Friday, December 17, 2010

"Bikin Dodol kah Kita Tahun Baru ini Mak?"

Bersama mamak tahun 2010 di kampung Jawa
"Bikin Dodol kah Kita Tahun Baru ini Mak?"
Di kalangan kami anak-anak Sarimatondang tahun 70-an, pertanyaan ini selalu muncul setiap bulan Desember. Ditujukan kepada Mamak (ibu), yakni orang paling menentukan dalam urusan per-dapur-an, ia sebetulnya tak murni pertanyaan, melainkan percampuran antara harapan dan juga kecemasan. Di satu sisi kita berharap agar Mamak menjawab  ya. Tapi di sisi lain muncul rasa cemas, karena ada banyak alasan bagi  dia untuk tidak mengabulkannya.

Dodol adalah mahkota suguhan bagi para tamu yang datang bersilaturahmi pada hari Tahun Baru. Ada banyak suguhan yang lazim, mulai dari kembang goyang, kacang tojin, wajik, kue bawang, lemang dan lain-lain. Tetapi dodol lah, penganan berwarna hitam pekat yang legit kenyal, yang jadi incaran para tamu sekaligus kebanggaan tuan rumah.



Dodol adalah penganan yang mengandung berbagai simbol. Bergengsi rasanya bila  dapat menyuguhkannya di Tahun Baru. Padanya, orang tak hanya mencari kelezatannya. Lebih dari itu, dodol juga menjadi semacam perlambang gerak roller  coaster perekonomian yang dilalui sang tuan rumah. Maklum, membuat dodol perlu persediaan belanja yang lumayan besar. Beras untuk membuatnya adalah beras ketan yang mahal. Diperlukan pula gula yang cukup banyak disamping kelapa. Jangan lupa, beberapa orang dewasa yang bertenaga kuat wajib tersedia untuk mengaduknya, minimal dua sampai tiga jam tiada henti.  Dengan mempertimbangkan semua itu, maka dapat dikatakan bila sebuah rumah mampu menyediakan dodol, bintang terang sedang memancar di rumah itu.

Itu juga, antara lain, yang selalu membuat anak-anak harap-harap cemas ketika melontarkan pertanyaan “Bikin dodol kah kita tahun baru ini, Mak?” Jika jawabannya bernada negatif, itu menjadi sinyal ‘negatif’ pula untuk hal lain, termasuk apakah tahun baru kali ini baju baru yang kita kenakan bernatal akan merupakan baju yang berupa kodian atau dijahitkan; apakah nanti di malam tahun baru akan diwarnai oleh kembang api atau cuma lilin saja, dan seterusnya. Setidaknya itu lah yang terjadi di rumah kami.

Sampai saya tamat Sekolah Dasar, tahun baru lebih sering kami lewati tanpa dodol bikinan sendiri. Mamak dan Bapak kala itu (sekarang saya dapat melihatnya lebih jernih. Kalau disuruh menuliskan ini puluhan tahun lalu, mungkin saya belum bisa menuturkannya dengan lega) pasti lah sedang repot-repotnya dari sisi tenaga dan lebih terseok-seok lagi dari sisi ekonomi. Anak-anak mereka (enam orang totalnya) masih kecil-kecil, lahir hampir tiap dua tahun sekali. Saya yang paling besar, belum bisa diharapkan berbuat apa-apa, bahkan untuk mengaduk adonan kue semprit. Dapat lah dibayangkan hanya sedikit saja energi Mamak yang tersisa untuk  memikirkan dodol tahun baru.

Jangan pula berharap pada gaji mereka sebagai guru, satu-satunya sumber penghasilan mereka sebagai PNS yang benar-benar profesional. Yang saya maksud profesional di sini tidak mengacu kepada kualitas dan kesungguhan mereka pada pengabdiannya, melainkan lebih kepada tidak adanya sumber penghasilan sampingan, seperti PNS lainnya di Sarimatondang yang umumnya punya sawah, kebun dan ternak. Praktis gaji lah sumber satu-satunya untuk bisa bikin dapur ngebul. Dan sejak saya masih kelas 3 SD, Mamak dan Bapak telah sering –dengan sengaja atau tidak—menanamkan kepada anak-anaknya tentang keterbatasan-keterbatasan ini.

Itu lah sebabnya, pertanyaan “Bikin dodol kah kita tahun baru ini, Mak?” diam-diam membekas juga di dalam hati saya, hingga sekarang.  Setiap tahun pertanyaan itu terlontar dari kami anak-anaknya tetapi ada banyak alasan –yang sebagian besar sudah saya lupa— bagi Mamak untuk berkata tidak. Meski pun demikian, saya masih merasa terhibur  karena pada masa-masa menjelang tahun baru itu, dapat turut menjadi penonton meramaikan atraksi membuat dodol di rumah-rumah tetangga. Dan itu akan menjadi bahan cerita yang menarik untuk dituturkan di kala menikmati makan malam bersama adik-adik.


Bagi para pemuda dan remaja, tahun baru tak akan afdol bila tak ada suguhan dodol. Maka mereka umumnya dapat merayu ibu mereka untuk menyediakan anggaran membuat penganan favorit itu. Ketika dalam proses pengerjaannya,  gotong royong bersifat simbiosis mutualisme dan simbiosis romantisme pun turut mewarnainya. Hari ini, misalnya, para kru pembuat dodol itu –serombongan pemuda dan serombongan pemudi—bekerja membuat dodol di rumah  Dapot. Esok hari di rumah Tiur dan begitu lah seterusnya. Sambil semuanya berlangsung dengan penuh kegembiraan dan kenakalan, tercipta lah kisah-kisah percintaan. Saya yang masih anak ingusan ini, tentu ikut kebagian gossip-gosip seru, sambil di akhir pekerjaan mereka nanti, sekali lagi turut berebut dengan anak-anak lain mengorek-ngorek kerak dodol yang lengket di kuali besar.

