Wednesday, May 19, 2010

Perjuangan Menuju ke Parapat

Bepergian ke Parapat adalah sebuah perjuangan. Bermacam cara dilakukan orang, asal saja bisa tiba di pemandian danau yang luas dan tak pernah menjemukan itu. Termasuk dengan menumpang truk berterali, seperti di foto-foto ini.

Di tahun 70-an dan 80-an, dari berbagai kawasan di sekitar Danau Toba orang sering berbondong-bondong satu kampung datang ke Danau Toba. Dan di masa ketika kendaraan pribadi masih jarang dan kendaraan umum pun juga sulit, mencarter (atau memborong, kata orang Sarimatondang) bus dan truk pun akan dilakukan demi mewujudkan keinginan sampai di Parapat, kota tepi Danau Toba itu.




Kenang-kenangan seperti itu muncul lagi ketika sambil mengantarkan kami mengunjungi Danau Toba beberapa waktu lalu, adik saya bercerita, di waktu kecil --mungkin ketika masih kelas tiga atau empat SD-- dia pernah iseng-iseng naik ke atas truk yang sedang berhenti tak jauh dari rumah. Tak dinyana, truk itu merupakan kendaraan yang sudah disewa oleh serombongan anak muda yang akan bepergian ke Parapat.

Karena asyik bermain, tanpa sadar truk sudah berjalan dan adik saya telah berada diantara rombongan. Semula dia merasa kendaraan itu akan berhenti tak jauh dari rumah, tapi ternyata kebablasan. Truk melaju terus, hingga ke Parapat, yang jauhnya puluhan kilometer dari Sarimatondang, kmpung kami. Seharian adik saya berada dalam rombongan, jauh dari rumah dan diantara orang-orang yang tidak dia kenal. Kedua orang tua kami pun kalang kabut mencarinya.

Sebuah pengalaman yang berharga bagi adik saya yang kini sudah punya dua anak itu. Dan tentu bagi kita juga.

1 comment:

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...