Monday, May 30, 2011

Tentang Perlunya Biografi

Dimana Anda pada tahun 1972? Mungkin ada yang belum lahir. Saya sendiri saat itu baru duduk di kelas satu Sekolah Dasar. Tidak seperti anak-anak sekarang yang sudah (dan diharuskan?) dapat baca-tulis sejak menyelesaikan Taman Kanak-kanak (TK), saya dan teman-teman sebaya baru mulai diperkenalkan dengan huruf dan angka. Mula-mula vokal saja: a,i,u,e,o dan angka 1,2,3,4,5,6,7,8,9,0. Baru kemudian dengan ba, bi, bu, be bo, dst.

Namun itu tak penting kali ini dalam cerita ini. Yang lebih penting adalah di bulan April tahun itu, majalah Indonesia terbitan Cornell University, sebuah jurnal bergengsi yang diasuh dan diisi oleh para Indonesianist kenamaan, menyajikan topik yang tak biasa. Edisi bernomor 13 itu, isinya praktis terdiri dari biografi. Tokoh-tokoh yang riwayat perjuangannya diturunkan berasal dari kurun waktu jauh sebelum kemerdekaan dan riwayat mereka itu aslinya ditulis dalam bahasa daerah dimana mereka berjuang. Itu sebabnya, salah satu keistimewaan kisah-kisah yang ditampilkan adalah karena ia diterjemahkan dari sejumlah naskah kuno, disamping karena riwayat para pahlawan itu memang belum banyak terungkap, kala itu.


Biografi dan atau otobiografi yang disajikan meliputi Tuanku Imam Bondjol (1772-1864), tokoh dan pahlawan nasional dari Minangkabau. Karya ini diterjemahkan oleh Christian Dobbin, research fellow di Pacific History Australian National University (ANU), Canberra. Biografi lainnya adalah tentang Habib Abdur-Rahman az Zahir (1833-1896) pemimpin perjuangan di Aceh namun bukan pahlawan nasional. Tulisan ini dikerjakan oleh Anthony Reid, fellow pada Pacific History di ANU, Canberra.

Kisah tentang Arung Singkang (1700-1765), yang merupakan pemimpin asal Wadjo, Sulawesi Selatan, disiapkan oleh J.Noordyn, sekretaris jenderal Koninklijk Instituut voor Taal-Land- en Volkenkunde, Leiden. Sedangkan riwayat perjuangan Dipanagara (1787-1855) diterjemahkan oleh Ann Kumar, lecturer bidang peradaban Asia di ANU.

Terakhir adalah narasi tentang perjuangan Mahmud, Sultan Riau dari Lingga (1823-1864) yang disajikan oleh Virginia Matheson, kala itu kandidat Ph.D pada Departemen Indonesia dan Malaysia, Universitas Monash, Australia.

Editor majalah Indonesia tersebut untuk edisi itu, yakni Anthony Reid, menulis kata pengantar yang menurut saya, penting dan menarik, setidaknya bagi orang-orang yang bergiat dalam penulisan biografi mau pun otobiografi. Karena itu, saya ingin membagikannya di bawah ini, dengan kualitas terjemahan saya yang, mohon maaf, amatiran. Mudah-mudahan masih ada manfaatnya.

***
Tentang Perlunya Otobiografi
Oleh Anthony Reid

Ilmuwan asing umumnya enggan untuk mengakui pentingnya peranan pribadi-pribadi dalam sejarah Indonesia. Walau pun belum ada yang mengklaim seperti Crawfurd ketika berkata “hardly an individual, of such prominent fortune or endowment, as to rank with the great men of other countries,” figur-figur besar yang jelas-jelas ikut menandai proses sejarah Indonesia masih jarang diberi tempat pada pusat pembicaraan.