***

Sekali waktu di bulan Desember, ketika sudah duduk di kelas 2 SMP, saya diajak Mamak  menemaninya pergi ke desa bernama Kampung Jawa, kira-kira satu kilometer dari tempat kami tinggal.  Saya senang-senang saja karena bepergian ke tempat itu selalu menyediakan pemandangan segar. Bunga-bunga pagar yang terpangkas rapi pada rumah-rumah tetangga berlatar belakang budaya Jawa itu selalu asyik untuk diamati, tetapi yang lebih indah tentu saja wajah-wajah putri-putri ayu mereka yang banyak diantaranya masih sepantaran dengan saya.

Perjalanan siang hari yang kami tempuh dengan berjalan kaki itu tidak terasa. Sebab sebelumnya, Mamak mengajak saya singgah di kedai penjual pecal, yang berada di tepi jalan menuju kampung itu. Sambil menikmati makan siang yang –untuk ukuran saat itu –istimewa, saya mendengar Mamak berbicara dengan ibu penjual pecal. Dari percakapan itu mulai jelas bagi saya apa yang Mamak tuju dengan mengajak saya ke kampung ini. Mamak mencari dan menanyakan seseorang yang biasa dimintai tolong membuatkan dodol. Dari ibu penjual pecal akhirnya kami mendapatkan nama berikut ancar-ancar rumahnya.

Ketika kami tiba di rumah itu, setelah berbasa-basi sejenak, Mamak mengemukakan niatnya. Hanya beberapa menit saja, deal sudah tercapai sebab tampaknya sudah ada rumusan baku tentang bagaimana imbalan bagi pembuat dodol. Seingat saya, pembayarannya tidak berupa uang melainkan berupa in natura, yakni beberapa liter beras untuk membuat dodol yang berbahan baku sekian liter beras. Yang paling utama dibicarakan pada saat itu adalah waktu pengerjaannya. Tempat pengerjaannya tak lain tak bukan, ya di rumah sang pembuat dodol itu. Kuali besar dan peralatan lainnya, juga telah disediakan. Pada hari H-nya, kami hanya diminta membawa bahan-bahan yang diperlukan, termasuk kayu bakar yang akan digunakan.

Ketika pulang dari rumah itu, saya merasa orang paling bahagia di dunia. Dalam hati ada banyak perasaan yang bermunculan. Bukan saja karena kami akan menyuguhkan dodol di tahun baru itu. Tetapi juga terutama karena saya melihat wajah Mamak yang begitu cerah. Diam-diam saya mulai berpikir untuk memperbaiki prasangka saya. Mulai saya sadari, bukan hanya kami anak-anaknya belaka sebenarnya yang merindukan kehadiran dodol di rumah pada tahun baru. Mamak juga. Tetapi oleh berbagai alasan yang mungkin tak bisa diatasinya, semua itu akhirnya diurungkan. Ada juga sedikit rasa bersalah membayangkan, jangan-jangan selama ini Mamak merasa tertekan juga oleh cerita-cerita kami tentang serunya membuat dodol yang sering kami obrolkan. Tetapi kabut dalam pikiran itu segera terhalau tatkala ketika mencuri pandang, saya melihat wajah Mamak yang tampak teduh. Betapa senangnya dapat melihat nada yang begitu dari wajah seseorang yang melahirkan kita.

Sambil berjalan menuju rumah, sesekali saya masih bersendawa dan aroma sambal kacang dari pecal yang baru saja kami santap siang tadi tercium di hidung.  Langkah kaki Mamak yang cepat membuat saya sering tertinggal di belakang. Kalau jarak kami sudah terlalu jauh, ia berhenti menunggu anaknya yang masih belum sepenuhnya dapat memadamkan guncangan sukacita hatinya. Sepanjang jalan itu saya dan Mamak lebih banyak diam. Mungkin karena pertanyaan “Bikin dodol kah kita tahun baru ini Mak?” tak perlu lagi kami bahas kali ini.

ciputat, 16/12/2010
© eben ezer siadari



3 comments:

  1. So touchy Bang. God Bless ur mom and u too.

    ReplyDelete
  2. Sampai gak bisa berkata-kata. Ingin banget bisa menuliskan cerita spt ini tentang ibu saya sendiri. Mengharukan. Two thumbs up bro.

    ReplyDelete
  3. Riris Panggabean10:19 PM

    Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi, selain tersenyum haru dan berkata dalam hati "another good story").

    Sudah hampir kurang lebih lima tahun aku sering diam-diam mampir ke blog ini (terutama ketika jiwa sedang kering), dan membaca kisah kisah disini, semua luar biasa -- termasuk Ladang Tuhan ladang cinta, Opung tak ada Natal ini, dan banyak lagi -- semua saya suka. Hati kita disentuh, disirami, diberi banyak pembelajaran. Cerita-cerita yang berangkat dari pengalaman dan kehidupan sehari-hari, diramu dengan sangat apik dan smart, dengan segala kejujuran, kesantunan dan kesederhanaannya. Mengagumkan! Termasuk wawancara2 dengan dan cerita2 tentang orang-orang penting.

    Salut untuk abang. Paduan antara talenta yang luar biasa dalam menulis dengan kepandaian dan hati yang baik. Sehingga menghasilkan karya yang sederhana namun sarat makna.

    Aku yakin, Mamak Abang, Kakak dan Amartya pasti sangat bangga pada Abang.
    Aku berharap blog ini akan selalu exist.
    Selamat Natal 2010 dan Tahun baru 2011 untuk Abang dan keluarga. Tuhan memberkati.

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...