Monday, November 16, 2009

CInta Mallabap kepada Sarimatondang

Sarimatondang atas, pusat perdagangan
(pic by Epyphanias Siadari)
Mengapa saya mencintai Sarimatondang? Begitu besar, begitu mallabap-nya, sehingga mungkin ada yang menganggapnya berlebihan.? Atau meminjam kata gaul putri saya Amartya: lebay?.

Para pujangga berkata cinta seringkali tak membutuhkan alasan. Saya termasuk yang setuju. Tapi saya juga percaya, cinta pun bisa mendatangkan dan memproduksi alasannya sendiri. Berpuluh, beratus bahkan ribuan alasan dapat bermunculan tanpa pernah disangka-sangka, tatkala cinta menghadirkan dirinya. Dan begitu lah agaknya cinta saya kepada Sarimatondang. Ada seratus bahkan seribu alasannya. Dan salah satunya adalah ini:
Nama gang ini agak seram: Gang Mayat
(Pic by jerukmanis http panoramio.com/photo/15535987)
Pada mulanya tersebut lah sebuah surat baptis. Surat baptis atas nama saya. Di surat baptis itu, saya disebutkan lahir di Sarimatondang. Tak ada yang aneh dalam hal ini. Semua anak-anak Sarimatondang mencantumkan desa kecil itu sebagai tanah kelahirannya.

Tapi itu juga yang membuatnya jadi unik. Sebab sejak itu, desa kecil ini makin menempel dan identik saja dengan diri saya. Tatkala mendaftarkan saya ke Sekolah Dasar –entah disengaja atau tidak-- orang tua mengisi
Mendung di atas SMUN 1 Sidamanik, Sarimatondang
(pic by Bresman Silalahi)



kolom tempat dan tanggal lahir dengan nama Sarimatondang. Dan, begitu lah, seterusnya ketika di SMP, di SMA, kuliah, bekerja, kawin, hingga mengurus KTP, SIM, Paspor, Visa bahkan mengisi kupon undian di supermarket, desa Sarimatondang yang norak tapi menyenangkan itu, seakan tak terpisahkan lagi dari diri ini.


Ia seperti terus terbawa-bawa, lengket seperti tahi lalat di celah sebelah kiri hidung saya. Dimana-mana dan kemana-mana, manakala harus mendaftarkan diri dan disyaratkan mengisi kolom tempat lahir, otomatis saja si Sarimatondang
Parabola sampai ke sudut-sudut
(pic by jerukmanis http://panoramio.com/photo/15535987)

tertera. Biar pun dia udik. Biar pun dia tak terkenal. Biar pun ia mendatangkan kernyit di dahi orang yang membacanya, saya harus tetap menuliskannya. Benar-benar seperti soulmate yang ditakdirkan selalu bersama.


Jujur harus saya akui, si Sarimatondang sering juga bikin capek. Beberapa teman sering susah payah melafalkannya. Dulu ada teman blogger dari Jawa Timur, gara-gara begitu susahnya dia menghafal nama blog saya, The Beautiful Sarimatondang, dia kesal lalu menyebutnya sebagai Sarimadu Ditendang. Beuh. Kasus-kasus salah eja sudah tak terhitung lagi. Ada yang bilang
Lapangan sepak bola Sarimatondang
(pic by Epyphanias Siadari)

Srimatondang, yang lainnya melafalkannya Saritondang. Lain waktu, sambil meledek nama desa kelahiran saya itu sebagai nama dangdut, Sarimatondang disulapnya menjadi Sarmadendang. Halah....


Kadang-kadang ada juga yang merasa repot atau merepotkan diri sendiri (yang sebenarnya tak perlu) oleh nama ini. Sekali waktu ketika masih mahasiswa dulu, saya turut dalam rombongan peserta ujian SIM kolektif. Lalu tiba lah giliran saya menimbang badan. Entah karena iseng atau memang karena ingin mengerjai saya yang berwajah udik, sang polisi bertanya sambil memeriksa formulir yang sudah saya isi.
Siswa SMP Negeri Sarimatondang berbaris
sebelum memulai pelakaran (pic by Epyphanias Siadari)

