Sunday, September 18, 2011

Buku untuk Ayah

Tanggalnya 16 Maret 1985. Hari itu Ir. Sarjadi datang memenuhi undangan sohib sekaligus koleganya, Sujai Kartasasmita yang kala itu menjabat sekretaris Dewan Gula Indonesia. Kepada Sarjadi kemudian ditawarkan sebuah tugas penting dan serius. Ia diminta untuk menulis makalah yang komprehensif tentang industri pergulaan di Indonesia.

Ini permintaan yang wajar. Sarjadi adalah satu dari sedikit tokoh langka di Indonesia. Lebih dari tiga dekade (1942-1975) ia menghabiskan karier di linkungan industri gula. Dimulai dengan menjadi Volontair Chemiker di Pabrik Gula (PG) Tasikmadu hingga pernah menjadi Geemployeerde/Wakil Administratur di perusahaan yang sama sebelum akhir kariernya menjadi senior agronomist pada PT Agriconsult International di Jakarta. Karya tulisnya tentang gula juga sudah banyak. Termasuk sebuah karyanya yang paling awal, ditulis bersama Prof.Dr.Ir. Van Schuylenborgh dan dimuat di majalah Teknik Pertanian No 10, Oktober 1958. Judulnya: Pemupukan pada Tanaman Tebu.

Sarjadi menyanggupi permintaan itu, walau pun usianya sudah 65 tahun kala itu. Dan usia yang sudah lansia itu ternyata tak membuatnya lamban mengejar  tenggat/deadline. Ia merampungkan tulisannya pada 24 Juni 1985 –yang berarti kurang lebih hanya tiga bulan ia butuhkan menyelesaikannya. Sangat lengkap yang ia susun itu: dimulai dengan Pendahuluan yang pendek, lalu uraian yang cukup panjang tentang Sejarah Singkat Perindustrian Gula di Jawa –meliputi Zaman VOC, Zaman Cultuurstelsel, Zaman Industri Gula Bebas, Zaman Pendudukan Tentara Jepang hingga ke Zaman Tebu Rakyat Intensifikasi.

Di bagian lain ia juga mengulas tentang Situasi Gula di Jawa Sesudah 10 Tahun Dilaksanakannya Inpers No 9 Tahun 1975, dan Usaha Perbaikan Demi Kelestarian Perindustrian Gula di Jawa: Bidang Budidaya Tebu Milik Rakyat dan Industri Gula serta Pabrik-pabrik Gula. Satu lagi tulisan yang berjudul Teknik Budidaya Tebu di Pulau Jawa, ia ikutkan pula sebagai apendiks, yang khusus dibuat atas permintaan R. Waluyo Pringgokusumo, direktur produksi PTP XV-XVI di Surakarta ketika itu.

“Satu-satunya motif yang mendorong/menjiwai seluruh isi tulisan ini adalah tidak lain dan tidak bukan agar didapat suatu gambaran yang jelas mengenai perindustrian gula kita, di Pulau Jawa khususnya….” kata Sarjadi dalam pengantar tulisannya.

***
Pada tanggal 5 September 2011 lalu, saya menemukan tulisan Sarjadi itu di salah satu lapak pedagang buku loak di lantai II Proyek Senen, Jakarta. Tulisan itu sudah tidak berbentuk makalah lagi melainkan sebagai sebuah buku. Judulnya cukup antik, tak mengikuti judul yang umum untuk sebuah buku populer di zaman sekarang ini:
Manuskrip
Ir. Sarjadi Soelardi Hardjosoepoetro
(1922-1988)
Gula
Tulisan Jujur Seorang Abdi Negara dalam Keprihatinan dan Harapan tentang Usaha Menyelamatkan Industri Gula di Indonesia.

Tetapi bukan hanya judul antik itu saja yang membuat saya tertarik untuk memiliki buku ini, membacanya dan bahkan kemudian menuliskan kesan tentangnya. Melainkan terutama oleh sejarah penerbitan makalah (manuskrip) ini menjadi buku yang tidak kalah unik.

Naskah yang sudah rampung pada tahun 1985 ini diterbitkan menjadi buku pada tahun 2008 yang berarti 23 tahun kemudian. Dan yang mengupayakan penerbitannya adalah seseorang yang di masa pemerintahan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono dewasa ini cukup populer namanya, yakni Heru Lelono. Tahu kan siapa dia? Beliau adalah salah seorang staf khusus SBY.

