Tuesday, December 22, 2009

Lima Kebiasaan Ibu yang Malu-maluin, tetapi....


Hari ini Hari Ibu. Menulis tentang apa baiknya? Saya tidak begitu banyak tahu tentang isu-isu seputar ibu. Maka sebaiknya kembali ke kebiasaan udik. Ke lingkungan paling dekat. Dan yang segera melekat di kepala adalah wajah Mamak. Mamak saya, perempuan yang mewarnai hidup kami anak-anaknya. Umurnya kini 70 tahun. Sudah pensiun dari guru SD. Dan sebagian besar kariernya sebagai guru dihabiskan mengajar murid kelas 1 dan kelas 2. Di sekolah dan di rumah kami mengenalnya sebagai ibu yang cerewet. Kadang-kadang terlalu perfect untuk hal-hal remeh. Semisal bila melihat huruf-huruf yang kita tulis melenceng dari garis-garis buku tulis yang diharuskan. Semisal bila melihat piring-piring kotor di atas meja belum dibereskan juga. Semisal bila lampu di ruang tamu belum dimatikan sebelum tidur.

Terkadang Mamak juga mempunyai kebiasaan yang saya nilai malu-maluin. Membuat kita merasa jadi orang yang kampungan karena punya Ibu seperti dia. Tetapi sekarang, saya malah jadi tersenyum sendiri bila ingat kebiasaan-kebiasannya yang lucu, malu-maluin, menjengkelkan. Sebab itu justru membuat saya kagum, makin sayang dan makin sadar, tak akan banyak lagi perempuan modern mau melakukan itu.

Berikut ini lima kebiasaannya yang dulu kerap membuat malu, jengkel, merasa direpotkan, tetapi justru saya akan sangat salut bila masih ada perempuan-perempuan modern sekarang, yang berani beda seperti dia.

1. Kalau makan di restoran, membawa pulang semua yang boleh diambil gratis. Salah satu yang paling saya ingat adalah bila kami makan di restoran mi, yang banyak bertebaran di kota Siantar. Keluarga kami tidak tergolong sering makan di luar. Paling banter pada hari gajian belaka. Itu pun tak setiap bulan. Dan pada saat begitu, Ibu paling tidak bisa lupa untuk membawa pulang sumpit bekas yang dia pakai serta sumpit-sumpit bekas kami masing-masing. Saya selalu merasa malu begitu juga adik-adik. Apalagi kalau merasa pegawai restoran itu melihati Ibu. Tapi dia cuek saja. Di rumah, sumpit itu ia pajang lagi di tempat sendok.

Kebiasaan itu ternyata merembet ke hal-hal lain. Kalau dia berkunjung ke Jakarta dan kami membawanya ke restoran siap saji, ia juga mencoba 'memaksimalkan' nilai uang yang telah kami bayarkan dengan membawa aneka ragam barang yang bisa dibawa secara gratis. Gelas McD tempat soft drink. Sendok dan garpu plastik. Saos sachetan. Dan kalau ia tak menghabiskan makanannya, ia minta dibungkuskan.

Sekarang saya melihatnya sebagai sebuah pesan moral yang baik. Bahwa cermat lah mengeluarkan uang. Dan banyak hal di sekitar kita yang sebenarnya berguna, tetapi kita abaikan. Gelas bekas soft drink mau pun sendok dan garpu plastik itu, misalnya, banyak sekali gunanya terutama saat-saat ada banyak orang di rumah dan gelas serta sendok yang ada tidak cukup.

2. Kalau tak panas, tak mau. Ini menyangkut minuman. Ibu sangat fanatik pada minuman yang panas. Dan panas di sini tak identik dengan hangat. Panas ya benar-benar panas. Ia bahkan sangat membenci minuman yang panasnya suam-suam kuku. Air putih panas atau teh panas adalah favoritnya. Dan ini sudah menjadi kebiasaannya sejak kami masih kecil. Bila ia bepergian agak jauh, ia tak pernah lupa membawa termos berisi air panas. Di tengah jalan bila ia ingin minum, ia cukup membeli Aqua botol dan mencampurkan sedikit air itu ke air panas yang telah ia bawa.