Polisi: Sarimatondang? Dimana itu?
Saya: Di Sumatera Utara Pak.
Polisi: Kamu orang Batak?
Saya: Ya Pak.
Polisi: Saya baru dengar nama Sarimatondang. Di sebelah mana Tarutung?
Saya: Wah, susah menjelaskan Pak. Saya ke Tarutung masih kelas 3 SD dulu. Sudah lupa.
Polisi: Katanya orang Batak. Kok nggak tau Tarutung?
Saya: (Diam, sambil nyengir. Sampai setua ini, saya paling takut sama polisi).
Polisi: Kalau dari Medan, berapa jauh ini?
Saya: Kira-kira empat jam Pak. Ke Siantar dulu.....(Sedetik setelah saya sebut Siantar, si polisi langsung menyambar...)
Polisi: Oh, dari Siantar bisa ke Sarimatondang? Bilang dong dari tadi.
Saya: Ya Pak. Dari Siantar sudah dekat. Setengah jam juga bisa kalau naik sepeda motor.
Polisi: O.......Di sini banyak polisi orang Siantar. (Lalu dia berteriak sambil membalikkan badan, 'Oi.....Sianipar, ini ada orang Siantar di sini....')
Saya: (dengan gugup) Bukan....bukan....Pak. Saya bukan orang Siantar.
Polisi: Ah, lain kali kalau menulis tempat lahir, tulis saja tempat yang sudah familiar. Kota terdekat. Kalau kamu tulis Siantar, kan orang tak perlu bertanya-tanya merasa aneh. Atau biar lebih cepat, tulis saja Sumatera Utara. Hehehe.
Saya: Iya Pak.
SD 4 Sarimatondang (Pic by Epyphanias Siadari)





Saya mengikuti saran Pak Polisi ini. Dalam hati saya berpikir, mungkin ada baiknya tak perlu ngotot ngaku-ngaku sebagai orang Sarimatondang. Toh dunia ini sudah demikian besar dan demikian luas. Sudah terlalu banyak nama-nama kota yang harus dihafal oleh penduduknya sehingga tak perlu menambah kerepotan baru dengan sebuah nama tak penting seperti Sarimatondang. Maka ketika sudah hijrah ke Jakarta beberapa bulan sesudah lulus dari Bandung, beberapa orang teman saya biarkan mengenal saya sebagai orang Siantar. Parsiattar lebih tepatnya.
Penjual ikan asin di pasar (pic by Epyphanias Siadari)

Mula-mula status Parsiattar ini enak juga. Terasa keren. Dan tak perlu mengundang 'interogasi' dari sana-sini untuk mempertanyakan asal-usul kota kelahiran. Sampai suatu hari, ketika seorang teman membawa saya berkumpul dengan teman-temannya yang sebagian besar orang Siantar. The real Parsiattar. Setelah ngalor-ngidul ngobrol kesana kemari, tersangkut juga seseorang yang mau berbicara intens dengan saya. Sebut saja dia Parsiattar, karena dia saya anggap orang Siantar tulen.


Parsiattar: Hm....tadi ito bilang, ito marga apa? Siadari ya?
Saya: Iya ito. Saya Siadari.
Parsiattar: Di Siantar banyak saya kenal marga Siadari. (Sambil menyebut beberapa nama).
Saya: (Agak gugup). Mmm....saya agak-agak lupa. Mungkin kalau ketemu orangnya pasti kenal.
Parsiattar: Emang ito di Siantar dimana?
Saya: (Tambah gugup, tetapi dengan cepat ingat kawasan BDB, tempat kos ketika SMA). Di BDB, ito. Di dekat pabrik rokok itu....
Parsiattar: Oh, dekat Jalan Medan ya....
Saya: Ya. (Bohong, terpaksa).
Perkebunan teh Sidamanik, tak jauh dari Sarimatondang(Pic by Epyphanias Siadari)


Parsiattar: Kayaknya baru kali ini aku lihat ito. Ito jarang kumpul-kumpul sama orang Siantar ya? Ah, sombong... Jangan malu lah jadi orang Siantar...
Saya: (Muka merah padam) Nggak malu lah. Cuma baru sekarang ini saya tahu ada kumpulan orang Siantar (Saya terpaksa berbohong lagi).
Parsiattar: Sebetulnya sih ito, saya juga bukan orang Siantar. Orang tua masih di Samosir. Tapi sejak SD sampai SMA aku tinggal di Siantar di rumah Bapauda. Makanya sudah jadi serasa orang Siantar.....(sambil tersenyum).

Wah. Saya yang dari tadi sudah mulai keringat dingin, serasa mendapat angin segar. Dunia yang seakan gelap-gulita karena harus jaga gengsi demi status Parsiattar, saya rasakan mulai terang.
Jajanan pasar di Pasar Sarimatondang (pic by Epyphanias Siadari)

Sebab saatnya lah kini saya merasa perlu menanggalkan status Parsiattar bo'ongan ini. Berat sekali beban itu. Dan wanita di hadapan saya yang dengan begitu mudahnya menanggalkan status Parsiattarnya, memberi inspirasi juga kepada saya untuk berbuat serupa. Tak perlu lama-lama lagi, segera saya mewujudkan niat saya.


