<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-27078097</id><updated>2011-12-29T02:23:56.776-08:00</updated><category term='in memoriam'/><category term='vina panduwinata'/><category term='dad and son'/><category term='learning by watching'/><category term='a piece from the past'/><category term='orang baik'/><category term='sjahrir'/><category term='jansen sinamo'/><category term='bestseller'/><category term='simple wisdom'/><category term='sidamanik'/><category term='trip to sarimatondang'/><category term='nasi berkat'/><category term='pineapple'/><category term='kamus hidup'/><category term='like father like son'/><category term='buku'/><category term='food'/><category term='kebaikan'/><category term='garuda'/><category term='history'/><category term='presiden amerika'/><category term='wisdom from the past'/><category term='dunia wartawan'/><category term='mom'/><category term='wisdom from simalungun'/><category term='soulmate'/><category term='daughter'/><category term='pesawat terbang'/><category term='the ciputra way'/><title type='text'>my beautiful sarimatondang</title><subtitle type='html'>Sarimatondang is a small village, a four hours trip from Medan, North Sumatra. I was born there. This blog is dedicated to her. Contains thousands of stories, reflections and enlightenments. A place we can refresh our life by recollecting the beautiful memories on our homeland. Mostly in Bahasa Indonesia and some of it in Simalungun Language. Sooner will be translated (by someone, hopefully) to English. Your comments are very appreciated. Write to ebenezersiadari@yahoo.com</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27078097/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27078097/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Eben Ezer Siadari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17409901844739673818</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sDOvG1QwyNo/SEYuxWm2rnI/AAAAAAAAALk/Kai8v-INR70/S220/foto-abdi2.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>171</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27078097.post-6471772426547995695</id><published>2011-10-25T17:36:00.000-07:00</published><updated>2011-10-25T17:37:09.317-07:00</updated><title type='text'>Sonia yang Memikat</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-PUhTh9vB8kI/TqdWCujH72I/AAAAAAAABHQ/1_cx4qVeBHA/s1600/Sonia+Sotomayor.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-PUhTh9vB8kI/TqdWCujH72I/AAAAAAAABHQ/1_cx4qVeBHA/s320/Sonia+Sotomayor.jpg" width="256" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Didiagnosa   mengidap diabetes tipe satu di usia delapan tahun, menyebabkannya harus   mendapatkan suntikan insulin setiap hari. Di umur sembilan tahun ia   harus kehilangan ayah yang meninggal karena serangan jantung. Tetapi   hidup harus berjalan. Dan Sonia Maria Sotomayor menorehkan namanya dalam   sejarah hukum di Amerika Serikat.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya pertama kali membaca sekilas namanya yang tertera dalam daftar &lt;i&gt;100 Tokoh Berpengaruh &lt;/i&gt;versi majalah &lt;i&gt;Time&lt;/i&gt;  tahun 2010, tak ada ketertarikan ingin mengenalnya lebih  jauh kecuali  oleh nama belakangnya yang rada aneh di telinga kita orang  Indonesia:  Sotomayor. Seperti nama makanan berkuah yang bisa kita temui  di warung  kaki lima Jakarta, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru   ketika keesokan harinya membacanya lebih dalam, makin nyatalah bahwa   Sonia memang bukan wanita sembarangan. Ia benar-benar persona langka   yang layak diteladani perjuangannya. Bukan saja karena pencapaiannya   yang mengagumkan tetapi juga oleh jalan hidupnya dan oleh bagaimana ia  ditempa sejak kecil. Saya pun terpikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sonia   Sotomayor adalah perempuan kebanggaan warga Amerika Serikat keturunan   Puerto Rico. Ia merupakan warga Amerika berdarah hispanik pertama   sepanjang sejarah yang berhasil terpilih sebagai   hakim  agung di  negeri itu. Ini kedudukan prestisius yang tak sembarang ahli  hukum  dapat mencapainya. Sebab selain harus mempunyai perjalanan karier  yang  gemilang dan kemampuan profesional yang tidak diragukan, ia harus  pula  dapat diterima secara politik. Untuk kedudukan ini, Presiden yang   mengajukan nominasi dan Senat  memberi persetujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlahir   pada 25 Juni 1954 di Bronx, New York, Sonia datang dari sebuah  keluarga  imigran yang sederhana. Ayah dan ibunya berimigrasi ke Amerika  Serikat  pada masa perang dunia II. Sejak kecil ia tumbuh sebagai  perempuan yang  bangga sebagai seorang Amerika. Namun di sisi lain ia  juga sangat  menyadari darah Puerto Rico yang mengalir dalam dirinya,  sehingga ia  penuh dedikasi memberi perhatian untuk membela  keterbelakangan kaumnya  itu. Salah satu pernyataannya yang diingat  orang adalah sebagai berikut:  “&lt;i&gt;Although I am an American, love my  country and could achieve its  opportunity of succeeding at anything I  worked for, I also have a Latina  soul and heart with the magic that  carries&lt;/i&gt;.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada  bulan Mei 2009, Presiden Barack Obama mengajukan nama Sonia Sotomayor  untuk menjadi hakim agung menggantikan  David Souter yang pensiun.  Nominasi itu mendapat dukungan Senat dengan  perbandingan suara 68  menyetujui dan 31 menentang.  Ia  tak menemukan kesulitan memenangkan  suara Senat. Satu-satunya kritik  terhadapnya datang dari kalangan  konsevatif dan beberapa Senator  Republikan, ialah menyangkut sebuah  komentarnya yang dianggap bernada  ‘rasis’ pada sebuah kuliah umum di  Berkeley pada tahun 2001. Ketika itu,  media massa mengutip kalimatnya  yang berkata demikian: “&lt;i&gt;I would  hope that a wise Latina woman with  the richness of her experiences,  would more often than not,reach a  better conclusion than a white male  who hasn’t lived that life&lt;/i&gt;.  (Saya harap, seorang wanita Latin yang  bijak oleh kekayaan  pengalamannya, akan lebih sering bisa daripada  tidak, membuat  kesimpulan yang lebih baik, dibandingkan dengan pria  kulit putih yang  tidak pernah mengalaminya.)” Ia sempat diberi julukan ‘&lt;i&gt;Wise Latina&lt;/i&gt;’ oleh para pengkritiknya, namun sebagian besar masyarakat Amerika tetap mendukungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari   segi kemampuan profesional serta pengalaman karier di dunia peradilan   AS, Sonia Sotomayor lebih dari cukup untuk menduduki jabatan prestisius   itu. Ia lulus &lt;i&gt;summa cum laude&lt;/i&gt; dari Princenton University pada   tahun 1976 dan gelar doktor hukum ia peroleh pada tahun 1979 dari Yale   Law School, tempat dimana ia menjadi pemimpin redaksi Yale Law  Journal.  Ia mengawali karier dengan menjadi asisten jaksa distrik di  Manhattan,  New York. Sempat menapaki karier profesional sebagai  pengacara pada  kantor hukum Pavia &amp;amp; Harcourt, kiprahnya kemudian  menarik perhatian  Senator Eward M. Kennedy dan Senator Daniel Patrick  Moynihan yang  mengusulkannya menduduki Hakim Distrik (District Judge)  untuk New York Utara. Presiden George H.W. Bush  menominasikannya  pada  1992 untuk posisi itu, yang mendapat persetujuan penuh dari Senat  AS.  Dia menjadi hakim distrik termuda kala itu: 38 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sonia   Maria Sotomayor adalah sosok yang populer di Amerika Serikat. Demikian   populernya sosok perempuan yang hidupnya sederhana ini, antara lain   tergambar  dari betapa rinci dan lengkapnya Wikipedia menyajikan riwayat  hidupnya.  Tidak main-main, ensiklopedia maya yang kredibilitasnya  diakui cukup  tinggi itu, menggunakan 224 catatan kaki dalam menuliskan  profil Sonia,  menunjukkan betapa banyak dan kayanya sumber-sumber yang  telah pernah menyajikan catatan tertulis tentang tokoh ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara  banyak hal yang sudah pernah diceritakan orang tentang Sonia, di sini  ada dua hal yang ingin saya kemukakan lagi. &lt;i&gt;Pertama&lt;/i&gt;,  ialah  tentang bagaimana ia dibesarkan oleh orang tuanya dan bagaimana  ia  secara sadar sejak masih kanak-kanak telah mematrikan di hatinya   cita-cita menjadi hakim. &lt;i&gt;Kedua&lt;/i&gt;, bagaimana ia demikian terlibat   pada masalah-masalah yang dihadapi kaumnya, yakni para warga Amerika   berdarah hispanik, seakan itu menjadi panggilan hidupnya sepanjang   hayat, namun dalam bingkai dirinya sebagai warga negara  Amerika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayahnya  bernama Juan Sotomayor, lahir pada tahun 1921 di kawasan San Juan,  Puerto  Rico. Ketika berimigrasi ke Amerika Serikat, tak banyak pilihan  kerja  bagi pria yang hanya sempat menduduki kelas 3 Sekolah Dasar ini  dan tak  fasih pula berbahasa Inggris. Ia bekerja memburuh pada pabrik  peralatan  industri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibunya   bernama Celina Baez. Berasal dari Lajas, suatu kawasan pedesaan di   Puerto Rico, ketika tiba di Amerika Serikat ia berhasil mendapat   pekerjaan sebagai operator telepon, lalu kemudian menjadi  perawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti  sudah  dikemukakan di awal, Sonia sudah merasakan kepedihan hidup –bila  kita  ingin menilainya demikian— sejak ia berumur delapan tahun. Ketika  itu  ia didiagnosa mengidap penyakit diabetes tipe satu dan mulai  diharuskan  menerima suntikan insulin setiap hari. Setahun kemudian, ia  harus  menerima takdir menjadi anak yatim. Ayahnya meninggal di usia 42  oleh  serangan jantung. Jadilah Sonia Sotomayor dan adiknya ( (kelak  menjadi  ahli fisika dan profesor di Universitas Syracuse, New York)  tumbuh dan  besar dalam asuhan ibunya sendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beruntunglah  Sonia  karena  sang ibu –yang dalam berbagai wawancara selalu ia sebut  sebagai  inspirator hidupnya—tidak main-main dalam mengasuh  anak-anaknya. Ibunya  keras dalam hal mendorong putra-putrinya menjadi  yang terbaik di  sekolah. Pendidikan dia tempatkan pada prioritas  teratas bagi para buah  hatinya itu. Ia, misalnya, sampai-sampai membeli  &lt;i&gt;Encyclopedia Brittanica&lt;/i&gt; untuk jadi bacaan putra-putrinya, sesuatu yang tidak lazim di lingkungan mereka saat itu. Hasilnya, Sonia  selalu menjadi &lt;i&gt;valedictorian &lt;/i&gt;(siswi terbaik) di sekolah dengan tingkat kehadiran yang nyaris sempurna. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di   masa kecil, Sonia sebetulnya bercita-cita jadi detektif, lantaran ia   terinsiprasi oleh tokoh film seri kesukaannya di televisi, Nancy Drew.   Namun, cita-cita itu berbelok sedikit ketika ia menyadari penyakit   diabetesnya  mungkin akan menghalanginya mencapai cita-cita impiannya  itu. Suatu kali  ia  mengikuti salah satu episode film seri Perry Mason,  dimana ditampilkan  seorang jaksa yang rela kalah dalam satu kasus  karena menyadari bahwa  sang terdakwa ternyata samasekali tidak  bersalah. Namun, sang jaksa  tersebut tidak berdaya karena yang  menentukan keputusan dalam sidang  adalah hakim. Nah, menyadari betapa  menentukannya posisi seorang hakim,  sejak itu ia –kala itu baru berusia  10 tahun—menyimpan cita-cita di  hatinya untuk menjadi seorang  hakim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika  di kemudian hari  Sonia diterima di Princenton University dengan  beasiswa penuh, tak  banyak wanita yang menjadi teman sekelasnya. Begitu  juga kalangan  mahasiswa berdarah hispanik, hanya ada 20 orang di  universitas yang  tersohor itu. Itu menyebabkan Sonia pada mulanya merasa  minder. Gadis  yang masa kecil dan remajanya hanya berputar-putar di  kawasan Bronx  itu, merasa seakan-akan sebagai seorang tamu yang  diturunkan di benua  asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada  tahun pertama, tiap  kali ingin mengajukan pertanyaan, ia seakan merasa  terintimidasi. Ia  merasa kemampuan menulis dan perbendaharaan Bahasa  Inggrisnya sangat  lemah. Untuk mengejar ketertinggalannya, maka  ia menghabiskan  waktu   selama musim semi di perpustakaan. Ia juga melibatkan diri pada kerja   membantu profesornya di luar kelas, dan dengan demikian secara perlahan   ia menemukan lagi kemampuan, pengetahuan dan kepercayaan dirinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di  kampus itu pula ia  menyadari betapa   tertinggalnya kaumnya, kaum  hispanik sebagai warga  negara Amerika. Maka ia   pun melibatkan diri  menjadi aktivis yang  memperjuangkan kemajuan kaumnya. Ia   kemudian  menjadi ketua bersama (&lt;i&gt;co-chair)&lt;/i&gt; organisasi bernama &lt;i&gt;Accion Puertorriquena&lt;/i&gt;,     yang bergerak dalam penyediaan peluang pendidikan bagi pelajar   berdarah   Puerto Rico. Ia aktif dalam kegiatan lobi-lobi atas nama   organisasi ini. Ia   memfokuskan diri pada masalah perekrutan staf   pengajar dan kurikulum, karena   pada masa itu samasekali belum ada satu   pun profesor purnawaktu berdarah   hispanik di Princenton  University.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjuangannya   memajukan kaum hispanik di kampusnya, membawa Sonia bertemu dengan   Presiden Princenton University, William G. Bowen, untuk menyuarakan kaum   yang diwakilinya. Tetapi pertemuan itu tidak menghasilkan perubahan  apa  pun. Maka pada bulan April 1974 organisasi yang ia pimpin  mengirimkan  surat pengaduan kepada Departemen Kesehatan, Pendidikan dan   Kesejahteraan Amerika Serikat, dengan tuduhan bahwa universitas itu   melakukan diskriminasi dalam perekrutan dosen dan penerimaan mahasiswa.   Kepada koran &lt;i&gt;The New York Times&lt;/i&gt; Sonia kala itu mengatakan,  “Princenton hanya menjalankan suatu  kebijakan yang netralitasnya lembek  dan tidak ada keinginan yang cukup  berarti untuk mengubahnya.”   Ia  juga menulis opini bertema serupa di koran kampus, &lt;i&gt;Daily Princetonian&lt;/i&gt; .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjuangannya   ini akhirnya membuahkan hasil . Tak berapa lama universitas itu mulai   merekrut tenaga pengajar dari kaum hispanik.  Lebih jauh,  Sonia  juga  berhasil mendekati ahli sejarah Peter Winn untuk menyelenggarakan   seminar tentang sejarah dan politik Puerto Rico di kampus itu, sesuatu   yang sebelumnya tak pernah ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu  besar perhatian Sonia pada ‘bangsa’-nya,  juga  terlihat dari bagaimana  ia mendedikasikan tesisnya untuk Puerto Rico.  Ia memilih membahas  topik tentang Luis Munoz Marin, gubernur pertama  Puerto Rico yang  terpilih secara demokratis dan tentang perjuangan sang gubernur  dalam  mendorong bangsanya untuk mendapatkan hak menentukan nasib  sendiri  dalam ekonomi dan politik. Tesis sepanjang 178 halaman yang  judul  aslinya “&lt;i&gt;La Historia Ciclica de Puerto Rico: The Impact of  the Life  of Luis Muñoz Marin on the Political and Economic History of  Puerto  Rico, 1930–1975&lt;/i&gt;“, itu mendapat pujian dan memenangi &lt;i&gt;Latin American Studies Thesis Prize.&lt;/i&gt; Ia juga berhasil mendapatkan &lt;i&gt;Pyne Prize&lt;/i&gt;, penghargaan tertinggi pada mahasiswa &lt;i&gt;undergraduate&lt;/i&gt;,  sebagai refleksi keistimewaannya dalam mencapai  nilai-nilai  perkuliahan yang baik disamping aktivitas ekstra-kurikulernya yang luar  biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; ***&lt;br /&gt;Sonia  Sotomayor pernah menikah, namun bercerai pada tahun 1983. Ia  hidup  sederhana di Greenwich Village di kota New York. Tak banyak aset   berharganya, kecuali rumahnya. “Bila Anda tidak punya banyak uang, makin   mudah bagi Anda. Sebab itu berarti tak perlu banyak hal yang perlu  Anda  laporkan,” katanya suatu ketika. Sampai sekarang ia masih tetap   mendapat suntikan insulin setiap hari, meskipun oleh para dokter   penyakit diabetesnya dianggap cukup terkontrol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ciputat, 25-10-2011&lt;br /&gt;© eben ezer siadari&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.writingforlife.net/"&gt;www.writingforlife.net&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27078097-6471772426547995695?l=mysarimatondang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/feeds/6471772426547995695/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/2011/10/sonia-yang-memikat.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27078097/posts/default/6471772426547995695'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27078097/posts/default/6471772426547995695'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/2011/10/sonia-yang-memikat.html' title='Sonia yang Memikat'/><author><name>Eben Ezer Siadari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17409901844739673818</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sDOvG1QwyNo/SEYuxWm2rnI/AAAAAAAAALk/Kai8v-INR70/S220/foto-abdi2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-PUhTh9vB8kI/TqdWCujH72I/AAAAAAAABHQ/1_cx4qVeBHA/s72-c/Sonia+Sotomayor.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27078097.post-5904794667564963377</id><published>2011-10-05T16:06:00.000-07:00</published><updated>2011-10-05T16:06:34.926-07:00</updated><title type='text'>Memangnya Duit Itu Berak?</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-1bg8j-ZQzeQ/TozilVxdMrI/AAAAAAAABGY/8Bv3cBlwuq0/s1600/Fatwa.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://1.bp.blogspot.com/-1bg8j-ZQzeQ/TozilVxdMrI/AAAAAAAABGY/8Bv3cBlwuq0/s200/Fatwa.jpg" width="187" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Ketika singgah ke kantor teman beberapa waktu lalu, saya dititipinya   beberapa buah buku. Yang paling menarik hati adalah buku berjudul &lt;em&gt;Menggungat dari Balik Penjara, Surat-surat A.M. Fatwa&lt;/em&gt;,   terbitan Penerbit Teraju, 2004. &amp;nbsp;Seperti judulnya, buku ini berisi   surat-surat A.M. Fatwa selama ia dipenjara dari tahun 1985-1993.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.M.  Fatwa, kita tahu, adalah salah seorang pentolan Petisi 50 yang  mendekam  di bui karena dituduh terlibat dalam Peristiwa Priok dan  dijerat dengan  UU Subversi. Vonis yang dikenakan kepadanya sangat  berat: 18 tahun.  Tapi untungnya, ia hanya perlu menjalaninya sembilan  tahun. Setelah  bebas, Fatwa yang semasa muda sudah aktif berpolitik,  tidak bisa lepas  dari dunia yang disenanginya itu. Ia dapat bangkit,  dan pernah menjadi  ketua MPR periode 1999-2004.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut pengakuannya, selama  di penjara &amp;nbsp;ia menulis 5000-an surat.  Tentu dalam buku ini &amp;nbsp;tidak semua  dapat termuat, hanya disuguhkan 202  surat. &amp;nbsp;Menurut Fatwa, berbagai cara  ia lakukan agar surat itu bisa  lolos terkirim (sebab kalau melalui  jalur formal, surat-surat tersebut  harus diperiksa sipir penjara  terlebih dahulu)&amp;nbsp; diantaranya dengan  menitipkannya di BH istrinya, untuk  kemudian dibuatkan kopi-nya untuk  disimpan, lalu aslinya dikirimkan.  Kesemua surat itu diketik dengan  mesin tik tua yang dia bawa dari rumah  dan pada akhirnya rusak karena  pernah jatuh di penjara. Dalam salah satu  surat kepada sahabatnya, ia  minta belas kasihan supaya dikirimi mesin  tik bekas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aneka ragam isi surat-surat itu. Dan yang  sangat mengagumkan, semuanya  dituliskan dengan bahasa yang lugas, jelas  dan tidak membosankan.  Banyak diantara surat itu ia tuliskan untuk  mengomentari berita-berita  yang ia baca, lalu dikirimkannya kepada  kawan-kawan di luar penjara.  Namun sebagian besar dari surat-surat itu  adalah ikhtiarnya untuk  menjelaskan posisinya ketika Peristiwa Priok  berlangsung.&lt;br /&gt;Yang ingin saya bagikan di sini adalah surat  A.M. Fatwa kepada Ramadhan  K.H pada periode November-Desember 1990.