Sunday, December 27, 2009

Oppung tak Hadir di Natal Ini.....

(Sebuah Cerpen)

Semakin pendek jarak waktu menuju Hari Natal, semakin panjang ia memikirkannya. Berdiri di dekat jendela kamar kerjanya, Sangap memandangi jalanan Jakarta yang dipenuhi kendaraan, tetapi fikirannya samasekali tak berhubungan dengan lalu lintas. Besok Hari Natal, katanya dalam hati. Dan, Marudur, anak sulungnya, akan berusia 17 tahun. Ia cemas memikirkan itu. Sangap membayangkan sebuah perayaan yang sepi. Dan, ruang kerjanya yang lapang tetapi lengang membuatnya makin betah berdiri di balik kaca. Sekretarisnya sudah lama pamit, minta izin pulang lebih awal. “Besok kan Natal Pak,” kata sang sekretaris. Ah, Natal yang malang, bisik Sangap dalam hati.



***
Sangap bukan orang yang malang. Ia sebenarnya justru orang yang diberkati. Buktinya, Tuhan menurunkan keajaiban kepadanya. Kedua anaknya, Marudur dan Mardapot, dilahirkan pada dua hari yang baik: tanggal 25 Desember dan 1 Januari. Itu sebabnya ia menamai kedua anaknya dengan kosa kata dari Bahasa Batak itu. Marudur yang berarti berderet, dan Mardapot yang berarti berentetan. Dua-duanya ia maksudkan sebagai simbol betapa tak berkesudahannya berkat Tuhan.

Dua hari baik di setiap akhir dan awal tahun itu menjadi masa perayaan ganda bagi keluarga Sangap: merayakan Natal sekaligus ulang tahun kedua putranya. Hidupnya yang penuh berkat juga terlihat dari jalan hidupnya. Dulu sekali, ketika ayah dan ibunya memberangkatkannya dari sebuah kampung di pedalaman Sumatera Utara sana dan menginjakkan kaki di Jakarta, umurnya baru seumur Marudur sekarang. Ia merasa diberkati karena diterima kuliah di sebuah perguruan tinggi negeri. Dan, ia nyaris tak punya bekal apa-apa kalau saja tak ada belas kasihan seorang kawan ayahnya. Keluarga itu memberinya tumpangan tinggal, sembari setiap bulan dengan was-was menanti kiriman dari kampung. Itu pun lebih sering terlambat daripada tepat waktu. Kini kariernya di lembaga pendidikan pengembangan kepribadian itu terus meningkat. Gajinya sebagai kepala program untuk pelatihan korporat , lebih dari cukup, walau tak dapat dikatakan berlebih. Sebuah rumah mungil berkamar tiga, telah ia lunasi cicilannya sejak tiga tahun lalu. Sebuah MPV 1600 cc --walau bekas--, kini mengantarnya dan keluarganya kemana mereka pergi.

Barangkali karena merasa diberkati, Sangap memelihara tradisi yang telah dimulai ayahnya sejak dirinya masih bayi. Ia menyelenggarakan ulang tahun anak-anaknya dengan sebuah upacara kecil yang khidmat, seperti yang telah dilakukan oleh ayahnya dulu kepada dirinya dan adik-adiknya. Sangap tak pernah melewatkan sekali pun perayaan ulang tahun anak-anaknya tanpa acara berdoa bersama dan potong kue tart ulang tahun. Ayahnya, yang oleh anak-anaknya dipanggil Oppung, selalu akan menjadi tamu penting di acara itu. Sejak putra sulungnya berusia satu tahun, Sangap tak pernah alpa ‘mengimpor’ Oppung dari kampung untuk hadir pada acara ulang tahun itu.

Dulu, ketika Sangap masih merangkak meniti kariernya di kantornya, ia datangkan Ayahnya dengan mengongkosinya naik bus. Ayahnya masih cukup kuat waktu itu, menempuh perjalanan sepanjang tiga hari dua malam. Belakangan ketika ongkos pesawat terbang semakin terjangkau, dan ia sadar ayahnya sudah terlalu uzur untuk menghabiskan waktu yang panjang dalam perjalanan darat, setiap tahun ia kirimkan tiket pesawat pulang-pergi, membawa ayahnya ke Ibukota. Sayang, ibunya tak sempat menikmati kemewahan seperti ini. Sepuluh tahun lalu sang ibu berpulang. Sejak itu ayahnya selalu datang sendirian.

