Tuesday, October 25, 2011

Sonia yang Memikat

Didiagnosa mengidap diabetes tipe satu di usia delapan tahun, menyebabkannya harus mendapatkan suntikan insulin setiap hari. Di umur sembilan tahun ia harus kehilangan ayah yang meninggal karena serangan jantung. Tetapi hidup harus berjalan. Dan Sonia Maria Sotomayor menorehkan namanya dalam sejarah hukum di Amerika Serikat.


Ketika saya pertama kali membaca sekilas namanya yang tertera dalam daftar 100 Tokoh Berpengaruh versi majalah Time tahun 2010, tak ada ketertarikan ingin mengenalnya lebih jauh kecuali oleh nama belakangnya yang rada aneh di telinga kita orang Indonesia: Sotomayor. Seperti nama makanan berkuah yang bisa kita temui di warung kaki lima Jakarta, bukan?

Baru ketika keesokan harinya membacanya lebih dalam, makin nyatalah bahwa Sonia memang bukan wanita sembarangan. Ia benar-benar persona langka yang layak diteladani perjuangannya. Bukan saja karena pencapaiannya yang mengagumkan tetapi juga oleh jalan hidupnya dan oleh bagaimana ia ditempa sejak kecil. Saya pun terpikat.

Sonia Sotomayor adalah perempuan kebanggaan warga Amerika Serikat keturunan Puerto Rico. Ia merupakan warga Amerika berdarah hispanik pertama sepanjang sejarah yang berhasil terpilih sebagai hakim agung di negeri itu. Ini kedudukan prestisius yang tak sembarang ahli hukum dapat mencapainya. Sebab selain harus mempunyai perjalanan karier yang gemilang dan kemampuan profesional yang tidak diragukan, ia harus pula dapat diterima secara politik. Untuk kedudukan ini, Presiden yang mengajukan nominasi dan Senat memberi persetujuan.

Terlahir pada 25 Juni 1954 di Bronx, New York, Sonia datang dari sebuah keluarga imigran yang sederhana. Ayah dan ibunya berimigrasi ke Amerika Serikat pada masa perang dunia II. Sejak kecil ia tumbuh sebagai perempuan yang bangga sebagai seorang Amerika. Namun di sisi lain ia juga sangat menyadari darah Puerto Rico yang mengalir dalam dirinya, sehingga ia penuh dedikasi memberi perhatian untuk membela keterbelakangan kaumnya itu. Salah satu pernyataannya yang diingat orang adalah sebagai berikut: “Although I am an American, love my country and could achieve its opportunity of succeeding at anything I worked for, I also have a Latina soul and heart with the magic that carries.”

                                                                             ***


Pada bulan Mei 2009, Presiden Barack Obama mengajukan nama Sonia Sotomayor untuk menjadi hakim agung menggantikan David Souter yang pensiun. Nominasi itu mendapat dukungan Senat dengan perbandingan suara 68 menyetujui dan 31 menentang. Ia tak menemukan kesulitan memenangkan suara Senat. Satu-satunya kritik terhadapnya datang dari kalangan konsevatif dan beberapa Senator Republikan, ialah menyangkut sebuah komentarnya yang dianggap bernada ‘rasis’ pada sebuah kuliah umum di Berkeley pada tahun 2001. Ketika itu, media massa mengutip kalimatnya yang berkata demikian: “I would hope that a wise Latina woman with the richness of her experiences, would more often than not,reach a better conclusion than a white male who hasn’t lived that life. (Saya harap, seorang wanita Latin yang bijak oleh kekayaan pengalamannya, akan lebih sering bisa daripada tidak, membuat kesimpulan yang lebih baik, dibandingkan dengan pria kulit putih yang tidak pernah mengalaminya.)” Ia sempat diberi julukan ‘Wise Latina’ oleh para pengkritiknya, namun sebagian besar masyarakat Amerika tetap mendukungnya.

Dari segi kemampuan profesional serta pengalaman karier di dunia peradilan AS, Sonia Sotomayor lebih dari cukup untuk menduduki jabatan prestisius itu. Ia lulus summa cum laude dari Princenton University pada tahun 1976 dan gelar doktor hukum ia peroleh pada tahun 1979 dari Yale Law School, tempat dimana ia menjadi pemimpin redaksi Yale Law Journal. Ia mengawali karier dengan menjadi asisten jaksa distrik di Manhattan, New York. Sempat menapaki karier profesional sebagai pengacara pada kantor hukum Pavia & Harcourt, kiprahnya kemudian menarik perhatian Senator Eward M. Kennedy dan Senator Daniel Patrick Moynihan yang mengusulkannya menduduki Hakim Distrik (District Judge) untuk New York Utara. Presiden George H.W. Bush menominasikannya pada 1992 untuk posisi itu, yang mendapat persetujuan penuh dari Senat AS. Dia menjadi hakim distrik termuda kala itu: 38 tahun.

