Monday, May 17, 2010

Surau Kecil di Mata Air Aek Simatahuting

Surau ini terletak di sepetak lahan, di sebelah kiri dari tebing menuju Aek Simatahuting, mata air yang sekaligus pemandian di kampung kami. Entah sudah sejak kapan surau itu ada, didirikan oleh kawan-kawan sekampung dari etnis Jawa yang bermukim tak jauh dari Aek Simatahuting.
Ia menjadi salah satu saksi bagaimana perubahan terjadi di Aek Simatahuting. Dulu surau itu hanya berlantai tanah, beratap rumbia. Kini sudah berlantai semen. Yang tetap tak berubah adalah keterbukaannya kepada siapa saja. Sebab kami anak-anak Nasrani sering juga dengan bebasnya berteduh di sana bila tiba-tiba hujan turun.




Surau kecil ini juga jadi saksi bagaimana Aek Simatahuting kini sudah tak terlalu banyak lagi disinggahi orang. Setelah air minum masuk ke rumah-rumah, semakin sedikit orang yang mandi di Aek Simatahuting. Dan boleh ditebak, juga semakin tak banyak pula orang menggunakan
surau itu ber-sholat sesudah mandi. Itu, misalnya, terlihat dari makin banyaknya daun-daun berserak di seputar surau, pemandangan yang tak pernah terjadi di masa kami kanak-kanak. Surau itu dulu selalu bersih terawat.

Aek Simatahuting sendiri kian hari kian berubah. Di tepi kiri-kanan jalanan ke kawasan mata air ini dulunya adalah perladangan yang ditumbuhi oleh pohon-pohon besar dan tanaman keras. Kalau melintasinya pagi-pagi sekali atau di siang bolong, dengan jelas masih terlihat gerombolan kera bergelantungan di dahan pohon; jauh lebih banyak dari rombongan kanak-kanak kami yang sedang berjalan menuju sungai.

Kini jalanan ke Aek Simatahuting sudah lebar dan beberapa tahun lagi ia pasti sudah menjadi jalan raya beraspal. Di kanan-kiri jalan itu kini sudah makin banyak rumah penduduk. Lahan-lahan 'pertapakan' untuk rumah-rumah baru juga sudah mulai disiapkan. Hanya 50 meter dari Aek Simatahuting, kini juga sudah ada kedai.

Saya membayangkan, dalam diamnya surau kecil di Aek Simatahuting itu, tak kan pernah lupa mencatat betapa semuanya terus berjalan. Orang-orang datang silih berganti menghirup dan
mencicipi air jernih dari Aek Simatahuting. Ada yang berterimakasih, ada yang hanya diam saja. Dan surau itu, dalam diamnya, terus mencatat, sampai kelak tiba waktunya. Ia mungkin akan membisikkannya ke dalam mimpi-mimpi kita.

Selamat menikmati foto-foto Simatahuting ini, sahabat.

1 comment:

  1. simata huting... sudah hampir 20 thn aku tidak melihat mu..dulu hampir setiap sore aku datang, merasakan kesejukan airmu, mandi dimata airmu yang bening,....aku selalu menunduk kepala dan takut melihat kekiri,karena disana ada sebuah makam mirip raja diantara rimbunnya pohon kopi dan dadap..dan kalau sore hari gerombolan monyet melintas dan aku harus bersabar menunggu smapai barisan terakhir..(seperti kereta jabotabek)..kadang aku terkejut ketika seekor kadal tiba2 melompat dari daun daun kering dibawah tanah .. ah... sudahlah aku jadi sedih dan rindu masa masa itu

    arifin sidauruk

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...