Begitu lah, hampir sepanjang tahun Oppung akan berkeliling untuk menjadi pemberi wejangan dari satu ulang tahun ke ulang tahun cucu-cucunya. Di bulan Agustus, giliran adik perempuan Sangap yang memboyong si Oppung ke rumahnya di Jakarta untuk merayakan ulang tahun cucu satu-satunya dari anak perempuannya itu. Bulan April dan Juli, si Oppung akan berada di rumah adik-adiknya yang lain yang tinggal di kampung untuk tugas serupa: meramaikan ulang tahun cucu-cucunya.

Dan, sesungguhnya perayaan ulang tahun itu tak bisa disebut sebagai pesta. Hanya sejumlah keluarga inti yang diundang. Menu makanan pun tak terlalu istimewa. Pinadar, ayam panggang ala Batak, berikut sayur daun singkong tumbuk. Sudah barang tentu tak ketinggalan sebuah kue tart, dikelilingi lilin sejumlah umur yang merayakan ulang tahun. Sebagaimana perayaan ulang tahun dimana-mana, puncak acara adalah ketika yang berulang tahun meniup lilin, setelah doa bersama dan menyanyikan Panjang Umurnya. Tetapi yang selalu menjadi bintang adalah Oppung. Setelah acara tiup lilin yang selalu heboh, biasanya akan muncul suasana senyap. Orang-orang akan bersiap mendengar wejangan Oppung kepada cucunya yang berulang tahun.

Sangap tak pernah bisa menahan keharuannya pada saat-saat seperti itu. Ia merasa, dengan perantaraan ayahnya lah ia dapat sedikit demi sedikit menanamkan nilai-nilai yang baik dari tradisi keluarganya kepada anak-anaknya. Dan, sekali lagi ia merasa beruntung, karena anak-anaknya yang tergolong sudah menjadi orang Indonesia modern itu, ternyata senang juga mendengar ceramah khas kakek mereka. Mungkin karena terdengar lucu, dengan logat Bataknya yang kental itu. Mungkin juga karena gaya Oppung yang selalu bersemangat. Tetapi yang paling mengesankan tampaknya adalah cerita-cerita rakyat yang ia selipkan di sela-sela nasihatnya, berikut pepatah petitih Batak yang kaya akan pesan. Oppung seolah tak pernah kehabisan cerita dan pepatah. Selalu ada yang baru setiap tahun. Dan, tak kalah penting, Oppung pun tampaknya bisa mengagak sampai dimana para pendengarnya telah lelah, dan saat itu pula ia mengakhiri pidatonya. Semuanya biasanya bertepuk tangan dan mencium Oppung sambil berbisik, “Oppung juga panjang umurnya ya….”

***
“Pak, Oppung itu filosof ya?” begitu saja tiba-tiba Marudur bertanya, suatu hari dulu seusai merayakan ulang tahunnya yang ke 10.

Sangap yang belum mengerti arah pertanyaan itu, sedikit terkejut. “Tidak. Oppung itu guru. Sebentar lagi akan pensiun. Kenapa?”

“Kok kalau memberi nasihat seperti berfilsafat,” Marudur menjawab balik.

“Kamu tidak suka?”

“Suka. Suka sekali. Tetapi aku tak habis fikir darimana Oppung belajar. Emang ada sekolah untuk itu? Ada bukunya?”

Kali ini Sangap tersenyum, karena ia merasa punya kesempatan menjelaskan ‘kehebatan’ ayahnya dan juga tradisi di kampungnya.

“Oppung belajar dari pengalaman, dari pergaulan, dari mengikuti adat istiadat di kampung,” kata Sangap.

