Thursday, January 14, 2010

Papan Tulis Mini di Gereja Sarimatondang

Papan tulis hitam itu tak terlalu besar. Ukurannya mungkin hanya seperempat kali setengah meter. Biasanya ia digantung di dinding sisi kanan-kiri gereja. Fungsinya sederhana tetapi penting: jadi semacam pemberi info kepada jemaat tentang nats khotbah dan lagu yang akan dinyanyikan sepanjang ibadah.

Di berbagai gereja di Jakarta, terutama yang besar dengan jumlah jemaat banyak, papan tulis mini semacam ini mulai lenyap. Fungsinya agaknya telah bisa digantikan oleh berbagai piranti digital yang kian mendalam masuk dan menjadi bagian dari peralatan ibadah. Televisi berlayar datar kini kian lazim tertempel di berbagai sudut gereja.


Benda persegi yang necis itu dengan cepat menarik perhatian, makin membuat kita dimanjakan karena tak perlu lagi menoleh ke buku nyanyian bila ingin bernyanyi. Di layar itu, bukan hanya nomor lagu yang tertera, tetapi juga syairnya. Sama halnya ketika nats alkitab untuk khotbah dibacakan dari atas mimbar. Bila agak malas, kita tak perlu membuka alkitab untuk mengikutinya. Di layar televisi ia telah muncul dalam huruf-huruf yang besar. Pada saat-saat khusus, layar monitor itu pun bisa menampilkan tayangan live ibadah yang sedang berlangsung. Praktis, tak ada tempat lagi bagi papan tulis mini yang terlihat lamban dan kuno bila dibandingkan dengan warna-warni nan lincah piranti digital yang jadi penggantinya.


Tapi saya masih punya kesempatan bertemu dengan papan tulis mini itu. Tempatnya di sebuah gereja di kampung halaman, Sarimatondang. Pada 1 Januari silam, bersama lebih kurang 100 orang anggota jemaat, saya beribadah di sana, tepatnya di Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS). Dan papan tulis hitam mini itu sejenak membetot perhatian saya. Ia menggantung kira-kira satu meter dari tempat saya duduk. Kapur berwarna ungu digunakan untuk menuliskan nats khotbah dan daftar nyanyian. Papan tulis mini itu tak lagi hitam pekat, pertanda ia sudah sering dipakai.


Dalam lima tahun terakhir, ini lah kali pertama saya mengikuti ibadah tahun baru di gereja ini. Dan segera saya dapat merasakan papan tulis mini itu merupakan satu dari sedikit sekali yang masih tetap dan tidak berubah di gereja ini. Ketika untuk kesekian kali mengedarkan pandangan, makin saya sadari gedung gereja ini sudah dipermak sedemikian rupa sehingga temboknya lebih mulus, mimbar dan altar dihias sedemikian rupa berwarna-warni tak lagi sepolos beberapa tahun lalu. Organ pengiring ibadah, yang oleh orang Simalungun zaman baheula kerap dijuluki ‘Poti Mandoding’ (Peti bernyanyi) kini benar-benar sangat mengandalkan arus listrik. Demikian juga pengeras suara sudah jadi bagian yang tak terpisahkan dari ibadah.


Tapi yang paling terlihat berubah adalah orang-orang yang menghadiri ibadah ini. Menilik cara berpakaian dan model busana yang dikenakan, kian tak bisa lagi kita melihat beda ibadah di sebuah gereja kecil di sebuah perumahan di Jakarta atau di desa kecil seperti Sarimatondang. Jas dan kemeja yang umumnya dikenakan oleh kaum bapak, menggambarkan betapa sentuhan selera mutakhir para perancang busana kota-kota besar telah dengan cepat menjalar ke kampung halaman ini. Hal yang sama terlihat pada potongan kebaya kaum ibu-ibu yang tak kalah necis dengan pemandangan pada pesta-pesta kawin di Jakarta. Lebih menonjol lagi bila melihat kaum remaja dan pemuda. Yang ekstrim ala Chanchuters atau yang kalem seperti Afgan, semua hadir tanpa canggung lagi.


