Friday, May 21, 2010

Diplomasi 'Pohul-pohul'

Walau pada mulanya agak cemas, akhirnya Ami jadi juga menginap di rumah Tante Retno. Bocah yang masih duduk di bangku SD ini cukup akrab dengan adik ibunya itu, yang sudah beberapa lama menikah tapi belum punya momongan. Rumah Tante Retno juga tak terlalu jauh dari Bantul, tempat tinggal Ami. Perjalanan kesana cukup ditempuh dengan sepeda motor.




Yang bikin Ami was-awas, inilah dia pertama kali menginap di rumah Tante Retno tanpa bersama ayah-ibunya. Padahal, Ami takut sama Om Bonar, suami sang Tante. Maklumlah, Om Bonar orang Batak. Badannya tinggi kurus tapi suaranya besar. “Om Bonar kan kalau bicara suaranya keras banget…..takut,” kata Ami. Untung ayahnya bisa menenteramkan hatinya. “Kebanyakan orang Batak memang memiliki suara keras, Ami. Tapi itu tidak berarti dia jahat,” kata ayahnya membesarkan hati putrinya.

Dan betul saja. Di rumah Om Bonar, Ami yang dibesarkan oleh orangtua berlatarbelakang budaya Jawa itu, mulai seperti terbuka matanya. Om Bonar yang bersuara keras ternyata menyambutnya dengan ramah. Bahkan yang tak bisa dia bayangkan, Om Bonar pintar memasak. Ami diajarinya memasak pohul-pohul, ‘kue’ populer di kampung halaman Om Bonar yang terbuat dari tepung beras, gula dan parutan kelapa.

Pendek kata, melalui diplomasi pohul-pohul, Ami mendapat pemahaman baru tentang orang Batak dalam personifikasi Om Bonar. “Suara Om Bonar itu lo, besar sekali. Rasanya kadang seperti mendengar suara orang marah-marah. Tapi dari senyum lebar Om Bonar, sepertinya Om Bonar orang yang menyenangkan….,” begitulah pendapat Ami setelah kenal lebih dekat dengan Om Bonar.

Ami juga melihat sisi kelembutan lain dari pria Batak yang dulunya dianggapnya sangar. Ami jadi paham sejak kecil anak-anak Batak sudah terbiasa bekerja di dapur, khususnya mereka yang terlahir sebagai anak sulung seperti Om Bonar, yang adiknya laki-laki semua. Tak bisa mengelak, Om Bonar harus bisa memasak. Tak cuma itu, ayah Om Bonar juga ternyata jago masak. “Di rumahku sambal buatan ayahku jauh lebih enak daripada buatan ibuku. Ayahku tampak hebat kalau sedang memasak,” begitu Om Bonar bercerita sambil mengolah tepung, parutan kelapa dan gula. Ami dan beberapa kawan sebayanya yang turut dalam proyek pohul-pohul itu, seperti tersadar betapa salahnya anggapan yang mereka pelihara, bahwa pria tak bisa memasak. Apalagi pria Batak.


()()()


Cerita di atas saya baca dari sebuah buku komik berjudul Calon Koki Pohul-pohul. Komik itu diterbitkan atas kerjasama SahabatGloria dan Yayasan Tifa dalam rangka program pendidikan multikulturalisme dengan pengembangan karakter. Jangan cari buku ini di toko buku, sebab ia tak dijual. Buku-buku ini dibagikan secara gratis. Tujuannya, ya itu tadi, untuk mempromosikan pemahaman yang positif tentang kemajemukan budaya.

Penulis teks komik ini bernama Krismariana Widyaningsih. Ia saya kenal beberapa tahun lalu, diawali dengan bertukar surat-e. Kris juga blogger dan kami saling kunjung-mengunjungi blog masing-masing. Sesekali ia mengomentari My Beautiful Sarimatondang. Saya juga kadang-kadang membubuhkan pesan di My Writing . Sesudah itu kami beberapa kali bertemu, ngopi, ngobrol, menjajal busway dan sambil bertukar-pikiran soal tulis-menulis.

Suatu ketika, beberapa bulan lalu, tiba-tiba saja dia mengirimkan email. Dia bertanya, apa saja makanan yang selalu terhidang di meja makan orang Batak. Saya tertawa mendapat pertanyaan itu, sebab saya langsung terpikir pada keluarga saya di Sarimatondang dan beberapa kerabat di kampung halaman. Boro-boro ada makanan yang selalu terhidang, meja makan pun tak pernah kami kenal di masa kanak-kanak…

Tetapi rupanya Kris sangat serius dengan pertanyaan itu. Sebab ia memang sedang merancang komik untuk anak-anak dengan tema multikulturalisme. Kali ini ia ingin memperkenalkan Orang Batak. Dan itulah alasannya mengirimkan pertanyaan aneh tadi.

Seingat saya, ada beberapa kali kami duduk bersama –sambil makan mi ayam Bakmi Naga maupun menikmati sop buntut di TIM—untuk proyek yang, buat saya agak aneh ini. Dan dalam pertemuan-pertemuan itu, Kris cukup pintar menyelap-nyelipkan pertanyaan untuk menggali apa saja yang khas tentang orang Batak yang dapat dijadikan tema memperkenalkannya secara populer kepada anak-anak non-Batak.