Bagi para sejarawan kolonial tradisional, penulisan individu-individu tersebut dianggap dapat menimbulkan masalah di hadapan para penguasa Belanda -–kisah-kisah itu mungkin saja mengagumkan, tetapi dapat menyebabkan penyimpangan dari tema utama. Ilmu Sosial modern yang menjadi prioritas mendapat beasiswa di zaman sesudah perang di Indonesia, lebih perduli pada studi tentang masyarakat dan budaya dengan pola dan kategori-kategori luas, ketimbang mengeksplorasi mentalitas individu. Masih sedikitnya studi biografikal yang menjadi bahasan utama, merupakan gambaran dari betapa sedikitnya pengetahuan kita tentang cara bangsa Indonesia memasuki abad baru dan memandang dunia.

Jika pun ada kekecualian pada masalah ini, tak lain pada bidang roman historis Belanda. Pada tahun 1850-an dan 1860-an, bermunculan novel-novel yang berpusat pada tema pemberontakan yang beragam warna, seperti Dipanegara, Sentot dan Surapati. Karya dengan genre serupa yang muncul abad ini dengan mengacu pada fakta adalah novel historis karangan Ny Szekely-Lulofs yang bercerita tentang pahlawan Aceh Tjut Njak Dien. Namun sebagaimana dicatat oleh Rob Nieuwenhuys baru-baru ini, literatur itu dalam banyak hal merupakan karya yang bervisi Eropa, subjeknya digambarkan dalam bingkai konvensi romantis Barat kontemporer.

Barangkali ada yang berpendapat bahwa biografi merupakan jenis sejarah yang paling sulit untuk diusahakan oleh sejarawan asing; simpati atau identifikasi terhadap tokoh yang bagi sebagian besar orang didapatkan melalui semangat mencintai sejarah bangsa sendiri, dapat memunculkan distorsi yang berbahaya jika dikerjakan dari sudut pandang budaya yang berbeda.

Jika bahaya semacam ini dapat dicegah oleh para biografer, kebutuhan mendesak dewasa ini adalah penerjemahan otobiografi tokoh-tokoh Indonesia atau biografi kontemporer yang sejenis. Seperti halnya bangsa lain, bangsa Indonesia menyadari pentingnya peranan tokoh-tokoh perjuangan mereka dalam membentuk masa depan mereka. Sejumlah karya sejarah tradisional Jawa, Malaysia dan Sulawesi Selatan yang penting umumnya dimaksudkan sebagai glorifikasi individu penguasa dan pemimpin militer. Kepedulian para nasionalis untuk mengabadikan pahlawan nasional pada nama-nama jalan, universitas, unit militer dan melalui serial biografi laudatoris (pujian), memberi penjelasan serupa tentang kekuatan tokoh-tokoh hebat tersebut. Mereka memiliki kekuasaan untuk memimpin, mengilhami dan bahkan juga memiliki kekuasaan atas tanah air mereka.

Beberapa orang Indonesia terkemuka telah mewariskan semacam catatan otobiografis. Sederet contoh dari abad 20, seperti memoar atau surat-surat Kartini, Pangeran Achmad Djajadiningrat, Tan Malaka, Sjahrir dan Hamka, sangat terkenal dan relatif mudah diakses. Karya dari periode lebih awal, sebagaimana disajikan dalam studi-studi berikut ini, menghadirkan kesulitan bagi para sejarawan tatkala akan mengerjakannya. Persoalan pertama terletak pada izin untuk menerjemahkan. Sejauh yang diketahui, kronik Arung Singkang karya Dr. Noordyn merupakan naskah Bugis pertama yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris. Bersamaan dengan itu, sangat sedikit sarjana yang mampu mengerjakan naskah-naskah seperti Babad Dipanagara dari khasanah budaya Jawa atau Tuhfat al-Nafis dari khasanah budaya Melayu.

