Wednesday, October 05, 2011

Memangnya Duit Itu Berak?

Ketika singgah ke kantor teman beberapa waktu lalu, saya dititipinya beberapa buah buku. Yang paling menarik hati adalah buku berjudul Menggungat dari Balik Penjara, Surat-surat A.M. Fatwa, terbitan Penerbit Teraju, 2004.  Seperti judulnya, buku ini berisi surat-surat A.M. Fatwa selama ia dipenjara dari tahun 1985-1993.


A.M. Fatwa, kita tahu, adalah salah seorang pentolan Petisi 50 yang mendekam di bui karena dituduh terlibat dalam Peristiwa Priok dan dijerat dengan UU Subversi. Vonis yang dikenakan kepadanya sangat berat: 18 tahun. Tapi untungnya, ia hanya perlu menjalaninya sembilan tahun. Setelah bebas, Fatwa yang semasa muda sudah aktif berpolitik, tidak bisa lepas dari dunia yang disenanginya itu. Ia dapat bangkit, dan pernah menjadi ketua MPR periode 1999-2004.

Menurut pengakuannya, selama di penjara  ia menulis 5000-an surat. Tentu dalam buku ini  tidak semua dapat termuat, hanya disuguhkan 202 surat.  Menurut Fatwa, berbagai cara ia lakukan agar surat itu bisa lolos terkirim (sebab kalau melalui jalur formal, surat-surat tersebut harus diperiksa sipir penjara terlebih dahulu)  diantaranya dengan menitipkannya di BH istrinya, untuk kemudian dibuatkan kopi-nya untuk disimpan, lalu aslinya dikirimkan. Kesemua surat itu diketik dengan mesin tik tua yang dia bawa dari rumah dan pada akhirnya rusak karena pernah jatuh di penjara. Dalam salah satu surat kepada sahabatnya, ia minta belas kasihan supaya dikirimi mesin tik bekas.

Aneka ragam isi surat-surat itu. Dan yang sangat mengagumkan, semuanya dituliskan dengan bahasa yang lugas, jelas dan tidak membosankan. Banyak diantara surat itu ia tuliskan untuk mengomentari berita-berita yang ia baca, lalu dikirimkannya kepada kawan-kawan di luar penjara. Namun sebagian besar dari surat-surat itu adalah ikhtiarnya untuk menjelaskan posisinya ketika Peristiwa Priok berlangsung.
Yang ingin saya bagikan di sini adalah surat A.M. Fatwa kepada Ramadhan K.H pada periode November-Desember 1990.  Ini saya pilih karena isinya ringan tapi sangat menarik  dan terutama karena  menyangkut seorang tokoh yang disegani orang, yakni Ali Sadikin.

Rupanya ketika itu Ramadhan K.H sedang menyusun biografi Ali Sadikin, gubernur DKI Jakarta di tahun 70-an yang sangat populer itu. Untuk itu, ia memerlukan pendapat A.M. Fatwa yang dulunya  merupakan  anak buah kesayangan Ali Sadikin di Pemda DKI Jakarta.

Permintaan ini disambut baik oleh Fatwa. Malahan ia sangat bersemangat memberikan pandangan-pandangannya tentang Ali Sadikin, sehingga sampai lima kali ia berkirim surat yang kesemuanya panjang-pajang. Melalui surat-surat itu,  diperkenalkannya  sosok Ali Sadikin yang memang terkenal tegas, berani dan setia pada bawahan. Dari caranya menuliskan kesannya tentang mantan bosnya itu, terlihat kejujuran A.M Fatwa tetapi sekaligus juga rasa hormat dan kagumnya.

Misalnya, di salah satu surat ia menulis begini:
 
Pak Ramadhan KH Yth,
 
Salam sejahtera, berikut ini saya sambung lagi sedikit cerita menyambut Pak Ali Sadikin.

Disposisi-disposisi Gubernur Ali Sadikin kepada para pembantunya sering bernada ‘sadis,’ unik dan terkadang lucu. Bagaimana pun kerasnya bunyi disposisi itu, tapi biasanya anak buah ketawa saja. Paling ditambah sedikit nyengir. Pernah seorang Kepala Dinas mengajukan anggaran yang menurut penilaian Gubernur, terlalu muluk. Lalu turunlah disposisi: “Memang duit itu berak.” Ternyata sang kepala dinas itu tidak merasa sakit dan dengan polos saja dia cerita kesana-kemari.
 
Sebaliknya, kalau anggaran yang diajukan oleh seorang Kepala Proyek cukup logis menurut Gubernur, yang bersangkutan kadangkala dipanggil dan ditanya terus terang. “Dalam anggaran kamu ini kamu sudah kebagian?” Biasanya Kepala Proyek itu dengan malu-malu kucing menjawab pelan, “Sudah Pak Gub.” Pertanyaan Gubernur itu penting. Maksudnya, kalau kamu sudah kebagian dari anggaran itu, awas kalau proyek tidak beres apalagi sampai merusak atau menggerogoti.

