatnya para orang tua membekali anaknya sehingga biasanya mereka menyiapkan rantang bekal selama di perjalanan. Mamak kala itu membeli sebuah rantang baru. Mengkilap dan mantap. Bangga rasanya menentengnya.


Ketika tiba di objek wisata Gundaling di Tanah Karo, kami mulai beristirahat untuk makan siang. Entah bagaimana ceritanya, saya belum rampung bersantap tiba-tiba rantang tempat lauk-pauk saya lenyap. Hilang dan tak tahu siapa yang mengambil. Terus terang saya jadi resah. Sepanjang perjalanan pikiran tertuju ke rantang yang hilang. Ada rasa bersalah. Apalagi itu rantang baru.

Maka ketika malam hari tiba kembali di Sarimatondang, saya menceritakan perjalanan saya dengan setengah hati. Lalu seakan tak sanggup lagi menyembunyikan rasa bersalah, saya kemukakan bahwa rantang makan saya hilang. Mohon dimaafkan, dan bersamaan dengan itu, saya mengembalikan kepada Ibu uang jajan yang jadi bekal saya. Uang jajan itu masih utuh. Seraya minta maaf, saya katakan biar lah uang jajan itu Ibu pakai untuk membeli lagi sebuah rantang baru.

Semula saya sudah khawatir Ibu akan marah akibat kelalaian saya. Ternyata tidak. Dia tertawa tetapi terlihat sekali ia menyembunyikan kekecewaan. Ia kecewa karena anaknya tak bisa sepenuhnya menikmati tamasya karena rantang yang hilang.



Hari Mencuci Sedunia
"Ini adalah SIKAT. Orang Sarimatondang menyebutnya GUNDAR. Biar lebih keren, BRUS. Bagi anak2 kos di sana pada tahun 1980-an, ini adalah benda paling dicari tiap hari Sabtu. Sebab hari itu merupakan 'hari mencuci pakaian sedunia.' Anak-anak kos berduyun2 ke Aek Simatahuting mencuci pakaian2 mereka. GUNDAR tak boleh ketinggalan selain sabun batangan cap telepon. GUNDAR bahkan bisa jadi pemicu pertengkaran bila ada yg pinjam dan lupa mengembalikan. A small piece from the past. Selamat pagi kawan2....."

Ini saya tuliskan pada hari Sabtu pagi tatkala leyeh-leyeh membalik-balik Kompas. Amartya dan mamanya berkali-kali 'memerintah' saya untuk segera mandi karena mereka sudah muak dengan aroma tubuh satu-satunya lelaki di rumah mereka itu. Tapi saya tetap saja ogah. Alih-alih bergegas ke kamar mandi, saya malah membayangkan suasana pagi pada hari Sabtu di Sarimatondang. Dan teringat lah saya pada gundar, benda yang paling dicari oleh para anak-anak kos Sarimatondang pada saat sibuk di akhir pekan.

Demikian lah cerita tentang proyek fesbuk saya bernama the small and beautiful pieces from the past.

Membosankan ya?

(selesai)

2 comments:

  1. Anonymous11:01 PM

    Kecian.....rantangnya ilang. Cup...cup...cup. Nanti diganti yg baru yah...LoL. Rantang kayak di gambar itu aku punya di rumah Bang. Mau?

    ReplyDelete
  2. Anonymous11:02 PM

    Ha..ha...ha....ha...ha....Gak kebayang kerbau jadi penguasa. Ada-ada aja....

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...