Monday, December 14, 2009

Jelek-jelek tapi tetap Bikin Kangen



Jelantah pasti semua kita tahu. Itu minyak goreng bekas. Semisal sisa menggoreng ikan asin atau ikan tongkol. Warnanya coklat tua menjurus hitam. Jelantah yang dipakai lagi hingga berkali-kali warnanya bakal tambah hitam. Pokoknya tampangnya lumayan jelek. Di zaman ketika orang kini begitu peduli terhadap kadar kolesterol dan getol memakai minyak goreng nabati dua kali penyaringan, popularitas jelantah memang merosot. Ibu-ibu kelas menengah yang sudah berkecukupan acap kali tak lagi mau menggunakannya.

Namun di rumah kami, jelantah masih cukup populer. Soalnya masih ada saya penggemar fanatiknya. Makin hitam warnanya, makin bagus lah kualitasnya menurut selera saya. Aroma minyak goreng biasa, di hidung saya terlalu steril. Kurang punya greget. Sebaliknya, aneka bau yang berbaur dari jelantah yang dipanaskan, sangat menggoda dan penuh sensasi.

Coba saja, misalnya, membuat telur mata sapi dari jelantah bekas ikan asin. Kita tak hanya mendapatkan telur mata sapi, tetapi telur mata sapi dengan aroma ikan asin. Itu salah satu lauk favorit Par-Sarimatondang. Rasa asin bukan lagi sekadar karena garam yang ditabur di atas telur (yang kadang-kadang tidak merata), tetapi juga karena meresap dari bekas ikan asin pada jelantah.

Menurut almarhum Umar Kayam, sosiolog UGM yang konon diakui keahliannya dalam merekomendasikan restoran-restoran favorit di Yogya, jelantah adalah minyak terbaik dalam memasak nasi goreng. Saya percaya dan saya pernah mencobanya. Betul. Nasi goreng memakai jelantah lebih yahud dibanding dengan memakai minyak goreng baru. Kata Kayam, lebih enak lagi kalau dibubuhi terasi secukupnya.

Jelantah pernah mengalami masa keemasan di kampung kami di Sarimatondang. Minyak jelantah itu diperlakukan sama mulianya dengan minyak goreng fresh. Dihemat-hemat dan disimpan-simpan, seperti air ajaib yang tak boleh dipergunakan sembarangan apalagi disia-siakan. Maklum lah, kala itu, kira-kira sebelum tahun 1970-an, minyak goreng sangat vital dan dikategorikan barang mahal. Walau masakan rebus-rebusan masih dominan (dan bukan karena alasan kesehatan tetapi karena berkaitan dengan keterbatasan anggaran belanja rumah tangga) tetapi goreng-gorengan selalu jadi yang favorit. Sayangnya, perekonomian desa yang baru berkembang dan daya beli yang pas-pasan, membuat penggunaan minyak goreng diatur sedemikian rupa. Minyak goreng yang masih fresh harus dihemat. Jelantah sebisa mungkin diberdayakan. Di tiap dapur selalu ada ada tempat jelantah, diklasifikasikan berdasarkan seberapa sering ia digunakan. Yang warnanya paling hitam, itulah yang pertama dihabiskan. Jika dalam manajemen inventori barangkali ini mirip dengan sistem FIFO (First In First Out).

Saya pertama kali ‘jatuh cinta’ pada jelantah karena masakan ibu. Ceritanya, ada kalanya jelantah bekas menggoreng ikan atau apa saja, terlalu tanggung untuk disimpan karena tinggal sedikit. Pada kasus seperti ini, ibu sering iseng memanfaatkannya membuat nasi goreng. Jadi nasi putih sisa tadi malam, dicampurkan begitu saja ke minyak jelantah yang juga tinggal sedikit. Ditambah bumbu seperlunya -- bawang merah dan bawang putih-- (dan biasanya tanpa kecap sebab harganya mahal juga, cukup ditambah dengan garam), jadi lah nasi goreng dadakan beraroma jelantah.

Seperti kebanyakan anak-anak dimana pun di dunia yang selalu tergila-gila pada masakan ibunya, di lidah saya nasi goreng yang begini lah yang istimewa. Dan keranjingan pada jelantah tampaknya sudah jadi wabah, terutama kepada orang-orang Batak tatkala bernostalgia ke kampung halaman. Misalnya, saya sering membaca cerita tentang orang-orang Batak yang ramai-ramai pulang kampung untuk keperluan menghadiri pesta perkawinan anggota keluarga yang menjadikan nasi goreng jelantah sebagai sarapan bersama pada pagi hari keesokan harinya. Nasi goreng jelantah itu bahkan dibikin lagi improvisasinya macam-macam. Nasi goreng jelantah pakai petai, nasi goreng jelantah pakai daging gulai sisa dari pesta perkawinan kemarin dan seterusnya. Boleh lah dikatakan ini merupakan nasi goreng dengan bahan-bahan sisa, tetapi lumayan beraneka rasa.

()()()
Jika jelantah untuk urusan dapur sudah begitu populernya, sebenarnya ada lagi cerita yang lebih seru. Dulunya ini sebuah rahasia umum yang memalukan untuk diceritakan, namun lucunya, hampir semua orang melakukannya, diam-diam atau terang-terangan.

Syahdan, anak-anak Sarimatondang di tahun 70-an (bahkan hingga 80-an) tak punya kemewahan untuk berdiam di rumah sehabis pulang sekolah. Ada-ada saja yang memaksa mereka harus dipanggang matahari setiap hari. Apakah karena ladang yang rumputnya sudah tinggi, sawah yang saluran airnya harus diperiksa, si Piggy di belakang rumah yang harus dicarikan makanannya dan sebagainya. Ini membuat anak-anak itu harus bekerja di luar rumah di kala anak-anak kota mungkin sedang tidur siang.