&amp;nbsp; Ini  saya pilih karena isinya  ringan tapi sangat menarik &amp;nbsp;dan terutama  karena &amp;nbsp;menyangkut seorang  tokoh yang disegani orang, yakni Ali Sadikin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya  ketika itu Ramadhan K.H sedang menyusun biografi Ali Sadikin,  gubernur  DKI Jakarta di tahun 70-an yang sangat populer itu. Untuk itu,  ia  memerlukan pendapat A.M. Fatwa yang dulunya &amp;nbsp;merupakan&amp;nbsp; anak buah   kesayangan Ali Sadikin di Pemda DKI Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permintaan  ini disambut baik oleh Fatwa. Malahan ia sangat bersemangat  memberikan  pandangan-pandangannya tentang Ali Sadikin, sehingga sampai  lima kali ia  berkirim surat yang kesemuanya panjang-pajang. Melalui  surat-surat  itu,&amp;nbsp; diperkenalkannya &amp;nbsp;sosok Ali Sadikin yang memang  terkenal tegas,  berani dan setia pada bawahan. Dari caranya menuliskan  kesannya tentang  mantan bosnya itu, terlihat kejujuran A.M Fatwa tetapi  sekaligus juga  rasa hormat dan kagumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, di salah satu surat ia menulis begini:&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&amp;nbsp;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pak Ramadhan KH Yth,&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&amp;nbsp;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Salam sejahtera, berikut ini saya sambung lagi sedikit cerita menyambut Pak Ali Sadikin.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Disposisi-disposisi  Gubernur Ali Sadikin kepada para pembantunya  sering bernada ‘sadis,’  unik dan terkadang lucu. Bagaimana pun kerasnya  bunyi disposisi itu,  tapi biasanya anak buah ketawa saja. Paling  ditambah sedikit nyengir.  Pernah seorang Kepala Dinas mengajukan  anggaran yang menurut penilaian  Gubernur, terlalu muluk. Lalu turunlah  disposisi: “Memang duit itu  berak.” Ternyata sang kepala dinas itu  tidak merasa sakit dan dengan  polos saja dia cerita kesana-kemari.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&amp;nbsp;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Sebaliknya,  kalau anggaran yang diajukan oleh seorang Kepala Proyek  cukup logis  menurut Gubernur, yang bersangkutan kadangkala dipanggil  dan ditanya  terus terang. “Dalam anggaran kamu ini kamu sudah  kebagian?” Biasanya  Kepala Proyek itu dengan malu-malu kucing menjawab  pelan, “Sudah Pak  Gub.” Pertanyaan Gubernur itu penting. Maksudnya,  kalau kamu sudah  kebagian dari anggaran itu, awas kalau proyek tidak  beres apalagi sampai  merusak atau menggerogoti.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih menyambung perbincangannya tentang Ali Sadikin, salah satu suratnya yang lain kepada Ramadhan&lt;br /&gt;K.H, berkata begini:&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&amp;nbsp;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pernah  beberapa bulan Gubernur Ali Sadikin harus berada di Belanda  mendampingi  istrinya (Ny. Nani Sadikin) yang sedang sakit keras selama  beberapa  bulan. Instruksi-instruksi pemerintahannya praktis dijalankan  dari sana  setiap hari per telepon, disamping ada kurir bolak-balik tiap  minggu  Jakarta-Amsterdam. Saya pun rajin membuat laporan ke sana  tentang  persiapan MTQ Nasional dan hal itu nampaknya diperhatikan.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&amp;nbsp;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tapi  kontak pribadi yang lebih intim justru bermula karena ia  pernah meninju  saya. Misalnya, suatu hari, Gubernur sedang marah sekali  atas sesuatu  soal kepada seseorang. Tak ada yang berani mendekat. Tapi  pada saya ada  surat yang harus ditandatanganinya yang keperluannya  malam hari itu juga  harus diserahkan kepada seseorang oleh Gubernur  dalam upacara.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&amp;nbsp;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Masih  dalam wajah merah padam, dia keluar dari ruangannya, saya  hadang dia di  pintu sambil menyodorkan map. Maka tak ayal lagi saya  langsung  ditinjunya. Tapi saya ketawa saja dan ditandatanganinya juga  surat itu  sambil berdiri.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&amp;nbsp;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Saya pernah menyaksikan seorang Kepala  Biro, sudah tua orangnya,  ketika di pintu ruang kerja Gubernur, lututnya  gemetar akan menghadap  Gubernur. Soalnya, Kepala Biro yang bersangkutan  dalam suatu briefing  pernah disiram air (ember) karena dianggap  pekerjaannya tidak beres,  tidak bisa menjawab ketika ditanya.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&amp;nbsp;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pernah  juga ada Kepala Biro tengkuknya dipegang lalu mukanya  digosokkan pada  makanan (prasmanan) di meja karena makanan itu  dianggapnya tidak pantas  untuk menghormati tamu asing. Sebaliknya juga  saya tahu Gubernur Ali  Sadikin marah kepada seorang Kepala Direktorat  karena persediaan makanan  terlalu mewah dan berlebihan untuk menjamu  tamu. Di sini saya melihat  Pak Ali Sadikin itu sebagai orang yang  berselera tinggi, mementingkan  hal-hal yang bersifat prestisius tapi  juga benci atas hal-hal yang  mubazir.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&amp;nbsp;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Bukan saja kepada bawahannya, pernah  seorang anggota DPRD dimarahi  dan digertaknya dalam suatu sidang pleno.  Anggota DPRD itu kebetulan  teman baik saya sejak masih remaja.  Malam-malam dia datang ke rumah  saya bicara tentang bagaimana baiknya.  Tapi akhirnya orang itu menjadi  lebih dekat secara pribadi.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&amp;nbsp;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pernah  juga seorang supir truk ditempelengnya di Jl Cikini Raya  karena parkir  kendaraannya di trotoar. Majikannya, seorang usahawan dan  tokoh Islam,  cukup lama juga sulit menerima, bagaimana seorang  Gubernur harus turun  dari mobil dan menempeleng orang di tengah jalan.  Orang tua ini juga  kebetulan saya kenal baik. Ketika sama-sama naik  haji, saya ajak dia  mempertemukan Pak Natsir dan Pak Ali Sadikin di  Makkah, malah dia  menyiapkan segala sesuatunya. Hanya turut omong-omong  sedikit dengan Ali  Sadikin, tapi sejak itu rasa sentimennya menjadi  hilang.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih  banyak lagi yang ia tuliskan tentang Ali Sadikin dalam  surat-suratnya  itu. Menikmati bagaimana runtut dan mengalirnya A.M.  Fatwa  menuliskannya, dalam hati saya bersyukur diberi kesempatan  membaca buku  ini. Olehnya, saya mengenal Ali Sadikin lebih dekat, yang  terungkap dari  surat-surat anak buah sekaligus pengagumnya. Dan  uniknya, surat-surat  itu justru dikerjakan ketika di balik jeruji bui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ciputat, 4 Oktober 2011&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;@eben ezer siadari&lt;a href="http://www.writingforlife.net/" rel="nofollow" target="_blank"&gt;&lt;br /&gt;www.writingforlife.net&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27078097-5904794667564963377?l=mysarimatondang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/feeds/5904794667564963377/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/2011/10/memangnya-duit-itu-berak.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27078097/posts/default/5904794667564963377'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27078097/posts/default/5904794667564963377'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/2011/10/memangnya-duit-itu-berak.html' title='Memangnya Duit Itu Berak?'/><author><name>Eben Ezer Siadari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17409901844739673818</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sDOvG1QwyNo/SEYuxWm2rnI/AAAAAAAAALk/Kai8v-INR70/S220/foto-abdi2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-1bg8j-ZQzeQ/TozilVxdMrI/AAAAAAAABGY/8Bv3cBlwuq0/s72-c/Fatwa.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27078097.post-7680719719632529247</id><published>2011-09-18T06:38:00.000-07:00</published><updated>2011-09-18T06:38:23.029-07:00</updated><title type='text'>Buku untuk Ayah</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-4nGb6BDRKUQ/TnX0Ks34lrI/AAAAAAAABGE/JNSrw7ZCWgs/s1600/Gula.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-4nGb6BDRKUQ/TnX0Ks34lrI/AAAAAAAABGE/JNSrw7ZCWgs/s320/Gula.jpg" width="204" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;Tanggalnya 16 Maret 1985. Hari itu Ir. Sarjadi  datang  memenuhi undangan sohib sekaligus koleganya, Sujai Kartasasmita yang  kala itu menjabat sekretaris Dewan Gula Indonesia. Kepada Sarjadi  kemudian ditawarkan sebuah tugas penting dan serius. Ia diminta untuk  menulis makalah yang komprehensif tentang industri pergulaan di  Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span&gt;Ini  permintaan yang wajar. Sarjadi adalah satu dari sedikit tokoh langka di  Indonesia. Lebih dari tiga dekade (1942-1975) ia menghabiskan karier di  linkungan industri gula. Dimulai dengan menjadi &lt;em&gt;Volontair Chemiker&lt;/em&gt; di Pabrik Gula (PG) Tasikmadu hingga pernah menjadi &lt;em&gt;Geemployeerde&lt;/em&gt;/Wakil  Administratur di perusahaan yang sama sebelum akhir kariernya menjadi  senior agronomist pada PT Agriconsult International di Jakarta. Karya  tulisnya tentang gula juga sudah banyak. Termasuk sebuah karyanya yang  paling awal, ditulis bersama Prof.Dr.Ir. Van Schuylenborgh dan dimuat di  majalah T&lt;em&gt;eknik Pertanian &lt;/em&gt;No 10, Oktober 1958. Judulnya: &lt;em&gt;Pemupukan pada Tanaman Tebu.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span&gt;Sarjadi menyanggupi permintaan itu, walau pun usianya sudah 65 tahun kala itu. &lt;span&gt; &lt;/span&gt;Dan usia yang sudah lansia itu ternyata tak membuatnya lamban mengejar&amp;nbsp; tenggat/&lt;em&gt;deadline&lt;/em&gt;.  Ia merampungkan tulisannya pada 24 Juni 1985 –yang berarti kurang lebih  hanya tiga bulan ia butuhkan menyelesaikannya. Sangat lengkap yang ia  susun itu: dimulai dengan &lt;em&gt;Pendahuluan&lt;/em&gt; yang pendek, lalu uraian yang cukup panjang tentang &lt;em&gt;Sejarah Singkat Perindustrian Gula di Jawa&lt;/em&gt; –meliputi &lt;em&gt;Zaman VOC, Zaman Cultuurstelsel, Zaman Industri Gula Bebas, Zaman Pendudukan Tentara Jepang&lt;/em&gt; hingga ke &lt;em&gt;Zaman Tebu Rakyat Intensifikasi.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span&gt;Di bagian lain ia juga mengulas tentang &lt;em&gt;Situasi Gula di Jawa Sesudah 10 Tahun Dilaksanakannya Inpers No 9 Tahun 1975&lt;/em&gt;, dan &lt;em&gt;Usaha  Perbaikan Demi Kelestarian Perindustrian Gula di Jawa: Bidang Budidaya  Tebu Milik Rakyat dan Industri Gula serta Pabrik-pabrik Gula&lt;/em&gt;. Satu lagi tulisan yang berjudul &lt;em&gt;Teknik Budidaya Tebu di Pulau Jawa&lt;/em&gt;, ia ikutkan pula sebagai apendiks, yang khusus dibuat atas permintaan R. Waluyo Pringgokusumo, &lt;span&gt; &lt;/span&gt;direktur produksi PTP XV-XVI di Surakarta ketika itu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span&gt;“Satu-satunya motif yang mendorong/menjiwai seluruh isi tulisan ini  adalah tidak lain dan tidak bukan agar didapat suatu gambaran yang jelas  mengenai perindustrian gula kita, di Pulau Jawa khususnya….” kata  Sarjadi dalam pengantar tulisannya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNoSpacing" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNoSpacing" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span&gt;  Pada tanggal 5 September 2011 lalu, saya menemukan tulisan Sarjadi itu  di salah satu lapak pedagang buku loak di lantai II Proyek Senen,  Jakarta. Tulisan itu sudah tidak berbentuk makalah lagi melainkan  sebagai sebuah buku. Judulnya cukup antik, tak mengikuti judul yang umum  untuk sebuah buku populer di zaman sekarang ini: &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNoSpacing" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;Manuskrip&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNoSpacing" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;Ir. Sarjadi Soelardi Hardjosoepoetro&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNoSpacing" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;(1922-1988)&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNoSpacing" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;Gula&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNoSpacing" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;Tulisan Jujur Seorang Abdi Negara dalam Keprihatinan dan Harapan tentang Usaha Menyelamatkan Industri Gula di Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNoSpacing" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span&gt;Tetapi  bukan hanya judul antik itu saja yang membuat saya tertarik untuk  memiliki buku ini, membacanya dan bahkan kemudian menuliskan kesan  tentangnya. Melainkan terutama oleh sejarah penerbitan makalah  (manuskrip) ini menjadi buku yang tidak kalah unik.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span&gt;Naskah  yang sudah rampung pada tahun 1985 ini diterbitkan menjadi buku pada  tahun 2008 yang berarti 23 tahun kemudian. Dan yang mengupayakan  penerbitannya adalah seseorang yang di masa pemerintahan Presiden  Soesilo Bambang Yudhoyono dewasa ini cukup populer namanya, yakni&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Heru Lelono. Tahu kan siapa dia? Beliau adalah salah seorang staf khusus SBY.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span&gt;Apa  yang menyebabkan Heru Lelono tertarik menerbitkan naskah yang walau pun  penting tetapi –berdasarkan kalkulasi awam saja –pastilah tidak akan  sukses secara komersial ini? Tidak sulit mencari jawabannya. Dengan  membaca &lt;em&gt;Kata Pengantar&lt;/em&gt; &lt;em&gt;Pemrakarsa Penerbitan&lt;/em&gt; pada buku  ini, kita akan tahu bahwa Heru Lelono adalah anak bungsu dari Sarjadi,  tokoh yang menulis manuskrip yang kemudian dibukukan ini. Menerbitkan  buku ini, bagi Heru Lelono, adalah bagian dari penghormatan sekaligus  kekagumannya pada ayahandanya, yang meninggal setelah menjalani operasi  jantung pada tahun 1988 dan si anak bungsu itu tidak sempat  menungguinya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span&gt;Heru  Lelono tidak bisa lupa sebuah peristiwa pada hari-hari menjelang  ayahnya menjalani operasi jantung. Kala itu Pemerintah RI menawarkan  bantuan agar operasi dilakukan di luar negeri tetapi ayahnya menolak.  Apa pasal? Jawaban sang ayah membuat Heru Lelono terhenyak tetapi tambah  mengagumi sang ayah. “Republik ini merdeka oleh perjuangan anak bangsa  sendiri, walau harus mengorbankan jiwa dan raga. Oleh karenanya, saya  percaya bahwa dokter-dokter negeri ini mampu mengobati dan mengoperasi  saya. Sulit mana berjuang untuk mencapai kemerdekaan bangsa, dibanding  hanya mengobati Sarjadi?” Begitulah jawaban Sarjadi yang membuat Heru  Lelono bangga.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span&gt;Kekaguman  dan kecintaan itulah yang tampaknya mendorong Heru Lelono mengabadikan  karya ayahnya dalam bentuk buku walau pun ia sadari bahwa ayahnya itu  sangat mungkin “bukan seseorang yang paling pintar, ataupun paling  benar.” Yang ingin ia sampaikan dan tunjukkan lewat buku ini adalah  “semangat pengabdiannya kepada negara sejak muda sampai akhir hayatnya  yang penuh perjuangan hidup, sudah sepatutnya menjadi contoh paling  tidak bagi saya dan keluarga.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span&gt;Lagipula,  menulis buku bukan hanyalah perkara kemampuan dan kesempatan. Tetapi  yang jauh lebih penting adalah keberanian. Dan itu satu alasan lagi bagi  Heru Lelono untuk menghormati sang ayah. “Keberaniannya menulis dan  mempublikasikan adalah sebuah sikap tanggung jawab atas segala gagasan  yang dilemparnya. Teori yang diungkapkannya mungkin dianggap kuno, namun  tujuannya sungguh menembus ruang dan waktu. Seperti kata bijak, tidak  aka nada hari ini tanpa ada masa lalu.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNoSpacing" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span&gt; ***&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span&gt;Dalam berbagai kesempatan sebagai &lt;em&gt;co-writer&lt;/em&gt;  untuk penulisan otobiografi, biografi, memoar dan buku bergenre  sejenis, pertanyaan yang tak pernah saya lewatkan untuk dilontarkan  adalah apa tujuan dituliskannya biografi atau memoar yang sedang kami  rancang itu. Dan salah satu alasan mengapa saya menyenangi pekerjaan ini  ialah karena selalu saja kami mendapatkan beraneka alasan yang  kesemuanya luhur dan mulia di balik buku-buku yang kami tulis itu. Walau  ada benang merah yang sama, tetapi dari satu buku ke buku lain selalu  kami temukan alasan yang unik, yang orisinil, yang sangat berharga untuk  selalu menjadi pijakan dalam mengukir kata demi kata.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span&gt;Dan  ketika membaca buku karya Sarjadi yang diterbitkan oleh putra bungsunya  itu, lagi-lagi di hati saya tersembul rasa senang. Saya bukan hanya  mendapati satu lagi alasan yang luhur untuk menerbitkan buku. Tetapi  juga menemukan satu lagi modus yang unik sekaligus patut ditiru: yakni  menerbitkan karya ayah sendiri sebagai wujud penghormatan kepadanya  sekaligus mengabadikan karya itu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span&gt;Ciputat, 18 September 2011&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span&gt;© eben ezer siadari&lt;br /&gt;&lt;a href="http://writingforlife.net/"&gt;www.writingforlife.net&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27078097-7680719719632529247?l=mysarimatondang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/feeds/7680719719632529247/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/2011/09/buku-untuk-ayah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27078097/posts/default/7680719719632529247'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27078097/posts/default/7680719719632529247'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/2011/09/buku-untuk-ayah.html' title='Buku untuk Ayah'/><author><name>Eben Ezer Siadari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17409901844739673818</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sDOvG1QwyNo/SEYuxWm2rnI/AAAAAAAAALk/Kai8v-INR70/S220/foto-abdi2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-4nGb6BDRKUQ/TnX0Ks34lrI/AAAAAAAABGE/JNSrw7ZCWgs/s72-c/Gula.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27078097.post-3330899313159060678</id><published>2011-08-20T21:22:00.000-07:00</published><updated>2011-08-20T21:22:48.598-07:00</updated><title type='text'>Masih Ada Satu Alasan untuk Bersyukur setelah 66 Tahun Merdeka</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-gMkCfBOJiPA/TlCHtaNJinI/AAAAAAAABGA/shczeFDT4Xs/s1600/bendera.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="238" src="http://1.bp.blogspot.com/-gMkCfBOJiPA/TlCHtaNJinI/AAAAAAAABGA/shczeFDT4Xs/s320/bendera.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Ketika  beli kopi di warung di dekat rumah, bahasa apakah yang kita  pakai?  Apabila kita dari terminal menuju pulang,  kata-kata dalam  bahasa apakah  yang kita gunakan dalam berbicang dengan  Bang Ojek?&lt;br /&gt;Ternyata  kalau ada kota di Tanah Air ini  yang bisa disebut kota yang   benar-benar Indonesia — dimana Bahasa   Indonesia dijadikan alat   komunikasi yang umum di luar perbincangan  formal —  jumlahnya cuma   dua. Yakni kota Jakarta dan Medan. Ini bukan  kata saya, melainkan   menurut   Bennedict R. Anderson yang menurunkan  studinya dengan judul &lt;em&gt;The Languages of Indonesian Politics&lt;/em&gt;, pada majalah &lt;em&gt;Indonesia&lt;/em&gt;, April 1966. Katanya,&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;em&gt;“…   only in Djakarta and Medan among the larger  Indonesian cities is the   Indonesian language the normal vehicle of  communication outside official   channels.”&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;&lt;/blockquote&gt;Tetapi itu  studi  41 tahun lalu. Keadaan sekarang mungkin  sudah banyak  berubah. Di  kampung kami, di Sarimatondang, misalnya,  anak-anak dan  para remaja  sudah makin lazim menggunakan Bahasa Indonesia  dalam  berbincang sesama  mereka. Televisi bahkan dengan cepat telah   mengajarkan  dialek  perkotaan sehingga Bahasa Indonesia mereka   kadang-kadang sudah &lt;em&gt;advanced&lt;/em&gt;.  Kita tak perlu heran bila di  kampung kami  sekali dua  sudah muncul  kalimat-kalimat yang diakhiri  dengan kata-kata  dong, sih, mah, kek dan  lain-lain, disamping ‘Bah!’  dan ‘coy’  yang khas  Sumatera Utara.  Sinetron dan para pelawak di  layar kaca pasti lah  menyumbang secara  signifikan dalam hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang   Bule yang pertama kali mengenal Indonesia sering  tercengang-cengang   mendapati bahwa Bahasa Indonesia dapat cukup  efektif digunakan dimana   saja di Nusantara ini, yang notabene terdiri  dari ribuan pulau, ratusan   bahasa dan etnis. Bahkan seandainya pun  Anderson benar, bahwa hanya di   Jakarta dan Medan orang-orang secara  umum berbahasa Indonesia dalam   berkomunikasi sehari-hari, itu bukan  berarti bahwa Bahasa Indonesia   masih terbatas penggunaannya. Justru  sebaliknya. Bahasa Indonesia   ternyata cukup dimengerti dan bisa  digunakan oleh siapa saja sampai ke   bagian pedalaman negeri kita.  