Lalu Sangap bercerita bahwa di kampungnya, setiap orang yang dituakan harus dapat memberi nasihat dalam berbagai upacara, entah itu upacara kematian, perkawinan bahkan ketika menempati rumah baru. Sebagian besar nasihat-nasihat itu sebenarnya sudah baku, begitu pula pepatah-petitih yang diucapkan. Sudah ada peruntukannya. Misalnya, ada pepatah bagi mempelai yang baru saja melangsungkan pernikahan. Ada yang khusus bagi mereka yang baru menamatkan studi. Begitu juga untuk upacara kematian, atau bagi yang merayakan kelahiran putra-putrinya.

“Jadi, kemampuan seperti itu sudah biasa untuk orang tua di kampung Bapak,” kata Sangap, sedikit bangga. “Kamu juga bisa begitu kalau dibesarkan di sana.”

“Bapak bisa?”

Sangap sedikit tergagap mendengar pertanyaan anaknya. “Bapak harus belajar lagi,” jawab Sangap sambil berdehem.

“Belajar dong, supaya bisa seperti Oppung,” Marudur berkata sambil tersenyum nakal.

Sangap sendiri mengerti bahwa memang janggal bila hingga dirinya sudah setua sekarang, belum pernah cukup keberanian untuk memberi nasihat-nasihat di lingkungan keluarga yang terkecil sekali pun. Termasuk pada setiap perayaan ulang tahun anak-anaknya. Di kantornya pun, ia tak pernah punya nyali untuk berbicara di depan banyak orang. Ia selalu menghindar manakala ada tugas yang mengharuskannya tampil sebagai pusat perhatian. Bahkan untuk menyampaikan briefing kepada para stafnya, ia melakukannya lewat email. Atau paling banter berbicara berdua kepada seorang staf seniornya dan stafnya itu lah nanti yang menyampaikannya kepada yang lain.

***

Sangap tak lagi ingat sejak kapan tradisi merayakan ulang tahun semacam itu dimulai di lingkungan keluarganya. Yang paling jelas dalam ingatannya adalah ketika adiknya yang bungsu, suatu hari genap berusia lima tahun. Ketika itu, pagi-pagi benar ibunya bergegas berdandan lalu setengah berlari menuju pinggir jalan raya, kira-kira setengah kilometer dari rumahnya. Ibunya harus melakukan itu karena kendaraan umum menuju kota terdekat hanya lima kali sehari. Ibunya ingin mengejar bus yang pertama karena ia ingin cepat sampai kembali di rumah. Ibunya ke kota hanya untuk satu tujuan: membeli sebuah kue tart dari toko Cina di kota untuk perayaan nanti malam. Sepulang dari kota, ia juga akan segera berberes-beres, memasak, mengeluarkan lebih banyak piring dan gelas dari raknya untuk dibersihkan dan tentu saja, mendatangi rumah beberapa orang keluarga terdekat untuk menyampaikan undangan.

Dan, ketika malam tiba, perayaan itu pun berlangsung, melanggengkan tradisi dari tahun ke tahun. Bernyanyi Panjang Umurnya, meniup lilin, berdoa, dan setelah itu mendengar wejangan dari ayah. Inti wejangannya selalu sebuah pengucapan syukur karena hingga di usia kesekian, yang berulangtahun dan seluruh keluarga diberi kesehatan. Lalu kemudian wejangan itu lebih diarahkan kepada yang berulang tahun. Pesan yang tak pernah ketinggalan: bersyukur lah karena diberi umur yang panjang, hormati lah orang tua dan pelihara lah perilakumu sehingga tak mempermalukan keluarga.

Sangat lah jelas, pesan-pesan semacam itu sebenarnya tak pernah benar-benar ditujukan hanya kepada orang yang berulang tahun belaka. Sangap juga masih ingat, ketika untuk pertamakalinya ia mendatangkan ayahnya ke Jakarta untuk merayakan ulang tahun pertama anaknya, Marudur. Apakah mungkin bayi seumur itu dapat memahami pesan-pesan yang ternyata juga penuh dengan pepatah-petitih itu? Tetapi ayahnya tetap memberi wejangan sebagaimana kebiasaannya. Sangap tahu benar, wejangan itu sebenarnya terutama ditujukan kepada dirinya dan istrinya, agar tetap bersyukur, mendidik anak-anak untuk hormat kepada orang tua dan mengajari mereka berperilaku terhormat di tengah masyarakat.

