Monday, November 15, 2010

Kebakaran Besar di Sarimatondang Tempo Dulu

Sebuah musibah pernah melanda Sarimatondang pada 22 Juli 1976. Terjadi kebakaran besar yang memusnahkan 27 rumah dengan korban tewas satu orang. Kerugian materi ditaksir Rp 40 juta. Jumlah itu mungkin kecil untuk ukuran sekarang. Tetapi bagi orang Sarimatondang di zaman itu –juga di zaman sekarang—harta benda sebanyak itu tetap lah tak dapat dianggap sepele. Apalagi semuanya berasal dari memeras keringat mengolah sawah-ladang mau pun dengan menghemat-hemat gaji.



Bapak yang menjadi reporter lepas untuk sebuah koran lokal, Sinar Pembangunan, antara lain melaporkannya sebagai berikut:

KEBAKARAN BESAR MELANDA KOTA SIDAMANIK
27 Pintu Rumah Musnah Terbakar & Seorang Penduduk Tewas
Kerugian Ditaksir Rp40 Juta

P.Siantar (SP)
Kebakaran besar melanda Kota Sidamanik Kab Simalungun Kamis kemarin sekira jam 03.00 dini hari hingga mengakibatkan 24 pintu rumah musnah terbakar dan 3 pintu rumah dirubuhkan dan seorang penduduk bernama G. Sihaloho (65 tahun) tewas terbakar.

Menurut pihak yg berwajib, kerugian sementara akibat kebakaran ini ditaksir kl Rp40 juta, karena banyak harta penduduk tidak sempat diselamatkan. Puluhan ton hasil bumi kacang tanah, padi dan kopi serta harta benda berupa kain, perhiasan emas, sepeda, radio dan motor.

Ke 24 rumah penduduk yg terbakar itu masing2 milik Peltu Ingul Purba, J. Sinaga, J. Damanik, J. Simarmata, Nan Tinim br. Manik, S. Manik, K. Sijabat, S. Simarmata, H. Nainggolan, S. Sihaloho, G. Sihaloho, S. Hasibuan, K. Siadari, J. Damanik, Amat Patah, M. Sidabutar, G. Manurung, K. Sidabutar, L. Marpaung, T. Bakkara, T. Siahan, L. Purba dan S br Sitanggang sedang 3 pintu rumah lagi pemiliknya belum diketahui.

Asal api dari keterangan penduduk berasal dari sebuah pick up yg terbakar di garasi rumah G. Sihaloho dan kemudian menjalar ke rumah2 penduduk sekitarnya. (WS)


Lima hari lagi, saya akan berulang tahun ke-10 ketika kebakaran itu terjadi, sehingga otak kelas 4 SD saya sudah cukup dapat untuk mencerna apa yang terjadi. Dan sampai kini masih dapat saya bayangkan dengan jelas panik dan repotnya seisi kota melihat demikian besarnya kobaran api.

Rumah kami yang berada di Kampung Gereja, Sarimatondang, tidak ikut terbakar. Pusat kebakaran berada kira-kira setengah kilometer jauhnya ke arah ‘kota’. Tetapi mengingat rumah-rumah di sepanjang jalan besar Sarimatondang berderet rapat, jelas lah tidak dapat dianggap enteng adanya kemungkinan api merambat cepat dari satu rumah ke rumah berikutnya. Apalagi sebagian besar bangunanya terbuat dari kayu  beratap seng.

Tak mengherankan bila hampir semua orang ikut bergegas menyelamatkan apa saja yang dapat diselamatkan. Saya lupa bagaimana  bangun pada dini hari itu. Yang jelas, semua orang dewasa yang ada di rumah kami dan di rumah Oppung yang persis bersebelahan, silih berganti mengangkut barang-barang apa saja ke kebun di belakang rumah. Sebagian lagi, ada juga yang diangkut ke halaman gereja HKBP, lebih kurang 50 meter di seberang jalan.

Saya kebagian mengangkat pakaian yang sudah dalam bentuk buntalan dibungkus kain sarung. Dengan setengah berlari saya dan  adik-adik mengikuti Mamak. Di kebun belakang rumah itu, kami ditinggalkan duduk di tikar yang sudah dihamparkan. Di atas semak rumput yang tinggi diantara pohon-pohon cengkeh itu kami duduk diam, berbantalkan kain-kain. Bila pada malam-malam biasa, sudah pasti kami tak kan berani duduk-duduk di situ, bahkan seandainya diiming-imingi roti srikaya atau mie pangsit Siantar. Tetapi di hari itu, melihat demikian sibuknya orang berlalu-lalang, nyamuk-nyamuk pun seakan menyingkir tak ingin menyakiti kami. Dini hari itu langit begitu cerah, bintang-bintang bertaburan. Dan justru karena terangnya langit, di kejauhan terlihat dengan jelas kobaran api yang turut mengangkasa yang kemudian dimahkotai  asap tebal.

Makin lama barang yang bertumpuk di sekitar kami makin banyak juga. Lemari kayu tempat pakaian-pakaian, tempat tidur besi yang belum sempat dibongkar, rak piring, kursi-kursi dan meja, beras jualan Oppung beberapa karung dan juga cengkeh yang baru dipetik. Entah bagaimana ayah menyelinap pergi untuk dapat melaporkan apa yang ditulisnya di koran yang gambarnya saya tampilkan di sini. Yang jelas, beberapa saat kemudian ia datang ke tempat kami seolah memberi informasi mutakhir, lalu ia pergi lagi bergabung dengan para tetangga yang berjaga di depan rumah masing-masing, mengantisipasi kemungkinan tibanya kobaran api  ke kawasan tempat kami tinggal.