                                                                       ***

Sonia Maria Sotomayor adalah sosok yang populer di Amerika Serikat. Demikian populernya sosok perempuan yang hidupnya sederhana ini, antara lain tergambar dari betapa rinci dan lengkapnya Wikipedia menyajikan riwayat hidupnya. Tidak main-main, ensiklopedia maya yang kredibilitasnya diakui cukup tinggi itu, menggunakan 224 catatan kaki dalam menuliskan profil Sonia, menunjukkan betapa banyak dan kayanya sumber-sumber yang telah pernah menyajikan catatan tertulis tentang tokoh ini.

Diantara banyak hal yang sudah pernah diceritakan orang tentang Sonia, di sini ada dua hal yang ingin saya kemukakan lagi. Pertama, ialah tentang bagaimana ia dibesarkan oleh orang tuanya dan bagaimana ia secara sadar sejak masih kanak-kanak telah mematrikan di hatinya cita-cita menjadi hakim. Kedua, bagaimana ia demikian terlibat pada masalah-masalah yang dihadapi kaumnya, yakni para warga Amerika berdarah hispanik, seakan itu menjadi panggilan hidupnya sepanjang hayat, namun dalam bingkai dirinya sebagai warga negara Amerika.

Ayahnya bernama Juan Sotomayor, lahir pada tahun 1921 di kawasan San Juan, Puerto Rico. Ketika berimigrasi ke Amerika Serikat, tak banyak pilihan kerja bagi pria yang hanya sempat menduduki kelas 3 Sekolah Dasar ini dan tak fasih pula berbahasa Inggris. Ia bekerja memburuh pada pabrik peralatan industri.

Ibunya bernama Celina Baez. Berasal dari Lajas, suatu kawasan pedesaan di Puerto Rico, ketika tiba di Amerika Serikat ia berhasil mendapat pekerjaan sebagai operator telepon, lalu kemudian menjadi perawat.

Seperti sudah dikemukakan di awal, Sonia sudah merasakan kepedihan hidup –bila kita ingin menilainya demikian— sejak ia berumur delapan tahun. Ketika itu ia didiagnosa mengidap penyakit diabetes tipe satu dan mulai diharuskan menerima suntikan insulin setiap hari. Setahun kemudian, ia harus menerima takdir menjadi anak yatim. Ayahnya meninggal di usia 42 oleh serangan jantung. Jadilah Sonia Sotomayor dan adiknya ( (kelak menjadi ahli fisika dan profesor di Universitas Syracuse, New York) tumbuh dan besar dalam asuhan ibunya sendirian.

Beruntunglah Sonia karena sang ibu –yang dalam berbagai wawancara selalu ia sebut sebagai inspirator hidupnya—tidak main-main dalam mengasuh anak-anaknya. Ibunya keras dalam hal mendorong putra-putrinya menjadi yang terbaik di sekolah. Pendidikan dia tempatkan pada prioritas teratas bagi para buah hatinya itu. Ia, misalnya, sampai-sampai membeli Encyclopedia Brittanica untuk jadi bacaan putra-putrinya, sesuatu yang tidak lazim di lingkungan mereka saat itu. Hasilnya, Sonia selalu menjadi valedictorian (siswi terbaik) di sekolah dengan tingkat kehadiran yang nyaris sempurna.

Di masa kecil, Sonia sebetulnya bercita-cita jadi detektif, lantaran ia terinsiprasi oleh tokoh film seri kesukaannya di televisi, Nancy Drew. Namun, cita-cita itu berbelok sedikit ketika ia menyadari penyakit diabetesnya mungkin akan menghalanginya mencapai cita-cita impiannya itu. Suatu kali ia mengikuti salah satu episode film seri Perry Mason, dimana ditampilkan seorang jaksa yang rela kalah dalam satu kasus karena menyadari bahwa sang terdakwa ternyata samasekali tidak bersalah. Namun, sang jaksa tersebut tidak berdaya karena yang menentukan keputusan dalam sidang adalah hakim. Nah, menyadari betapa menentukannya posisi seorang hakim, sejak itu ia –kala itu baru berusia 10 tahun—menyimpan cita-cita di hatinya untuk menjadi seorang hakim.

Ketika di kemudian hari Sonia diterima di Princenton University dengan beasiswa penuh, tak banyak wanita yang menjadi teman sekelasnya. Begitu juga kalangan mahasiswa berdarah hispanik, hanya ada 20 orang di universitas yang tersohor itu. Itu menyebabkan Sonia pada mulanya merasa minder. Gadis yang masa kecil dan remajanya hanya berputar-putar di kawasan Bronx itu, merasa seakan-akan sebagai seorang tamu yang diturunkan di benua asing.

