Friday, October 15, 2010

Foto-foto Karya Sintua


Di masa kami kecil di Sarimatondang–dan sampai sekarang juga—tidak mengherankan bila sebagian besar pengurus gereja adalah mereka yang berprofesi sebagai guru dan pegawai negeri lainnya. Mereka ini relatif lebih siap berorganisasi, menjalankan dan memimpinnya. Demikian pula halnya dalam hal keleluasaan waktu. Lagipula, anggapan bahwa guru itu harus digugu dan ditiru tampaknya bukan hanya berlaku di Jawa, tetapi juga dimana-mana di Indonesia. Menjadi pengurus gereja bagi seorang guru menjadi bagian lain dari pengejawantahan keberadaannya sebagai yang patut digugu dan ditiru itu.


Bapa dan Mamak, dalam sebuah kesempatan
Sejak masa mudanya ayah kami yang akrab kami sapa Bapa, sudah aktif dalam berbagai kegiatan gereja. Ia pernah menjadi konduktor paduan suara gabungan beberapa gereja pada perayaan Natal Oikumene di Kecamatan Sidamanik, tempat kami tinggal. Bahkan ia menggaet Mamak pun berkat aktivitasnya di gereja itu. Sebagian hal ini saya tahu bukan karena ia menceritakannya, melainkan saya lihat dari foto-foto jadul yang dengan rapi masih ia simpan.

Saya sudah lupa sejak kapan persisnya Bapa menjadi sintua. Yang saya ingat waktu itu –saya masih duduk di Sekolah Dasar— pada suatu hari Minggu ada pesta kecil-kecilan di rumah dengan memotong seekor babi. Walau orang yang diundang tidak seberapa, saya bisa menduga ada sesuatu yang luar biasa akan kami rayakan. Pasti lah ini bukan sekadar perayaan ulang tahun. Sebab seumur hidup saya –sampai sekarang—ulang tahun seseorang di rumah kami selalu dirayakan dengan ‘hanya’ memotong seekor ayam. Dan perkiraan saya benar. Bapa rupanya dari gereja tadi telah ditahbiskan menjadi sintua –pengurus gereja—sebuah predikat yang akan dia sandang hingga akhir hayatnya.
Dalam kapasitasnya sebagai sintua itu, Bapa cukup beruntung telah mengalami banyak hal. Bukan saja pernah kebagian untuk membunyikan lonceng gereja setiap hari Sabtu sore dan Minggu pagi, tetap lebih banyak lagi. Ia pernah jadi perutusan Sinode Bolon beberapa periode—hingga membawanya ke Jakarta, Bogor dan Bandung. Menjadi ketua atau sekretaris pesta gereja pun beberapa kali ia lakoni. Puncak kariernya –kalau boleh dikatakan begitu – ia pernah menjadi wakil pengantar jemaat di gereja kami yang kecil itu. Ketika suatu kali ia dicalonkan jadi pengantar jemaat, ia kalah suara dari kandidat lainnya.

Tetapi dari berbagai warna-warni aktivitasnya sebagai pengurus gereja itu, yang banyak menarik perhatian saya adalah ketekunannya untuk mengabadikan sesuatu. Baik melalui corat-coretnya di buku hariannya, tetapi yang terutama oleh tulisan mau pun foto-fotonya di koran tempat dia bekerja sebagai reporter lepas. Rupanya, aktivitasnya sebagai sintua memberinya pula kesempatan mengeksplorasi berbagai kegiatan gerejawi. Dari beberapa foto jadul yang sempat saya lihat, kini makin saya sadari kejeliannya dalam memilih sesuatu untuk ditulis –kemampuan yang hanya bisa ditempa lewat pengalaman dan pergaulan.

Beberapa foto dan artikel di bawah ini adalah karya Bapa di koran tempatnya bekerja, yang menceritakan kegiatan kegerejaan. Pada foto pertama ini, Bapa melaporkan kunjungan Sekretaris Umum Lutheran World Federation (LWF), Prof Rajaratnam di GKPS Sarimatondang. Ia bahkan turut berfoto dengan pejabat organisasi gereja tersebut. Dalam tulisannya itu terdapat beberapa salah ketik. Maklum lah, dugaan saya ia mengetiknya di kantor dengan terburu-buru. Seingat saya, kami baru punya mesin ketik sendiri beberapa waktu belakangan ini saja. Itu pun diperoleh dari pemberian seorang kerabat.

Begini lah bunyi laporannya tentang kunjungan Sekum LWF tersebut yang dimuat oleh harian Sinar Indonesia Baru, tertanggal 21 Maret 1976:


Sekretaris Umum LWF Kunjungi Gereja2 di Simalungun


Simalungun (SIB)

Sekretaris Umum LWF (Lutheran World Federation) dari Jenewa, Switzerland, mulai tanggal 13 Maret yang baru lalu telah mengadakan kunjungan ke gereja2 di Sumut dalam rangka sebagai bahan persiapan ke sidang DGI yang diadakan pada bulan Juli mendatang ini di Salatiga. Dalam kesempatan ini beliau meninjau gereja2 Lutheran di Simalungun dan dalam peninjauan ke GKPS beliau telah meninjau beberapa daerah diantaranya Sidamanik, Haranggaol dan Kec. Raya. Pada tgl 15 Maret yang baru lalu beliau telah memimpin kebaktian untuk pegawai kemotoran di Raya dimana sebagai thema dari pengarahannya berjudul, ‘Melihat Tanda2 Jaman.’