Dulu tahun 1962 Marshal McLuhan memperkenalkan istilah Global Village atau kampung global. Pakar komunikasi massa itu menggunakan idiom ini untuk menggambarkan demikian besar dan cepatnya peran komunikasi elektronik menghubungkan tiap bagian di dunia ini. Sehingga bumi ini makin menjadi kampung global, dimana makin terbuka kesempatan satu sama lain di berbagai belahan jagad saling ‘merumpikan’ satu masalah yang menarik perhatian mereka. Demikian cepatnya informasi dan komunikasi menyebar, membuat tiap manusia mempunyai kesanggupan lebih cepat untuk membaca, menyebarkan dan bereaksi terhadap berita global pada saat yang hampir bersamaan sehingga ini semua mendorong makin munculnya kesadaran akan tanggung jawab global.


Saya rasa Sarimatondang desa kelahiran saya itu, kini telah juga menjadi bagian dari ‘global village,’ terlebih-lebih setelah parabola, telepon genggam dan internet merambah di banyak sudutnya. Apa yang terjadi di berbagai belahan dunia, bukan hanya diperbincangkan dan dipikirkan, tetapi juga diikuti dan dipraktikkan. Bukan hanya dari cara berpakaian orang-orang di gereja ini yang menandakan mereka telah terhubung secara sempurna dengan selera mode kota-kota besar dunia. Lebih dari itu, dari cara para opung-opung tidak sabar untuk segera menghidupkan ponsel seusai ibadah demi mengecek SMS, tahu lah kita bahwa global village itu sudah benar-benar di depan mata. Yang menarik perhatian mereka bukan lagi hanya berapa besar sinamot (uang mahar) si polan yang akan kawin besok pagi, tetapi juga mau dikemanakan itu berton-ton koin simpati untuk Prita Mulyasari. Bahkan yang mengundang senyum, saya pernah membaca status teman fesbuk yang isinya begini: “Hoi….kalau lagi di gereja, jangan fesbukan dong…..” Dan, tahu siapa yang menuliskannya dan kemudian memberi komentar atas status itu? : seorang pemuda Sarimatondang dan kawan-kawannya yang tengah beribadah di sebuah gereja di sana!


Dan pagi itu sekali lagi saya mengarahkan pandangan pada papan tulis mini yang menggantung di hadapan. Berapa lama lagi ia akan tetap di tempatnya? Saya jadi teringat pada papan tulis mini serupa yang dengan mudah dapat kita saksikan di teras restoran-restoran klasik di Cardiff, London, Santa Fe bahkan di New York. Papan-papan mini itu digunakan untuk ‘mengumumkan’ menu spesial mereka hari itu. Restoran-restoran itu bukannya tak banyak menggunakan piranti elektronik. Namun papan-papan mini itu tetap saja menunjukkan keistimewaannya sendiri. Ia unik bukan saja dari warna-warni kapur tulis yang digunakan, tetapi terlebih lagi oleh gaya tulisan di papan itu yang tampak sangat personal. Apakah papan mini itu dimaksudkan sebagai pembawa pesan bahwa di restoran ini semua makanan yang disajikan dikerjakan oleh manusia, dan bukan oleh mesin?


Sekali lagi saya arahkan pandangan ke papan tulis mini itu. Berapa banyak sintua (penatua, anggota majelis gereja) yang telah membubuhkan tulisannya di papan ini? Dulu sewaktu kecil dan bersekolah minggu di gereja ini, saya sering mengamat-amati bentuk-bentuk huruf dan angka yang tertera di papan itu. Saya lantas mereka-reka sendiri, tulisan sintua mana ya kira-kira tertera di sana? Ada kalanya huruf-hurufnya terkesan seperti ukiran di papan nisan, tegas dan tebal. Menandakan penulisnya melakukannya dengan rileks. Bahkan mungkin sambil mengamat-amatinya sementara waktu, untuk mencermati apakah ada yang keliru atau tertinggal. Namun ada kalanya juga huruf-huruf itu terkesan dituliskan serba bergegas. Barangkali sintua yang bertugas sudah hampir kehabisan waktu.


Sampai berapa lama papan tulis mini ini akan tergantung dan setia di sana menjadi pendamping ibadah? Pertanyaan itu terbersit dengan cepat manakala saya berbincang dengan seorang kerabat di sebuah desa lain, yang jaraknya kira-kira dua jam perjalanan dari Sarimatondang. Sambil menyuguhkan kacang tojin dan kue bakar, ia bercerita tentang ‘revolusi’ yang dikerjakan pendeta baru yang melayani di gereja mereka di desa itu. Kata dia, sekarang jemaat makin ramai dan antusias mengikuti ibadah. Rupanya ada yang baru dalam ibadah. Dibantu oleh keahlian anak sang pendeta dalam bidang IT, ibadah di gereja itu dipandu oleh musik dari laptop. Suasana jadi hidup. Lagu-lagu yang dibawakan juga makin bervariasi dengan aransemen mutakhir.


