Thursday, February 11, 2010

Sebentar Lagi Valentine Day

Sebentar lagi Valentine Day. Hari Kasih Sayang. Hari untuk mengingat orang-orang terkasih. Dan, saya mengingat dia lagi. Berapa tahun umurnya sekarang? Empat puluh satu tahun? Saya tidak pernah lagi menghitungnya sejak kepergiannya dulu. Yang selalu terbayang adalah wajahnya yang muda. Wajah seorang gadis di awal kuliahnya. Yang riang. Yang penuh canda. Tapi sekaligus punya stok kata-kata untuk menghibur.
Eva, kedua dari kanan. Penulis paling kanan. Tiap kali mengenang dia, senyum seperti ini selalu muncul sekelebat. Pic by W.Siadari BA (Op. Amartya)

Bagaimana kira-kira dia sekarang? Masih kah ia suka memainkan gitarnya, dan menyanyikan lagu-lagu baru yang lagi hit, seperti kebiasaannya dulu? Masihkah ia dengan nafas dan stamina panjangnya, sambil bernyanyi-nyanyi kecil, telaten bekerja di dapur? Mencuci piring? Menanak nasi? Melap meja? Membereskan potongan-potongan sayur yang masih berserak?



Saya selalu heran akan antusiasmenya bekerja di dapur. Seperti juga kebanyakan pria lain di kampung halaman yang harus akrab dengan dapur, saya memang tak pernah alergi pada masak-memasak, sering juga, ikut mencuci piring, menjerang air di atas tungku kayu bakar (dulu belum ada kompor gas). Dan saya selalu tidak bisa mengusir rasa bosan. Selalu saja ingin buru-buru selesai. Ingin segera meninggalkan dapur yang sumpek, penuh asap dan becek karena air sering berceceran. Tapi dia, bisa melewati itu semua dengan ketekunan yang mengagumkan. Ia seolah menganggap dapur sebagai 'tempatnya' yang paling menyenangkan. Ada saja yang selalu ingin ia bereskan di sana.
Kata teman, gaya berfoto dgn menumpangkan kedua tangan di pinggang disebut gaya cangkir. Eva lah yang sedang bergaya cangkir itu. Oppung (yang berdasi) sedang bersiap ke gereja pagi2 sekali, sedangkan kami cucunya, belum berbenah samasekali....Pic by W.Siadari BA (Op. Amartya)

Namanya Eva. Eva Netty Siadari. Saya tidak tahu kenapa merasa lebih dekat dengan dia dibandingkan dengan adik-adik yang lain. Mungkin karena usia kami yang tidak terpaut jauh. Hanya selisih dua tahun. Mungkin itu yang membuat kami merasa setara dalam membicarakan apa saja.

Dulu ketika saya akan berangkat ke Jakarta, malamnya kami berkumpul. Sambil bersenda gurau, kemudian ia menyanyikan lagu yang dinyanyikan Ucok Aka Harahap yang kala itu mempunyai kaset bestseller bersama Ahmad Albar dengan label Dua Kribo.

"Jangan kembali,
Sebelum kau berhasil
Sebelum kau kalahkan
Kehidupan yang keras ini."

Lagu itu sangat kami sukai. Mungkin karena kami berada di lingkungan keluarga Batak, yang konon senang merantau dan merantau adalah salah satu tahap dalam hidup. Merantau, yang sering kami artikan jauh dari orang tua, mandiri, dan harus menaklukkan tantangan hidup, sudah menjadi obsesi. Dan lagu itu mengukuhkannya lagi. Tapi malam itu, ketika ia menyanyikannya, saya jadi berpikir lebih dalam. Kehidupan mana yang saya akan taklukkan? Kehidupan Jakarta yang saya belum tahu akan bagaimana? Di Jakarta saya memang akan tinggal di rumah kerabat. Tapi setelah itu, apakah saya akan bisa menaklukkan Jakarta yang konon lebih kejam dari ibu tiri itu?