Begitulah, ayahnya tampaknya mengerti bagaimana memanfaatkan kesempatan perayaan ulang tahun untuk terus-menerus menularkan nilai-nilai luhur dalam kehidupan kepada seluruh anggota keluarganya. Porsi wejangannya akan berubah seiring dengan pertumbuhan umur sang cucu. Ketika Marudur masih berumur tiga tahun, wejangan itu sepenuhnya masih ditujukan kepada kedua orang tuanya. Tetapi pada perayaan ulang tahun Marudur yang ke 10, Marudur pun mulai kebagian wejangan yang panjang lebar.

Aneh juga, fikir Sangap, berpuluh tahun sudah tradisi itu berjalan dan inti pesan-pesan ayahnya tak banyak berubah. Namun, mengapa dirinya, dan juga anak-anaknya tak bosan mendengarkannya? Darimana ayahnya menggali perumpamaan, ilustrasi, pepatah-petitih sehingga tiga generasi yang mendengarkannya tak juga menganggapnya sebagai pesan basi? Jangan-jangan yang menjadi pokok sebenarnya bukan lah pesannya, melainkan siapa yang menyampaikan pesan itu?

***

Tetapi tak ada yang abadi di dunia ini. Tiga bulan lalu, sebuah pesan lewat telegram dari adiknya di kampung tiba di meja kerja Sangap. Bunyinya: “Pulang segera. Ayah Sakit keras.” Sangap membacanya dengan jiwa yang serasa ingin segera terbang. Dalam hati ia mengumpat, mengapa sambungan telepon hingga zaman semaju ini belum juga tiba di kampung halamannya.

Ia tak ingat lagi berapa lama waktu dalam perjalanan ketika akhirnya ia menemukan dirinya telah duduk di sisi pembaringan ayahnya. Orang tua itu pucat, tetapi sorot matanya masih tegar. Si Oppung masih menunjukkan semangatnya ketika Sangap bercerita tentang Marudur dan Mardapot yang kian hari kian mengagumi Oppungnya.

“Natal ini, mereka menunggu Bapak. Mereka menantikan cerita-ceritamu, Pak,” kata Sangap.

Ayahnya tersenyum, untuk kemudian menggelengkan kepala. “Akhir tahun ini aku tidak akan kemana-mana.”

“Jangan begitu. Bapak pasti akan sembuh.”

“Aku ingin tetap di sini. Sudah lama aku tak merayakan Natal dan Tahun Baru dengan kawan-kawan sekampung. Aku ingin bersalaman dengan mereka. Sudah lama sekali…..,” ayahnya tak meneruskan kalimatnya.

“Bagaimana dengan Marudur dan Mardapot? Ulang tahun mereka akan sepi tanpa Bapak.”

“Saatnya kamu yang menasihati sendiri anak-anakmu. ”

Sangap terkesiap.

“Tak tahu aku mau bicara apa. Bapak yang selalu punya pesan-pesan khusus. Lalu apa yang harus aku pesankan kepada mereka?”

“Tidak perlu nasihat yang aneh-aneh. Nasihati mereka agar bersyukur diberi umur panjang, hormati orangtua dan pelihara lah perilaku agar tak mempermalukan keluarga.”

“Bukan kah Bapak selalu mengingatkan itu?”

“Ya, tetapi mereka bukan anak-anakku. Mereka anak-anakmu. Aku hanya memulai. Kamu lah yang meneruskannya, dan melihat hasilnya.”

“Tetapi mereka lebih mendengarnya jika Bapak yang mengatakannya.”

“Tidak. Mereka mendengar aku. Tetapi kata-katamu lah yang akan mereka ikuti. Seorang Oppung hanya berarti bagi cucunya manakala Bapaknya lemah. Sekarang, sudah waktunya kamu menunjukkan dirimu tidak selemah yang mereka fikirkan. Ingat, anakmu akan berumur 17 tahun.”