Lebih jauh, sebelum tahun 1900-an jarang ditemukan pemimpin politik yang juga sekaligus penulis. Maka dapat dimengerti bila memoar-memoar yang disajikan berikut ini umumnya adalah karya tangan kedua. Babad Dipanagara sendiri ada kemungkinan ditulis sendiri olehnya jika tidak oleh pujangga kerajaan. Biografi Imam Bondjol dan Habib Abdur-Rahman merupakan karya yang disunting dengan perantaraan orang Belanda. Dua karya lainnya bukan otobiografi melainkan sketsa-sketsa biografis yang ditulis oleh para penulis kompatriot dan kontemporer, yakni mereka yang mengenal Arung Singkang dan Sultan Mahmud tetapi tidak serta-merta mempunyai tujuan yang sama dengan tokoh yang mereka tulis.

Dalam masing-masing kasus ini, tak bisa diragukan bahwa cerita yang disajikan sangat dipengaruhi oleh 'tangan' yang menuliskannya. Sebagai contoh, perjuangan Imam Bondjol dan Habib Abdur-Rahman mungkin telah ditafsirkan secara berbeda oleh para orang Indonesia yang jadi pengikutnya dibandingkan dengan bangsa Belanda sebagai penjajah. Kesulitan semacam ini tidak berarti harus menghilangkan daya tarik teks, meskipun harus selalu diingat.

Walau kisah-kisah yang disajikan dalam edisi ini berpencar dalam kurun waktu satu setengah abad dan meliputi lima wilayah budaya yang sangat berbeda, mereka telah dipilih dalam satu tema yang sama. Kepahlawanan masing-masing tokoh tersebut menunjukkan perlawanan yang serius terhadap munculnya kekuasaan Belanda, baik dengan menggunakan senjata tradisional di medan pertempuran mau pun melalui diplomasi tertutup. Empat diantaranya terlibat dalam perang besar melawan Belanda, kesemuanya berakhir dalam kegagalan. Perlawanan oleh tokoh lainnya, yakni Sultan Mahmud dari Lingga, tak membuahkan hasil karena lemahnya kekuasaannya disamping sifat ngototnya untuk menolak bekerjasama.

Satu hal yang sama bila dipandang dari sudut penerjemahan adalah bagaimana para penulis menjelaskan berlangsungnya proses yang mengarah kepada aksi-aksi perlawanan. Apakah Belanda dipandang sebagai kekuatan asing yang samasekali lain dan menindas, atau ia sama saja dengan kekuatan lainnya di Indonesia yang harus dilawan dengan cara-cara tradisional? Bagaimana para pemimpin memberi penafsiran dan penjelasan kepada pengikutnya tentang cara bagaimana perlawanan akan dimulai?

Satu hal yang menarik untuk dimunculkan adalah hampir tidak adanya tuntutan untuk bebas atau terlepas dari penguasa asing dalam pengertian yang absolut. Di tiap cerita, pahlawan-pahlawan kita tampaknya menganggap diri mereka terjun ke dalam permusuhan didorong oleh hal-hal di luar kendali mereka – ketidak jujuran dan liciknya Belanda dalam hal-hal rinci; kewajiban para pahlawan itu untuk mempertahankan kehormatan mereka yang diciderai; ketidaksabaran para pengikut mereka; suara kosmik yang tak dapat ditawar. Tokoh paling awal dari para tokoh-tokoh yang diketengahkan ini, Arung Singkang, dapat dikatakan sebagai tokoh paling ‘modern’ dalam pengertian ini; hanya dia yang digambarkan mempunyai sesuatu misi yang positif untuk pembebasan dari kekuasaan asing.

