Wednesday, July 27, 2011

Merayakan Ulang Tahun dengan Menulis tentang Sri Mulyani


Baru-baru ini Sri Mulyani Indrawati diwawancarai oleh presenter televisi senior kenamaan AS, Charlie Rose, untuk kemudian ditayangkan di Bloomberg TV, 5 Juli lalu. Itu adalah sebuah wawancara yang menurut saya sangat berbobot.  Terpantul dari tanya jawab itu tentang siapa perempuan Indonesia yang terkenal cerdas dan berintegritas itu, bukan hanya dari wawasan dan pengetahuan yang berhasil digali dari pertanyaan-pertanyaan santun dan tajam, tapi juga dari pilihan kata mantan menteri keuangan kita dalam menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya. Ia bisa diplomatis di satu waktu. Tapi bisa lugas dan tanpa basa-basi manakala diperlukan. Sangat disayangkan wawancara itu tak cukup bergaung luas di Tanah Air. Mungkin tertutup oleh kasus-kasus berskala raksasa yang mengguncang para petinggi partai dan elit berkuasa.

Salah satu dialog yang mengesankan dan mengharukan dalam wawancara itu saya kutipkan berikut ini:
Charlie Rose (CR): Anda berani keluar dari sistem sehingga harus berkonflik dengan salah satu pendukung presiden yang terbesar dan terkaya. Benarkah?

Sri Mulyani Indrawati (SMI): (mengangguk) Benar. Well, perjuangan melawan korupsi jelas tidak berakhir menyenangkan untuk semua orang.

CR: Kekuatan apa yang Anda miliki sehingga berani melakukan itu?

SMI: Cinta yang besar pada negara saya. Dan keyakinan bahwa kita bisa melakukan sesuatu yang baik untuk negara kita.

CR: Tapi itu seperti pertarungan antara David vs Goliath?

SMI: Tidak juga. Ide (tentang melawan korupsi) sangat kuat. Masyarakat secara diam-diam atau terang-terangan, juga mendukung ide membangun Indonesia yang bersih. Kita harus berjuang.

Saya terutama sangat terkesan pada jawaban SMI tentang sumber kekuatan dan keberaniannya mengambil sikap: “Cinta yang besar kepada negara saya.”  Betapa abstraknya sesungguhnya cinta kepada negara itu. Betapa sulitnya membayangkannya. Jika seorang nenek –seperti yang pernah kita dengar lewat berbagai saluran berita –mencuri beberapa biji buah mangga demi memenuhi permintaan cucunya, jelaslah kita bisa membayangkan seberapa besar cinta sang nenek kepada cucunya. Cinta itu riel. Nyata: rela bertindak kriminal demi cinta pada cucu. Sangat jelas untuk siapa dia berbuat sesuatu. Sama halnya dengan seorang pemuda yang mungkin harus  terlibat perkelahian hingga membuatnya kena bogem hingga dirawat di rumah sakit, demi membela kekasihnya yang disatroni para pencopet. Itu pun adalah sebentuk cinta yang terang benderang. Dapat terasakan.

Akan halnya cinta pada negara, bagaimana kita bisa menjelaskannya? Dari cerita-cerita kepahlawanan di masa lampau kita memang pernah mendengar Bung Tomo yang berani memanjat sebuah hotel di Surabaya lalu menurunkan bendera Belanda dan merobek warna birunya. Kita mengatakan keberaniannya itu pastilah didorong oleh cinta pada negara. Namun, di zaman sekarang, apakah masih ada yang percaya pada kisah kepahlawanan semacam itu, yang oleh anak-anak muda sudah sering lebih dianggap sebagai dongeng daripada kisah nyata? Pernah juga  kita membaca tentang Dr. Tjipto Mangunkusumo yang nekad mundur dari kedudukan nyaman sebagai dokter Pemerintah (Belanda) karena dilarang menuliskan pikiran-pikirannya di koran-koran. Kita pun dulu di bangku sekolah diajarkan bahwa cinta kepada bangsanya-lah yang mendorong Tjipto berani berbuat begitu, selalu nyentrik dan keukeuh berpakaian petani yang kumal dan dekil, seraya selalu berkata di hadapan para teman dan guru Belanda-nya, “Aku anak rakyat, anak si Kromo.” Tapi alih-alih mengagumi dokter yang begitu, anak-anak kita zaman sekarang jangan-jangan justru menganggap ketinggalan zaman model dokter berkarakter yang demikian dan bakal tak dilirik sebagai calon menantu oleh para mertua.