Saya: Ito, maaf ya. Sebenarnya aku malu mau ngomong ini, tapi harus aku katakan terus terang.
Parsiattar: Mau ngomong apa? (Wajahnya memerah, mungkin kurang suka ada orang baru kenalan sudah berani-berani bicara hal yang memalukan).
Saya: Maksudku, kita berdua sebenarnya sama.
Parsiattar: Maksud ito? Nggak ngerti aku ah....(Sambil agak menjauhkan diri, mungkin dia curiga saya mau 'nembak' dia)
Saya: Maksudku, ito, kita rupanya sama-sama bukan Parsiattar. Aku bukan Parsiattar. Aku orang Sarimatondang. Orang Sidamanik. Pernah dengar kan? Dulu banyak kebun nanas di sana. Tetapi sekarang sudah tak ada. Nanti sekali-kali ito aku bawa lah ke sana. Dari tadi aku sudah mau bilang itu, tapi malu.

Wanita itu tampak lega, tapi tak tampak nada kaget pada wajahnya. Mungkin kah dia sudah terlalu sering berhadapan dengan orang seperti saya, Parsiattar yang sebenarnya bukan the real Parsiattar?
Perkebunan teh Bah Butong, perkebunan lain tak jauh dari Sarimatondang (pic by ardian heriwitoko )
Akan halnya bagi saya, kejadian ini memunculkan sesuatu yang dapat digambarkan sebagai penemuan kembali. Menjadi orang Sarimatondang 'kembali' --betapa pun capek dan ribetnya untuk menjelas-jelaskan namanya--saya dapati sebagai perjumpaan dengan sebagian dari diri yang pernah terabaikan. Bagi yang berbakat romantis, bisa juga ia diibaratkan semacam tersambungnya cinta yang putus. Dan konon, menurut orang-orang yang terkenal sebagai Don Juan di masa mudanya, cinta lawas yang bersua kembali itu getarannya tak kalah dari debum suara durian matang yang jatuh. Dinanti-nanti dengan penuh harap, tetapi ketika kejadian, tak urung juga kita terkaget-kaget, untuk kemudian berlari menghampiri. Mallabap, kata orang Sarimatondang. Cinta mallabap.
Serombongan Paskibraka seusai melaksanakan tugas di lapangan Sarimatondang (pic by Poltak Siallagan)
()()()
Sejak Amartya dan ibunya punya akun fesbuk dan mengetahui bahwa saya memakai nama Par-Sarimatondang, adakalanya mereka menyapa saya di rumah dengan panggilan itu. Misalnya, sekali waktu sepulang kerja, tiba-tiba saja Mama Amartya menyapa sambil membuka pintu: “Halo Par-Sarimatondang, sudah pulang nih....bawa apa?” Atau lain waktu, tatkala saya lupa merapikan handuk sehabis mandi, segera saja Amartya meledek, “Hmh..., mulai lagi deh Par-Sarimatondang. Apa-apa lupa. Lupa naruh handuk, lupa semuanya.....”
Sawah menghampar luas (pic by jerukmanis http://panoramio.com/photo/15535987
Anehnya, betapa pun nada sapaan itu seperti ledekan, seperti cemoohan, kok julukan Par-Sarimatondang yang dikenakan kepada saya itu kedengarannya tetap saja seperti nyanyian merdu ya? Apa lagi yang bisa menjelaskan ini selain karena cinta mallabap?

Ciputat, 10 November 2009

4 comments:

  1. mantap kalipun tulisan abang ini, siholan diri mulak hu huta. horas ma.

    Tuhan memberkati

    ReplyDelete
  2. Anonymous11:59 PM

    Horas amang,

    Tulisan amang menarik sekali khususnya buat orang orang yg berasal dari sekitar Sarimatondang dan humaliangnya( batak aksen ). Saya berasal dari Simarimbun Dolok gang Eden namanya.Tapi dulu saya lahir di Sidamanik semantin 1.Sekarang saya tinggal di Bekasi dan punya 1 putra.Songoni majo amang,mauliatema di hamu.Horassss.

    ReplyDelete
  3. Anonymous9:50 PM

    terima kasih pak eben sudah menggunakan foto karya saya (kebuh bah butong)untuk bloger yang bagus ini.


    -ardian heriwitoko-

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...