Bahasa itu diakui sangat berguna sebagai  &lt;em&gt;exit strategy&lt;/em&gt;  manakala kita menemukan kebuntuan komunikasi ketika berada  di tempat   tertentu dimana bahasa etnis masih menjadi bahasa pergaulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Werner   Jakub Stuber, seorang berkebangsaan Jerman yang pernah mengajar  dan   tinggal di Indonesia, memberikan kesaksian yang menarik tentang  betapa   berharganya Bahasa Indonesia. Dalam buku &lt;em&gt;Amatan para Ahli Jerman tentang Indonesia&lt;/em&gt;  (Pustaka Sinar Harapan, 1992, penyunting: Berthold Damshauser dan    Ramdhan K.H) Stuber menuliskan kesan-kesannya yang mendalam tentang    Indonesia dengan judul &lt;em&gt;Hari-hari Katulistiwa: Buku Catatan Jakarta&lt;/em&gt;. Diantaranya ia menulis begini:&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;em&gt;Praktek   dan pentingnya Bahasa Indonesia sudah saya  alami di Sumatera Utara:   remaja dari dua suku bangsa yang bertetangga,  Batak Simalungun dan Batak   Toba, yang termasuk dalam satu rumpun  bangsa, hanya bisa berkomunikasi   dalam bahasa Indonesia.&lt;/em&gt;&lt;/blockquote&gt;Telah   demikian umumnya orang menggunakan Bahasa Indonesia sebagai alat    percakapan, menyebabkan pula ada anggapan mempelajarinya jauh lebih    mudah dibandingkan dengan mempelajari bahasa suku. Sebagian sebabnya     karena bahasa suku dipandang lebih rumit, tetapi tak kalah pentingnya    adalah karena untuk mempelajari Bahasa Indonesia, orang bisa belajar    dari siapa dan dimana saja di negeri ini. Beda dengan belajar bahasa    suku. Kita mungkin harus berada di tempat-tempat dimana penduduk suku    tersebut berada.&lt;br /&gt;Dulu beberapa  kali saya pernah menghadiri  acara perkenalan  diplomat  asing yang baru  ditempatkan di Indonesia.  Umumnya mereka berbahasa  Indonesia dengan  fasih dan akurat. Saya sering  dibingungkan oleh  jawaban mereka atas  pertanyaan dimana mereka belajar  Bahasa Indonesia.  Sebagian besar  mereka berkata,  bahwa mereka memilih  dengan sengaja   kota Yogyakarta  sebagai tempat mempelajarinya. “Tidak  salah? Kok  belajar Bahasa  Indonesia di kota yang berbahasa Jawa?,” tanya  saya.  Ternyata memang  ada penjelasan yang masuk akal. Mereka menganggap   Bahasa Indonesia   mudah dipelajari dimana saja di seantero Indonesia.   Karena itu mereka  memilih belajar bahasa Indonesia di Yogya, karena   dengan begitu, mereka  juga sekalian belajar Bahasa Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita   Franz Magnis Suseno, pastur dan teolog kelahiran Jerman yang  kini  sudah  jadi warga negara Indonesia, dapat memperjelas hal itu.   Rohaniawan  kelahiran Eckersdorf (sekarang masuk ke dalam wilayah   Polandia)  itu  pertama kali datang ke Indonesia pada tahun 1961. Selama   13 bulan  pertama ia mempelajari bahasa Jawa dimana empat bulan   terakhir ia  lewatkan di Boro (Kulon Progo). Dan bukan tak ada alasan ia   mempelajari  bahasa Jawa terlebih dahulu. Kata dia,&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;em&gt;Kalau   ada yang baru datang dari luar negeri seperti  saya dianjurkan untuk   terlebih dahulu belajar Bahasa Jawa.  Pertimbangannya: bahwa bahasa   Indonesia akan dipelajari dengan  sendirinya, sedangkan kalau sudah bisa   berbahasa Indonesia, malas  untuk belajar bahasa daerah yang begitu   rumit.&lt;/em&gt;  (Franz Magnis Suseno, &lt;em&gt;Kenangan Kembali Sesudah  30 Tahun di Indonesia&lt;/em&gt; dalam &lt;em&gt;Amatan para Ahli Jerman tentang Indonesia&lt;/em&gt;,  halaman 116).&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; ***&lt;/blockquote&gt;Semua  kesaksian ini pastilah jadi alasan yang baik untuk tak pernah melupakan  demikian berartinya &lt;em&gt;Sumpah Pemuda&lt;/em&gt;.   Tetapi saya  tahu, kata-kata seperti ini sudah terdengar klise di  zaman  sekarang.  Juga tak ada nilai praktisnya. Apalagi bila berbicara  dengan  anak-anak  –yang tentu berkaca dari kita juga– yang seringkali   memandang pelajaran  Bahasa Indonesia sebagai pelajaran sekunder.    Terutama bila  dibandingkan dengan Matematika mau pun Bahasa Inggris.   Mendapatkan nilai  sembilan dalam Bahasa Indonesia tak menghasilkan &lt;span&gt;ketercengangan&lt;/span&gt; apa-apa dibandingkan mendapat nilai serupa di dua pelajaran yang disebut belakangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering   saya mencoba membuat perhitungan, apa kira-kira yang  menyebabkan   demikian ‘rendahnya’ penilaian terhadap Bahasa Indonesia  itu?  Tentu   banyak. Antara lain karena Bahasa Indonesia seakan-akan  kita anggap   sudah sebagai ‘bawaan lahir, ’ sehingga siapa saja pasti  bisa, dan   karena semua orang bisa, maka tak ada lagi keistimewaan  seseorang yang   bisa berbahasa demikian. Tetapi mungkin juga ada faktor   lain. Yakni  faktor kedangkalan pemahaman sejarah, yang menyebabkan   penghargaan  kepada Bahasa Indonesia jadi melempem. Untuk hal ini,   kenaifan saya  mungkin salah satu contohnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu  saya  bukan siswa yang cukup serius mempelajari sejarah, baik  tatkala  duduk di  Sekolah Dasar apalagi kala di Sekolah Lanjutan. Dan  karena itu  saya  sangat menyesal. Menyesal karena menganggap banyak    peristiwa-peristiwa sejarah yang sudah terjadi dengan sendirinya,    seperti air yang mengalir pasti ke tempat yang lebih rendah, seperti    matahari yang pasti akan terbit esok hari. Semua peristiwa sejarah itu   seolah berjalan dalam rangkaian logis, tahap demi tahap. Pemahaman   seperti ini terjadi karena dulu selalu  memaksakan diri untuk   mengingat-ingat waktu (atau tanggal) bersejarah  demi kepentingan   ulangan di sekolah, sehingga lupa pada substansi dan  detail   peristiwa-peristiwanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal  rangkaian  sejarah itu  tak selalu begitu. Ada belokan-belokan  dalam   perjalanannya. Dan itu lah, yang dalam hemat saya, apabila  dipahami   dapat menimbulkan apresiasi yang terus segar terhadap  hasil-hasil dari   sejarah.&amp;nbsp;  Termasuk ke  dalamnya, perihal Bahasa  Indonesia  yang  didaulat menjadi bahasa  persatuan pada peristiwa  Sumpah Pemuda, 28  Oktober 83 tahun lalu.  Ia menjadi bahasa persatuan  bukan sebagai  hadiah, jatuh dari langit atau  boleh&lt;em&gt; nemu&lt;/em&gt; karena wahyu. Tetapi ia adalah bahasa yang ikut berjuang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu  saya kira peristiwa Sumpah Pemuda itu berlangsung  mulus-mulus  saja.  Semacam kemeriahan organisasi-organisasi pemuda untuk  saling  berkumpul,  lalu berikrar untuk tiga hal yang sudah kita hafal  itu,  yakni Satu  Bangsa, Satu Tanah Air dan Satu Bahasa. Bila hal ini  ditanyakan kepada  anak-anak kita di rumah,  walau pun mereka yang telah  diberi pelajaran  tentang peristiwa itu di  sekolah, imajinasi mereka  tentang ini pun  mungkin tak terlalu berbeda. Dugaan saya mereka akan  membayangkan  peristiwa Sumpah Pemuda itu  tak lebih seperti karnaval,  atau pawai atau  upacara kebulatan tekad  seperti yang tampak di  televisi. Atau seperti  keramaian pada saat  kampanye. Bagi-bagi  selebaran, bagi-bagi kaos,  berkumpul di stadion atau  di lapangan. Lalu  berikrar.   Sudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin hanya sedikit  atau bahkan tak ada yang berusaha berimajinasi&amp;nbsp;  bagaimana sulitnya  proses merumuskan kebulatan tekad itu,  khususnya  tentang satu Bahasa.  Bahwa kendati sudah  diikrarkan pada 28 Oktober  1928, hingga 10 tahun  kemudian belum banyak  organisasi politik di  Tanah Air yang mengakuinya.  Beruntunglah kita punya Abu Hanifah – ia   adalah salah seorang pentolan  Angkatan 1928–  yang menuliskan potongan   biografi Amir Sjarifuddin di  majalah &lt;em&gt;Prisma&lt;/em&gt; No 8 1977 — dan  menceritakan dengan ringan  tapi penting tentang betapa beratnya  perjuangan menuju  pengakuan Bahasa  Indonesia sebagai bahasa persatuan  itu. Menurut beliau,  walau  organisasi-organisasi non-politis sudah  banyak memberi pengakuan   terhadap sumpah pemuda, partai politik masih  banyak yang enggan. Sebelas   tahun kemudian baru lah muncul pengakuan  resmi.&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;em&gt;…Dalam   Kongres Rakyat Indonesia, tahun 1939, GAPI  (sebuah federasi dari   partai-partai yang berdasarkan nasionalisme)  menerima secara resmi 3   putusan, yang sebelumnya telah diikrarkan  Angkatan 1928…. Benar-benar   satu hal yang mengherankan. Sebab ini  berarti kaum tua sampai tahun 1939   belum mengakui Sumpah Pemuda dan  hasil-hasil Kongres Pemuda. ….   Rupa-rupanya telah menjadi penyakit  kaum tua untuk tidak lekas-lekas   mengakui prestasi anak muda. Apalagi  kalau pemuda itu juga telah dewasa   dan membuldozer kebenaran yang  telah ada dalam masyarakat sendiri.&lt;/em&gt;  (Abu Hanifah, Revolusi Memakan Anak Sendiri: Tragedi Amir Sjarifudin dalam Prisma No 8, 1977)&lt;/blockquote&gt;Pada   saat yang sama,  dalam penggunaannya sehari-hari pun Bahasa  Indonesia   (kala itu masih berupa Bahasa Melayu)  masih harus berusaha  memenangkan   persaingan dengan Bahasa Belanda. Sudah lazim anggapan  kala itu bahwa   Bahasa Belanda berada pada posisi yang paling  prestisius, Bahasa Melayu   nomor dua dan Bahasa Daerah yang paling  bontot.&amp;nbsp; Belanda sendiri  sesungguhnya tidak rela menerima Bahasa  Indonesia.  Bukan karena semata  alasan politis, tetapi juga karena  mereka  menganggap Bahasa Belanda  lebih baik daripada Bahasa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada  tahun 1939, C.C. Berg, seorang  profesor berkebangsaan Belanda,   melontarkan pernyataan yang meragukan  Bahasa Indonesia, dalam pidatonya   memperingati berdirinya  Rechtshoge-school. Menyinggung tentang   keinginan agar Bahasa Indonesia  dijadikan bahasa persatuan, dan bukan   Bahasa Belanda, ia berkata, “….ada  alasan untuk mempertimbangkan dengan   teliti baik buruknya kedua bahasa  yang sedang memperebutkan  kemenangan  sebagai bahasa persatuan yaitu  bahasa Belanda dan Bahasa   Melayu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi perkiraan  profesor Berg ternyata salah. Bahasa Indonesia terus  menemukan jalannya  menjadi bahasa persatuan dan bahasa pergaulan.  Sebelas  tahun kemudian,  murid sang profesor yang sudah jadi profesor  pula,  yakni A.A. Foker,  ‘meluruskan’ pendapat gurunya dalam momen  hampir  serupa, yakni pada  dies natalis ke 10 Fakultas Sastra dan  Filsafat Balai  Perguruan Tinggi  Republik Indonesia. Pidatonya itu  sekaligus pidato  pengukuhannya  sebagai guru besar dalam ilmu  perbandingan bahasa-bahasa  Indonesia. Dan  Fokker menempatkan Bahasa  Indonesia di tempat mulia, dimana ia  seharusnya berada. Kata Fokker,&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;em&gt;“Bumi  berputar dan  zaman beredar. Sementara itu  sejarah berjalan terus  dengan langkah  raksasa. Untuk mempertimbangkan  baik buruknya bahasa  Belanda dan Melayu  dan memikirkan yang mana harus  dijadikan bahasa  persatuan adalah  membuang-buang waktu.&lt;/em&gt;  &lt;em&gt;Saya mengerti  bahwa di kalangan  bangsa saya (Bangsa Belanda, pen)  sendiri ada yang  menyesal, hatinya  sebagai diiris-iris dengan sembilu  melihat bahasanya  sendiri semakin  terdesak. Saya pun cinta kepada  bahasa saya sendiri,  tetapi saya insaf  juga bahwa negeri ini perlu  akan bahasa yang berurat  berakar di tanah  air, seperti hampir  tiap-tiap negeri lain di seluruh  dunia. Selama  perang keadaan telah  mulai berubah. Sejak negeri ini  mencapai  kemerdekaan penuh, maka  persaingan Bahasa Belanda dan Bahasa  Melayu  hilang, Bahasa Melayu  diangkat kedudukannya dengan resmi menjadi  Bahasa  Indonesia sedangkan  Bahasa Belanda turun dari tahta kerajaan.  Tentu saja  persaingan antara  kedua bahasa itu baru hilang ke arah luar,  ke arah  dalam masih  berjalan terus, akan tetapi yang mana akan  mendapat  kemenangan  terakhir, tidak usah disangsikan lagi. Bahasa  Indonesia sudah  tersurat  semenjak dahulu.”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;(A.A.  Foker,  Bahasa  Indonesia dan Bahasa Daerah, dalam  Bunga Rampai  Bahasa,  Sastra dan  Budaya, Achadiati Ikram (ed), Intermasa, 1988).&lt;/blockquote&gt;Tentu  Bahasa Indonesia tak sepi dari kelemahan. Salah satu kritik yang  sering  muncul adalah pada kebiasaan orang Indonesia dalam  penggunaannya. Orang  asing sering tak habis mengerti  menemukan  banyaknya inkonsistensi  penggunaan kata atau kalimat tertentu  dalam  Bahasa Indonesia. Rupanya  ini ada kaitannya dengan pengaruh budaya   feodal-kolonial. Misalnya,  kalau yang akan dipersilakan berbicara   adalah seorang pejabat, maka  kalimat yang dipergunakan adalah, “Pak Anu   berkenan maju ke depan  memberikan sepatah-dua patah kata.” Kalau kita   berurusan dengan  birokrasi, mungkin sapaan ‘Bapak’ yang kita ucapkan  tak  hanya karena ia  sudah bapak-bapak, tetapi juga ada unsur  ‘mengharapkan  sesuatu’ di  sana. Demikian juga si Bapak, mungkin akan  menyapa kita  sebagai  ‘Saudara’ (bukan Bapak) sebagai sinyal  menunjukkan bahwa si  Bapak lah  yang lebih berkuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stuber,  ahli Jerman yang  sudah dikutip sebelumnya,  menyampaikan  kritik semacam  itu, berbungkus   humor kering tetapi patut juga kita  dengar  lagi:&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;em&gt;Contoh-contoh  diberikan  oleh bentuk-bentuk sapaan  bahasa Indonesia yang pada mulanya   membingungkan saya: Saya menyapa  seorang pria yang lebih tua daripada   saya, yang bisa saja juga adalah  seorang ayah dengan Pak. Jika orang   yang sama itu seorang pengemudi  becak –jadi seseorang yang umumnya dalam   tingkat sosial dianggap  berada di bawah, khususnya kalau dibandingkan   dengan orang asing  ‘putih’, maka mungkin sekali ia akan heran mendengar   sapaan itu dan  menganggap saya sebagai orang yang tidak tahu siuasi.   Hasil akhirnya  lalu tarif becak yang khusus yaitu untuk orang baru. Yang    diharapkannya, ia disapa dengan Mas atau Bang.&lt;/em&gt;  (Werner   Jakub Stuber, Hari-hari Katulistiwa dalam Amatan para Ahli  Jerman   tentang Indonesia (Pustaka Sinar Harapan, Berthold Damshauser  dan   Ramdhan K.H (ed), 1992)&lt;/blockquote&gt;Semua   kritik ini masih relevan dari dulu hingga kini. Namun ini  sepatutnya  tidak menyurutkan apresiasi terhadap Bahasa Indonesia.   Tentu makin  tinggi lagi apresiasi itu apabila proses sejarahnya   diketahui. Tempo  hari saya mengutip pendapat Max Lane tentang ciri-ciri   khas sebuah  nasion dalam tulisan  &lt;span&gt;Tentang Pentingnya Otobiografi&lt;/span&gt;.    Ciri-ciri nasion menurut Lane, peneliti pada School of Languages and    Culture University of Sydney itu, adalah  komunitas yang stabil,    terbentuk melalui proses sejarah yang berdiri diatas adanya sebuah    bahasa bersama, sebuah wilayah bersama dengan sebuah kehidupan ekonomi    yang berjalan bersama-sama dengan sifat-sifat psikologis (watak    kepribadian) yang tercermin dalam sebuah kebudayaan yang dijalankan    bersama-sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ciri-ciri  itu, menurut Lane,  Indonesia belumlah sebuah bangsa  yang sudah selesai.  Indonesia masih  akan menjalani sejarahnya sendiri  untuk mematangkan  masing-masing  ciri-ciri nasion tersebut.  Elemen-elemen nasion, yakni  adanya wilayah  bersama, kehidupan ekonomi  bersama dan kepribadian dan  budaya bersama,  masih akan bergerak  dinamis di masa depan. Karena itu,  di titik inilah  Bahasa Indonesia   menempati posisi yang sangat penting.  Ia telah  benar-benar  memperlihatkan dirinya sebagai elemen paling  mantap dan  mapan untuk  mewujudkan Indonesia sebagai nasion. Bahasa itu  telah menjadi tuan   rumah di negerinya sendiri.&lt;br /&gt;Maka  diantara makin sinisnya banyak diantara kita merenungkan arti   kemerdekaan, barangkali salah satu yang dapat kita syukuri dalam 66   tahun merdeka ini adalah merdeka berbahasa Indonesia dimana saja pun   kita berada di Nusantara. Itu sebuah penemuan penting. Sebuah berkat   besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dirgahayu Indonesia.&lt;br /&gt;@ eben ezer siadari&lt;br /&gt;&lt;a href="http://writingforlife.net/"&gt;writing for life. writing about life&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar bacaan:&lt;br /&gt;1. &lt;span&gt;Amatan para Ahli Jerman tentang Indonesia&lt;/span&gt;, Berthold Damshauer dan Ramadhan KH (penyunting), Pustaka Sinar Harapan, 1992.&lt;br /&gt;2. &lt;span&gt;Bunga Rampai Bahasa, Sastra dan Budaya&lt;/span&gt;, Achadiati Ikram (penyunting), Intermasa, 1988&lt;br /&gt;3. &lt;span&gt;Manusia dalam Kemelut Sejarah&lt;/span&gt;, Taufik Abdullah, Aswab Mahasin, Daniel Dhakidae (penyunting), LP3ES, 1978&lt;br /&gt;4. &lt;span&gt;The Etnic Profile of Djakarta&lt;/span&gt;, Lance Castles, Indonesia, vol 1 April 1967, Cornell University, 1967&lt;br /&gt;5. &lt;span&gt;The Languages of Indonesian Politics&lt;/span&gt;, B.R. Anderson, Indonesia, vol 1 April 1966, Cornell University, 1966&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27078097-3330899313159060678?l=mysarimatondang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/feeds/3330899313159060678/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/2011/08/masih-ada-satu-alasan-untuk-bersyukur.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27078097/posts/default/3330899313159060678'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27078097/posts/default/3330899313159060678'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/2011/08/masih-ada-satu-alasan-untuk-bersyukur.html' title='Masih Ada Satu Alasan untuk Bersyukur setelah 66 Tahun Merdeka'/><author><name>Eben Ezer Siadari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17409901844739673818</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sDOvG1QwyNo/SEYuxWm2rnI/AAAAAAAAALk/Kai8v-INR70/S220/foto-abdi2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-gMkCfBOJiPA/TlCHtaNJinI/AAAAAAAABGA/shczeFDT4Xs/s72-c/bendera.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27078097.post-9027314104249859309</id><published>2011-07-27T05:27:00.000-07:00</published><updated>2011-07-28T17:44:39.832-07:00</updated><title type='text'>Merayakan Ulang Tahun dengan Menulis tentang Sri Mulyani</title><content type='html'>&lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-G6DNIFXSZc4/TjADZFx2bFI/AAAAAAAABF8/VKMktpKzbu8/s1600/sri-mulyani.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-G6DNIFXSZc4/TjADZFx2bFI/AAAAAAAABF8/VKMktpKzbu8/s320/sri-mulyani.jpg" width="232" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calisto MT&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;Baru-baru ini Sri Mulyani Indrawati diwawancarai oleh presenter televisi senior kenamaan AS, Charlie Rose, untuk kemudian ditayangkan di Bloomberg TV, 5 Juli lalu. Itu adalah sebuah wawancara yang menurut saya sangat berbobot. &amp;nbsp;Terpantul dari tanya jawab itu tentang siapa perempuan Indonesia yang terkenal cerdas dan berintegritas itu, bukan hanya dari wawasan dan pengetahuan yang berhasil digali dari pertanyaan-pertanyaan santun dan tajam, tapi juga dari pilihan kata mantan menteri keuangan kita dalam menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya. Ia bisa diplomatis di satu waktu. Tapi bisa lugas dan tanpa basa-basi manakala diperlukan. Sangat disayangkan wawancara itu tak cukup bergaung luas di Tanah Air. Mungkin tertutup oleh kasus-kasus berskala raksasa yang mengguncang para petinggi partai dan elit berkuasa.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calisto MT&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;Salah satu dialog yang mengesankan dan mengharukan dalam wawancara itu saya kutipkan berikut ini:&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calisto MT&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Charlie Rose (CR): Anda berani keluar dari sistem sehingga harus berkonflik dengan salah satu pendukung presiden yang terbesar dan terkaya. Benarkah?