Ini adalah kliping koran tulisan Bapa yang melaporkan kunjungan Sekjen LWF ke Sarimatondang. Dalam foto Bapa berada paling kiri. Di tengah, Sekjen LWF sedangkan paling kanan adalah St H Sumbayak, pengantar jemaat GKPS kala itu

Disamping itu beliau mengatakan bahwa ketekunan beragama di Asia sudah lebih maju jika dibandingkan Eropah, dimana ketentuan melaksanakan ibadah di sebagian daerah di Eropah, dikatakan kurang, karena kemungkinan pengaruh dari kesibukan2 lain misalnya industri ekonomi dan lain2. Penduduk di negara2 Asia masih menyempatkan dirinya satu jam utk berdoa mengingat Tuhan, ataupun pergi ke gereja atau mesjid.

Foto lainnya dalam tulisan yang berbeda melaporkan kunjugan Sekjen LWF. Keterangan foto: Sekjen GKPS Pdt A Munthe sedang berbincang-bincang dengan Sekretaris LWF dari Jenewa Prof Dr Rajaratnam yang berkebangsaan India. Di sebelah kiri tampak Pdt B Saragih, pendeta GKPS Resort Sidamanik. Lokasinya di lapangan sepakbola Sarimatondang
 Diterangkannya bahwa di negara Barat telah banyak manusia melalaikan ibadah, karena kebebasannya menjurus apa yg dikatakan hippis sehingga kaum beragama di sana mendatangkan para evangelis Asia (Indonesia) untuk berkhotbah memberi petunjuk atas kekeliaruan kebebasan mereka.

Beberapa perkawinan di sana terkadang hanya berlangsung satu minggu atau satu bulan saja.
 Pada pertemuan tgl 13 Maret di GKPS Sarimatondang itu, masyarakat GKPS di sana telah menjamu Rajaratnam dan disuguhi ‘tudu2ni” sipanganon sebagai spesifik adat Simalungun (WS)

Satu lagi laporan foto karya Bapa yang lebih unik bercerita tentang kegiatan Dr. Arlen James MA dalam merekam lagu-lagu rakyat Simalungun. Laporan singkatnya itu berbunyi begini:

Foto yang menerangkan kegiatan Dr. Arlen Jansen MA
Dr. Arlen Jansen MA seorang dosen Universitas Nommensen Pematang Siantar sedang merekam lagu2 rakyat Simalungun sambil mengatur alat2 musik yang antik (gambar atas). Sementara gambar bawah Dr. James MA makan nasi bungkus dengan J.E. Saragih pensiunan Kabid Permuseuman Sumatera Utara, bersama Partuha Maujana Simalungun.

***

Belakangan ini Bapa yang sudah lama pensiun dari pekerjaan sebagai guru, seringkali menelepon menanyakan saya bagaimana caranya untuk mempunyai akun facebook. Rupanya dia demikian bergairah untuk turut dalam kemajuan di dunia maya ini, terutama setelah adik bungsu saya yang tinggal bersamanya –setelah lama kami bujuk-bujuk—kini sudah punya akun facebook. Dari adik bungsu kami itu lah dia mengintip beberapa note saya yang bercerita tentang dirinya. Dan –mungkin ini childish—saya selalu gembira sedemikian rupa tiap kali adik saya bercerita bahwa Bapa membaca note itu sambil melontarkan kritik atau pujian.

Ini foto lain yang termuat di koran Sinar Pembangunan, 29 Mei 1976. Keterangannya berbunyi seperti ini:
ADM PTP VIII Bah Butong sedang menyematkan sejumlah uang sumbangannya kepada penari2 Simalungun dalam suatu Pesta Pembangunan Gereja di Sidamanik baru2 ini. Nyonya ADM PTP VIII kelihatan membuka dompet siap untuk menyumbang kepada penari2 Simalungun.
Tulisan ini pun adalah dalam rangka ‘mengucapkan terimakasih’ kepada beliau, yang dulu sering mengajak saya bersila disampingnya untuk membantu menggunting koran berisi tulisan-tulisannya, menempelinya ke buku besar untuk diabadikan. Jujur saja, dulu saya menganggap itu adalah beban, bahkan hukuman. Kini saya belajar banyak.

(selesai)

5 comments:

  1. Anonymous11:06 PM

    Antara terharu dan tertawa membaca cerita ini. Good job Pak.! GBU

    ReplyDelete
  2. Enjoyable reading. I like the way you to persuade people.

    ReplyDelete
  3. Dokumen yang sangat berharga. Andai saja aku bisa membuatkannya untuk ayahku :)

    ReplyDelete
  4. Wow.... Speechless....

    Mengingatkan masa kecil saya di daerah Sidamanik...

    GBU

    ReplyDelete
  5. Riris Panggabean1:35 AM

    Like father like son. Kalian sama-sama hebat menulis dan mengabadikan sesuatu atau peristiwa. Salut.

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...