Pada tahun pertama, tiap kali ingin mengajukan pertanyaan, ia seakan merasa terintimidasi. Ia merasa kemampuan menulis dan perbendaharaan Bahasa Inggrisnya sangat lemah. Untuk mengejar ketertinggalannya, maka ia menghabiskan waktu selama musim semi di perpustakaan. Ia juga melibatkan diri pada kerja membantu profesornya di luar kelas, dan dengan demikian secara perlahan ia menemukan lagi kemampuan, pengetahuan dan kepercayaan dirinya.

Di kampus itu pula ia menyadari betapa tertinggalnya kaumnya, kaum hispanik sebagai warga negara Amerika. Maka ia pun melibatkan diri menjadi aktivis yang memperjuangkan kemajuan kaumnya. Ia kemudian menjadi ketua bersama (co-chair) organisasi bernama Accion Puertorriquena, yang bergerak dalam penyediaan peluang pendidikan bagi pelajar berdarah Puerto Rico. Ia aktif dalam kegiatan lobi-lobi atas nama organisasi ini. Ia memfokuskan diri pada masalah perekrutan staf pengajar dan kurikulum, karena pada masa itu samasekali belum ada satu pun profesor purnawaktu berdarah hispanik di Princenton University.

Perjuangannya memajukan kaum hispanik di kampusnya, membawa Sonia bertemu dengan Presiden Princenton University, William G. Bowen, untuk menyuarakan kaum yang diwakilinya. Tetapi pertemuan itu tidak menghasilkan perubahan apa pun. Maka pada bulan April 1974 organisasi yang ia pimpin mengirimkan surat pengaduan kepada Departemen Kesehatan, Pendidikan dan Kesejahteraan Amerika Serikat, dengan tuduhan bahwa universitas itu melakukan diskriminasi dalam perekrutan dosen dan penerimaan mahasiswa. Kepada koran The New York Times Sonia kala itu mengatakan, “Princenton hanya menjalankan suatu kebijakan yang netralitasnya lembek dan tidak ada keinginan yang cukup berarti untuk mengubahnya.” Ia juga menulis opini bertema serupa di koran kampus, Daily Princetonian .


Perjuangannya ini akhirnya membuahkan hasil . Tak berapa lama universitas itu mulai merekrut tenaga pengajar dari kaum hispanik. Lebih jauh, Sonia juga berhasil mendekati ahli sejarah Peter Winn untuk menyelenggarakan seminar tentang sejarah dan politik Puerto Rico di kampus itu, sesuatu yang sebelumnya tak pernah ada.

Begitu besar perhatian Sonia pada ‘bangsa’-nya, juga terlihat dari bagaimana ia mendedikasikan tesisnya untuk Puerto Rico. Ia memilih membahas topik tentang Luis Munoz Marin, gubernur pertama Puerto Rico yang terpilih secara demokratis dan tentang perjuangan sang gubernur dalam mendorong bangsanya untuk mendapatkan hak menentukan nasib sendiri dalam ekonomi dan politik. Tesis sepanjang 178 halaman yang judul aslinya “La Historia Ciclica de Puerto Rico: The Impact of the Life of Luis Muñoz Marin on the Political and Economic History of Puerto Rico, 1930–1975“, itu mendapat pujian dan memenangi Latin American Studies Thesis Prize. Ia juga berhasil mendapatkan Pyne Prize, penghargaan tertinggi pada mahasiswa undergraduate, sebagai refleksi keistimewaannya dalam mencapai nilai-nilai perkuliahan yang baik disamping aktivitas ekstra-kurikulernya yang luar biasa.

                                                                                    ***
Sonia Sotomayor pernah menikah, namun bercerai pada tahun 1983. Ia hidup sederhana di Greenwich Village di kota New York. Tak banyak aset berharganya, kecuali rumahnya. “Bila Anda tidak punya banyak uang, makin mudah bagi Anda. Sebab itu berarti tak perlu banyak hal yang perlu Anda laporkan,” katanya suatu ketika. Sampai sekarang ia masih tetap mendapat suntikan insulin setiap hari, meskipun oleh para dokter penyakit diabetesnya dianggap cukup terkontrol.

ciputat, 25-10-2011
© eben ezer siadari 
www.writingforlife.net

2 comments:

  1. Ini kunjungan perdana saya. Bnyak tulisan yg bermutu di blog ini.
    Jika boleh, mari Saling follow blog.
    @ www.majalahsiantar.blogspot.com/
    Salam.

    ReplyDelete
  2. Inpiratif banget kisahnya ! Thanks udah berbagi

    ReplyDelete

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...