Yang menjengkelkan dari kebiasaannya ini adalah ia tak bisa ditawar. Kalau di rumah sendiri sih, tidak apa-apa. Yang repot bila bertamu ke rumah kerabat. Ketika disuguhi minuman, yang paling pertama ia cek adalah panasnya. Jika panasnya tak memenuhi selera dia, ia pasti meminta (meskipun dengan sopan sih) lewat pertanyaan, "Ada air yang lebih panas nggak?" Kalau tidak ada, ia samasekali tidak akan meminumnya.

Walau menjengkelkan, saya menduga, ini lah salah satu hal yang membuat tubuhnya tetap bugar. Ia sendiri berpendapat air dingin tidak baik bagi kesehatan. Saya tidak tahu darimana ia mendapat keyakinan itu. Tapi saya memang percaya, air putih hangat memang banyak sekali gunanya bagi kesehatan.

3.Kalau berdoa, doanya panjaaaaaaaang sekali. Dia akan mendoakan banyak hal dan banyak orang. Kerabat yang sakit, saudara yang masih di perjalanan, keponakan yang sedang ujian dan banyak lagi. Bayangkan lah kalau kita sudah kelaparan, dan makanan sudah terhidang di meja sementara si pus sudah pula coba-coba mau menerkam ikan asin yang teronggok di atas piring. Kita bisa jadi kesal, bukan?

Tapi doa semacam itu makin lama makin biasa. Apalagi saya akhirnya sadar, sesungguhnya doa bukan hanya ditujukan buat Dia yang kita minta mengabulkannya. Doa adalah juga semacam 'jurnal' bagi diri kita. Seberapa ingat kita akan orang-orang yang kita kasihi. Seberapa berani kita membeberkan masalah yang ada dalam pikiran kita. Maka untuk satu hal ini, saya bisa maklum lah kalau Ibu suka bertele-tele. Meskipun kadang-kadang kalau sudah sangat lapar, saya memberanikan diri berbisik padanya, "Ma, doanya, dibikin lebih pendek ya…?"

4. Menawar dengan harga yang rendah tak terkira-kira. Ini merupakan alasan yang membuat saya degdegan kalau menemani Ibu belanja. Dalam menawar barang yang akan ia beli, ia tak sungkan mematok harga yang bisa membuat marah si penjualnya. Patokannya, paling awal kita harus menawar setengah dari harga yang ditetapkan si penjual. Dan ia selalu tak mau menyerah. Tak yakin pada satu toko, pergi lagi ke toko lain. Seringkali, akhirnya kembali lagi ke toko tempat pertama kali ia menawar. Dan lagi-lagi, ia bersikap biasa saja. Kalau saya sih, sudah serasa ingin menyembunyikan muka di belakang tembok.

Sekarang saya baru mengerti bahwa hal semacam itu tak perlu bikin malu. Bahkan dalam beberapa hal, sering juga saya ikuti. Ketika si tukang las memperbaiki pintu pagar kami yang rusak, ia mengatakan harga jasanya itu Rp70 ribu. Saya tak kalah gertak, saya tawar Rp25 ribu (Sembari was-was, apakah saya akan kena damprat). Eh, tak dinyana, si Tukang langsung menurunkan harga yang dipatoknya jadi Rp40 ribu. Dan transaksi itu akhirnya deal di Rp30 ribu. Coba, ilmu Ibu memang manjur bukan? (Terutama kala kantong lagi bokek).

5. Tega deh, kalau dia merasa benar. Yang begini ini dulu sewaktu kecil. Sekencang apa pun anaknya menangis, semisal minta dibelikan jajanan atau es mambo, ia akan kuat bertahan, manakala ia merasa permintaan itu tak perlu diladeni. Misalnya, jika kita minta jajan itu di tanggal tua. Atau ketika kita latah, baru saja dijajanin gado-gado eh minta dijajani lagi rempeyek. Dia paling sebel. Dan kalau sudah berlomba ngeyel, jangan lawan Ibu. Kita pasti kalah.