Memang masih banyak juga orang yang sering berbicara tentang cinta pada negara, cinta pada bangsa. Yakni para politisi, petinggi negara, pejabat, perwira, para pamong praja, wakil rakyat dan sejenisnya. Namun, dengan semakin cerdasnya kita membaca bahasa tubuh mereka, dengan makin gencarnya televisi menayangkan polah dan keseharian mereka, tersadarlah kita, bahwa makin sering mereka mengatakan cinta pada negara, makin jelas bagi kita mereka bukan bicara dari lubuk hati tulus mereka. Makin berteriak mereka berkata tentang cinta negara, makin jauh kita rasakan jarak antara kesungguhan mulut dari pikiran dan tindakan mereka.

Tetapi ketika dalam wawancara tersebut Sri Mulyani berkata bahwa sumber keberaniannya keluar dari sistem yang korup adalah karena dorongan cintanya kepada negaranya, tak urung saya terkesima. Kerongkongan saya tercekat. Dan saya bisa meyakinkan Anda, bahwa saya tidak sedang bersikap lebay ketika mengatakan ini. Mata saya memang berkaca-kaca membaca bagian yang mengharukan itu. Saya tidak menonton langsung wawancara tersebut, saya hanya membaca transkrip wawancara yang disajikan oleh www.srimulyani.net. Tetapi justru karena dengan seksama membaca baris demi baris wawancara tersebut, makin jelas bagi saya bahwa cinta pada negara yang disebut Sri Mulyani sebagai sumber kekuatannya, bukan lagi pernyataan klise, bukan pernyataan abstrak, bukan kata-kata berbunga-bunga yang cepat layu esok hari. 
Dari wawancara tersebut tampak sungguh, cinta Sri Mulyani kepada negara seperti yang diucapkannya itu datang dari sikap rasional dan realistis, bukan cinta melankolis karena dibuai perasaan sesaat, melainkan karena datang dari pengenalan yang jelas dan intens akan kekuatan dan kelemahan negaranya. Dan diatas semua itu, cinta itu datang dari kesadarannya bahwa negaranya itu adalah negara yang kuat, yang masih dapat ditolong, meskipun, tentu, dengan perjuangan.

Dalam pikiran-pikiran yang dikemukakannya sepanjang wawancara tersebut, makin nyata bagi saya bagaimana sesungguhnya makna cinta kepada negara di zaman seperti sekarang. Yakni cinta yang bukan lagi dalam bentuk pencitraan agar tampak santun dan bertatakrama, melainkan pada pengenalan yang sungguh-sungguh pada apa yang kita cintai itu, sehingga dengan segala kebaikan dan keburukan negaranya, seseorang itu dapat mencintainya dengan teguh. Tak terombang-ambing dan tak hanya mau berpihak kemana angin berembus. Sri Mulyani jelas sekali mengakrabi Indonesia dengan begitu pekat, seperti para pendahulu negara ini mengenal dan memproyeksikannya, sebagaimana ia mengatakannya kepada Charlie Rose yang mewawancarainya:

CR: Bagaimana Indonesia memelihara toleransi, sebagai negara mayoritas muslim?

SMI: Secara konstitusional hal itu sudah sejak lama dibahas, bahkan sejak para bapak bangsa menyusun pembukaan Undang-Undang Dasar kami. Sudah disepakati, dan ini telah  menjadi komitmen bangsa, sebuah kontrak sosial, bahwa kami menghormati semua agama dan kepercayaan. Tak ada secara eksplisit menyebut soal Islam. Jauh sebelumnya, bapak pendiri bangsa kami pun sesudah dihadapkan pada persoalan ini. Apakah harus mencantumkan hukum syariah (di konstitusi) atau menjadi negara majemuk yang menghormati semua agama dan kepercayaan.

Saya rasa saat ini, isu yang muncul di Indonesia yang semakin terbuka dan demokratis, dimana masyarakat bebas mengeluarkan pendapat, adalah soal penghormatan dan penegakan hukum. Karena demokrasi tanpa penegakan hukum menjadi anarki, mayoritas akan menindas minoritas. Pertanyaannya, apakah masyarakat Indonesia siap menelan pil pahit jika kembali memperdebatkan persoalan itu.

Namun jika anda mengikuti secara lebih dekat tentang apa yang terjadi di masyarakat Indonesia sekarang, saya pikir mayoritas rakyat merasa bahwa kesepakatan yang telah diambil oleh para pendiri bangsa kami adalah yang terbaik

CR : Dan anda setuju dengan hal itu?

SMI: Tentu saja.