Pohul-pohul dan lappet memang agak banyak mendominasi pembicaraan kami, pada akhirnya. Kris tampaknya tertarik betul, apalagi saya pernah cerita, bahwa pohul-pohul di pesta itu biasanya ukurannya besar-besar. Dan karena cetakan pohul-pohul adalah kepalan tangan orang dewasa, saya curiga itu bukan kepalan perempuan tetapi laki-laki. Kalau itu benar, kaum pria lah sesungguhnya koki pohul-pohul.



()()()

Sejak dua bulan lalu, Kris dan saya sebenarnya sudah membuat janji untuk bertemu, ngopi atau makan donut bareng. Tapi lebih dari lima kali kami menetapkan tempat dan waktu pertemuan, tapi menjelang hari H, pasti salah satu diantara kami –saya yang paling sering—membatalkannya karena ada kesibukan lain yang lebih penting.

Tapi pada akhirnya, bertemu jualah kami di suatu sore, dua minggu lalu, di tempat makan bakso di bilangan Klender, Jakarta. Kali ini Ami datang bersama Oni, suaminya, dosen dan calon filosof yang asli Bangka. Sambil saya menyeruput es teler di hadapan, Kris menyodorkan komik yang telah berbulan-bulan sebelumnya ia janjikan akan ia berikan. Reaksi saya yang pertama adalah terbelalak membaca judulnya, Calon Koki Pohul-pohul. Tak terukur besar hati saya, sebab tak pernah sedikit pun saya menduga, bahwa pohul-pohul akan menjadi sebuah judul yang ditulis besar-besar.

Lebih gembira –dan sedikit bangga--lagi karena di dalamnya saya masih dapat menjejaki beberapa hal yang pernah kami diskusikan dulu. Ada tokoh sambil lalu yakni keluarga Sadari (hanya kurang huruf ‘i’ untuk menjadi marga saya yang Siadari itu), ada Om Bonar (Paman saya –adik lelaki ibu-- juga bernama Bonar Damanik), tentang pria sulung yang dipaksa harus bisa memasak karena semua adiknya laki-laki (saya punya banyak teman yang begitu), dan tentang ‘sambal buatan ayah yang lebih enak daripada sambel buatan ibu.’

Terlepas dari adanya sedikit kelemahan grafis dalam menggambarkan pohul-pohul, komik ini sangat kreatif dan persuasif menggambarkan ‘orang Batak’ kepada anak-anak non-Batak, dan sekaligus menjadi promosi yang efektif tentang kemajemukan budaya. Tiba-tiba saya merasa diri ini sangat kecil dan berutang besar kepada Kris, yang kadang-kadang suaranya saja tidak kedengaran ketika bicara, tapi telah berbuat banyak untuk kami orang-orang Batak. Seselintas terpikir oleh saya, jangan-jangan selama ini kami orang Batak ini telah agak berlebihan mengukur diri sendiri sehingga merasa akan mampu menyelesaikan seluruh masalah keBatakan di pundak kami sendiri. Padahal ada orang-orang seperti Kris, yang dalam kesederhanaan dan kesenangannya melihat warna-warni Indonesia, bisa dimintai tolong.

Terimakasih ya Kris. Kapan kita ngopi lagi?

(Selesai)

3 comments:

  1. Riris Panggabean3:07 AM

    Kita memerlukan lebih banyak lagi orang-orang seperti mbak Kris, yang dapat melihat keragaman budaya Indonesia sebagai suatu pelangi yang indah, dan sekaligus dapat menuangkannya dalam bentuk tulisan yang sederhana namun efektif, sehingga pemahaman lintas budaya dapat terwujud.

    Aku sendiri melihat keragaman budaya, kultur, agama, dll di Indonesia ini, sebagai suatu kekayaan dan berkat, dan berharap seharusnya ini bisa meciptakan sebuah harmoni yang indah, yg sebenarya bisa menjadi modal utama untuk menjadi bangsa yang kaya dan besar di kancah Internasional (sayang ego pribadi dan kelompok lebih besar, melebihi rasa kasih dan kebersamaan sebagai sebuah Bangsa). Ah seandainya......

    Terima kasih ya mbak Kris atas karya mulia mbak, berupa komik ini, lebih berterima kasih lagi karena ini dibagikan secara gratis dalam rangka program pendidikan multikulturalisme dgn pengembangan karakter, dan dimulai dari anak-anak. Karena memang lebih mudah mendidik anak-anak, dari pada orang dewasa (yg kebanyakan sudah merasa dirinya pintar), semoga program ini bisa berguna bagi pengembangan mental dan karakter mereka, agar kelak ketika dewasa mereka bisa me-manage negeri ini dengan lebih, smart, bijak dan intelek, agar menjadi negeri yang lebih baik.

    Sebagai orang Batak, khususnya aku sangat berterima kasih karena sudah memperkenalkan Batak kepada non-Batak.

    Terima kasih juga untuk abang Siadari yang sudah menjadi nara sumber bagi mbak Kris (juga sudah mem-posting tulisan ini), sinergi kalian luar biasa.

    Salut dan hormat untuk kalian berdua. Sukses selalu.

    Riris Panggabean

    ReplyDelete
  2. @ Silalahi: mauliate.
    @Riris Panggabean: Terimakasih banyak

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...