Thursday, December 23, 2010

Pohon Natal Kami Tahun Ini


Dua Minggu lalu kami menemukan kenyataan tak terduga. Ketika mengeluarkan kotak kardus yang berisi potongan-potongan Pohon Natal plastik untuk dirangkai, kami terperanjat ketika mengetahui sebagian besar kabel yang menyambungkan bola lampu kecil warna-warninya, terkelupas dan terputus. “Wah, kita harus beli lampu baru  nih,” kata superchef.


Tapi itu belum seberapa. Ketika Pohon Natal itu mulai terangkai, mendadak kami menyadari bahwa ia tidak bisa berdiri. Bagian bawah Pohon Natal itu hancur.  Beberapa upaya telah dilakukan oleh superchef, Amartya dan mbak Wanti sang asisten, untuk membuatnya berdiri  tak berhasil.  Makin lengkap lah kemalangan Pohon Natal kami ketika terlihat potongan daun-daun cemara plastik itu telah juga berantakan dan tak berbentuk. Tikus-tikus kota yang memang banyak berkeliaran di sekitar rumah –maklum lah, samping rumah dan belakang rumah kami adalah lahan kosong yang ditumbuhi macam-macam pohon dan semak – telah sukses mempermainkan Pohon Natal plastik itu.

Maka kami bersepakat untuk tidak memasang Pohon Natal di rumah tahun ini. Kami memang sempat berjalan-jalan ke Carrefour melihat-lihat  Pohon Natal yang dipajang di sana. Semuanya bagus-bagus tapi harganya tak ada yang cocok dengan kantong.

Kekecewaan terasa menjalar. Betapa tidak. Rasanya Natal tak kan semarak tanpa Pohon Natal. Dimana-mana orang membuat dan membangun Pohon Natal dengan keunikan dan kekhasannya.  Ciut rasanya hati ini ketika membaca bahwa di Abu Dhabi ada Pohon Natal bernilai Rp99,5 miliar, yang oleh media digambarkan sebagai, “ Pohon Natal setinggi 40 kaki terbuat dari cemara buatan dihiasi dengan berbagai perhiasan terbuat dari emas di sekelilingnya.”

Di Pacific Place di Jakarta, seperti yang dilaporkan Vivanews,  tak kalah meriahnya:

  • Ada Pohon Natal ala Coca Cola, yakni tersusun dari botol Sprite yang memberi warna hijau dan merah khas Coca Cola.
  • Lamborgini membangun Pohon Natal berwarna hitam yang melambangkan kekuatan, semangat dan maskulinitas merek kendaraan mewah itu.
  • Microsoft memanfaatkan papan ketik dan tetikus bekas sebagai detil pohon natal, sementara papan sirkuit cetak dijadikan elemen utama yang menggantikan dedaunan pohon.
  • Potato Head membawa ornamen antik yang menjadi dekorasi restoran itu, dan menyusunnya menjadi pohon natal.
  • Toko pernak-pernik hadiah, Vivere, menyusun pohon berlapis tujuh. Tiap lapisnya terdiri dari koleksi-koleksi berbeda.
  • Manulife, perusahaan asuransi, mendirikan pohon natal, sambil tak lupa menegaskan konsep-konsep yang senantiasa ditawarkan melalui produknya.
  • Berbahan anggrek phalaenopsis dan daun anthurrium andreanum, perusahaan agrikultur Ekakarya Graha Flora membangun pohon natalnya. Sejuk dan hidup.
Lalu, dalam hati saya bertanya,  apa yang akan kami jadikan sebagai Pohon Natal kami, Tuhan?

Tiga hari lalu dengan begitu saja istri saya menyelutuk, “Oi, itu kecombrang kita, tunas bunganya sudah mulai mekar. Tak berniat memotretnya?” Dia mengatakan itu dengan setengah memerintah setengah meledek. Sebab ia tahu akan kebiasaan suaminya ini, yang suka meng-upload foto-foto apa saja ke facebook. Dan yang paling pokok, dia dan saya selama ini sangat tergila-gila pada kecombrang, yang oleh orang Batak disebut sebagai sirias dan jadi bumbu yang enak untuk sambel mau pun sayur daun singkong. Telah lama kami bertekad ingin menanam pohon kecombrang, karena ingin menikmati kecombrang hasil jerih payah sendiri. Dan penantian sekian lama itu kini tampaknya memberi harapan.

Saya segera pergi ke tanah kosong di samping rumah tempat kami menanami kecombrang. Ya, betul. di sana tampak dengan indah, tunas kecombrang yang menyembul dari akarnya, mulai mekar dalam naungan pohonnya yang tinggi dan kekar. Saya sendiri baru sadar bahwa kembang dari kecombrang itu tumbuhnya dari bawah, bukan dari cabang-cabangnya. Ia benar-benar merupakan bentuk yang pas untuk menggambarkan apa itu ‘Tunas.’

Serta merta teringat pula saya pada apa yang pada masa kecil dulu di Sekolah Minggu, selalu menjadi salah satu ayat Alkitab favorit yang dibacakan oleh anak-anak yang berkata:

Suatu tunas akan keluar dari tunggul Isai, dan taruk yang akan tumbuh dari pangkalnya akan berbuah. (Yesaya 11;1)
Dan menyaksikan betapa keindahan tunas kecombrang ini tak surut walau pun tanah tempat ia tumbuh tak terlalu subur, makin diingatkannya lagi saya pada bagaimana Yesaya menggambarkan tunas yang dirayakan setiap Natal itu:

Sebagai taruk ia tumbuh di hadapan TUHAN dan sebagai tunas dari tanah kering. Ia tidak tampan dan semaraknyapun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupapun tidak, sehingga kita menginginkannya (Yesaya 53:2)

Maka hal itu lah yang jadi inspirasi saya ketika menulis note ini.  Dalam hati saya berkata, Ya Tuhan, ini lah Pohon Natal kami Tahun ini. Kecombrang di samping rumah, yang menggambarkan sebuah tunas yang tumbuh dan kami nanti-nanti sekian lama, mudah-mudahan dapat menjadi tali ingatan akan bagaimana penantian dan pengharapan bagi kita yang merayakan Natal, akan datangnya sang pendamai dan penebus sehingga  menjadi kekuatan dalam menjalani hidup.

Betapa bahagianya menjadi orang-orang yang terus berpengharapan.

Selamat Hari Natal para sahabat. Tulisan ini menjadi pengganti kartu Natal kami menjumpai Anda.

6 comments:

  1. Another touchy story that never fail to touch my heart. Selamat Natal ya Bang.

    ReplyDelete
  2. yang penting....makna natal ada dihati kita....amien !!!! pohon rias pun jadi !!!

    ReplyDelete
  3. Walau agak telat, aku ingin ucapkan Selamat Hari Natal 2010 dan Tahun Baru 2011. Jangan habiskan kuenya ya Bang :)

    ReplyDelete
  4. Nice Christmas tree. Where we can buy that?
    Hahaha. Selamat Natal ya Pak.

    ReplyDelete
  5. sihala na dipudi ni jabu i do on bang?

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...