Wednesday, December 30, 2009

Risiko Jadi Orang Tenar di Sarimatondang


(Refleksi menjelang Pulang Kampung)

Bukan hanya orang Batak di Sarimatondang, tetapi umumnya ‘orang kita’ Timur menganggap kurang lah sopan bila menyapa mereka yang lebih tua dengan nama kecilnya. Dan, untuk menghindari hal semacam ini, ada banyak cara. Orang Batak sudah lazim memanggil seseorang dengan marganya. Pak Saragih, misalnya, adalah nama yang terhormat untuk seorang Bapak bermarga Saragih. Cara lain adalah dengan menempelkan panggilan kekerabatan di depan nama yang akan disapa. Tante Rin untuk seorang gadis bernama Rina, pasti lah sapaan yang membuat si Tante merasa tersanjung bila disematkan oleh anak-anak yang seusia keponakannya.

Nama kecil kita bahkan seakan makin sakral manakala sudah berkeluarga. Amani Rodo adalah julukan yang lebih ‘beradat’ untuk John setelah kelahiran anak sulungnya Rodo. Nai Astuti lebih kedengaran terhormat ketimbang Dinda yang mempunyai putri sulung Astuti. John dan Dinda kelak akan makin dihormati bila sudah bercucu. Mereka tak lagi Amani Rodo atau Nai Astuti. Melainkan lebih dituakan dengan panggilan Oppu Ganda Doli dan Oppu Dapot boru, bila cucu-cucu dari anak lelaki sulung mereka diberi nama Ganda dan Dapot.

Namun, dimana pun di dunia ini selalu ada pengecualian. Juga di Sarimatondang. Lekak-lekuk birokrasi dalam urusan sapa-menyapa itu bisa begitu saja diterabas dan tak dituruti manakala menyangkut sejumlah ‘orang-orang tenar.’ Sekonyong-konyong tak berlaku lagi aturan yang mengharuskan kita menyapa seseorang yang sudah tua dengan marga atau panggilan kekerabatan. Tak peduli apakah dia masih balita yang baru bisa mengucapkan satu-dua patah kata atau kakek yang sudah uzur dengan puluhan cicit, dengan enteng dan tanpa merasa bersalah mereka memanggil para ‘orang-orang tenar’ Sarimatondang itu dengan nama kecilnya.

Demikian lah. Sejak saya berusia tujuh tahun, misalnya, sudah merasa tidak bersalah bila ada yang bertanya, “Eh, kau mau kemana?” dan lantas saya menjawab, “Mau membeli lappet ke kedai si BorXXX.” Padahal, yang dimaksud dengan si BorXXX sudah bercucu, putri sulungnya bahkan jadi salah seorang guru kami di SMP Negeri Sarimatondang. Tak jauh dari kedai Pak BORXXX, ada toko kelontong milik si DEKAXXXX. Dan harap dicatat, yang dimaksud dengan si DEKAXXXX tersebut sudah seusia dengan ibu saya kala itu.

Tak perlu heran pula jika sebagian besar orang Sarimatondang kenal dan dengan seenak udelnya menyebut nama si TUBBXX bila ditanya siapa tauke daging kerbau paling laku di Sarimatondang. Mereka bahkan bisa dengan cermat menunjuk rumahnya yang berada di dekat lapangan bola Sarimatondang. Dan sebagai info bagi yang belum tahu: sang bapak yang dinamai si TUBBXX itu sudah uzur. Bisnisnya kini diteruskan oleh anak bungsunya.

Tampaknya ini merupakan risiko bagi orang tenar di Sarimatondang. Semua orang jadi kenal dan demi alasan praktis, tak lagi mau repot-repot mengikuti tata-krama di bidang sapa-menyapa. Dan karena menyadari ini sebagai sebuah risiko, para orang-orang tenar itu juga tak terlalu berkeberatan kendati nama mereka dipanggil secara ‘semena-mena.’ Bagaimana pun, nama tenar tersebut merupakan konsekuensi dari rezeki dan mata pencaharian mereka. Harap maklum, sebagian besar orang-orang tenar dengan nama yang disebut-sebut tanpa pandang waktu itu adalah pebisnis-pebisnis tangguh. Sebagian besar diantara mereka pionir dan bertahan di bisnis yang sama sampai beberapa dekade.

Dugaan saya, justru kepioniran itu yang membuat nama kecil mereka jadi kesohor, ketimbang nama marga atau nama panggilan kekerabatan. Sebagai misal. Pak BORXXX mungkin merintis usahanya ketika ia masih sangat muda sekali. Sebagian besar pelanggannya ketika itu adalah orang-orang yang masih seumur atau bahkan lebih tua dari dirinya. Karena keadaan itu, para pelanggan lantas dengan enak saja menyapa Pak BORXXX dengan nama kecilnya. Selain karena umur yang tak berbeda jauh, panggilan nama kecil itu juga simbol keakraban.