Sampai sekarang untuk hal semacam ini saya belum bisa menirunya. Saya masih sering terenyuh untuk membelikan es krim buat putri saya Amartya, walau pun saya tahu, batuknya masih belum sembuh benar. Saya juga masih tak kuat menahan haru kalau melihat anak kecil menangis sesenggukan entah karena apa pun dan latas ibunya mengacuhkannya.

Ibu si Wanita Baja
Sebenarnya mungkin banyak lagi yang membuat saya tersenyum sendiri bila ingat kebiasaan Ibu yang dulu saya anggap malu-maluin tetapi kini malah mulai saya tiru-tiru. Tapi untuk menghormati dia di hari ini, saya ingin mengenang lagi sikap mental baja-nya, yang membuat Ibu adalah pahlawan. Pahlawan bagi kami anak-anaknya dan bahkan untuk ayah.

Sewaktu saya duduk di kelas enam SD, ayah mengalami kecelakaan. Hari sudah sangat larut, menjelang subuh ketika berita itu kami dengar. Ayah jatuh dari motor dan terluka parah.

Ibu dijemput orang untuk melihatnya, di sebuah klinik, kira-kira 15 menit dari rumah kami. Ibu pergi setelah sebelumnya berdoa. Ia menyiapkan semua yang ia butuhkan termasuk baju hangat dan syalnya. Kami di rumah menunggu dengan was-was. Sampai saya tertidur. Sampai saya sudah sadar, bahwa hari sudah pagi.

Kira-kira pukul delapan pagi, sebuah taksi (mobil sedan tua yang lazim digunakan sebagai taksi di kampung kami) berhenti di jalan besar di depan rumah kami. Kakek memanggil saya dan adik-adik. Diminta datang mendekat ke mobil itu. Di sana saya melihat ibu memangku ayah yang punggungnya dibalut perban. Ayah masih tak sadarkan diri juga.

Yang membuat saya terpana, Ibu berujar kepada kami anak-anaknya, agar melihat dan memanggil ayah yang tentu saja tak mendengarkan itu. Dari dalam taksi itu juga, Ibu berpesan agar kami baik-baik di rumah, sebab ia akan membawa ayah ke rumah sakit di P. Siantar. Tidak ada air mata. Tidak ada wajahnya yang lelah. Wajah Ibu putih pucat, tapi sorot matanya tegar, seolah-olah berkata, "Ini belum selesai, masih banyak yang harus saya kerjakan dan saya pasti menang……"

Dan Ibu memang menang. Lebih dari tiga bulan ayah dirawat di rumah sakit. Sampai di kemudian hari saya hafal ruang-ruang di rumah sakit itu. Sampai saya hafal lagu-lagu yang sering terdengar dari radio para suster di rumah sakit itu. Dan ayah kemudian pulih, tak kurang apa pun. Sehat seperti sediakala, sampai kini umurnya sudah 73 tahun.

Itulah Mamak. Dan, mungkin sama seperti banyak mamak lainnya di dunia, yang masih sering menjengkelkan, masih juga sering malu-maluin, tapi dia jugalah Ibu yang membuat kita selalu percaya bahwa Surga di telapak kaki Ibu. Menjadi Ibu adalah salah satu bagian yang terindah dari hidup seorang perempuan. Dan tidak semua orang bisa mengalaminya. Terimakasih Bu. Selamat Hari Ibui.

21 April 2006


Aslinya, corat-coret ini dibuat tatkala hari Kartini di tahun 2006. Dengan sedikit modifikasi, ditampilkan lagi sekarang.

3 comments:

  1. Anonymous5:20 PM

    manis namboruku waktu mudanya ya bang :-)

    ReplyDelete
  2. jadi ingat mama.

    vonny

    ReplyDelete
  3. Tadi aku langsung telpon inang di kampung setelah baca ini. Mother how are you today?

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...