Eva menyaksikan Oppung (nenek) menumbuk tepung untuk dijadikan nitak dan Tante Lores turut membantu. Pic by W.Siadari BA (Op. Amartya)

Keesokan harinya, di atas bis yang akan membawa saya ke Jakarta, saya melihat semua anggota keluarga dengan wajah kusut ikut mengantarkan. Kusut, karena kami harus berangkat subuh dari Sarimatondang ke Pematang Siantar, yang sejam perjalanan jauhnya. Dari P. Siantar lah bis memulai perjalanannya. Tetapi kekusutan bukan karena itu saja, saya kira. Mereka sedih, mungkin membayangkan saya, yang masih kelas 2 SMA, sudah harus berpisah jauh dengan mereka. Dan mungkin hanya dalam ukuran tahun baru akan bertemu kembali.

Saya melihat dia menangis. Mengapa dia menangis dan tak bisa menyembunyikan tangisnya? Tidak seperti bapak dan mamak, yang berkaca-kaca matanya tapi tetap bisa tegar? Apakah dia membayangkan, setelah saya tinggalkan, akan menjadi anak yang paling tua di rumah?. Sehingga ia lah yang akan memikul beban membimbing adik-adik?

Sekali lagi Eva bergaya cangkir ketika suatu hari tamasya keluarga ke pantai Tigaras. Pic by W.Siadari BA (Op. Amartya)

Surat-suratnya kemudian memang menceritakan hal itu. Menceritakan bagaimana ia menjadi anak tertua di rumah. Dalam setiap suratnya, selalu ia mengabari tentang bagaimana bapak dan mamak. Bagaimana ekonomi rumah tangga kami, keluarga guru desa yang pas-pasan, selalu tambal-sulam dan pinjam sana pinjam sini. "Kadang-kadang, Bapak dan mamak bertengkar kecil-kecilan. Tapi biasa lah. Dulu waktu Abang di sini, sudah begitu, bukan?" kata dia dalam suratnya suatu kali.

Yang selalu menyenangkan dari surat-suratnya adalah ketika ia bercerita tentang adik-adik. "Si Epi sekarang lagi senang-senangnya memberi makan ayam," itu salah satu ceritanya yang membuat saya bersemangat, menceritakan salah seorang adik yang gemar beternak. Tidak lupa pula, ia menggoda saya dengan pertanyaan-pertanyaan orang 'udik' yang masih membayangkan Jakarta tak beda dengan P. Siantar yang kecil itu. "Bagaimana, sudah ketemu I'is Sugianto belum?" Itu salah satu pertanyaannya yang lucu. Sebab ia tahu, saya penggemar berat I'is. Dan mungkin ia membayangkan, kalau sudah di Jakarta, kita dengan gampang saja menyambangi rumah selebriti itu.
Di Bukit Gundaling pada suatu hari, 30 tahun lalu. (Dari kiri: W. Siadari BA, Penulis, Eva, Eksa, Early dan Mamak/ Ny.Siadari). Terjadi dialog begini:
Penulis: Huh, alot kali rambutan ini,Nampaknya bukan rambutan Binjai ini.
Eva: Santai aja bro. Jangan terburu-buru. Enjoy aja kita di Gundaling ini.
Eksa: Kalian ngomongin apa sih? Rambutan macam apa yg kalian bicarakan?
Early: Rambutanku masih utuh loh. Ini kupegang2, nanti aja kumakan hehe

Lalu ketika ia tahu saya diterima di salah satu perguruan tinggi di Bandung, suratnya tiba di asrama dalam sebuah amplop yang lebih tebal dari biasanya. Suratnya ternyata berlembar-lembar. Sebagian besar adalah nasihat. Isinya kira-kira: saya harus lebih tekun belajar. Jangan tergoda pada gadis-gadis mahasiswi yang pastilah, menurut dia, cantik-cantik. Fokus pada pelajaran saja dulu. Dan ingat, setelah lulus harus pulang kampung segera.

Saya ketawa membaca surat itu. Di tingkat persiapan, ketika saya masih harus diplonco, sudah mendapat nasihat seperti itu?

Setahun kemudian, giliran saya yang mengirimkan surat berpanjang-panjang. Karena ia memang diterima di sebuah perguruan tinggi di Medan. Tapi saya justru mengirimi dia nasihat yang sebaliknya. Saya justru mengatakan supaya dia cepat cari pacar. Cari pacar yang bisa membimbingnya. Jangan terlalu serius belajar.