&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calisto MT&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Sri Mulyani Indrawati (SMI)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calisto MT&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;: (mengangguk) Benar. &lt;i&gt;Well&lt;/i&gt;, perjuangan melawan korupsi jelas tidak berakhir menyenangkan untuk semua orang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calisto MT&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;CR: Kekuatan apa yang Anda miliki sehingga berani melakukan itu?&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calisto MT&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;SMI&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calisto MT&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;: Cinta yang besar pada negara saya. Dan keyakinan bahwa kita bisa melakukan sesuatu yang baik untuk negara kita.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calisto MT&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;CR: Tapi itu seperti pertarungan antara David vs Goliath?&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calisto MT&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;b&gt;SMI:&lt;/b&gt; Tidak juga. Ide (tentang melawan korupsi) sangat kuat. Masyarakat secara diam-diam atau terang-terangan, juga mendukung ide membangun Indonesia yang bersih. Kita harus berjuang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calisto MT&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Saya terutama sangat terkesan pada jawaban SMI tentang sumber kekuatan dan keberaniannya mengambil sikap: “&lt;i&gt;Cinta yang besar kepada negara saya.&lt;/i&gt;” &amp;nbsp;Betapa abstraknya sesungguhnya cinta kepada negara itu. Betapa sulitnya membayangkannya. Jika seorang nenek –seperti yang pernah kita dengar lewat berbagai saluran berita –mencuri beberapa biji buah mangga demi memenuhi permintaan cucunya, jelaslah kita bisa membayangkan seberapa besar cinta sang nenek kepada cucunya. Cinta itu riel. Nyata: rela bertindak kriminal demi cinta pada cucu. Sangat jelas untuk siapa dia berbuat sesuatu. Sama halnya dengan seorang pemuda yang mungkin harus&amp;nbsp; terlibat perkelahian hingga membuatnya kena bogem hingga dirawat di rumah sakit, demi membela kekasihnya yang disatroni para pencopet. Itu pun adalah sebentuk cinta yang terang benderang. Dapat terasakan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calisto MT&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Akan halnya cinta pada negara, bagaimana kita bisa menjelaskannya? Dari cerita-cerita kepahlawanan di masa lampau kita memang pernah mendengar Bung Tomo yang berani memanjat sebuah hotel di Surabaya lalu menurunkan bendera Belanda dan merobek warna birunya. Kita mengatakan keberaniannya itu pastilah didorong oleh cinta pada negara. Namun, di zaman sekarang, apakah masih ada yang percaya pada kisah kepahlawanan semacam itu, yang oleh anak-anak muda sudah sering lebih dianggap sebagai dongeng daripada kisah nyata? Pernah juga &amp;nbsp;kita membaca tentang Dr. Tjipto Mangunkusumo yang nekad mundur dari kedudukan nyaman sebagai dokter Pemerintah (Belanda) karena dilarang menuliskan pikiran-pikirannya di koran-koran. Kita pun dulu di bangku sekolah diajarkan bahwa cinta kepada bangsanya-lah yang mendorong Tjipto berani berbuat begitu, selalu nyentrik dan &lt;i&gt;keukeuh&lt;/i&gt; berpakaian petani yang kumal dan dekil, seraya selalu berkata di hadapan para teman dan guru Belanda-nya, “Aku anak rakyat, anak si Kromo.” Tapi alih-alih mengagumi dokter yang begitu, anak-anak kita zaman sekarang jangan-jangan justru menganggap ketinggalan zaman model dokter berkarakter yang demikian dan bakal tak dilirik sebagai calon menantu oleh para mertua.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calisto MT&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Memang masih banyak juga orang yang sering berbicara tentang cinta pada negara, cinta pada bangsa. Yakni para politisi, petinggi negara, pejabat, perwira, para pamong praja, wakil rakyat dan sejenisnya. Namun, dengan semakin cerdasnya kita membaca bahasa tubuh mereka, dengan makin gencarnya televisi menayangkan polah dan keseharian mereka, tersadarlah kita, bahwa makin sering mereka mengatakan cinta pada negara, makin jelas bagi kita mereka bukan bicara dari lubuk hati tulus mereka. Makin berteriak mereka berkata tentang cinta negara, makin jauh kita rasakan jarak antara kesungguhan mulut dari pikiran dan tindakan mereka.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calisto MT&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Tetapi ketika dalam wawancara tersebut Sri Mulyani berkata bahwa sumber keberaniannya keluar dari sistem yang korup adalah karena dorongan cintanya kepada negaranya, tak urung saya terkesima. Kerongkongan saya tercekat. Dan saya bisa meyakinkan Anda, bahwa saya tidak sedang bersikap &lt;i&gt;lebay&lt;/i&gt; ketika mengatakan ini. Mata saya memang berkaca-kaca membaca bagian yang mengharukan itu. Saya tidak menonton langsung wawancara tersebut, saya hanya membaca transkrip wawancara yang disajikan oleh &lt;a href="http://www.srimulyani.net/"&gt;www.srimulyani.net&lt;/a&gt;. Tetapi justru karena dengan seksama membaca baris demi baris wawancara tersebut, makin jelas bagi saya bahwa cinta pada negara yang disebut Sri Mulyani sebagai sumber kekuatannya, bukan lagi pernyataan klise, bukan pernyataan abstrak, bukan kata-kata berbunga-bunga yang cepat layu esok hari.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calisto MT&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Dari wawancara tersebut tampak sungguh, cinta Sri Mulyani kepada negara seperti yang diucapkannya itu datang dari sikap rasional dan realistis, bukan cinta melankolis karena dibuai perasaan sesaat, melainkan karena datang dari pengenalan yang jelas dan intens akan kekuatan dan kelemahan negaranya. Dan diatas semua itu, cinta itu datang dari kesadarannya bahwa negaranya itu adalah negara yang kuat, yang masih dapat ditolong, meskipun, tentu, dengan perjuangan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calisto MT&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Dalam pikiran-pikiran yang dikemukakannya sepanjang wawancara tersebut, makin nyata bagi saya bagaimana sesungguhnya makna cinta kepada negara di zaman seperti sekarang. Yakni cinta yang bukan lagi dalam bentuk pencitraan agar tampak santun dan bertatakrama, melainkan pada pengenalan yang sungguh-sungguh pada apa yang kita cintai itu, sehingga dengan segala kebaikan dan keburukan negaranya, seseorang itu dapat mencintainya dengan teguh. Tak terombang-ambing dan tak hanya mau berpihak kemana angin berembus. Sri Mulyani jelas sekali mengakrabi Indonesia dengan begitu pekat, seperti para pendahulu negara ini mengenal dan memproyeksikannya, sebagaimana ia mengatakannya kepada Charlie Rose yang mewawancarainya:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;CR: Bagaimana Indonesia memelihara toleransi, sebagai negara mayoritas muslim?&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;SMI&lt;/b&gt;: Secara konstitusional hal itu sudah sejak lama dibahas, bahkan sejak para bapak bangsa menyusun pembukaan Undang-Undang Dasar kami. Sudah disepakati, dan ini telah&amp;nbsp; menjadi komitmen bangsa, sebuah kontrak sosial, bahwa kami menghormati semua agama dan kepercayaan. Tak ada secara eksplisit menyebut soal Islam. Jauh sebelumnya, bapak pendiri bangsa kami pun sesudah dihadapkan pada persoalan ini. Apakah harus mencantumkan hukum syariah (di konstitusi) atau menjadi negara majemuk yang menghormati semua agama dan kepercayaan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Saya rasa saat ini, isu yang muncul di Indonesia yang semakin terbuka dan demokratis, dimana masyarakat bebas mengeluarkan pendapat, adalah soal penghormatan dan penegakan hukum. Karena demokrasi tanpa penegakan hukum menjadi anarki, mayoritas akan menindas minoritas. Pertanyaannya, apakah masyarakat Indonesia siap menelan pil pahit jika kembali memperdebatkan persoalan itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Namun jika anda mengikuti secara lebih dekat tentang apa yang terjadi di masyarakat Indonesia sekarang, saya pikir mayoritas rakyat merasa bahwa kesepakatan yang telah diambil oleh para pendiri bangsa kami adalah yang terbaik&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;CR : Dan anda setuju dengan hal itu?&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 0.5in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;SMI:&lt;/b&gt; Tentu saja.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 0.5in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calisto MT&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Tak perlu saya kutip berpanjang-panjang apa saja yang dikatakan Sri Mulyani dalam wawancara tersebut yang menggambarkan betapa dia mengenali Indonesia demikian mendalam dan akrab, bukan hanya dalam konteks Indonesia sebagai negara tempat dia lahir, tetapi juga Indonesia di tengah dunia. Wawancara itu berlangsung dalam bahasa yang mudah dimengerti dan pewawancaranya pun cukup rendah hati menempatkan diri sebagai pendengar yang baik yang ingin mendudukkan persoalan sebagaimana mestinya. ( &lt;i&gt;Bukan seperti pewawancara di berbagai talkshow yang banyak kita kenal, lebih sering ingin memojokkan dan mengadu-domba narasumbernya. Sekali lagi saya menganjurkan kita semua membaca wawancara tersebut&lt;/i&gt;). Sri Mulyani tak hanya bicara tentang apa yang ada di pikirannya tetapi juga apa yang telah ia lakukan. Baik sebagai seorang tokoh (pernah menjadi Menteri Keuangan) mau pun sebagai rakyat biasa, yang kebetulan pernah menjadi Menteri Keuangan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calisto MT&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;CR: Saya dengar cerita menarik tentang Anda, Anda bicara dengan sejumlah pejabat yang menyekolahkan anaknya ke luar negeri, bahwa Anda tidak mampu – dengan pendapatan Anda saat itu – menyekolahkan anak Anda ke luar negeri. Secara tidak langsung Anda mau mengatakan bahwa telah terjadi praktek korupsi. Apakah cerita ini betul?&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calisto MT&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;SMI&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calisto MT&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;: Ya. Ketika pertama kali saya menerima tugas sebagai Menteri Keuangan, satu hal yang saya katakan pada kolega dan staf saya adalah saya tidak menerima gaji besar, dan saya tak akan membiarkan diri saya “dipermalukan” oleh masyarakat karena saya bekerja di satu lembaga yang basah, yaitu kementerian keuangan. Itu sebabnya saya melakukan pembersihan, saya harus punya martabat, dan posisi yang terhormat. Saya pikir membentuk sebuah lembaga yang dihormati dan dipercaya oleh rakyat sangatlah penting.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calisto MT&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calisto MT&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Hari ini 27 Juli 2011. Umur saya persis 45 tahun ketika menuliskan ini. Sejak kemarin saya mencari-cari sesuatu untuk ditulis pada hari jadi saya yang tentu tak terlalu istimewa bagi banyak orang kecuali bagi diri saya, istri dan putri semata wayang di rumah. Namun sepanjang pekan ini bergema terus wawancara dengan Sri Mulyani ini di benak, terutama bagian ketika ia berbicara tentang ‘cinta pada negaranya’. Dan itulah yang mendesak-desak saya untuk duduk di belakang notebook dan menuliskan ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calisto MT&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Adalah sangat mengesankan &amp;nbsp;ketika Sri Mulyani mengemukakan ‘cinta pada negara’ yang menjadi sumber keberaniannya bertindak. Ini sebuah jawaban kejutan tetapi juga jawaban yang sangat orisinil. Saya hampir bisa memastikan, bila sebagian besar kita diberikan pertanyaan semacam itu :&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calisto MT&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calisto MT&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;“Kekuatan apa yang Anda miliki sehingga berani melakukan itu?”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calisto MT&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt; pasti akan membawa-bawa nama Tuhan lalu menyerahkan semua tanggung jawab kepada Dia, dan kita hanya budak dan pionNya. Tapi Sri Mulyani tidak. Ia mengatakan cinta-lah yang membawanya kepada keberanian itu. Dan ia percaya, ia tidak sendirian sebab seperti kita juga tahu, kita semua sebetulnya punya bekal yang sama seperti Sri Mulyani, yang berani berkata,” Yang saya pegang &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;adalah nilai yang diajarkan orang tua saya, yaitu melakukan yang terbaik untuk negara. Dan saya rasa nilai ini juga dianut oleh banyak orang Indonesia.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calisto MT&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Dulu ada seorang teolog berkata, bahwa cinta kepada Tuhan itu sebetulnya sangat abstrak. Bahkan bisa jadi lebih abstrak daripada cinta kepada negara. Maka akan sulit mengatakan mencintai Tuhan bila tidak bisa mencintai negara. Barangkali itulah sebabnya Sri Mulyani tidak sepatah kata pun berkata tentang Tuhan ketika ditanyai oleh Charlie Rose.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calisto MT&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Ciputat, 27 Juli 2011&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27078097-9027314104249859309?l=mysarimatondang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/feeds/9027314104249859309/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/2011/07/merayakan-ulang-tahun-dengan-menulis.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27078097/posts/default/9027314104249859309'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27078097/posts/default/9027314104249859309'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/2011/07/merayakan-ulang-tahun-dengan-menulis.html' title='Merayakan Ulang Tahun dengan Menulis tentang Sri Mulyani'/><author><name>Eben Ezer Siadari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17409901844739673818</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sDOvG1QwyNo/SEYuxWm2rnI/AAAAAAAAALk/Kai8v-INR70/S220/foto-abdi2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-G6DNIFXSZc4/TjADZFx2bFI/AAAAAAAABF8/VKMktpKzbu8/s72-c/sri-mulyani.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27078097.post-4820487199582743645</id><published>2011-06-15T05:51:00.000-07:00</published><updated>2011-06-15T05:51:07.339-07:00</updated><title type='text'>Surat untuk Oppung June Gregg</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Hallo &lt;em&gt;Oppung&lt;/em&gt; June Gregg,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Katakan padaku &lt;em&gt;Oppung&lt;/em&gt;,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;apa rahasia di balik panjang umurmu dan apa yang membuatmu begitu setia?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="photo photo_none" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;img alt="" class="img" src="http://a3.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/248396_1788646963860_1470167640_31565413_2474540_n.jpg" style="margin-left: auto; margin-right: auto;" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;June Gregg meniup lilin  pada perayaan ulang tahunnya. Foto: AP&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Aku baru saja membaca kisahmu pada sebuah berita yang dilaporkan &lt;em&gt;Associated Press&lt;/em&gt;,  3 Juni lalu. Dan itu sungguh kisah yang mengharukan. Dikatakan, umurmu  sudah 100 tahun, suatu umur yang panjang, tentu. Namun bukan itu saja  yang mengagumkan darimu, melainkan kesetiaanmu untuk hanya menggunakan  satu buku tabungan saja sejak ayahmu membukakannya untukmu. Waktu itu  umurmu baru satu setengah tahun, di tahun 1913. Katanya, dengan buku  tabungan itu ayahmu ingin menyenangkan putri semata wayangnya sekaligus  untuk mengajarkan bagaimana cara berhemat. Ia menabung untukmu di  rekening itu senilai US$6,11.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Katakan padaku &lt;em&gt;Oppung&lt;/em&gt;,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;bagaimana  engkau bisa begitu tak tergoda sehingga sejak zaman sebelum Perang  Dunia I dulu, dalam soal berurusan dengan bank engkau hanya pergi ke  Savings Bank itu saja? &amp;nbsp;Di tengah demikian gencarnya persaingan bank  menarik nasabah, dengan berbagai insentif yang menggiurkan, bagaimana  engkau begitu kukuh tak mau berpindah ke lain hati, sehingga ketika para  pegawai bank itu mencoba menelusuri rekeningmu, engkau hanya pernah  berganti nomor sekali saja?. Itu pun hanya ketika &amp;nbsp;Huntington National  Bank yang berbasis di Columbus itu mengambil alih Savings Bank di tahun  1980-an dan secara otomatis engkau jadi nasabah Huntington.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Katakan padaku &lt;em&gt;Oppung&lt;/em&gt;,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;bagaimana  engkau bisa demikian patuh pada apa yang diajarkan oleh ayahmu,  sehingga engkau tidak pernah mau berutang, selalu menabung setiap sen  penghasilanmu dan hanya akan membeli sesuatu sampai engkau mempunyai  uang untuk membelinya?&amp;nbsp; Begitu besarkah kekagumanmu pada ayahmu yang  petani gandum itu, sehingga nasihatnya engkau dengar sepanjang hayat?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Katakan padaku,&lt;em&gt; Oppung&lt;/em&gt;,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;bagaimana  caranya agar aku juga bisa berkata seperti yang engkau katakan,  “Hidupku baik-baik saja karena aku tak terlalu menginginkan  macam-macam,” di tengah dunia yang dibanjiri billboard di jalanan,  reklame di televisi dan SMS promo di telepon genggam?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Katakan padaku ya &lt;em&gt;Oppung&lt;/em&gt;?.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; ***&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Catatan:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;em&gt;Oppung&lt;/em&gt; June Gregg tinggal di Bainbridge, Ohio, AS dan baru saja merayakan hari ulang tahunnya yang ke 100. Menurut &lt;em&gt;Associated Press&lt;/em&gt;, sampai saat ini June Gregg masih menggunakan rekening tabungan satu-satunya untuk bertransaksi keperluan pribadinya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Oleh  karena usianya, sejak dua tahun lalu ia berhenti menyetir dan sejak itu  ia berusaha hanya sekali sebulan saja pergi ke bank untuk mengecek  rekeningnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;em&gt;Oppung&lt;/em&gt; June Gregg dulunya bekerja sebagai pegawai kantor pos, sebelum pensiun pada tahun 1976 lalu. Selama hidupnya ia melajang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Sebagai  penghargaan atas kesetiaannya, Bank Huntington merayakan hari ulang  tahunnya yang ke 100 pada 2 Juni lalu, lengkap dengan balon dan kue  ulang tahun berlilin besar dengan angka 1 – 0 – 0. Hadiah lainnya adalah  janji bank tersebut untuk melipatgandakan suku bunga tabungan Gregg  menjadi 5% dalam 100 hari ke depan, kenaikan lima kali lipat bila  dibandingkan dengan suku bunga rata-rata di sana. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;eben ezer siadari&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;a href="http://www.writingforlife.net/"&gt;www.writingforlife.net&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27078097-4820487199582743645?l=mysarimatondang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/feeds/4820487199582743645/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/2011/06/surat-untuk-oppung-june-gregg.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27078097/posts/default/4820487199582743645'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27078097/posts/default/4820487199582743645'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/2011/06/surat-untuk-oppung-june-gregg.html' title='Surat untuk Oppung June Gregg'/><author><name>Eben Ezer Siadari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17409901844739673818</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sDOvG1QwyNo/SEYuxWm2rnI/AAAAAAAAALk/Kai8v-INR70/S220/foto-abdi2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27078097.post-7109295892454731162</id><published>2011-05-30T02:06:00.000-07:00</published><updated>2011-05-29T22:22:05.302-07:00</updated><title type='text'>Tentang Perlunya Biografi</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-ZX28LZ9W4b4/TdzGXbkUVXI/AAAAAAAABFs/7-9bKREq1jM/s1600/2_biographies.