Apa yang menyebabkan Heru Lelono tertarik menerbitkan naskah yang walau pun penting tetapi –berdasarkan kalkulasi awam saja –pastilah tidak akan sukses secara komersial ini? Tidak sulit mencari jawabannya. Dengan membaca Kata Pengantar Pemrakarsa Penerbitan pada buku ini, kita akan tahu bahwa Heru Lelono adalah anak bungsu dari Sarjadi, tokoh yang menulis manuskrip yang kemudian dibukukan ini. Menerbitkan buku ini, bagi Heru Lelono, adalah bagian dari penghormatan sekaligus kekagumannya pada ayahandanya, yang meninggal setelah menjalani operasi jantung pada tahun 1988 dan si anak bungsu itu tidak sempat menungguinya.

Heru Lelono tidak bisa lupa sebuah peristiwa pada hari-hari menjelang ayahnya menjalani operasi jantung. Kala itu Pemerintah RI menawarkan bantuan agar operasi dilakukan di luar negeri tetapi ayahnya menolak. Apa pasal? Jawaban sang ayah membuat Heru Lelono terhenyak tetapi tambah mengagumi sang ayah. “Republik ini merdeka oleh perjuangan anak bangsa sendiri, walau harus mengorbankan jiwa dan raga. Oleh karenanya, saya percaya bahwa dokter-dokter negeri ini mampu mengobati dan mengoperasi saya. Sulit mana berjuang untuk mencapai kemerdekaan bangsa, dibanding hanya mengobati Sarjadi?” Begitulah jawaban Sarjadi yang membuat Heru Lelono bangga.

Kekaguman dan kecintaan itulah yang tampaknya mendorong Heru Lelono mengabadikan karya ayahnya dalam bentuk buku walau pun ia sadari bahwa ayahnya itu sangat mungkin “bukan seseorang yang paling pintar, ataupun paling benar.” Yang ingin ia sampaikan dan tunjukkan lewat buku ini adalah “semangat pengabdiannya kepada negara sejak muda sampai akhir hayatnya yang penuh perjuangan hidup, sudah sepatutnya menjadi contoh paling tidak bagi saya dan keluarga.”

Lagipula, menulis buku bukan hanyalah perkara kemampuan dan kesempatan. Tetapi yang jauh lebih penting adalah keberanian. Dan itu satu alasan lagi bagi Heru Lelono untuk menghormati sang ayah. “Keberaniannya menulis dan mempublikasikan adalah sebuah sikap tanggung jawab atas segala gagasan yang dilemparnya. Teori yang diungkapkannya mungkin dianggap kuno, namun tujuannya sungguh menembus ruang dan waktu. Seperti kata bijak, tidak aka nada hari ini tanpa ada masa lalu.”
***

Dalam berbagai kesempatan sebagai co-writer untuk penulisan otobiografi, biografi, memoar dan buku bergenre sejenis, pertanyaan yang tak pernah saya lewatkan untuk dilontarkan adalah apa tujuan dituliskannya biografi atau memoar yang sedang kami rancang itu. Dan salah satu alasan mengapa saya menyenangi pekerjaan ini ialah karena selalu saja kami mendapatkan beraneka alasan yang kesemuanya luhur dan mulia di balik buku-buku yang kami tulis itu. Walau ada benang merah yang sama, tetapi dari satu buku ke buku lain selalu kami temukan alasan yang unik, yang orisinil, yang sangat berharga untuk selalu menjadi pijakan dalam mengukir kata demi kata.

Dan ketika membaca buku karya Sarjadi yang diterbitkan oleh putra bungsunya itu, lagi-lagi di hati saya tersembul rasa senang. Saya bukan hanya mendapati satu lagi alasan yang luhur untuk menerbitkan buku. Tetapi juga menemukan satu lagi modus yang unik sekaligus patut ditiru: yakni menerbitkan karya ayah sendiri sebagai wujud penghormatan kepadanya sekaligus mengabadikan karya itu.

Ciputat, 18 September 2011
© eben ezer siadari
www.writingforlife.net

3 comments:

  1. ini wujud cinta agung seorang anakuntuk tidak lupa pada rang yang membuat jasa pada dirinya , hebat.....

    ReplyDelete
  2. sampai berkaca kaca bacanya

    ReplyDelete
  3. terimakasih mas soemedi, terimakasih mbak rinda

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...