Sunday, September 05, 2010

Insiden di Ruang Cukur

Pamulang, 28 Agustus, 2010

Jam dinding di kios tukang cukur itu menunjuk waktu 14:30 ketika saya melangkah masuk. Agak tenang hati ini karena di bangku antrian tak ada orang duduk, pertanda saya tak perlu lama menunggu. Yang membuat saya terkejut ternyata si Abang tukang cukur sedang terlibat dialog serius dengan pelanggan yang baru saja ia tuntaskan mencukur rambutnya. Ketika saya meletakkan diri di kursi seraya berharap dialog kedua orang itu cepat usai, barulah saya tersadar itu bukan dialog biasa. Suara mereka tampaknya makin keras satu sama lain. Bersahut-sahutan secara tak teratur. Lebih tepatnya, mereka bertengkar.

"Lho, Babe kan bilang, janggutnya saja yang disisain…,” kata si Abang Cukur seperti membela diri.





“Ya, tapi kenapa ini juga dihabisin?” kata si pelanggan dengan nada marah, sambil menunjuk lekukan di bagian bawah bibir bawahnya. Kelihatan memang bagian itu sudah tercukur tuntas.

Lha, Babe kagak bilang tadi….”

“Mestinya kamu tanya dong. Jangan asal babat saja,” kata si Babe masih belum bisa menahan rasa kesalnya. Sekali lagi ia mematut diri di cermin, dan kembali ia menunjukkan wajah asam cuka.

“Udah berapa lama sih kamu jadi tukang cukur?” si Babe kembali mencecar si Abang Cukur dengan pertanyaan yang sesungguhnya tak ia nantikan jawabannya. Wajahnya ia dorongkan mendekat ke wajah si Abang Cukur. Si Abang menghindar. Jelas, perawakannya yang kecil tak sebanding dengan tubuh kukuh si Babe.

“Kapan kamu bisa maju kalau tak mengerti selera pelanggan?. Kan kamu mestinya bisa nanya saya tadi?” si Babe masih terus menyemprot.

“Tapi tadi Babe tidur. Aye takut ngebangunin…” Si Abang Cukur menyahut takut-takut.

Loh, siapa yang melarang kamu membangunkan konsumen kamu? Justru kamu harus melakukan itu bila kamu ingin memberi pelayanan yang memuaskan. Makan sekolahan nggak sih?”

Si Abang Cukur memerah wajahnya. Sejenak ia mengusapnya dengan kedua tangannya sambil mengucap sesuatu. Saya yang dari tadi menyimak, gamang juga untuk bersikap. Tentulah sulit terlibat pada persoalan yang belum sepenuhnya saya mengerti.

“Kamu tahu? Saya akan dimarahi guru spiritual saya jika cukuran saya begini,” kata si Babe sambil memandang sengit kepada Abang Cukur. Sepintas si Babe menoleh ke arah saya, tetapi saya pura-pura tak melihat. Bahaya kalau ikut campur pada persoalan genting seperti ini.

Maafin aye Be,” terdengar nada gemetar dan rasa bersalah dari si Abang Cukur.

Tau nggak? Bukan cuma kamu yang gregetan mau mencukur ini. Istri saya saja sudah berkali-kali meminta agar bagian itu dicukur, tetapi tak saya ladeni. Itu janggut kebijakan. Tau kamu? Tidak sembarangan orang punya,” kata si Babe. Kelihatan betul dia masih kesal. Bagian bawah bibirnya yang sudah plontos ia raba-raba. Lalu si Babe kembali duduk di bangku cukur, seolah enggan meninggalkan kios itu sebelum ada solusi yang memuaskan. Ia tampak berpikir keras. Suasana hening. Sekali lagi ia pandangi wajahnya di cermin. Satu tangannya mengelus-elus janggut di bawah dagunya yang lumayan panjang dan lebat. Berkali-kali ia menarik nafas panjang.

Maafin aye Be. Sumpah. Aye kire Babe akan seneng kalau semua aye bersihin kecuali janggut di dagu. Biasanye orang-orang juga begitu,” kata si Abang cukur sambil membungkuk.

Si Babe terdiam.

“Nanti juga tiga hari bakal tumbuh lagi,” kata si Abang Cukur menghibur.

Si Babe masih juga diam.

“Mohon maaf juga aye ame gurunye Babe. Yah, namanye aye orang kecil Be. Gak ngerti sama yang gituan, Kagak makan sekolahan…” si Abang Cukur tampak demikian mengkeret.

“Ah….sudah, sudah. Lain kali kalau mencukur hati-hati.Tidak semua orang punya selera seperti yang kamu mau. Ini. Ambil,” kata si Babe, menyodorkan uang Rp20 ribuan.

“Ambil saja sisanya,” kata si Babe sambil melangkah pergi.

Si Abang cukur melongo.

Kini giliran saya duduk di bangku cukur. Tapi si Abang tidak langsung beraksi seperti biasa, yakni menyelimuti pelanggannya dengan kain lebar penampung jatuhan rambut. Kali ini ia mengamati dengan seksama kepala dan wajah saya. Setelah ia merasa pasti, baru ia sedikit tersenyum seraya mempersiapkan alat-alat cukurnya.

“Aman, pokoknya Be. Babe nyang ini kagak punya janggut, jadi aman,” kata dia, sambil mengarahkan pandang ke dagu saya yang memang tak ditumbuhi janggut. Senyumnya tambah lebar.

“Berani bertaruh, pasti Babe kagak punya guru spiritual, kan?” kata dia. Kali ini mungkin mau melucu.

Saya diam saja. Lebih baik tidur. Tak baik ikut campur tentang urusan janggut orang lain. Apalagi bila sampai menyangkut pada guru spiritual segala.

(selesai)
*Catatan: Insiden itu benar-benar terjadi, tetapi cerita ini sudah saya modifikasi sedemikian rupa.

2 comments:

  1. Anonymous1:56 AM

    Hahahaha, fresh sekali. Bikin ilang rasa ngantuk.

    Tati

    ReplyDelete
  2. tulisannya pas banget dengan gambar pendukungnya :)

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...