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="198" src="http://3.bp.blogspot.com/-ZX28LZ9W4b4/TdzGXbkUVXI/AAAAAAAABFs/7-9bKREq1jM/s320/2_biographies.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Dimana Anda pada tahun 1972? Mungkin ada yang belum lahir. Saya  sendiri saat itu baru duduk di kelas satu Sekolah Dasar. Tidak seperti  anak-anak sekarang yang sudah (dan diharuskan?) dapat baca-tulis sejak  menyelesaikan Taman Kanak-kanak (TK), saya dan teman-teman sebaya  baru  mulai diperkenalkan dengan huruf dan angka. Mula-mula vokal saja:  a,i,u,e,o dan angka 1,2,3,4,5,6,7,8,9,0. Baru kemudian dengan ba, bi,  bu, be bo, dst.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun itu tak penting kali ini dalam cerita ini. Yang lebih penting adalah di bulan April tahun itu, majalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Indonesia &lt;/span&gt; terbitan Cornell University, sebuah jurnal bergengsi yang diasuh dan diisi oleh para &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Indonesianist &lt;/span&gt;kenamaan,  menyajikan topik yang tak biasa. Edisi bernomor 13 itu,  isinya praktis   terdiri dari biografi. Tokoh-tokoh yang riwayat perjuangannya  diturunkan berasal dari kurun waktu jauh sebelum kemerdekaan dan riwayat  mereka itu aslinya ditulis dalam bahasa daerah dimana mereka berjuang.  Itu sebabnya, salah satu keistimewaan kisah-kisah yang ditampilkan  adalah karena ia diterjemahkan dari sejumlah naskah kuno, disamping  karena riwayat para pahlawan itu memang belum banyak terungkap, kala  itu.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biografi dan atau otobiografi yang disajikan   meliputi &lt;b&gt;Tuanku Imam Bondjol&lt;/b&gt; (1772-1864), tokoh dan pahlawan nasional  dari Minangkabau. Karya ini diterjemahkan oleh Christian Dobbin, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;research fellow&lt;/span&gt;  di Pacific History Australian National University (ANU), Canberra.  Biografi lainnya adalah tentang &lt;b&gt;Habib Abdur-Rahman az Zahir&lt;/b&gt; (1833-1896)  pemimpin perjuangan di Aceh namun bukan pahlawan nasional. Tulisan ini  dikerjakan oleh Anthony Reid, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;fellow&lt;/span&gt; pada Pacific History di ANU, Canberra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah  tentang &lt;b&gt;Arung Singkang&lt;/b&gt; (1700-1765), yang merupakan pemimpin asal Wadjo,  Sulawesi Selatan,  disiapkan oleh J.Noordyn, sekretaris jenderal  Koninklijk Instituut voor Taal-Land- en Volkenkunde, Leiden. Sedangkan  riwayat perjuangan &lt;b&gt;Dipanagara&lt;/b&gt; (1787-1855) diterjemahkan oleh Ann Kumar, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;lecturer&lt;/span&gt; bidang peradaban Asia di ANU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir  adalah narasi tentang perjuangan &lt;b&gt;Mahmud&lt;/b&gt;, Sultan Riau dari Lingga  (1823-1864) yang disajikan oleh Virginia Matheson, kala itu kandidat  Ph.D pada Departemen Indonesia dan Malaysia, Universitas Monash,  Australia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Editor majalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;  tersebut untuk edisi itu, yakni Anthony Reid, menulis kata pengantar  yang menurut saya, penting dan menarik, setidaknya bagi orang-orang yang  bergiat dalam penulisan biografi mau pun otobiografi. Karena itu, saya  ingin membagikannya di bawah ini, dengan kualitas terjemahan saya yang,  mohon maaf, amatiran. Mudah-mudahan masih ada manfaatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tentang Perlunya Otobiografi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh Anthony Reid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmuwan  asing umumnya enggan untuk mengakui pentingnya peranan pribadi-pribadi  dalam sejarah Indonesia. Walau pun belum ada yang mengklaim seperti  Crawfurd ketika berkata  “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;hardly an individual, of such prominent fortune or endowment, as to rank with the great men of other countries&lt;/span&gt;,” figur-figur besar yang jelas-jelas ikut menandai proses sejarah Indonesia masih jarang diberi tempat pada pusat pembicaraan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi  para sejarawan kolonial tradisional, penulisan individu-individu  tersebut dianggap  dapat menimbulkan masalah di hadapan para penguasa  Belanda -–kisah-kisah itu mungkin saja mengagumkan, tetapi dapat  menyebabkan penyimpangan dari tema utama. Ilmu Sosial modern yang  menjadi prioritas mendapat beasiswa di zaman sesudah perang di  Indonesia, lebih perduli pada studi tentang masyarakat dan budaya dengan  pola dan kategori-kategori luas, ketimbang mengeksplorasi mentalitas  individu. Masih sedikitnya studi biografikal  yang  menjadi bahasan  utama, merupakan gambaran dari betapa sedikitnya pengetahuan kita  tentang cara bangsa Indonesia memasuki abad baru dan memandang dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika  pun ada kekecualian pada masalah ini, tak lain pada bidang roman  historis Belanda. Pada tahun 1850-an dan 1860-an, bermunculan  novel-novel yang berpusat  pada tema pemberontakan yang beragam warna,  seperti Dipanegara, Sentot dan Surapati. Karya dengan genre serupa yang  muncul abad ini dengan mengacu pada fakta adalah novel historis karangan  Ny Szekely-Lulofs yang bercerita tentang pahlawan Aceh Tjut Njak Dien.  Namun sebagaimana dicatat oleh Rob Nieuwenhuys baru-baru ini, literatur  itu dalam banyak hal merupakan karya yang bervisi Eropa, subjeknya  digambarkan dalam bingkai konvensi romantis Barat kontemporer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali  ada yang berpendapat bahwa biografi merupakan jenis sejarah yang paling  sulit untuk diusahakan oleh sejarawan asing; simpati atau identifikasi  terhadap tokoh yang bagi sebagian besar orang  didapatkan melalui  semangat mencintai sejarah bangsa sendiri, dapat memunculkan distorsi  yang berbahaya jika dikerjakan dari sudut pandang budaya yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika  bahaya semacam ini dapat dicegah oleh para biografer,  kebutuhan  mendesak dewasa ini adalah penerjemahan otobiografi tokoh-tokoh  Indonesia atau biografi kontemporer yang sejenis. Seperti halnya bangsa  lain,  bangsa Indonesia menyadari pentingnya peranan tokoh-tokoh  perjuangan mereka dalam membentuk masa depan mereka. Sejumlah karya  sejarah tradisional Jawa, Malaysia dan Sulawesi Selatan yang penting  umumnya dimaksudkan sebagai glorifikasi individu penguasa dan pemimpin  militer. Kepedulian para nasionalis untuk mengabadikan pahlawan nasional  pada nama-nama jalan, universitas, unit militer dan melalui serial  biografi &lt;i&gt;laudatoris&lt;/i&gt; (pujian),  memberi penjelasan serupa tentang  kekuatan tokoh-tokoh hebat tersebut. Mereka memiliki kekuasaan untuk  memimpin, mengilhami dan bahkan juga memiliki kekuasaan atas tanah air   mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa orang Indonesia terkemuka telah  mewariskan semacam catatan otobiografis. Sederet contoh dari abad 20,  seperti memoar atau surat-surat Kartini, Pangeran Achmad Djajadiningrat,  Tan Malaka, Sjahrir dan Hamka, sangat terkenal dan relatif mudah  diakses. Karya dari periode lebih awal, sebagaimana disajikan dalam  studi-studi berikut ini, menghadirkan kesulitan bagi para sejarawan  tatkala akan mengerjakannya. Persoalan pertama terletak pada izin untuk  menerjemahkan. Sejauh yang diketahui, kronik Arung Singkang karya Dr.  Noordyn merupakan naskah Bugis pertama yang diterjemahkan ke dalam  Bahasa Inggris. Bersamaan dengan itu, sangat sedikit sarjana yang mampu  mengerjakan naskah-naskah seperti Babad Dipanagara dari khasanah budaya  Jawa atau Tuhfat al-Nafis dari khasanah budaya Melayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih  jauh, sebelum tahun 1900-an  jarang ditemukan pemimpin politik yang  juga sekaligus penulis. Maka dapat dimengerti bila memoar-memoar yang  disajikan berikut ini umumnya adalah karya tangan kedua. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Babad Dipanagara&lt;/span&gt;  sendiri ada kemungkinan ditulis sendiri olehnya jika tidak oleh  pujangga kerajaan. Biografi Imam Bondjol dan Habib Abdur-Rahman   merupakan karya yang disunting dengan perantaraan  orang Belanda.  Dua  karya lainnya bukan otobiografi melainkan sketsa-sketsa biografis yang  ditulis oleh para penulis kompatriot dan kontemporer, yakni mereka yang  mengenal Arung Singkang dan Sultan Mahmud tetapi tidak serta-merta  mempunyai tujuan yang sama dengan tokoh yang mereka tulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam  masing-masing kasus ini, tak bisa diragukan bahwa cerita yang disajikan  sangat dipengaruhi oleh 'tangan' yang menuliskannya. Sebagai contoh,  perjuangan Imam Bondjol dan Habib Abdur-Rahman mungkin telah ditafsirkan  secara berbeda oleh para orang Indonesia yang jadi pengikutnya   dibandingkan dengan bangsa Belanda sebagai penjajah. Kesulitan semacam  ini tidak berarti harus menghilangkan daya tarik teks, meskipun harus  selalu diingat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau kisah-kisah yang disajikan dalam  edisi ini berpencar dalam kurun waktu satu setengah abad dan meliputi  lima wilayah budaya yang sangat berbeda,  mereka telah dipilih dalam  satu tema yang sama. Kepahlawanan masing-masing tokoh tersebut  menunjukkan perlawanan yang serius terhadap  munculnya kekuasaan  Belanda, baik dengan menggunakan senjata tradisional di medan  pertempuran mau pun melalui diplomasi tertutup.  Empat diantaranya  terlibat dalam perang besar melawan Belanda, kesemuanya berakhir dalam  kegagalan. Perlawanan oleh tokoh lainnya, yakni Sultan Mahmud dari  Lingga, tak membuahkan hasil karena lemahnya kekuasaannya disamping  sifat ngototnya untuk menolak bekerjasama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang sama bila  dipandang dari sudut penerjemahan adalah bagaimana para penulis  menjelaskan berlangsungnya proses yang mengarah kepada  aksi-aksi  perlawanan. Apakah Belanda dipandang sebagai kekuatan asing yang  samasekali lain dan menindas, atau ia sama saja dengan kekuatan lainnya  di Indonesia yang harus dilawan dengan cara-cara tradisional? Bagaimana  para pemimpin memberi penafsiran dan penjelasan kepada pengikutnya  tentang  cara bagaimana perlawanan akan dimulai?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu  hal yang menarik untuk dimunculkan adalah hampir tidak adanya tuntutan  untuk bebas atau terlepas dari penguasa asing dalam pengertian yang  absolut. Di tiap cerita, pahlawan-pahlawan kita tampaknya menganggap  diri mereka terjun ke dalam permusuhan didorong oleh hal-hal di luar  kendali mereka – ketidak jujuran dan liciknya Belanda dalam hal-hal  rinci; kewajiban para pahlawan itu untuk mempertahankan kehormatan  mereka yang diciderai;  ketidaksabaran para pengikut mereka; suara  kosmik yang tak dapat ditawar. Tokoh paling awal dari para tokoh-tokoh  yang diketengahkan ini, Arung Singkang, dapat dikatakan sebagai tokoh  paling ‘modern’ dalam pengertian ini; hanya dia yang digambarkan  mempunyai sesuatu misi yang positif untuk pembebasan dari kekuasaan  asing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana pun juga,  penghargaan tertinggi  terhadap lima karya ini, dan alasan penerjemahannya di sini, adalah  karena tulisan-tulisan ini memberikan kesempatan kepada bangsa Indonesia  berbicara dari tengah-tengah panggung sejarah. Seberapa jujur mereka  mencatat motif nyata para pahlawan yang mereka tulis itu, tak akan  pernah kita tahu dengan pasti. Meskipun demikian, mereka telah  menyajikan titik awal yang tak ternilai harganya untuk mengetahui  berbagai kejadian-kejadian penting dalam sejarah Indonesia dari  perspektif para pelaku sejarah yang terlibat. Mereka telah mendorong  kita untuk menerima mereka sebagai orang-orang yang nyata dengan  tanggung jawab nyata dan keputusan nyata yang mereka ambil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;***&lt;/blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Sambil  menuliskan ini, saya  tak bisa lupa pada dua jam yang terasa sangat  pendek beberapa minggu lalu, tatkala mendengar  Max Lane dari School of  Language and Culutre, University of Sydney membawakan makalahnya  berjudul: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Nasion dan Sejarah: Kasus Konkrit Indonesia&lt;/span&gt;, di kantor Yayasan Pantau. Lane membawakannya dengan cara yang inspiratif sekaligus provokatif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis buku yang baru saja terbit, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bangsa yang Belum Selesai&lt;/span&gt;,  ini,  dengan tegas menganggap Indonesia adalah bangsa yang belum  selesai. Sebab, bangsa-nasion, menurut dia adalah, “sebuah komunitas  yang stabil, terbentuk melalui proses sejarah, yang berdiri di atas  adanya sebuah bahasa bersama, sebuah wilayah bersama, dengan sebuah  kehidupan ekonomi yang berjalan bersama-sama dan dengan sifat-sifat  psikologis (watak kepribadian) yang tercerminkan dalam sebuah kebudayaan  yang juga dijalankan bersama-sama.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Lane,  untuk dianggap sebagai nasion, komunitas tersebut harus memiliki semua  dari sifat-sifat ini. Kalau satu pun tidak ada, belum bisa dianggap  nasion. Dan dalam kasus Indonesia, salah satu yang belum tuntas menurut  dia adalah dalam hal kebudayaan, termasuk ke dalamnya, sejarah.  Disinilah Lane dengan provokatif mengajak peserta untuk merenung lewat  pertanyaannya: “Berapa banyak orang dari puluhan juta tamatan sekolah  menengah di Indonesia selama 40 tahun terakhir ini atau sedang menjadi  murid sekolah menengah di Indonesia pernah atau akan mendapat kesempatan  untuk membaca dengan lengkap, mempelajari secara serius dan melakukan  pembedahan bersama di kelas terhadap karya-karya terpenting dalam proses  pembentukan kebudayaan nasional Indonesia baru: Kartini, Ki Hahar  Dewantara, Cokroaminoto dan banyak lagi...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak semua  orang setuju dengan Lane yang sebelumnya sudah menjadi pembicara pula  pada seminar yang diadakan LIPI. Tidak semua yang dipaparkannya dan  dituliskannya di bukunya (Dalam makalahnya, Lane juga melampirkan bab 4  dari bukunya) dapat saya cerna. Dari koran saya juga membaca pendapat  yang mengatakan bahwa sekarang ini pembicaraan tentang hal yang  dikemukakan oleh Lane terlalu ‘mewah’ bagi rakyat, karena tidak ada  relevansinya dengan hidup sehari-hari: antri minyak tanah, tergenang  oleh lumpur, terusir dari kolong jalan layang dst. Tetapi dengan  memperhatikan keberatan-keberatan itu, mungkin ada benarnya juga  pendapat yang mengatakan, bahwa dengan memahami sejarah, dengan serius  mempelajari pahit-getir para tokoh pendiri negeri ini dahulu, justru  kita dapat lebih bersih menelisik setiap persoalan yang tengah kita  hadapi dalam bernegara. Sehingga anak-anak kita kelak dapat melihat  sesamanya –tanpa membeda-bedakan-- sebagai kawan seperjuangan. Bukan  melulu memandang segalanya dalam rupa olimpiade apa saja. Dalam hal  semacam ini lah saya mencoba memahami apa yang dijelaskan oleh Lane.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciputat, 6 September 2009&lt;br /&gt;(c) eben ezer siadari&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27078097-7109295892454731162?l=mysarimatondang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/feeds/7109295892454731162/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/2011/05/tentang-perlunya-biografi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27078097/posts/default/7109295892454731162'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27078097/posts/default/7109295892454731162'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/2011/05/tentang-perlunya-biografi.html' title='Tentang Perlunya Biografi'/><author><name>Eben Ezer Siadari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17409901844739673818</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sDOvG1QwyNo/SEYuxWm2rnI/AAAAAAAAALk/Kai8v-INR70/S220/foto-abdi2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-ZX28LZ9W4b4/TdzGXbkUVXI/AAAAAAAABFs/7-9bKREq1jM/s72-c/2_biographies.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27078097.post-6602124605423872159</id><published>2011-05-18T06:28:00.000-07:00</published><updated>2011-05-18T06:28:54.450-07:00</updated><title type='text'>"Aku Mau Kawin Denganmu Kalau Umurmu Sudah 100 Tahun."</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-OvhiOEWtmfQ/TdPJVynxK6I/AAAAAAAABEw/bMtudTjvrps/s1600/forrest.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="213" src="http://2.bp.blogspot.com/-OvhiOEWtmfQ/TdPJVynxK6I/AAAAAAAABEw/bMtudTjvrps/s320/forrest.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;“Aku baru mau kawin denganmu kalau umurmu sudah 100 tahun.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah  cara Rose Pollard menolak dengan halus pinangan pria yang naksir berat  kepadanya, Forrest Lunsway. Kejadian itu berlangsung 30 tahun lalu. Saat  itu Rose sudah berumur&amp;nbsp; 50-an dan Forrest berumur 60. &amp;nbsp;Rose dan  Forrest, keduanya penduduk California, AS, sudah sama-sama menduda  ketika itu dan sejak pertama kali bertemu di sebuah pesta dansa untuk  lansia, hati mereka langsung terpaut. &amp;nbsp;Mereka berpacaran –tentu saja  pacaran ala kakek-nenek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, angin baik belum  berpihak pada &amp;nbsp;Forrest sepenuhnya. Ajakannya untuk menikah, selalu  diabaikan sang pacar dengan cara halus. Rose punya alasan untuk itu.  Sejak menjanda akibat kematian suaminya tempo hari, ia sudah berjanji  pada dirinya sendiri untuk tidak menikah lagi. Dan salah satu caranya  untuk setia pada janji ini adalah dengan membuat alasan bagus, yakni  dengan mengatakan kalimat yang terdengar seolah sebagai ‘ujian  kesetiaan’ tadi: “Aku baru mau kawin denganmu kalau umurmu sudah 100  tahun.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Forrest tak peduli. Umurnya sudah 70 tahun. Tapi tampaknya tak sedetik pun ia ragu untuk mampu menunggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan  waktu pun terus berjalan. Mereka bertambah tua dan mereka terus  berkasih-kasihan. Forrest dan Rose menghabiskan waktu dengan berdansa  setiap pekan, pergi bertamasya, mengunjungi tempat-tempat indah yang  bisa mereka capai, berjalan-jalan menyusuri pantai California bahkan  menunggang kayak di Alaska. Tak kurang dari 30 tahun mereka berpacaran,  hingga kemudian Rose sadar mereka telah bersama begitu lama. Lebih  terkejut lagi dia ketika menyadari &amp;nbsp;kalender sudah menunjukkan tahun  2011. Pada tanggal 15 Maret, Forrest akan berulang tahun. Dan bukan  sekadar ulang tahun biasa. Sebab, pada hari itu, Forrest akan genap  berusia 100 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rose lantas ingat janjinya. Bahwa ia  baru mau dinikahi Forrest jika kekasihnya itu langgeng sampai berusia  100. Dan ternyata Forrest tetap bugar hingga saat ini, tetap setia  menjadi kekasihnya. Tak mungkin lagi Rose mengelak. Tak mungkin lagi dia  &amp;nbsp;bertahan pada janji yang dibuatnya untuk tidak menikah lagi. Maka ia  kemudian mengajak kekasihnya itu &amp;nbsp;menemui Vanna Murphy, direktur suatu  pusat kegiatan untuk orang-orang berusia lanjut di &amp;nbsp;di Dana Point,  California. Mereka meminta Vanna untuk menyiapkan resepsi bagi  pernikahan mereka. Dan tepat pada 11 Maret lalu, Rose dan Forrest resmi  jadi suami istri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah cinta romantis kedua pasangan  ini pun tersebar oleh pemberitaan media. Memang adalah peristiwa langka  dan layak menjadi berita ketika seorang pria berusia 100 tahun menikah.  Rose dan Forrest kini menjadi selebriti. Presiden Barack Obama pun turut  mengirimkan kartu ucapan selamat menikah kepada pasangan ini, disamping  mengirimkan juga kartu ucapan ulang tahun kepada Forrest.