Celakanya, panggilan itu agaknya terbawa terus-menerus walau waktu terus berjalan. Ketika Pak Gultom (contoh belaka, bukan nama sebenarnya) menyuruh anaknya untuk membelikan rokok di kedai Pak BORXXX, dengan enteng saja ia berkata, “Hei Anu, belikan dulu rokok di kedai si BORXXX. Bilang sama dia, Minggu depan baru dibayar. Digabungkan saja dulu dengan catatan pembukuan Minggu lalu.” Berkali-kali mendapat perintah sedemikian, akhirnya si anak juga turut belajar menyapa pak BORXXX dengan si BORXXX saja.

Maka begitu lah. Walau Pak BANJXX sudah ubanan, tetap saja orang mengenal saudagar berdarah Jawa ini sebagai si BANJXX (tanpa Pak), sebab dia merupakan penjual buku paling terkenal di Sarimatondang. Demikian pula Pak MANXX yang juga orang Jawa. Tukang koran paling laris di zaman kami merangkap pelatih kesebelasan Persatuan Sepak Bola Sarimatondang (Persesa) ini oleh orang-orang cukup disebut dengan si MANXX saja.

Adakalanya ‘orang-orang tenar’ di Sarimatondang tak disapa lewat nama kecilnya, melainkan dari ciri khas tertentu dari fisik mau pun perangainya. Sebut lah misalnya, Bang Polmer Sidabutar. Jika mencari dia di kampung kami jangan sebut nama keren itu sebab tak kan banyak yang kenal. Tapi coba sebut kan ‘Bang Tuyul.’ Semua tahu bahkan mengenalnya dengan akrab, si bapak yang bertubuh kecil namun gesit nan lincah.

Yang lebih lucu adalah julukan ‘reteng’ yang berarti cerewet atau bawel. Ternyata banyak orang Sarimatondang yang tenar gara-gara perangai yang begini. Sehingga bukan hanya penjual mi yang cerewet yang dijuluki ‘Wak Reteng,’ tapi ada pula ‘Opung Reteng’ yang berarti nenek yang bawel.

Itu belum seberapa. Dulu sewaktu kecil, saya sempat terkaget-kaget karena baru menyadari ternyata kakek yang sehari-hari dikenal sebagai guru merangkap kepala sekolah, mempunyai julukan yang unik menjurus seram. Dia digelari Guru Denggal, yang berarti Guru tukang pilin atau tukang gebuk. Apakah ia cukup sadis dalam mengajar? Wallahualam. Tapi harus saya akui, tatkala dulu ketika kecil bermain catur dengannya, saya sering agak ketar-ketir juga bila dia sudahi menekuk wajah sedemikian rupa ketika satu per satu buah caturnya tumbang saya pecundangi (catatan: tapi saya lebih sering kalah kok....).

Dan, belakangan ini makin saya tahu betapa mengerikannya nama julukan yang disandang para leluhur-leluhur saya. Misalnya, kakek tiga generasi di atas saya dari garis ibu, ternyata mempunyai julukan Pamangus. Bagi yang belum tahu, Pamangus adalah sejenis julukan yang seram dan mengerikannya satu tingkat di atas penculik dan teroris.

Tentu kakek buyut kami itu bukan penculik atau teroris sungguhan. Gelar Pamangus itu hanya merupakan julukan rekayasa belaka. Mungkin karena wajahnya yang agak kurang bersahabat. Mungkin juga karena ketegasannya mengambil sikap. Yang pasti, kapan-kapan kalau saya bertemu dengan orang-orang yang menyebalkan, saya sudah punya ‘amunisi’ untuk menggertak. Saya akan bilang, “Harap saudara hati-hati, ya, saya ini masih keturunan Pamangus loh. Kalau Anda masih sekelas Sumanto saja sih, lewat…..”


Ciputat, 30 Desember 2009


P.S. Tulisan ini dibuat dengan kesungguhan dan niat baik untuk mengenang Sarimatondang. Kalau ada kata atau penuturan yang menjengkelkan, mohon maaf ya.
Sumber foto: Dari berbagai sumber. Digunakan pada tulisan ini sebagai ilustrasi lucu-lucuan memancing tawa menyambut tahun baru.

5 comments:

  1. Wah ito. Gak nyangka kalau ito masih turunan Pamangus. Apa kata dunia?

    ReplyDelete
  2. Siburian4:16 PM

    wkwkwkwk. mati ketawa cara Sarimatondang benar-benar ini...

    ReplyDelete
  3. Bang, merry christmas and happy new year ya. Sori telat nih :).
    Kalau saya panggil Bang Eben sekarang berarti jadi Papa Amartya dong ya? What is papa in Bataknese?

    ReplyDelete
  4. @ade: hahaha. Pamangus juga manusia kan?
    @siburian: tiap kita pasti senang bila bisa bikin orang tertawa
    @mariskova: wow, trimakasih. udah lama gak berkunjung ke sini ya? padahal sy sering intip loh page-nya mariskova. papa Amartya in Bataknese =Amani Amartya.

    ReplyDelete
  5. terima kasih pak siadari,tulisan anda sangat mengobati rasa rindu saya kesarimatondang,saya lahir dan meluluskan SMP saya disana...

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...