Jika semua orang kaget ketika saya akhirnya bisa juga kuliah di Bandung (karena rapor saya biasa-biasa saja dan saya dulu sempat frustrasi ketika bersekolah di P. Siantar), keberhasilan dia kami nilai wajar-wajar belaka. Dia murid yang pintar sejak Sekolah Dasar dulu. Satu-satunya diantara kami sekeluarga yang selalu berhasil memelihara prestasinya di dua besar. Sama seperti antusiasmenya bekerja di dapur, ia juga antusias kala belajar. Ketika masih SMP dulu, saya paling bingung mempelajari Bahasa Inggris. Saya pasti kelabakan jika ditanyakan soal tenses. Itu benar-benar membuat pusing tujuh keliling dan saya menyalahkan orang Inggris, kenapa sih harus membeda-bedakan kata kerja menurut waktu. Kenapa go harus jadi went kala peristiwa itu sudah lewat? Kenapa mereka tidak mengikuti orang Indonesia, kalau mengatakan pergi, ya pergi saja?

Dia tertawa bila saya protes begitu. Dan suatu waktu, saya agak terkejut ketika mendengarkan suaranya di rumah tetangga sebelah mengajari kawan-kawan sebayanya tentang tenses itu. Dengan teliti. Dengan setuntas-tuntasnya. Gila. Saya bertanya dalam hati, darimana dia bisa begitu? Di kampung kami yang kala itu listrik (dari generator partikelir) hanya menyala dari pukul enam sore hingga jam 10 malam, belum ada les Bahasa Inggris. Darimana dia bisa dengan cepat belajar Bahasa Inggris yang membuat pusing itu?

Tak mengherankan bila dalam surat-suratnya selalu ia beritahu bahwa nilai-nilainya bagus. Juga tak mengejutkan bila ia bercerita ada satu dua orang pemuda yang datang ke tempat kosnya, mengajak belajar bersama. Juga tak membuat saya heran bila sesekali ia bertanya, "Boru Sundanya, sudah ada yang kecantol belum?" Boru Sunda yang ia maksudkan adalah gadis Sunda, yang selalu ia bayangkan akan menggoda saya di Bandung.

Di tahun kedua kuliah, ketika ada liburan panjang, saya punya kesempatan pulang kampung. Dan akhirnya bertemu dia. Wajahnya saya lihat agak kurus. Kata mamak, dia ada sedikit menderita sakit maag. Wah, saya agak khawatir. Tapi keceriaannya, kegembiraannya, dan celotehnya tentang apa saja selalu bisa menghibur saya.

Dan karena kami sudah dewasa, Ibu mengizinkan kami berdua pergi berlibur ke Danau Toba, menyambangi saudara di sana. Kami berdua saja, dengan keakraban abang dan adik, menghabiskan hari-hari kami di rumah saudara itu dengan berbicara dari hati ke hati. Tentang masa depan. Tentang rencana kami bagaimana kelak mengangkat nasib adik-adik, seandainya kami sudah bekerja. Membayangkan bagaimana kelak kami mungkin akan hidup berpencar. Saya mungkin akan mencari kerja di Jakarta, sementara dia sudah memutuskan kelak akan tinggal di Medan supaya dekat dengan mamak dan Bapak.

Sebuah liburan yang mengesankan, kendati waktu itu saya melihat staminanya agak kendor. Ia sering mengeluh, nafasnya sesak.

Dan kesedihan akhirnya mulai merambat setahun kemudian. Di asrama di Bandung, saya mendapat kabar bahwa dia dirawat di Rumah Sakit. Semula mamak dan bapak menduga ia kelelahan. Tetapi akhirnya dokter memvonis, Eva menderita kelainan jantung. Penyakit jantung koroner?

Saya sedih. Menangis di kamar. Berdoa. Apakah dia akan begitu pendek umurnya?