Bagaimana pun juga, penghargaan tertinggi terhadap lima karya ini, dan alasan penerjemahannya di sini, adalah karena tulisan-tulisan ini memberikan kesempatan kepada bangsa Indonesia berbicara dari tengah-tengah panggung sejarah. Seberapa jujur mereka mencatat motif nyata para pahlawan yang mereka tulis itu, tak akan pernah kita tahu dengan pasti. Meskipun demikian, mereka telah menyajikan titik awal yang tak ternilai harganya untuk mengetahui berbagai kejadian-kejadian penting dalam sejarah Indonesia dari perspektif para pelaku sejarah yang terlibat. Mereka telah mendorong kita untuk menerima mereka sebagai orang-orang yang nyata dengan tanggung jawab nyata dan keputusan nyata yang mereka ambil.

***

Sambil menuliskan ini, saya tak bisa lupa pada dua jam yang terasa sangat pendek beberapa minggu lalu, tatkala mendengar Max Lane dari School of Language and Culutre, University of Sydney membawakan makalahnya berjudul: Nasion dan Sejarah: Kasus Konkrit Indonesia, di kantor Yayasan Pantau. Lane membawakannya dengan cara yang inspiratif sekaligus provokatif.

Penulis buku yang baru saja terbit, Bangsa yang Belum Selesai, ini, dengan tegas menganggap Indonesia adalah bangsa yang belum selesai. Sebab, bangsa-nasion, menurut dia adalah, “sebuah komunitas yang stabil, terbentuk melalui proses sejarah, yang berdiri di atas adanya sebuah bahasa bersama, sebuah wilayah bersama, dengan sebuah kehidupan ekonomi yang berjalan bersama-sama dan dengan sifat-sifat psikologis (watak kepribadian) yang tercerminkan dalam sebuah kebudayaan yang juga dijalankan bersama-sama.”

Menurut Lane, untuk dianggap sebagai nasion, komunitas tersebut harus memiliki semua dari sifat-sifat ini. Kalau satu pun tidak ada, belum bisa dianggap nasion. Dan dalam kasus Indonesia, salah satu yang belum tuntas menurut dia adalah dalam hal kebudayaan, termasuk ke dalamnya, sejarah. Disinilah Lane dengan provokatif mengajak peserta untuk merenung lewat pertanyaannya: “Berapa banyak orang dari puluhan juta tamatan sekolah menengah di Indonesia selama 40 tahun terakhir ini atau sedang menjadi murid sekolah menengah di Indonesia pernah atau akan mendapat kesempatan untuk membaca dengan lengkap, mempelajari secara serius dan melakukan pembedahan bersama di kelas terhadap karya-karya terpenting dalam proses pembentukan kebudayaan nasional Indonesia baru: Kartini, Ki Hahar Dewantara, Cokroaminoto dan banyak lagi...”

Tidak semua orang setuju dengan Lane yang sebelumnya sudah menjadi pembicara pula pada seminar yang diadakan LIPI. Tidak semua yang dipaparkannya dan dituliskannya di bukunya (Dalam makalahnya, Lane juga melampirkan bab 4 dari bukunya) dapat saya cerna. Dari koran saya juga membaca pendapat yang mengatakan bahwa sekarang ini pembicaraan tentang hal yang dikemukakan oleh Lane terlalu ‘mewah’ bagi rakyat, karena tidak ada relevansinya dengan hidup sehari-hari: antri minyak tanah, tergenang oleh lumpur, terusir dari kolong jalan layang dst. Tetapi dengan memperhatikan keberatan-keberatan itu, mungkin ada benarnya juga pendapat yang mengatakan, bahwa dengan memahami sejarah, dengan serius mempelajari pahit-getir para tokoh pendiri negeri ini dahulu, justru kita dapat lebih bersih menelisik setiap persoalan yang tengah kita hadapi dalam bernegara. Sehingga anak-anak kita kelak dapat melihat sesamanya –tanpa membeda-bedakan-- sebagai kawan seperjuangan. Bukan melulu memandang segalanya dalam rupa olimpiade apa saja. Dalam hal semacam ini lah saya mencoba memahami apa yang dijelaskan oleh Lane.

Ciputat, 6 September 2009
(c) eben ezer siadari

No comments:

Post a Comment

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...