Tak perlu saya kutip berpanjang-panjang apa saja yang dikatakan Sri Mulyani dalam wawancara tersebut yang menggambarkan betapa dia mengenali Indonesia demikian mendalam dan akrab, bukan hanya dalam konteks Indonesia sebagai negara tempat dia lahir, tetapi juga Indonesia di tengah dunia. Wawancara itu berlangsung dalam bahasa yang mudah dimengerti dan pewawancaranya pun cukup rendah hati menempatkan diri sebagai pendengar yang baik yang ingin mendudukkan persoalan sebagaimana mestinya. ( Bukan seperti pewawancara di berbagai talkshow yang banyak kita kenal, lebih sering ingin memojokkan dan mengadu-domba narasumbernya. Sekali lagi saya menganjurkan kita semua membaca wawancara tersebut). Sri Mulyani tak hanya bicara tentang apa yang ada di pikirannya tetapi juga apa yang telah ia lakukan. Baik sebagai seorang tokoh (pernah menjadi Menteri Keuangan) mau pun sebagai rakyat biasa, yang kebetulan pernah menjadi Menteri Keuangan.

CR: Saya dengar cerita menarik tentang Anda, Anda bicara dengan sejumlah pejabat yang menyekolahkan anaknya ke luar negeri, bahwa Anda tidak mampu – dengan pendapatan Anda saat itu – menyekolahkan anak Anda ke luar negeri. Secara tidak langsung Anda mau mengatakan bahwa telah terjadi praktek korupsi. Apakah cerita ini betul?

SMI: Ya. Ketika pertama kali saya menerima tugas sebagai Menteri Keuangan, satu hal yang saya katakan pada kolega dan staf saya adalah saya tidak menerima gaji besar, dan saya tak akan membiarkan diri saya “dipermalukan” oleh masyarakat karena saya bekerja di satu lembaga yang basah, yaitu kementerian keuangan. Itu sebabnya saya melakukan pembersihan, saya harus punya martabat, dan posisi yang terhormat. Saya pikir membentuk sebuah lembaga yang dihormati dan dipercaya oleh rakyat sangatlah penting.
***
Hari ini 27 Juli 2011. Umur saya persis 45 tahun ketika menuliskan ini. Sejak kemarin saya mencari-cari sesuatu untuk ditulis pada hari jadi saya yang tentu tak terlalu istimewa bagi banyak orang kecuali bagi diri saya, istri dan putri semata wayang di rumah. Namun sepanjang pekan ini bergema terus wawancara dengan Sri Mulyani ini di benak, terutama bagian ketika ia berbicara tentang ‘cinta pada negaranya’. Dan itulah yang mendesak-desak saya untuk duduk di belakang notebook dan menuliskan ini.

Adalah sangat mengesankan  ketika Sri Mulyani mengemukakan ‘cinta pada negara’ yang menjadi sumber keberaniannya bertindak. Ini sebuah jawaban kejutan tetapi juga jawaban yang sangat orisinil. Saya hampir bisa memastikan, bila sebagian besar kita diberikan pertanyaan semacam itu : “Kekuatan apa yang Anda miliki sehingga berani melakukan itu?” pasti akan membawa-bawa nama Tuhan lalu menyerahkan semua tanggung jawab kepada Dia, dan kita hanya budak dan pionNya. Tapi Sri Mulyani tidak. Ia mengatakan cinta-lah yang membawanya kepada keberanian itu. Dan ia percaya, ia tidak sendirian sebab seperti kita juga tahu, kita semua sebetulnya punya bekal yang sama seperti Sri Mulyani, yang berani berkata,” Yang saya pegang adalah nilai yang diajarkan orang tua saya, yaitu melakukan yang terbaik untuk negara. Dan saya rasa nilai ini juga dianut oleh banyak orang Indonesia.”

Dulu ada seorang teolog berkata, bahwa cinta kepada Tuhan itu sebetulnya sangat abstrak. Bahkan bisa jadi lebih abstrak daripada cinta kepada negara. Maka akan sulit mengatakan mencintai Tuhan bila tidak bisa mencintai negara. Barangkali itulah sebabnya Sri Mulyani tidak sepatah kata pun berkata tentang Tuhan ketika ditanyai oleh Charlie Rose.

Ciputat, 27 Juli 2011


2 comments:

  1. Another touchy story Bang. Selamat ulang tahun ya.

    ReplyDelete
  2. Anonymous5:46 PM

    Mengharukan. Saya juga bersimpati pada SMI. Dia pantas jadi pemimpin. Berani dan berprinsip. Selamat ulang tahun ya Pak.

    Clara Sim

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...