Masih menyambung perbincangannya tentang Ali Sadikin, salah satu suratnya yang lain kepada Ramadhan
K.H, berkata begini:
 
Pernah beberapa bulan Gubernur Ali Sadikin harus berada di Belanda mendampingi istrinya (Ny. Nani Sadikin) yang sedang sakit keras selama beberapa bulan. Instruksi-instruksi pemerintahannya praktis dijalankan dari sana setiap hari per telepon, disamping ada kurir bolak-balik tiap minggu Jakarta-Amsterdam. Saya pun rajin membuat laporan ke sana tentang persiapan MTQ Nasional dan hal itu nampaknya diperhatikan.
 
Tapi kontak pribadi yang lebih intim justru bermula karena ia pernah meninju saya. Misalnya, suatu hari, Gubernur sedang marah sekali atas sesuatu soal kepada seseorang. Tak ada yang berani mendekat. Tapi pada saya ada surat yang harus ditandatanganinya yang keperluannya malam hari itu juga harus diserahkan kepada seseorang oleh Gubernur dalam upacara.
 
Masih dalam wajah merah padam, dia keluar dari ruangannya, saya hadang dia di pintu sambil menyodorkan map. Maka tak ayal lagi saya langsung ditinjunya. Tapi saya ketawa saja dan ditandatanganinya juga surat itu sambil berdiri.
 
Saya pernah menyaksikan seorang Kepala Biro, sudah tua orangnya, ketika di pintu ruang kerja Gubernur, lututnya gemetar akan menghadap Gubernur. Soalnya, Kepala Biro yang bersangkutan dalam suatu briefing pernah disiram air (ember) karena dianggap pekerjaannya tidak beres, tidak bisa menjawab ketika ditanya.
 
Pernah juga ada Kepala Biro tengkuknya dipegang lalu mukanya digosokkan pada makanan (prasmanan) di meja karena makanan itu dianggapnya tidak pantas untuk menghormati tamu asing. Sebaliknya juga saya tahu Gubernur Ali Sadikin marah kepada seorang Kepala Direktorat karena persediaan makanan terlalu mewah dan berlebihan untuk menjamu tamu. Di sini saya melihat Pak Ali Sadikin itu sebagai orang yang berselera tinggi, mementingkan hal-hal yang bersifat prestisius tapi juga benci atas hal-hal yang mubazir.
 
Bukan saja kepada bawahannya, pernah seorang anggota DPRD dimarahi dan digertaknya dalam suatu sidang pleno. Anggota DPRD itu kebetulan teman baik saya sejak masih remaja. Malam-malam dia datang ke rumah saya bicara tentang bagaimana baiknya. Tapi akhirnya orang itu menjadi lebih dekat secara pribadi.
 
Pernah juga seorang supir truk ditempelengnya di Jl Cikini Raya karena parkir kendaraannya di trotoar. Majikannya, seorang usahawan dan tokoh Islam, cukup lama juga sulit menerima, bagaimana seorang Gubernur harus turun dari mobil dan menempeleng orang di tengah jalan. Orang tua ini juga kebetulan saya kenal baik. Ketika sama-sama naik haji, saya ajak dia mempertemukan Pak Natsir dan Pak Ali Sadikin di Makkah, malah dia menyiapkan segala sesuatunya. Hanya turut omong-omong sedikit dengan Ali Sadikin, tapi sejak itu rasa sentimennya menjadi hilang.

Masih banyak lagi yang ia tuliskan tentang Ali Sadikin dalam surat-suratnya itu. Menikmati bagaimana runtut dan mengalirnya A.M. Fatwa menuliskannya, dalam hati saya bersyukur diberi kesempatan membaca buku ini. Olehnya, saya mengenal Ali Sadikin lebih dekat, yang terungkap dari surat-surat anak buah sekaligus pengagumnya. Dan uniknya, surat-surat itu justru dikerjakan ketika di balik jeruji bui.

ciputat, 4 Oktober 2011
@eben ezer siadari
www.writingforlife.net

2 comments:

  1. Saya baru saja baca"Ransel Pilihan Ibu" di "Ortu Kenapa Sih ?"yang luar biasa, menyentuh, .. sarat makna. Dan telah saya jadikan salah satu khasanah "BIBLIO KONSELING" bagi siswa saya. Dan saya akan coba banyak-2 melahap karya-2 anda. Terima kasih atas semuanya. Oh ya, .. saya juga baru saja follow anda. Moga berkah. Jika berkenan, saya tunggu follow anda di blog sederhana saya.

    ReplyDelete
  2. tidak mudah mencari sosok seperti bang ali. keras untuk kerja yang beres, itu setimpal lah.

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...