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laura  T. Coffey yang melaporkan kisah ini &amp;nbsp;untuk MNSBC, memilih judul yang  terkesan ‘lebih berpihak’ pada Forrest dalam menggambarkan kisah cinta  yang &lt;em&gt;happy ending&lt;/em&gt; ini: &lt;em&gt;On 100th Birthday, He Married the Woman of his Dreams. &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan  saya yang membaca kisah ini sambil tak henti-hentinya mencari tahu apa  resep panjang umur orang-orang seperti pasangan ini, pada akhirnya hanya  bisa berkata bahwa&amp;nbsp; seringkali betapa ajaibnya perjalanan hidup  manusia. Ajaib bukan karena sesuatu yang mustahil berubah menjadi  kenyataan. Tetapi lebih karena ia sering begitu tak terduga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;© eben ezer siadari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ditulis  ulang dengan sejumlah reinterpretasi atas laporan Laura T. Coffey untuk  MNSBC. Naskah lengkapnya bisa dilihat di  http://today.msnbc.msn.com/id/42920393. &lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27078097-6602124605423872159?l=mysarimatondang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/feeds/6602124605423872159/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/2011/05/aku-mau-kawin-denganmu-kalau-umurmu.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27078097/posts/default/6602124605423872159'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27078097/posts/default/6602124605423872159'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/2011/05/aku-mau-kawin-denganmu-kalau-umurmu.html' title='&quot;Aku Mau Kawin Denganmu Kalau Umurmu Sudah 100 Tahun.&quot;'/><author><name>Eben Ezer Siadari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17409901844739673818</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sDOvG1QwyNo/SEYuxWm2rnI/AAAAAAAAALk/Kai8v-INR70/S220/foto-abdi2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-OvhiOEWtmfQ/TdPJVynxK6I/AAAAAAAABEw/bMtudTjvrps/s72-c/forrest.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27078097.post-7563306794562196775</id><published>2010-12-23T21:07:00.000-08:00</published><updated>2010-12-25T03:02:42.871-08:00</updated><title type='text'>Pohon Natal Kami Tahun Ini</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/TRQqF8HhnVI/AAAAAAAABCI/FqVhUVvWrnk/s1600/tunas1.jpg" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/TRQqF8HhnVI/AAAAAAAABCI/FqVhUVvWrnk/s320/tunas1.jpg" width="240" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dua Minggu lalu kami menemukan kenyataan tak terduga.  Ketika mengeluarkan kotak kardus yang berisi potongan-potongan Pohon  Natal plastik untuk dirangkai, kami terperanjat ketika mengetahui  sebagian besar kabel yang menyambungkan bola lampu kecil warna-warninya,  terkelupas dan terputus. “Wah, kita harus beli lampu baru&amp;nbsp; nih,” kata  superchef.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi itu  belum seberapa. Ketika Pohon Natal itu mulai terangkai, mendadak kami  menyadari bahwa ia tidak bisa berdiri. Bagian bawah Pohon Natal itu  hancur. &amp;nbsp;Beberapa upaya telah dilakukan oleh superchef, Amartya dan mbak  Wanti sang asisten, untuk membuatnya berdiri &amp;nbsp;tak berhasil. &amp;nbsp;Makin  lengkap lah kemalangan Pohon Natal kami ketika terlihat potongan  daun-daun cemara plastik itu telah juga berantakan dan tak berbentuk.  Tikus-tikus kota yang memang banyak berkeliaran di sekitar rumah –maklum  lah, samping rumah dan belakang rumah kami adalah lahan kosong yang  ditumbuhi macam-macam pohon dan semak – telah sukses mempermainkan Pohon  Natal plastik itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Maka kami bersepakat untuk tidak  memasang Pohon Natal di rumah tahun ini. Kami memang sempat  berjalan-jalan ke Carrefour melihat-lihat&amp;nbsp; Pohon Natal yang dipajang di  sana. Semuanya bagus-bagus tapi harganya tak ada yang cocok dengan  kantong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekecewaan  terasa menjalar. Betapa tidak. Rasanya Natal tak kan semarak tanpa Pohon  Natal. Dimana-mana orang membuat dan membangun Pohon Natal dengan  keunikan dan kekhasannya.&amp;nbsp; Ciut rasanya hati ini ketika membaca bahwa di  Abu Dhabi ada Pohon Natal bernilai Rp99,5 miliar, yang oleh media  digambarkan sebagai, “ Pohon Natal setinggi 40 kaki terbuat dari cemara  buatan dihiasi dengan berbagai perhiasan terbuat dari emas di  sekelilingnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Pacific Place di Jakarta, seperti yang dilaporkan Vivanews, &amp;nbsp;tak kalah meriahnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Ada Pohon Natal ala Coca Cola, yakni tersusun dari botol Sprite yang memberi warna hijau dan merah khas Coca Cola.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Lamborgini membangun Pohon Natal berwarna hitam yang melambangkan kekuatan, semangat dan maskulinitas merek kendaraan mewah itu.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Microsoft  memanfaatkan papan ketik dan tetikus bekas sebagai detil pohon natal,  sementara papan sirkuit cetak dijadikan elemen utama yang menggantikan  dedaunan pohon.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Potato Head membawa ornamen antik yang menjadi dekorasi restoran itu, dan menyusunnya menjadi pohon natal.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Toko pernak-pernik hadiah, Vivere, menyusun pohon berlapis tujuh. Tiap lapisnya terdiri dari koleksi-koleksi berbeda.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Manulife,  perusahaan asuransi, mendirikan pohon natal, sambil tak lupa menegaskan  konsep-konsep yang senantiasa ditawarkan melalui produknya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Berbahan  anggrek phalaenopsis dan daun anthurrium andreanum, perusahaan  agrikultur Ekakarya Graha Flora membangun pohon natalnya. Sejuk dan  hidup.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Lalu, dalam hati saya bertanya,&amp;nbsp; apa yang akan kami jadikan sebagai Pohon Natal kami, Tuhan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga  hari lalu dengan begitu saja istri saya menyelutuk, “Oi, itu kecombrang  kita, tunas bunganya sudah mulai mekar. Tak berniat memotretnya?” Dia  mengatakan itu dengan setengah memerintah setengah meledek. Sebab ia  tahu akan kebiasaan suaminya ini, yang suka meng-upload foto-foto apa  saja ke facebook. Dan yang paling pokok, dia dan saya selama ini sangat  tergila-gila pada kecombrang, yang oleh orang Batak disebut sebagai  sirias dan jadi bumbu yang enak untuk sambel mau pun sayur daun  singkong. Telah lama kami bertekad ingin menanam pohon kecombrang,  karena ingin menikmati kecombrang hasil jerih payah sendiri. Dan  penantian sekian lama itu kini tampaknya memberi harapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya  segera pergi ke tanah kosong di samping rumah tempat kami menanami  kecombrang. Ya, betul. di sana tampak dengan indah, tunas kecombrang  yang menyembul dari akarnya, mulai mekar dalam naungan pohonnya yang  tinggi dan kekar. Saya sendiri baru sadar bahwa kembang dari kecombrang  itu tumbuhnya dari bawah, bukan dari cabang-cabangnya. Ia benar-benar  merupakan bentuk yang pas untuk menggambarkan apa itu ‘Tunas.’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serta  merta teringat pula saya pada apa yang pada masa kecil dulu di Sekolah  Minggu, selalu menjadi salah satu ayat Alkitab favorit yang dibacakan  oleh anak-anak yang berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;b&gt;Suatu tunas akan keluar dari tunggul Isai, dan taruk yang akan tumbuh dari pangkalnya akan berbuah. (Yesaya 11;1)&lt;/b&gt;&lt;/blockquote&gt;Dan  menyaksikan betapa keindahan tunas kecombrang ini tak surut walau pun  tanah tempat ia tumbuh tak terlalu subur, makin diingatkannya lagi saya  pada bagaimana Yesaya menggambarkan tunas yang dirayakan setiap Natal  itu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;b&gt;Sebagai taruk ia tumbuh di  hadapan TUHAN dan sebagai tunas dari tanah kering. Ia tidak tampan dan  semaraknyapun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupapun tidak,  sehingga kita menginginkannya (Yesaya 53:2)&lt;/b&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Maka  hal itu lah yang jadi inspirasi saya ketika menulis note ini.&amp;nbsp; Dalam  hati saya berkata, Ya Tuhan, ini lah Pohon Natal kami Tahun ini.  Kecombrang di samping rumah, yang menggambarkan sebuah tunas yang tumbuh  dan kami nanti-nanti sekian lama, mudah-mudahan dapat menjadi tali  ingatan akan bagaimana penantian dan pengharapan bagi kita yang  merayakan Natal, akan datangnya sang pendamai dan penebus sehingga&amp;nbsp;  menjadi kekuatan dalam menjalani hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa bahagianya menjadi orang-orang yang terus berpengharapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat Hari Natal para sahabat. Tulisan ini menjadi pengganti kartu Natal kami menjumpai Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/TRQqF8HhnVI/AAAAAAAABCI/FqVhUVvWrnk/s1600/tunas1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27078097-7563306794562196775?l=mysarimatondang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/feeds/7563306794562196775/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/2010/12/pohon-natal-kami-tahun-ini.html#comment-form' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27078097/posts/default/7563306794562196775'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27078097/posts/default/7563306794562196775'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/2010/12/pohon-natal-kami-tahun-ini.html' title='Pohon Natal Kami Tahun Ini'/><author><name>Eben Ezer Siadari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17409901844739673818</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sDOvG1QwyNo/SEYuxWm2rnI/AAAAAAAAALk/Kai8v-INR70/S220/foto-abdi2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/TRQqF8HhnVI/AAAAAAAABCI/FqVhUVvWrnk/s72-c/tunas1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27078097.post-3104636487329517021</id><published>2010-12-17T23:32:00.000-08:00</published><updated>2010-12-17T23:32:39.392-08:00</updated><title type='text'>"Bikin Dodol kah Kita Tahun Baru ini Mak?"﻿</title><content type='html'>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/TQxivl0wJmI/AAAAAAAABCE/xG5WLa6ue6w/s1600/Mamak+dan+aku.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/TQxivl0wJmI/AAAAAAAABCE/xG5WLa6ue6w/s320/Mamak+dan+aku.jpg" width="240" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Bersama mamak tahun 2010 di kampung Jawa&lt;/td&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;"Bikin Dodol kah Kita Tahun Baru ini Mak?"﻿&lt;br /&gt;Di  kalangan kami anak-anak Sarimatondang tahun 70-an, pertanyaan ini selalu  muncul setiap bulan Desember. Ditujukan kepada Mamak (ibu), yakni orang  paling menentukan dalam urusan per-dapur-an, ia sebetulnya tak murni  pertanyaan, melainkan percampuran antara harapan dan juga kecemasan. Di  satu sisi kita berharap agar Mamak menjawab &amp;nbsp;ya. Tapi di sisi lain  muncul rasa cemas, karena ada banyak alasan bagi &amp;nbsp;dia untuk tidak  mengabulkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dodol adalah mahkota suguhan bagi para  tamu yang datang bersilaturahmi pada hari Tahun Baru. Ada banyak suguhan  yang lazim, mulai dari kembang goyang, kacang tojin, wajik, kue bawang,  lemang dan lain-lain. Tetapi dodol lah, penganan berwarna hitam pekat  yang legit kenyal, yang jadi incaran para tamu sekaligus kebanggaan tuan  rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dodol adalah penganan yang mengandung berbagai  simbol. Bergengsi rasanya bila &amp;nbsp;dapat menyuguhkannya di Tahun Baru.  Padanya, orang tak hanya mencari kelezatannya. Lebih dari itu, dodol  juga menjadi semacam perlambang gerak &lt;em&gt;roller &amp;nbsp;coaster&lt;/em&gt;  perekonomian yang dilalui sang tuan rumah. Maklum, membuat dodol perlu  persediaan belanja yang lumayan besar. Beras untuk membuatnya adalah  beras ketan yang mahal. Diperlukan pula gula yang cukup banyak disamping  kelapa. Jangan lupa, beberapa orang dewasa yang bertenaga kuat wajib  tersedia untuk mengaduknya, minimal dua sampai tiga jam tiada henti.  &amp;nbsp;Dengan mempertimbangkan semua itu, maka dapat dikatakan bila sebuah  rumah mampu menyediakan dodol, bintang terang sedang memancar di rumah  itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu juga, antara lain, yang selalu membuat  anak-anak harap-harap cemas ketika melontarkan pertanyaan “Bikin dodol  kah kita tahun baru ini, Mak?” Jika jawabannya bernada negatif, itu  menjadi sinyal ‘negatif’ pula untuk hal lain, termasuk apakah tahun baru  kali ini baju baru yang kita kenakan bernatal akan merupakan baju yang  berupa kodian atau dijahitkan; apakah nanti di malam tahun baru akan  diwarnai oleh kembang api atau cuma lilin saja, dan seterusnya.  Setidaknya itu lah yang terjadi di rumah kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai saya tamat Sekolah Dasar, tahun baru lebih sering kami lewati tanpa dodol bikinan sendiri. Mamak dan Bapak kala itu (&lt;em&gt;sekarang  saya dapat melihatnya lebih jernih. Kalau disuruh menuliskan ini  puluhan tahun lalu, mungkin saya belum bisa menuturkannya dengan lega&lt;/em&gt;)  pasti lah sedang repot-repotnya dari sisi tenaga dan lebih terseok-seok  lagi dari sisi ekonomi. Anak-anak mereka (enam orang totalnya) masih  kecil-kecil, lahir hampir tiap dua tahun sekali. Saya yang paling besar,  belum bisa diharapkan berbuat apa-apa, bahkan untuk mengaduk adonan kue  semprit. Dapat lah dibayangkan hanya sedikit saja energi Mamak yang  tersisa untuk &amp;nbsp;memikirkan dodol tahun baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan pula  berharap pada gaji mereka sebagai guru, satu-satunya sumber penghasilan  mereka sebagai PNS yang benar-benar profesional. Yang saya maksud  profesional di sini tidak mengacu kepada kualitas dan kesungguhan mereka  pada pengabdiannya, melainkan lebih kepada tidak adanya sumber  penghasilan sampingan, seperti PNS lainnya di Sarimatondang yang umumnya  punya sawah, kebun dan ternak. Praktis gaji lah sumber satu-satunya  untuk bisa bikin dapur ngebul. Dan sejak saya masih kelas 3 SD, Mamak  dan Bapak telah sering –dengan sengaja atau tidak—menanamkan kepada  anak-anaknya tentang keterbatasan-keterbatasan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu  lah sebabnya, pertanyaan “Bikin dodol kah kita tahun baru ini, Mak?”  diam-diam membekas juga di dalam hati saya, hingga sekarang.&amp;nbsp; Setiap  tahun pertanyaan itu terlontar dari kami anak-anaknya tetapi ada banyak  alasan –yang sebagian besar sudah saya lupa— bagi Mamak untuk berkata  tidak. Meski pun demikian, saya masih merasa terhibur &amp;nbsp;karena pada  masa-masa menjelang tahun baru itu, dapat turut menjadi penonton  meramaikan atraksi membuat dodol di rumah-rumah tetangga. Dan itu akan  menjadi bahan cerita yang menarik untuk dituturkan di kala menikmati  makan malam bersama adik-adik.&lt;br /&gt;&lt;photo 2=""&gt;&lt;/photo&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi  para pemuda dan remaja, tahun baru tak akan afdol bila tak ada suguhan  dodol. Maka mereka umumnya dapat merayu ibu mereka untuk menyediakan  anggaran membuat penganan favorit itu. Ketika dalam proses  pengerjaannya,&amp;nbsp; gotong royong bersifat simbiosis mutualisme dan  simbiosis romantisme pun turut mewarnainya. Hari ini, misalnya, para kru  pembuat dodol itu –serombongan pemuda dan serombongan pemudi—bekerja  membuat dodol di rumah&amp;nbsp; Dapot. Esok hari di rumah Tiur dan begitu lah  seterusnya. Sambil semuanya berlangsung dengan penuh kegembiraan dan  kenakalan, tercipta lah kisah-kisah percintaan. Saya yang masih anak  ingusan ini, tentu ikut kebagian gossip-gosip seru, sambil di akhir  pekerjaan mereka nanti, sekali lagi turut berebut dengan anak-anak lain  mengorek-ngorek kerak dodol yang lengket di kuali besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali  waktu di bulan Desember, ketika sudah duduk di kelas 2 SMP, saya diajak  Mamak &amp;nbsp;menemaninya pergi ke desa bernama Kampung Jawa, kira-kira satu  kilometer dari tempat kami tinggal.&amp;nbsp; Saya senang-senang saja karena  bepergian ke tempat itu selalu menyediakan pemandangan segar.  Bunga-bunga pagar yang terpangkas rapi pada rumah-rumah tetangga  berlatar belakang budaya Jawa itu selalu asyik untuk diamati, tetapi  yang lebih indah tentu saja wajah-wajah putri-putri ayu mereka yang  banyak diantaranya masih sepantaran dengan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan  siang hari yang kami tempuh dengan berjalan kaki itu tidak terasa.  Sebab sebelumnya, Mamak mengajak saya singgah di kedai penjual pecal,  yang berada di tepi jalan menuju kampung itu. Sambil menikmati makan  siang yang –untuk ukuran saat itu –istimewa, saya mendengar Mamak  berbicara dengan ibu penjual pecal. Dari percakapan itu mulai jelas bagi  saya apa yang Mamak tuju dengan mengajak saya ke kampung ini. Mamak  mencari dan menanyakan seseorang yang biasa dimintai tolong membuatkan  dodol. Dari ibu penjual pecal akhirnya kami mendapatkan nama berikut  ancar-ancar rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kami tiba di rumah itu, setelah berbasa-basi sejenak, Mamak mengemukakan niatnya. Hanya beberapa menit saja, &lt;em&gt;deal&lt;/em&gt;  sudah tercapai sebab tampaknya sudah ada rumusan baku tentang bagaimana  imbalan bagi pembuat dodol. Seingat saya, pembayarannya tidak berupa  uang melainkan berupa &lt;em&gt;in natura&lt;/em&gt;, yakni beberapa liter beras  untuk membuat dodol yang berbahan baku sekian liter beras. Yang paling  utama dibicarakan pada saat itu adalah waktu pengerjaannya. Tempat  pengerjaannya tak lain tak bukan, ya di rumah sang pembuat dodol itu.  Kuali besar dan peralatan lainnya, juga telah disediakan. Pada hari  H-nya, kami hanya diminta membawa bahan-bahan yang diperlukan, termasuk  kayu bakar yang akan digunakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika pulang dari  rumah itu, saya merasa orang paling bahagia di dunia. Dalam hati ada  banyak perasaan yang bermunculan. Bukan saja karena kami akan  menyuguhkan dodol di tahun baru itu. Tetapi juga terutama karena saya  melihat wajah Mamak yang begitu cerah. Diam-diam saya mulai berpikir  untuk memperbaiki prasangka saya. Mulai saya sadari, bukan hanya kami  anak-anaknya belaka sebenarnya yang merindukan kehadiran dodol di rumah  pada tahun baru. Mamak juga. Tetapi oleh berbagai alasan yang mungkin  tak bisa diatasinya, semua itu akhirnya diurungkan. Ada juga sedikit  rasa bersalah membayangkan, jangan-jangan selama ini Mamak merasa  tertekan juga oleh cerita-cerita kami tentang serunya membuat dodol yang  sering kami obrolkan. Tetapi kabut dalam pikiran itu segera terhalau  tatkala ketika mencuri pandang, saya melihat wajah Mamak yang tampak  teduh. Betapa senangnya dapat melihat nada yang begitu dari wajah  seseorang yang melahirkan kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil berjalan  menuju rumah, sesekali saya masih bersendawa dan aroma sambal kacang  dari pecal yang baru saja kami santap siang tadi tercium di hidung.  &amp;nbsp;Langkah kaki Mamak yang cepat membuat saya sering tertinggal di  belakang. Kalau jarak kami sudah terlalu jauh, ia berhenti menunggu  anaknya yang masih belum sepenuhnya dapat memadamkan guncangan sukacita  hatinya. Sepanjang jalan itu saya dan Mamak lebih banyak diam. Mungkin  karena pertanyaan “Bikin dodol kah kita tahun baru ini Mak?” tak perlu  lagi kami bahas kali ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ciputat, 16/12/2010&lt;br /&gt;© eben ezer siadari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;﻿&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27078097-3104636487329517021?l=mysarimatondang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/feeds/3104636487329517021/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/2010/12/bikin-dodol-kah-kita-tahun-baru-ini-mak.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27078097/posts/default/3104636487329517021'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27078097/posts/default/3104636487329517021'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/2010/12/bikin-dodol-kah-kita-tahun-baru-ini-mak.html' title='&quot;Bikin Dodol kah Kita Tahun Baru ini Mak?&quot;﻿'/><author><name>Eben Ezer Siadari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17409901844739673818</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sDOvG1QwyNo/SEYuxWm2rnI/AAAAAAAAALk/Kai8v-INR70/S220/foto-abdi2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/TQxivl0wJmI/AAAAAAAABCE/xG5WLa6ue6w/s72-c/Mamak+dan+aku.