Eksposur terhadap terik matahari menyebabkan hampir semua anak-anak memiliki kulit yang disebut ‘masak-masakon.’ Kulit tangan dan kaki kering dan bersisik. Seandainya ujung jari digarukkan ke kulit tangan atau kaki, segera nyata bekasnya. Saya membayangkan, seandainya musim tukar-tukaran nomor telepon genggam sudah lazim waktu itu, mencatat nomor seorang sahabat di kulit kaki atau kulit tangan sangat dimungkinkan. Tinggal tuliskan saja pakai ujung jari nomor-nomor dimaksud di kaki atau tangan. Selama kaki tak tersentuh air, dijamin nomor itu tak kan hilang berjam-jam lamanya.

Wajar jika tiap orang ingin menyembunyikan kulit bersisik atau ‘masak-masakon,’ apalagi kalau ingin bepergian ke sekolah, gereja atau ke kota. Apa akal? Minyak jelantah jadi penolong yang tak ada duanya. Telapak tangan dicocolkan ke tempat minyak jelantah, lalu disapukan ke seluruh permukaan kulit kaki. Dalam sekejap, kulit yang bersisik segera lenyap, berganti dengan kulit kaki yang mengkilap. Kelihatan segar persis seperti baru mandi.

Anak-anak sekarang mungkin akan berkata, ihhhh, amit-amit. Tetapi di zaman ketika body lotion masih tergolong barang supermewah, jelantah benar-benar jadi ‘malaikat’. Tentu ada yang bertanya, mengapa harus jelantah, bukan minyak goreng biasa?. Nah, ini juga berhubungan dengan efisiensi. Minyak goreng yang masih baru terlalu berharga untuk dioleskan ke kaki. Lagipula, minyak goreng segar biasanya tersimpan di botol. Kurang praktis sebagai tempat mencocolkan telapak tangan. Berbeda dengan minyak jelantah yang biasanya ditempatkan di mangkok atau di piring.

Kebiasaan semacam ini umumnya dilakukan kaum pria, tetapi dengar-dengar kaum wanita juga tak sedikit yang melakukannya. Sarimatondang yang terletak di pegunungan, beriklim dingin tapi kering, menyebabkan kulit sangat rentan terhadap sinar matahari. Kulit bersisik terpaksa menjalar ke semua orang, tak peduli lelaki atau gadis.

Kadang-kadang jelantah naik pangkatnya. Ia tak cuma diolesi ke kaki yang bersisik, tetapi juga menjadi minyak rambut atau gel alternatif. Ini biasanya terjadi manakala ‘Tancho’ bapak habis atau disembunyikannya. (Di Sarimatondang zaman kuda gigit besi, Tancho adalah nama generik untuk krim rambut. Dan hanya lelaki dewasa lah yang mampu membelinya). Terpaksa jelantah disapukan ke seluruh rambut agar t tampak lebih hitam, mudah disisir dan belahan rambut bertahan di tengah tiupan angin yang kencang.

Kadang-kadang memang ada juga dampaknya yang tak terduga-duga. Misalnya, walau pun sudah berjam-jam meninggalkan rumah dan tengah asyik mengerjakan soal ujian di dalam kelas, aroma ikan asin yang terbawa-bawa oleh rambut hingga siang hari masih saja tercium semilir. Membuat kita serasa di dapur terus. Seringkali pula bukan hanya diri sendiri yang ikut menikmati aroma dimaksud, lalat juga turut. Untuk keadaan-keadaan semacam ini, apalagi sikap yang lebih baik daripada bersabar?

Barangkali karena jelantah yang serbaguna ini, anak Sarimatondang seperti saya pasti menyimpan kesan tertentu setiap kali melihat jelantah yang legendaris itu. Memang kita makin sering membaca tentang bahayanya mengkonsumsi minyak goreng bekas, apalagi bila sudah dipergunakan berkali-kali. Tetapi kadang-kadang dalam hidup, kita tak bisa berlaku objektif untuk segala hal. Untuk jelantah, misalnya, apa boleh buat, saya rada-rada punya semacam keterkaitan emosional yang aneh. Tiap kali melihat jelantah, entah itu di tukang jualan tahu goreng atau penjual pecel lele, hati seperti diketuk-ketuk untuk selalu ingat pada jasa jelantah yang serbaguna. Apalagi saya pernah dengar cerita, ada pemuda yang begitu digila-gilai wanita karena potongan rambutnya yang selalu rapi dan tak goyah walau ditiup angin. Memang si pemuda tak pernah terang-terangan mengakui hal itu berkat jasa si jelantah. Tetapi di dalam hatinya, pasti lah ia tak mungkin bisa menyembunyikan rasa terimakasihnya pada si minyak bekas jelek yang selalu disayang itu.

(selesai)


Note: Foto wajah jelek di atas cuma ilustrasi belaka. Tak ada hubungannya sama sekali dengan minyak jelantah kecuali dalam soalwajah jeleknya. Sorry ya....:-)

4 comments:

  1. Anonymous3:54 PM

    siapa tuh ito, "pemuda yg potongan rambutnya selalu rapi dan tak goyah walau ditiup angin...." pengen kenal dn tapi kok serasa udah kenal.....hehe

    ReplyDelete
  2. berbahagia lah aku yg dibesarkan nasi goreng jelantah........wkwkwkwk

    ReplyDelete
  3. Hahahaha, gak bisa kutahan senyum2 malu membaca tulisan ini. Ingat dan malah sangat detail kenanganku tentang minyak jelantah ini. Sampai kaki berkilau (marhillong)...

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...