Saya manggut-manggut, tetapi dengan cepat papan tulis mini di gereja Sarimatondang seperti memenuhi benak saya. Ia bersiliweran seolah bergantian dengan berbagai piranti digital yang makin memenuhi gereja-gereja di Jakarta. Dalam hati saya berpikir, tak lama lagi papan tulis mini itu akan punah. Pasti ia tak akan kuat menahan roda zaman. Namun, sambil berkata begitu ada juga rasa was-was. Jika piranti digital itu sudah bisa kita pergunakan untuk apa saja, suatu saat manusia mungkin akan muncul pada pertanyaan: apakah saya masih perlu datang ke gereja? Bukan kah dari kamar saya pada Minggu pagi saya bisa beribadah mengikuti khotbah-khotbah pendeta (selebriti rohani) melalui televisi?

()()()

Suatu sore beberapa hari setelah tahun baru, kami duduk-duduk sambil berbincang ringan. Bapak dan saya mengobrol tapi sambil kami masing-masing memegang telepon selular. Lalu Bapak menanyakan sesuatu yang mungkin sudah sejak malam tahun baru menggoda pikirannya. Ia ingin tahu bagaimana caranya sehingga saya bisa mempunyai alkitab digital di telepon genggam dan apakah hal serupa bisa ia miliki di telepon genggamnya.


Lalu saya menerangkan pada dasarnya telepon genggam zaman sekarang umumnya sudah bisa melakukan hal itu. Ada piranti lunak yang bisa diunduh (didownload) untuk melakukan hal itu. Atau lebih praktisnya, kita bahkan bisa mendatangi gerai-gerai penyedia layanan serupa. Saya katakan, dulu saya hanya membayar Rp10 ribu untuk mendapatkannya.


“Jadi teleponku ini bisa seperti itu?,” tanya Bapak.


Saya mengiyakan. Tapi dalam hati saya berharap dan berdoa semoga Bapak yang sudah lansia itu tak mewujudkan hasratnya. Saya masih ingin dan senang melihatnya jika pada sore menjelang malam hari, duduk khusyuk di sudut ruang tamu. Membolak-balik alkitab dengan cermat, ketekunan yang selalu saya kagumi sejak dahulu. Dan berani bertaruh, ia mungkin tak kan meluangkan waktu seperti itu lagi seandainya di telepon genggamnya sudah ada alkitab.

Selamat tahun baru, friends.......

Ciputat, 14 Januari 2010

Keterangan foto:
(1) Papan tulis mini di gereja GKPS Sarimatondang
(2) Berdoa khusyuk menjelang ibadah berakhir
(3) Bersalam-salaman dan bermaaf-maafan dalam formasi berbaris melingkar seusai ibadah tahun baru, tradisi di Sarimatondang yang masih terus dipelihara

6 comments:

  1. jadi kangen...

    ReplyDelete
  2. Tulisannya bagus pak, saya juga teringat kampung halaman saya di Nias. Suasana tahun barunya tidak jauh beda dengan di Simalungun. Tuhan Yesus Memberkati

    ReplyDelete
  3. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  4. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  5. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  6. Mengena sekali tulisan tentang papan tulis mini di gereja Sarimatondang ini Lawei. Benda yang sama selalu mencuri perhatianku kalau ibadah di gereja kami, di pinggiran Jakarta. Menggantung mulus di dinding, tapi isinya tidak berubah. Minggu:, Tanggal:, Sibasaon:, Ambilan:, Doding:.
    Saya sering bicara dalam hati, seaindainya itu ada isinya... saya tidak perlu menoleh kiri kanan. Salah saya sendiri memang, suka datang terlambat hingga tidak kebagian fotokopian buku acara. Dan setiap menyesalkan hal itu, saya selalu teringat foto George Bush 3 tahun lalu, waktu itu masih presiden Amerika, ketika mengikuti kebaktian jelang akhir tahun. Di foto itu terlihat jelas papan yang mirip dengan yang ada di gereja Sarimatondang itu. Lengkap dengan tulisan kapur yang rapi. Jangan-jangan kita sudah lebih maju dari orang Amerika sana Lawei...

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...