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27078097.post-1744036365268159363</id><published>2010-11-15T20:37:00.000-08:00</published><updated>2010-11-15T20:40:16.367-08:00</updated><title type='text'>Kebakaran Besar di Sarimatondang Tempo Dulu</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/TOIKRlBerCI/AAAAAAAABCA/YL77gIsJ_b0/s1600/kebakaran+sidamanik.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/TOIKRlBerCI/AAAAAAAABCA/YL77gIsJ_b0/s320/kebakaran+sidamanik.jpg" width="214" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Sebuah musibah pernah melanda Sarimatondang pada 22 Juli  1976. Terjadi kebakaran besar yang memusnahkan 27 rumah dengan korban  tewas satu orang. Kerugian materi ditaksir Rp 40 juta. Jumlah itu  mungkin kecil untuk ukuran sekarang. Tetapi bagi orang Sarimatondang di  zaman itu –juga di zaman sekarang—harta benda sebanyak itu tetap lah tak  dapat dianggap sepele. Apalagi semuanya berasal dari memeras keringat  mengolah sawah-ladang mau pun dengan menghemat-hemat gaji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak  yang menjadi reporter lepas untuk sebuah koran lokal, Sinar  Pembangunan, antara lain melaporkannya sebagai berikut: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote style="color: blue;"&gt;&lt;b&gt;KEBAKARAN BESAR MELANDA KOTA SIDAMANIK&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;27 Pintu Rumah Musnah Terbakar &amp;amp; Seorang Penduduk Tewas&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kerugian Ditaksir Rp40 Juta&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P.Siantar (SP)&lt;br /&gt;Kebakaran  besar melanda Kota Sidamanik Kab Simalungun Kamis kemarin sekira jam  03.00 dini hari hingga mengakibatkan 24 pintu rumah musnah terbakar dan 3  pintu rumah dirubuhkan dan seorang penduduk bernama G. Sihaloho (65  tahun) tewas terbakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut pihak yg berwajib,  kerugian sementara akibat kebakaran ini ditaksir kl Rp40 juta, karena  banyak harta penduduk tidak sempat diselamatkan. Puluhan ton hasil bumi  kacang tanah, padi dan kopi serta harta benda berupa kain, perhiasan  emas, sepeda, radio dan motor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ke 24 rumah penduduk yg  terbakar itu masing2 milik Peltu Ingul Purba, J. Sinaga, J. Damanik, J.  Simarmata, Nan Tinim br. Manik, S. Manik, K. Sijabat, S. Simarmata, H.  Nainggolan, S. Sihaloho, G. Sihaloho, S. Hasibuan, K. Siadari, J.  Damanik, Amat Patah, M. Sidabutar, G. Manurung, K. Sidabutar, L.  Marpaung, T. Bakkara, T. Siahan, L. Purba dan S br Sitanggang sedang 3  pintu rumah lagi pemiliknya belum diketahui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asal api  dari keterangan penduduk berasal dari sebuah pick up yg terbakar di  garasi rumah G. Sihaloho dan kemudian menjalar ke rumah2 penduduk  sekitarnya. (WS)&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima  hari lagi, saya akan berulang tahun ke-10 ketika kebakaran itu terjadi,  sehingga otak kelas 4 SD saya sudah cukup dapat untuk mencerna apa yang  terjadi. Dan sampai kini masih dapat saya bayangkan dengan jelas panik  dan repotnya seisi kota melihat demikian besarnya kobaran api.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah  kami yang berada di Kampung Gereja, Sarimatondang, tidak ikut terbakar.  Pusat kebakaran berada kira-kira setengah kilometer jauhnya ke arah  ‘kota’. Tetapi mengingat rumah-rumah di sepanjang jalan besar  Sarimatondang berderet rapat, jelas lah tidak dapat dianggap enteng  adanya kemungkinan api merambat cepat dari satu rumah ke rumah  berikutnya. Apalagi sebagian besar bangunanya terbuat dari kayu&amp;nbsp; beratap  seng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak mengherankan bila hampir semua orang ikut  bergegas menyelamatkan apa saja yang dapat diselamatkan. Saya lupa  bagaimana &amp;nbsp;bangun pada dini hari itu. Yang jelas, semua orang dewasa  yang ada di rumah kami dan di rumah Oppung yang persis bersebelahan,  silih berganti mengangkut barang-barang apa saja ke kebun di belakang  rumah. Sebagian lagi, ada juga yang diangkut ke halaman gereja HKBP,  lebih kurang 50 meter di seberang jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kebagian  mengangkat pakaian yang sudah dalam bentuk buntalan dibungkus kain  sarung. Dengan setengah berlari saya dan &amp;nbsp;adik-adik mengikuti Mamak. Di  kebun belakang rumah itu, kami ditinggalkan duduk di tikar yang sudah  dihamparkan. Di atas semak rumput yang tinggi diantara pohon-pohon  cengkeh itu kami duduk diam, berbantalkan kain-kain. Bila pada  malam-malam biasa, sudah pasti kami tak kan berani duduk-duduk di situ,  bahkan seandainya diiming-imingi roti srikaya atau mie pangsit Siantar.  Tetapi di hari itu, melihat demikian sibuknya orang berlalu-lalang,  nyamuk-nyamuk pun seakan menyingkir tak ingin menyakiti kami. Dini hari  itu langit begitu cerah, bintang-bintang bertaburan. Dan justru karena  terangnya langit, di kejauhan terlihat dengan jelas kobaran api yang  turut mengangkasa yang kemudian dimahkotai &amp;nbsp;asap tebal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makin  lama barang yang bertumpuk di sekitar kami makin banyak juga. Lemari  kayu tempat pakaian-pakaian, tempat tidur besi yang belum sempat  dibongkar, rak piring, kursi-kursi dan meja, beras jualan Oppung  beberapa karung dan juga cengkeh yang baru dipetik. Entah bagaimana ayah  menyelinap pergi untuk dapat melaporkan apa yang ditulisnya di koran  yang gambarnya saya tampilkan di sini. Yang jelas, beberapa saat  kemudian ia datang ke tempat kami seolah memberi informasi mutakhir,  lalu ia pergi lagi bergabung dengan para tetangga yang berjaga di depan  rumah masing-masing, mengantisipasi kemungkinan tibanya kobaran api&amp;nbsp; ke  kawasan tempat kami tinggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila dipikirkan dengan  tenang, sebenarnya kecil kemungkinan rumah-rumah di kawasan Kampung  Gereja &amp;nbsp;akan turut terbakar. Sebab diantara kawasan yang menjadi pusat  kebakaran itu dengan kampung kami itu, terbentang lapangan sepakbola  yang cukup luas. Hanya angin yang luar biasa kencang saja yang  berkemungkinan &amp;nbsp;meniupkan api melompati lapangan itu untuk bisa tiba di  kawasan tempat kami tinggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi ada pengalaman  buruk yang pernah dialami keluarga Oppung, ketika belasan tahun  sebelumnya terjadi kebakaran yang cukup besar melanda Sarimatondang.  Kala itu rumah Oppung dilalap api menghabiskan hampir semua harta  bendanya. Pengalaman itu tampaknya membekas, sehingga ketika muncul lagi  peristiwa serupa, Oppung tak mau kompromi. Ia segera memerintahkan  anak-anaknya untuk mengamankan apa saja, yang kemudian diikuti juga oleh  Bapa dan Mamak. Tetangga-tetangga di sekitar pun turut melakukan hal  yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Api itu reda pada pagi hari.  Matahari mulai bersinar. Beberapa diantara kami yang sempat tertidur,  bangun. Di bawah cahaya fajar, kini makin jelas kami melihat sekeliling.  Barang-barang yang berjejer tak teratur di kebun itu, kini terlihat  demikian banyak, seakan dua kali lipat banyaknya dibanding yang  kelihatannya pada dini hari tadi. Sudah tiba saatnya untuk  mengembalikannya ke dalam rumah, ke tempatnya semula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada  saat-saat beres-beres itu lah orang-orang kaget menjurus tidak percaya.  Bila menilik lemari besar, ranjang besi, rak piring dan benda-benda  berat lainnya yang dengan cepat berpindah tempat malam itu, sulit  membayangkan darimana kekuatan orang-orang untuk bisa dapat  mengangkatinya tanpa komando pula. Terbukti pula, ketika pagi itu kami  ingin mengembalikannya lagi ke tempatnya semula, butuh waktu dua kali  lebih lama daripada yang kami butuhkan di malam yang bergegas itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan  siapa pun yang datang ke Sarimatondang &amp;nbsp;tiga atau empat tahun setelah  kebakaran itu, mungkin akan mendapati keterkejutan yang sama. Dengan  cepat bekas-bekas kebakaran itu sirna. Seolah ada kekuatan mahabesar  yang menggerakkan pembangunan kembali rumah-rumah itu. Dan, setahu saya,  semua korban kebakaran dahulu itu, dapat bangkit kembali dan kini  mengenang peristiwa itu dengan hati lapang dan ikhlas.&amp;nbsp; Tak&amp;nbsp; harus&amp;nbsp; ke  Alkitab untuk berkaca dan menemukan kisah Ayub, yang kekayaannya  berlipat ganda setelah dipulihkan dari musibah. Korban kebakaran di  Sarimatondang dahulu itu pun, seingat saya, mewarisi semangat dan kisah  yang mirip-mirip dengan Ayub.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, ketika pada 6 November lalu,&lt;i&gt; Kompas&lt;/i&gt; menurunkan laporannya tentang spontanitas masyarakat Yogya membantu koran Merapi lewat judul &lt;i&gt;Bangkitnya Spirit Nasi Bungkus dari Jogja&lt;/i&gt;, saya teringat lagi pada &lt;i&gt;invisible hands&lt;/i&gt;  yang memberi kekuatan bagi kami di malam yang gelisah dulu dan bagi  korban kebakaran Sarimatondang yang dalam tempo tiga-empat tahun sudah  pulih itu. &lt;i&gt;Kompas&lt;/i&gt; mengutip apa yang disebut sebagai ‘faktor kebetulan’ yang dikisahkan dalam novel &lt;i&gt;Celestine Prophecy&lt;/i&gt; karya James Redfield, yang menjadi energi berkekuatan dahsyat untuk  menggerakkan dan membangun kemanusiaan. Rasanya itu lah yang hadir di  Sarimatondang dulu. Dan semoga ia tetap bekerja di Wasior, Mentawai dan  Merapi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ciputat, 15 november 2010&lt;br /&gt;© eben ezer siadari&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27078097-1744036365268159363?l=mysarimatondang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/feeds/1744036365268159363/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/2010/11/kebakaran-besar-di-sarimatondang-tempo.html#comment-form' title='8 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27078097/posts/default/1744036365268159363'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27078097/posts/default/1744036365268159363'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/2010/11/kebakaran-besar-di-sarimatondang-tempo.html' title='Kebakaran Besar di Sarimatondang Tempo Dulu'/><author><name>Eben Ezer Siadari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17409901844739673818</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sDOvG1QwyNo/SEYuxWm2rnI/AAAAAAAAALk/Kai8v-INR70/S220/foto-abdi2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/TOIKRlBerCI/AAAAAAAABCA/YL77gIsJ_b0/s72-c/kebakaran+sidamanik.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27078097.post-1365407232096868185</id><published>2010-11-07T06:09:00.000-08:00</published><updated>2010-12-28T06:45:27.950-08:00</updated><title type='text'>Sayang Oppung</title><content type='html'>&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;img border="0" height="255" src="http://2.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/TLRdC5V1hmI/AAAAAAAAA_0/4T6fUclayBU/s400/sayang+oppung.jpg" style="margin-left: auto; margin-right: auto;" width="400" /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Sayang Oppung&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: small; line-height: 105%;"&gt;Diantara banyak foto&amp;nbsp; jadul koleksi &lt;i&gt;Bapa&lt;/i&gt; (sebutan akrab kami untuk ayah), foto ini (lihat gambar) salah satu yang paling bersejarah di lingkungan keluarga. Entah sudah kepada berapa banyak orang Bapa mengirimkannya. Dijepret dan dicetak secara hitam putih, pada bagian bawah bingkai foto, Bapa menuliskan &lt;i&gt;SAYANG OPPUNG&lt;/i&gt; sebagai &lt;i&gt;caption &lt;/i&gt;(keterangan gambar) nya. &lt;i&gt;Sayang kepada kakek&lt;/i&gt;, itu lah terjemahannya dalam Bahasa Indonesia. Yang dimaksud dengan Oppung di sini adalah ayah dari Bapa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: small; line-height: 105%;"&gt;Pemandangan dalam foto ini sesungguhnya merupakan kegiatan rutin kami –cucu-cucu Oppung—semasa kecil. Perkiraan saya foto ini diambil pada tahun 70-an akhir atau awal 80-an. Umur saya mungkin belum genap 10 tahun. Oppung yang saat meninggalnya hampir berumur 80 tahun, sudah sering sakit-sakitan. Ia menderita batuk kronis dan juga asma. Di kala ia sakit, hampir setiap malam secara bergantian kami cucu-cucunya kebagian untuk mengurutnya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: small; line-height: 105%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: small; line-height: 105%;"&gt;Pada foto ini, kami empat orang kakak-beradik (dari enam bersaudara) &amp;nbsp;sedang berkerumun di tempat tidur Oppung yang terletak di ruang tamu. Kami mengurutnya. Antara serius dan setengah serius, sebab ada juga unsur ingin ‘bergaya’ karena Bapa sedang membidikkan kamera ke arah kami. Saya berada paling kiri, berusaha tampak serius melakukan pekerjaan itu, meskipun di dalam hati –seingat saya—ingin sekali cepat-cepat beranjak dan pergi menonton televisi di rumah tetangga.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: small; line-height: 105%;"&gt;Eksaudi Siadari (sekarang ayah dari dua orang anak, tinggal di Medan) di sebelah kiri saya. Sambil mengurut, ia tertawa lebar menatap kamera, kebiasaannya yang selalu membuat suasana jadi riang di saat seperti apa pun. Menghadap Oppung paling kanan adalah adik perempuan saya, alm Evanetty (mangkat ketika umur 21 tahun dan paling trampil diantara kami dalam mengerjakan tugas-tugas domestik). Di sebelah kanannya, Early Truly Siadari (kini ibu dari dua anak, istri polisi dan sintua HKBP pula), kala itu masih kami anggap anak bawang dalam percaturan merebut perhatian Oppung. Dua adik yang lain, Epyphanias Siadari dan Erbayani, tak tampak dalam foto ini. Mungkin mereka belum lahir.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: small; line-height: 105%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 105%;"&gt;Lotion &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: small; line-height: 105%;"&gt;yang jadi pelicin dalam urusan urut-mengurut ini aromanya sangat menusuk. Yakni percampuran antara minyak goreng, irisan bawang merah, jahe dan sedikit minyak tanah. &amp;nbsp;Ramuan ini &amp;nbsp;ditempatkan di tempurung kelapa, yang pada gambar ini berada di genggaman saya. Ke dalam tempurung ini secara bergantian kami mencelupkan tangan. Dengan begitu, tangan kami&amp;nbsp; cukup licin menari-nari di punggung dan kaki kakek yang sebagian besar sudah tinggal tulang. Kebiasaan menggunakan mangkok mini atau piring kecil&amp;nbsp;&amp;nbsp; sebagai wadah ramuan mengurut, seingat saya baru lah muncul pada periode sesudahnya, terutama ketika Mamak sudah punya kelebihan uang untuk menambah koleksi rak piringnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: small; line-height: 105%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: small; line-height: 105%;"&gt;Sehari-hari kala sakit begitu, Oppung tidak tidur di kamar, melainkan di ranjang di ruang tamu yang terbuka, di atas kasur yang beralaskan tikar. Ia senang bila sudah kami reriungi, walau pun sebagai konsekuensinya, ada saja diantara kami yang mencoba-coba merayunya untuk membelikan jajan ini dan jajan itu. Jika ia sehat, sarapan pagi yang paling disenanginya adalah lappet (lepat dari tepung beras) dan roti ketawa –padahal giginya sudah banyak yang tanggal. Roti ketawa yang keras itu, dicelupkannya ke dalam teh manis lalu dikeratnya sedemikian rupa. Tentu saja kami akan kebagian juga –baik karena ia menyerahkannya dengan sukarela, mau pun karena kami sembunyi-sembunyi merogoh saku jaketnya, tempat roti ketawa itu disimpannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: small; line-height: 105%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: small; line-height: 105%;"&gt;Secara resmi, makanan pokok Oppung adalah bubur, walau pun&amp;nbsp; sesekali ia juga memaksakan diri memakan nasi. Lauk-pauk yang menemani bubur itu tidak dibedakan dengan lauk-pauk seisi rumah. Ikan teri sambel yang pedas, ikan asin kepala batu, juga ikan mas dan ayam panggang tetap lah tak pernah ia lewatkan. Petai dan jengkol jangan sampai lupa. Kalau lagi cukup sabar, maka ia akan menunggu kami cucunya&amp;nbsp; mengupas dan menggiling petai dan jengkol itu supaya halus bagi giginya yang suda tinggal &lt;i&gt;do re mi&lt;/i&gt;. Tetapi sering juga ia sudah kami dapati melahap petai dan jengkol bulat-bulat dan mentah. Dari beliau lah saya belajar memakan petai bersama kulitnya. Pahit, tetapi terasa tebal di mulut, menciptakan sensasi tersendiri. “Yang pahit-pahit itu biasanya obat,” kata dia memberi&amp;nbsp; legitimasi pada nilai tambah kulit petai. Kulit petai memang pahit sepat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: small; line-height: 105%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: small; line-height: 105%;"&gt;Nah, tentang petai itu, saya pernah berdebat dengan Oppung. Ketika di Sekolah Dasar, saya pernah membaca buku-buku bergambar yang dalam satu paragrap penjelasannya mengatakan petai dapat menyebabkan kebotakan. Oppung tak percaya dan menertawakan saya sebagai bocah yang kebanyakan baca buku. Saya rasa memang buku itu banyak bohongnya. Buktinya, Oppung bukan saja tak botak. Sampai akhir hayatnya rambutnya cukup lebat dan ubannya pun hanya satu-dua saja. “Orang yang hidupnya susah cenderung tidak beruban, karena banyak berpikir,” kata dia membela diri sambil tersenyum. Apakah ia serius atau tidak, saya tidak tahu. Oppung yang sudah menduda sejak ayah masih bujangan itu memang tak bisa dikatakan hidup berkecukupan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: small; line-height: 105%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: small; line-height: 105%;"&gt;&lt;o:p&gt;&amp;nbsp;&lt;/o:p&gt;Kalau Oppung sakit, ada salah satu ciri khasnya: ia mengerang sepanjang malam. Kelihatan sekali dadanya yang naik turun dengan nafas tersenggal-senggal. Kadang-kadang diselingi bunyi ngik..ngik..ngik. Erangan itu baru reda menjelang pagi hari. Orang yang baru pertama kali melihatnya akan mudah kasihan dan cemas. Tetapi justru menurut Mamak, jika Oppung &amp;nbsp;mengerang, itu berarti sakit yang ia derita masih bisa ia tanggung. Memang betul. Beberapa minggu sebelum meninggal, senyap sekali ia terbaring di tempat tidurnya. Ia bahkan dengan tenang memberangkatkan kami, cucu-cucunya, merayakan natal. Baru keesokan harinya ia berpulang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: small; line-height: 105%;"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: small; line-height: 105%;"&gt;Selain bersejarah, foto ini juga yang menurut dugaan saya, foto keluarga kami yang paling tenar dan paling &lt;i&gt;go public&lt;/i&gt;. Ketika berkunjung ke rumah Bapatua (kakak dari ayah) di Jakarta, iseng-iseng saya melihat album foto tatkala ia masih mahasiswa. Saya kaget luar biasa ketika foto&lt;i&gt; Sayang Oppung&lt;/i&gt; itu ternyata termasuk juga dalam koleksinya. Rupanya Bapa pernah mengiriminya. Dan tentu, wajah Oppung lah –selain wajah-wajah kami—yang paling ingin dikenang Bapatua dengan menyimpan foto ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: small; line-height: 105%;"&gt;Namun, perjalanan foto ini yang lebih fenomenal adalah ketika pada suatu hari di awal tahun 1980-an, ia terpampang di sudut koran &lt;i&gt;Sinar Indonesia Baru&lt;/i&gt; (SIB) dan koran &lt;i&gt;Sinar Pembangunan&lt;/i&gt;, dua harian beroplah besar di Sumatera Utara kala itu. Bapa yang sehari-hari bekerja sebagai reporter lepas di koran yang disebut terakhir, rupanya punya akses untuk dapat mengusahakan agar foto ini dapat menjadi berita, walau pun hanya menempati kolom yang kecil.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: small; line-height: 105%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: small; line-height: 105%;"&gt;Bukan maksud Bapa ingin ber-narsis ria bila ia menampilkan foto kami dalam pose yang sebenarnya tidak membanggakan itu (Terutama oleh kehadiran tempurung kelapa itu). Justru sebaliknya, Bapa ingin menyampaikan pesan penting kepada seseorang. Itu sebabnya berita di bawah foto itu berbunyi kira-kira begini:&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: small; line-height: 105%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 105%;"&gt;Jansen Siadari, Pulang lah. Ayah Sakit Keras.