Bila dipikirkan dengan tenang, sebenarnya kecil kemungkinan rumah-rumah di kawasan Kampung Gereja  akan turut terbakar. Sebab diantara kawasan yang menjadi pusat kebakaran itu dengan kampung kami itu, terbentang lapangan sepakbola yang cukup luas. Hanya angin yang luar biasa kencang saja yang berkemungkinan  meniupkan api melompati lapangan itu untuk bisa tiba di kawasan tempat kami tinggal.

Tetapi ada pengalaman buruk yang pernah dialami keluarga Oppung, ketika belasan tahun sebelumnya terjadi kebakaran yang cukup besar melanda Sarimatondang. Kala itu rumah Oppung dilalap api menghabiskan hampir semua harta bendanya. Pengalaman itu tampaknya membekas, sehingga ketika muncul lagi peristiwa serupa, Oppung tak mau kompromi. Ia segera memerintahkan anak-anaknya untuk mengamankan apa saja, yang kemudian diikuti juga oleh Bapa dan Mamak. Tetangga-tetangga di sekitar pun turut melakukan hal yang sama.

***
Api itu reda pada pagi hari. Matahari mulai bersinar. Beberapa diantara kami yang sempat tertidur, bangun. Di bawah cahaya fajar, kini makin jelas kami melihat sekeliling. Barang-barang yang berjejer tak teratur di kebun itu, kini terlihat demikian banyak, seakan dua kali lipat banyaknya dibanding yang kelihatannya pada dini hari tadi. Sudah tiba saatnya untuk mengembalikannya ke dalam rumah, ke tempatnya semula.

Pada saat-saat beres-beres itu lah orang-orang kaget menjurus tidak percaya. Bila menilik lemari besar, ranjang besi, rak piring dan benda-benda berat lainnya yang dengan cepat berpindah tempat malam itu, sulit membayangkan darimana kekuatan orang-orang untuk bisa dapat mengangkatinya tanpa komando pula. Terbukti pula, ketika pagi itu kami ingin mengembalikannya lagi ke tempatnya semula, butuh waktu dua kali lebih lama daripada yang kami butuhkan di malam yang bergegas itu.

Dan siapa pun yang datang ke Sarimatondang  tiga atau empat tahun setelah kebakaran itu, mungkin akan mendapati keterkejutan yang sama. Dengan cepat bekas-bekas kebakaran itu sirna. Seolah ada kekuatan mahabesar yang menggerakkan pembangunan kembali rumah-rumah itu. Dan, setahu saya, semua korban kebakaran dahulu itu, dapat bangkit kembali dan kini mengenang peristiwa itu dengan hati lapang dan ikhlas.  Tak  harus  ke Alkitab untuk berkaca dan menemukan kisah Ayub, yang kekayaannya berlipat ganda setelah dipulihkan dari musibah. Korban kebakaran di Sarimatondang dahulu itu pun, seingat saya, mewarisi semangat dan kisah yang mirip-mirip dengan Ayub.

Dan, ketika pada 6 November lalu, Kompas menurunkan laporannya tentang spontanitas masyarakat Yogya membantu koran Merapi lewat judul Bangkitnya Spirit Nasi Bungkus dari Jogja, saya teringat lagi pada invisible hands yang memberi kekuatan bagi kami di malam yang gelisah dulu dan bagi korban kebakaran Sarimatondang yang dalam tempo tiga-empat tahun sudah pulih itu. Kompas mengutip apa yang disebut sebagai ‘faktor kebetulan’ yang dikisahkan dalam novel Celestine Prophecy karya James Redfield, yang menjadi energi berkekuatan dahsyat untuk menggerakkan dan membangun kemanusiaan. Rasanya itu lah yang hadir di Sarimatondang dulu. Dan semoga ia tetap bekerja di Wasior, Mentawai dan Merapi.

ciputat, 15 november 2010
© eben ezer siadari

8 comments:

  1. Inspiratif sekali Bang, refleksi yang berguna di tengah negara kita yang makin sering dilanda bencana.

    ReplyDelete
  2. Perlu waktu untuk dapat melihat lebih jelas lagi bagaimana sebuah musibah berguna bagi mereka yang ditimpanya. Refleksi yang menarik.

    ReplyDelete
  3. Musibah itu seperti hidup dan dekat sekali oleh suasana yang terekam di tulisan ini. Saya baru menemukan blog ini ternyata kisah-kisahnya sangat menyentuh. Semoga tidak bosan menulis terus

    mayashanttysamosir@yahoo.co.id

    ReplyDelete
  4. Setelah hujan ada pelangi.

    ReplyDelete
  5. Cerita-ceritanya seru. Trims sudah menyediakan web ini. Btw, apakah sudah ada bukunya?

    ReplyDelete
  6. Mantaf Ni bang....???aku aja baru tau ada berita HEBOH begini....thks bg...mantaf...

    ReplyDelete
  7. Anonymous11:58 AM

    horas ma bapa uda,.. aku sangat ingat peristiwa itu sangat mengerikan,.. kebetulan salah satu rumah yang terbakar adalah rumah kami,.. makasih filenya bapa uda,.. tp tambahan tgl/ tahun kejadian lupa abang cantumkan,.. tp ber dekatan dengan hari ultah bapa uda,.. GBu,.. panjang umur bapa uda,..

    ReplyDelete
  8. @Anonim: loh, itu di awal tulisan sudah disebutkan, peristiwa kebakaran itu terjadi pada 22 Juli 1976. Membacanya buru2 ya? :)

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...