Beberapa bulan kemudian, setelah dirawat di Rumah Sakit di P. Siantar, akhirnya mamak dan bapak membawa dia ke Jakarta. Mencoba upaya terakhir di Rumah Sakit Harapan Kita. Mereka bertekad bulat, dengan pinjam sana pinjam sini, jual apa saja yang masih ada, untuk menempuh upaya pamungkas demi putrinya yang semua orang menyayanginya.

Sekali lagi kami bertemu di Jakarta. Wajahnya sudah bertambah pucat. Tapi kecantikannya, (yah, saya akan selalu mengenang kecantikannya yang membuat saya bangga dan diramah-ramahi oleh kawan-kawan sebaya) tak bisa hilang. Kami bertemu di rumah kerabat tempat mereka menginap. Saya melihat dia senang sekali bisa menginjakkan kaki di Jakarta. Dan dia tampak optimis bahwa operasinya akan berhasil.

Tapi kenyataan berkata lain.

Saya berada di Bandung bersiap menghadapi ujian akhir semester, ketika pada suatu malam, dijemput oleh seorang saudara. Katanya, Eva sudah menjalani operasi tetapi dalam keadaan kritis. Sanak Famili itu mengajak saya ke Jakarta untuk menjenguknya.

Saya lemas. Saya kira saya harus berdoa agar dikuatkan saja.

Dan betul. Di atas bis yang membawa saya ke Jakarta, famili yang menemani saya bercerita bahwa dia sudah tiada. Ia sudah dipanggil Tuhan pada malam itu, tetapi famili tidak mau berterus terang mengatakannya ketika masih di asrama tadi. Takut membuat saya kalut. Dan karena itu, menurut dia, kami akan langsung ke Bandara saja, tempat dia sudah dimasukkan ke dalam pesawat yang akan membawanya pulang ke kampung.

Kalau tak salah ini bulan Desember 1978. Oppung sudah sakit keras. Foto ini menjelang beliau mengikuti perjamuan kudus. Penulis duduk paling tengah berbaju biru. Eva duduk paling kanan

Di Bandara mamak dan bapak ditemani sejumlah saudara, sudah berkumpul menunggu kehadiran saya. Saya tak bisa menangis lagi. Lebih tepatnya, saya berusaha untuk tidak menangis agar bapak dan mamak tak bertambah sedih. Saya juga mengatakan saya tidak ingin ikut ke kampung karena besok harus ujian.

Dan kami pun berpisah di Bandara. Tanpa sempat melihat dia terakhir kali dengan matanya yang terpejam. Mungkinkah itu yang menyebabkan dalam kenangan saya ia tak pernah 'pergi?' Mungkinkah itu yang membuat dia selalu saya bayangkan dalam keceriaannya, dalam kemudaannya, baik dalam mimpi saya mau pun dalam kenangan saya?

Beberapa hari lagi akan tiba Valentine Day. Dan saya akan selalu mengenangnya sebagai adik yang manis. Adik yang baik. Dan adik yang penuh tanggung jawab. Itu sebabnya, di pengantar skripsi, saya menghabiskan dua paragraf untuk menceritakan dia, yang menyebabkan dosen pembimbing mengernyitkan dahi, dan berkata, 'kok kata pengantarnya panjang banget?'

Tiap kali saya bertemu dengan kawan-kawan sebayanya mau pun kawan-kawan yang mengenalnya, saya merasa terhibur, seperti diingatkan pada seseorang yang selalu hidup, tetapi hanya pergi sementara saja. Sebab, seperti saya tuliskan dalam puisi pendek di pengantar skripsi itu, saya yakin,

"seperti kemarin
kelak engkau pun
memberi kami
Penghiburan."

Sebab saya selalu percaya, seseorang akan selalu hidup selama orang-orang yang mengasihinya mengenangnya dan mengingat kebaikan-kebaikannya. Dan, engkau akan kami kenang. Tak semenit pun melupakan.

28 Februari 2006

© Eben Ezer Siadari

Tulisan ini dibuat pada 28 Februari 2006, memperingati hari ulang tahun Eva. Tapi direpublish lagi sekadar membagi kenangan.Boleh ya?

2 comments:

  1. Anonymous11:56 PM

    eva gak pernah pergi jauh...she always in your heart
    btw, happy valentine !

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...