Tiga hari kemudian Sangap telah berdiri bersama istri dan anak-anaknya di tengah pesta untuk memberangkatkan ayahandanya ke liang kubur. Meninggal di usia 72 tahun, meninggalkan anak-anaknya yang kesemuanya sudah berketurunan, adalah sebuah hidup yang diberkati menurut adat Batak. Karena itu, kematian seperti itu tak patut lagi ditangisi. Sebaliknya dirayakan, dengan pesta tiga hari tiga malam. Dua ekor kerbau dipotong. Juga grup musik tradisional Batak didatangkan untuk ikut meramaikannya.

Orang ramai bernyanyi, menari, menyampaikan kata-kata penghiburan. Tetapi Sangap tak pernah bisa merasa terhibur. Di depan jasad ayahnya, sekali lagi ia merasa kehilangan, membayangkan hari-hari yang panjang tanpa wejangan. Dan ketika tiba untuk menyampaikan ucapan terimakasih mewakili keluarga, bukan Sangap yang bicara. Ia menunjuk adik laki-laki bungsunya, yang selama ini tinggal di kampung.

***
Kini Sangap masih tetap berdiri di dekat jendela, menyaksikan sore yang mulai turun. Desahnya terdengar panjang. Dibayangkannya perayaan ulang tahun anaknya besok. Dibayangkannya wajah Marudur yang kini mulai memelihara kumis. Lalu sanak-saudara yang berdiri melingkari kue tart di atas meja. Lalu ia bayangkan pula suara senyap itu, tanpa kehadiran Oppung. Pikir Sangap dalam hati, akankah mereka benar-benar menantikan wejangan darinya?

Hujan mulai turun. Sangap kembali ke meja kerjanya, meninggalkan pemandangan di luar kaca jendela yang mulai gelap. Terpikir dalam hatinya untuk menuliskan saja apa yang akan dia ucapkan besok. Terngiang-ngaing di telinganya kata-kata ayahnya: Bersyukur lah diberi umur panjang, hormati orang tuamu dan peliharalah perilakumu. Sangap lalu duduk di belakang komputernya. Disorongkannya mouse dengan tangan kanannya, menekan tombol compose. Lalu sejenak ia berfikir untuk mengingat alamat e-mail Marudur. Ia hendak mengetik dan menuliskan pesan kepada anaknya. Mungkin akan lebih efektif mengirimkan pesan semacam ini lewat email, gumamnya.

Tetapi niatnya ia urungkan.

Sangap mematikan komputernya dan bangkit membereskan meja kerjanya. Di jalan menuju pulang, ia masih membayangkan sebuah perayaan ulang tahun yang lengang, dengan wejangan yang sangat pendek: bersyukur, hormati orang tuamu, jaga perilaku…. Tetapi tekadnya sudah bulat, ia harus memulai lagi apa yang telah dirintis ayahnya dulu.

(selesai)

Ciputat, 14 Desember 2004

3 comments:

  1. Makanya, mulai sekarang belajar dong Bang. Jangan cuma bisa bikin kite termehek2 lewat tulisan....^_*

    ReplyDelete
  2. Jadi ingin pulang. Jadi terbayang kalau lagi ada acara di rumah di kampung, saling berebut duduk di belakang karena takut disuruh mandok hata. Tetapi kalau sudah ada yang kebagian mandok hata, malahan kita berebut duduk di depan untuk mendengar. Ada lagi Tulang kami yang pintar kalau disuruh mandok hata. Kami sering ikut tersedu-sedu kalau sudah dia bercerita panjang lebar tentang masa-masa sakit tempo dulu. Lalu kami serentak berkata, Emma Tutu kalau dia menyampaikan umpasa.

    Cerita yang manis Ito. Aku suka gaya ito....Horas

    ReplyDelete
  3. Bissaaa aja nih si ito bikin cerita. Siapa lagi nih yg jadi inspirasinya bikin story ini. Jangan-jangan refleksi pribadi ini....Pilihan foto-fotonya bikin aku membayangkan bagaimana aku 10-20 tahun lagi....

    makasih ya ito.

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...