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 105%;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: small; line-height: 105%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: small; line-height: 105%;"&gt;Jansen Siadari itu adalah Om saya, adik laki-laki dari Bapa. Beliau kala itu pergi merantau dengan berpindah-pindah tempat, mulai dari Aceh, Pekan Baru bahkan sempat pula menginjakkan kaki di Jakarta. Pekerjaannya sebagai pedagang keliling memasok barang ke berbagai perusahaan, menyebabkan mobilitasnya demikian tinggi.&amp;nbsp; Itu lah mungkin yang menyebabkan ia tidak terpikir mengirimkan surat kepada&amp;nbsp; istrinya yang bekerja sebagai guru di Nagojor, sebuah desa lebih kurang dua jam dari Sarimatondang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: small; line-height: 105%;"&gt;Ketika itu Oppung memang sudah sakit keras. Dan Bapa sudah punya firasat umur Oppung tak akan panjang lagi. Ia mencoba menyurati si Om ke alamat yang pernah ditinggalkannya, untuk meminta segera pulang. Namun, Bapa juga tidak begitu yakin apakah surat itu akan sampai kepada yang bersangkutan. Upaya pamungkas yang dapat ia lakukan adalah mengumumkannya di koran. Dan agar pesan itu lebih menyentuh, foto kami dijadikan pelengkap berita.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: small; line-height: 105%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: small; line-height: 105%;"&gt;Sampai detik-detik terakhir menjelang ia berpulang, Oppung masih beberapa kali menanyakan si Om. Tapi hingga pemakaman usai, tidak ada tanda-tanda si Om akan datang. Baru beberapa tahun kemudian ia pulang, dengan raungan yang menjadi-jadi di makam Oppung.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: small; line-height: 105%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: small; line-height: 105%;"&gt;Sampai sekarang pun,&amp;nbsp; ketidakhadirannya dalam pemakaman itu masih sering menjadi topik perbincangan, meskipun sudah dalam suasana yang lebih cerah. Bapa pernah menanyakan si Om, apakah dia memang benar-benar tidak mendengar berita tentang meninggalnya Oppung kala itu. Sebab selain diberitakan di koran, Bapa juga menyiarkannya lewat radio.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: small; line-height: 105%;"&gt;Bila diingatkan tentang itu, si Om yang suara baritonnya lembut dan penuh persuasi itu, selalu tertawa dan memulainya dengan gumaman yang kurang jelas. Lalu ia akan berargumentasi dengan ala filsuf tentang apa hakekat hidup dan hakekat kematian. Namun,&amp;nbsp; pernah juga si Om bercerita bahwa sesungguhnya ia waktu itu ada membaca berita tentang meninggalnya Oppung. Tetapi semangat mudanya yang masih ingin menaklukkan dunia, mendorong dirinya untuk tidak percaya pada berita yang dibacanya. Si Om bahkan mengira, itu adalah taktik Bapa untuk memintanya pulang. Sedangkan si Om merasa belum cukup mapan membangun usahanya di perantauan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: small; line-height: 105%;"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: small; line-height: 105%;"&gt;Ketika kami pulang kampung akhir tahun lalu ke rumah ayah di Sarimatondang, saya melihat ada beberapa perubahan dalam formasi foto yang banyak bergelantungan di ruang tamu. Seingat saya, dulu yang jadi pusat perhatian manakala duduk di sana adalah foto-foto pernikahan anak-anaknya yang dijejerkan menurut sekuens waktu. Jauh sebelum itu, yang jadi pusat perhatian adalah foto-foto wisuda kami yang juga dideretkan mengikuti perjalanan waktu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/TLRaD1YHYgI/AAAAAAAAA_w/DTj8Dl4KUgI/s1600/sayang+oppung.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: small; line-height: 105%;"&gt;Kini, yang paling mencorong adalah sebuah foto berukuran besar, kira-kira setengah meter persegi, ukuran yang mengingatkan saya pada foto-foto poster peserta Pilkada. Bila disimak dari dekat, kelihatan sekali foto itu adalah hasil repro dari foto yang sudah lama. Dicetak hitam-putih dengan bingkai yang agak lebih bagus dibanding foto-foto lain di ruang itu&amp;nbsp; terlihat di dalamnya empat orang anak kecil sedang mengerumuni seorang tua, lengkap dengan tempurung kelapa di genggaman salah seorang mereka. Tak salah lagi, foto hitam putih itu adalah foto SAYANG OPPUNG yang kini sudah naik kelas: dulunya&amp;nbsp; tersimpan di album keluarga kini dibingkai di dinding.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: small; line-height: 105%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: small; line-height: 105%;"&gt;Terimakasih Bapa, untuk ketekunanmu mengabadikan semua yang tak mungkin dilupakan ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: small; line-height: 105%;"&gt;(selesai)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: small; line-height: 105%;"&gt;Catatan: Fotokopi kliping Koran yang memuat foto ini sampai kini masih disimpan oleh Bapa. Semoga dalam waktu dekat ada waktu untuk menscan dan mengunduhnya ke dunia maya. Sebagai bagian dari mengabadikan apa yang tidak boleh dilupakan&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27078097-1365407232096868185?l=mysarimatondang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/feeds/1365407232096868185/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/2010/10/sayang-oppung.html#comment-form' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27078097/posts/default/1365407232096868185'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27078097/posts/default/1365407232096868185'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/2010/10/sayang-oppung.html' title='Sayang Oppung'/><author><name>Eben Ezer Siadari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17409901844739673818</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sDOvG1QwyNo/SEYuxWm2rnI/AAAAAAAAALk/Kai8v-INR70/S220/foto-abdi2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/TLRdC5V1hmI/AAAAAAAAA_0/4T6fUclayBU/s72-c/sayang+oppung.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27078097.post-2306323794626735567</id><published>2010-10-15T21:01:00.000-07:00</published><updated>2010-11-08T04:57:04.439-08:00</updated><title type='text'>Foto-foto Karya Sintua</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SzHlrXC7lNI/AAAAAAAAA6s/UDtPUz5m-oA/s1600/sayurmatuafoto.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/TLkf6quVrJI/AAAAAAAAA_8/4cI_1BaILac/s1600/LWF2.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt; &lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Di masa kami kecil di Sarimatondang–dan sampai sekarang juga—tidak  mengherankan bila sebagian besar pengurus gereja adalah mereka yang  berprofesi sebagai guru dan pegawai negeri lainnya. Mereka ini relatif  lebih siap berorganisasi, menjalankan dan memimpinnya. Demikian pula  halnya dalam hal keleluasaan waktu. Lagipula, anggapan bahwa guru itu  harus digugu dan ditiru tampaknya bukan hanya berlaku di Jawa, tetapi  juga dimana-mana di Indonesia. Menjadi pengurus gereja bagi seorang guru  menjadi bagian lain dari pengejawantahan keberadaannya sebagai yang  patut digugu dan ditiru itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SzHlrXC7lNI/AAAAAAAAA6s/UDtPUz5m-oA/s1600/sayurmatuafoto.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="http://3.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SzHlrXC7lNI/AAAAAAAAA6s/UDtPUz5m-oA/s200/sayurmatuafoto.JPG" style="margin-left: auto; margin-right: auto;" width="200" /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Bapa dan Mamak, dalam sebuah kesempatan&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Sejak  masa mudanya ayah kami yang akrab kami sapa Bapa, sudah aktif dalam  berbagai kegiatan gereja. Ia pernah menjadi konduktor paduan suara  gabungan beberapa gereja pada perayaan Natal Oikumene di Kecamatan  Sidamanik, tempat kami tinggal. Bahkan ia menggaet Mamak pun berkat  aktivitasnya di gereja itu. Sebagian hal ini saya tahu bukan karena ia  menceritakannya, melainkan saya lihat dari foto-foto jadul yang dengan  rapi masih ia simpan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Saya sudah lupa sejak kapan persisnya Bapa menjadi &lt;i&gt;sintua&lt;/i&gt;.  Yang saya ingat waktu itu –saya masih duduk di Sekolah Dasar— pada  suatu hari Minggu ada pesta kecil-kecilan di rumah dengan memotong  seekor babi. Walau orang yang diundang tidak seberapa, saya bisa menduga  ada sesuatu yang luar biasa akan kami rayakan. Pasti lah ini bukan  sekadar perayaan ulang tahun. Sebab seumur hidup saya –sampai  sekarang—ulang tahun seseorang di rumah kami selalu dirayakan dengan  ‘hanya’ memotong seekor ayam. Dan perkiraan saya benar. Bapa rupanya  dari gereja tadi telah ditahbiskan menjadi &lt;i&gt;sintua&lt;/i&gt; –pengurus gereja—sebuah predikat yang akan dia sandang hingga akhir hayatnya.&lt;br /&gt;Dalam  kapasitasnya sebagai sintua itu, Bapa cukup beruntung telah mengalami  banyak hal. Bukan saja pernah kebagian untuk membunyikan lonceng gereja  setiap hari Sabtu sore dan Minggu pagi, tetap lebih banyak lagi. Ia  pernah jadi perutusan Sinode Bolon beberapa periode—hingga membawanya ke  Jakarta, Bogor dan Bandung. Menjadi ketua atau sekretaris pesta gereja  pun beberapa kali ia lakoni. Puncak kariernya –kalau boleh dikatakan  begitu – ia pernah menjadi wakil pengantar jemaat di gereja kami yang  kecil itu. Ketika suatu kali ia dicalonkan jadi pengantar jemaat, ia  kalah suara dari kandidat lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi dari berbagai  warna-warni aktivitasnya sebagai pengurus gereja itu, yang banyak  menarik perhatian saya adalah ketekunannya untuk mengabadikan sesuatu.  Baik melalui corat-coretnya di buku hariannya, tetapi yang terutama oleh  tulisan mau pun foto-fotonya di koran tempat dia bekerja sebagai  reporter lepas. Rupanya, aktivitasnya sebagai sintua memberinya pula  kesempatan mengeksplorasi berbagai kegiatan gerejawi. Dari beberapa foto  jadul yang sempat saya lihat, kini makin saya sadari kejeliannya dalam  memilih sesuatu untuk ditulis –kemampuan yang hanya bisa ditempa lewat  pengalaman dan pergaulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa foto dan artikel di  bawah ini adalah karya Bapa di koran tempatnya bekerja, yang  menceritakan kegiatan kegerejaan. Pada foto pertama ini, Bapa melaporkan  kunjungan Sekretaris Umum Lutheran World Federation (LWF), Prof  Rajaratnam di GKPS Sarimatondang. Ia bahkan turut berfoto dengan pejabat  organisasi gereja tersebut. Dalam tulisannya itu terdapat beberapa  salah ketik. Maklum lah, dugaan saya ia mengetiknya di kantor dengan  terburu-buru. Seingat saya, kami baru punya mesin ketik sendiri beberapa  waktu belakangan ini saja. Itu pun diperoleh dari pemberian seorang  kerabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begini lah bunyi laporannya tentang kunjungan Sekum LWF tersebut yang dimuat oleh harian &lt;i&gt;Sinar Indonesia Baru&lt;/i&gt;, tertanggal 21 Maret 1976:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Sekretaris Umum LWF Kunjungi Gereja2 di Simalungun&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Simalungun (SIB)&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Sekretaris  Umum LWF (Lutheran World Federation) dari Jenewa, Switzerland, mulai  tanggal 13 Maret yang baru lalu telah mengadakan kunjungan ke gereja2 di  Sumut dalam rangka sebagai bahan persiapan ke sidang DGI yang diadakan  pada bulan Juli mendatang ini di Salatiga. Dalam kesempatan ini beliau  meninjau gereja2 Lutheran di Simalungun dan dalam peninjauan ke GKPS  beliau telah meninjau beberapa daerah diantaranya Sidamanik, Haranggaol  dan Kec. Raya. Pada tgl 15 Maret yang baru lalu beliau telah memimpin  kebaktian untuk pegawai kemotoran di Raya dimana sebagai thema dari  pengarahannya berjudul, ‘Melihat Tanda2 Jaman.’&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/TLkfGS90_5I/AAAAAAAAA_4/LC0Qp4Nsok8/s320/LWF.jpg" style="margin-left: auto; margin-right: auto;" width="207" /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Ini adalah kliping koran tulisan Bapa yang melaporkan kunjungan Sekjen LWF ke Sarimatondang. Dalam foto Bapa berada paling kiri. Di tengah, Sekjen LWF sedangkan paling kanan adalah St H Sumbayak, pengantar jemaat GKPS kala itu&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/TLkfGS90_5I/AAAAAAAAA_4/LC0Qp4Nsok8/s1600/LWF.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Disamping  itu beliau mengatakan bahwa ketekunan beragama di Asia sudah lebih maju  jika dibandingkan Eropah, dimana ketentuan melaksanakan ibadah di  sebagian daerah di Eropah, dikatakan kurang, karena kemungkinan pengaruh  dari kesibukan2 lain misalnya industri ekonomi dan lain2. Penduduk di  negara2 Asia masih menyempatkan dirinya satu jam utk berdoa mengingat  Tuhan, ataupun pergi ke gereja atau mesjid.&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://4.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/TLkf6quVrJI/AAAAAAAAA_8/4cI_1BaILac/s200/LWF2.jpg" style="margin-left: auto; margin-right: auto;" width="163" /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Foto lainnya dalam tulisan yang berbeda melaporkan kunjugan Sekjen LWF. Keterangan foto: Sekjen GKPS Pdt A Munthe sedang berbincang-bincang dengan Sekretaris LWF dari Jenewa Prof Dr Rajaratnam yang berkebangsaan India. Di sebelah kiri tampak Pdt B Saragih, pendeta GKPS Resort Sidamanik. Lokasinya di lapangan sepakbola Sarimatondang&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;blockquote&gt;&amp;nbsp;&lt;i&gt;Diterangkannya  bahwa di negara Barat telah banyak manusia melalaikan ibadah, karena  kebebasannya menjurus apa yg dikatakan hippis sehingga kaum beragama di  sana mendatangkan para evangelis Asia (Indonesia) untuk berkhotbah  memberi petunjuk atas kekeliaruan kebebasan mereka.&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Beberapa perkawinan di sana terkadang hanya berlangsung satu minggu atau satu bulan saja.&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&amp;nbsp;&lt;i&gt;Pada  pertemuan tgl 13 Maret di GKPS Sarimatondang itu, masyarakat GKPS di  sana telah menjamu Rajaratnam dan disuguhi ‘tudu2ni” sipanganon sebagai  spesifik adat Simalungun (WS)&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Satu  lagi laporan foto karya Bapa yang lebih unik bercerita tentang kegiatan  Dr. Arlen James MA dalam merekam lagu-lagu rakyat Simalungun. Laporan  singkatnya itu berbunyi begini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/TLkgybofaFI/AAAAAAAABAA/HE6PyiBd070/s320/LWF3.jpg" style="margin-left: auto; margin-right: auto;" width="215" /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Foto yang menerangkan kegiatan Dr. Arlen Jansen MA&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;Dr.  Arlen Jansen MA seorang dosen Universitas Nommensen Pematang Siantar  sedang merekam lagu2 rakyat Simalungun sambil mengatur alat2 musik yang  antik (gambar atas). Sementara gambar bawah Dr. James MA makan nasi  bungkus dengan J.E. Saragih pensiunan Kabid Permuseuman Sumatera Utara,  bersama Partuha Maujana Simalungun.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan  ini Bapa yang sudah lama pensiun dari pekerjaan sebagai guru,  seringkali menelepon menanyakan saya bagaimana caranya untuk mempunyai  akun facebook. Rupanya dia demikian bergairah untuk turut dalam kemajuan  di dunia maya ini, terutama setelah adik bungsu saya yang tinggal  bersamanya –setelah lama kami bujuk-bujuk—kini sudah punya akun  facebook. Dari adik bungsu kami itu lah dia mengintip beberapa note saya  yang bercerita tentang dirinya. Dan –mungkin ini &lt;i&gt;childish&lt;/i&gt;—saya  selalu gembira sedemikian rupa tiap kali adik saya bercerita bahwa Bapa  membaca note itu sambil melontarkan kritik atau pujian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;img border="0" height="222" src="http://1.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/TLkivFkDWPI/AAAAAAAABAE/YddKn-Zm4kA/s320/LWF4.jpg" style="margin-left: auto; margin-right: auto;" width="320" /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Ini foto lain yang termuat di koran Sinar Pembangunan, 29 Mei 1976. Keterangannya berbunyi seperti ini:&lt;br /&gt;ADM PTP VIII Bah Butong sedang menyematkan sejumlah uang sumbangannya kepada penari2 Simalungun dalam suatu Pesta Pembangunan Gereja di Sidamanik baru2 ini. Nyonya ADM PTP VIII kelihatan membuka dompet siap untuk menyumbang kepada penari2 Simalungun.&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/TLkivFkDWPI/AAAAAAAABAE/YddKn-Zm4kA/s1600/LWF4.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Tulisan  ini pun adalah dalam rangka ‘mengucapkan terimakasih’ kepada beliau,  yang dulu sering mengajak saya bersila disampingnya untuk membantu  menggunting koran berisi tulisan-tulisannya, menempelinya ke buku besar  untuk diabadikan. Jujur saja, dulu saya menganggap itu adalah beban,  bahkan hukuman. Kini saya belajar banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(selesai)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27078097-2306323794626735567?l=mysarimatondang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/feeds/2306323794626735567/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/2010/10/foto-foto-karya-sintua.html#comment-form' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27078097/posts/default/2306323794626735567'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27078097/posts/default/2306323794626735567'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/2010/10/foto-foto-karya-sintua.html' title='Foto-foto Karya Sintua'/><author><name>Eben Ezer Siadari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17409901844739673818</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sDOvG1QwyNo/SEYuxWm2rnI/AAAAAAAAALk/Kai8v-INR70/S220/foto-abdi2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SzHlrXC7lNI/AAAAAAAAA6s/UDtPUz5m-oA/s72-c/sayurmatuafoto.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27078097.post-731715792311305314</id><published>2010-09-05T01:00:00.000-07:00</published><updated>2010-12-23T02:13:17.021-08:00</updated><title type='text'>Insiden di Ruang Cukur</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/TINPdwMChjI/AAAAAAAAA_g/bABvQgkUUFQ/s1600/beard.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5513337741401818674" src="http://3.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/TINPdwMChjI/AAAAAAAAA_g/bABvQgkUUFQ/s320/beard.jpg" style="cursor: pointer; float: left; height: 320px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 320px;" /&gt;&lt;/a&gt;Pamulang, 28 Agustus, 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam dinding di kios tukang  cukur itu menunjuk waktu 14:30 ketika saya melangkah masuk. Agak tenang  hati ini karena di bangku antrian tak ada orang duduk, pertanda saya tak  perlu lama menunggu. Yang membuat saya terkejut ternyata si Abang  tukang cukur sedang terlibat dialog serius dengan pelanggan yang baru  saja ia tuntaskan mencukur rambutnya. Ketika saya meletakkan diri di  kursi  seraya berharap dialog kedua orang itu cepat usai, barulah saya  tersadar  itu bukan dialog biasa. Suara mereka tampaknya makin keras  satu sama lain. Bersahut-sahutan secara tak teratur. Lebih tepatnya,  mereka bertengkar.&lt;br /&gt;&lt;div class="photo photo_left"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Lho, Babe&lt;/i&gt; kan bilang, janggutnya saja yang &lt;i&gt;disisain&lt;/i&gt;…,” kata si Abang Cukur seperti membela diri.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, tapi kenapa ini juga &lt;i&gt;dihabisin&lt;/i&gt;?”  kata si pelanggan dengan nada marah, sambil menunjuk lekukan di bagian  bawah bibir bawahnya. Kelihatan memang bagian itu sudah tercukur tuntas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lha&lt;/span&gt;, &lt;i&gt;Babe kagak&lt;/i&gt; bilang tadi….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mestinya kamu tanya dong. Jangan asal babat saja,” kata si &lt;i&gt;Babe&lt;/i&gt; masih belum bisa menahan rasa kesalnya. Sekali lagi ia mematut diri di cermin, dan kembali ia menunjukkan wajah asam cuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Udah berapa lama sih kamu jadi tukang cukur?” si &lt;i&gt;Babe &lt;/i&gt;kembali  mencecar si Abang Cukur dengan pertanyaan yang sesungguhnya tak ia  nantikan jawabannya. Wajahnya ia dorongkan mendekat ke wajah si Abang  Cukur.  Si Abang menghindar. Jelas, perawakannya yang kecil tak  sebanding dengan tubuh kukuh si &lt;i&gt;Babe.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kapan kamu bisa maju kalau tak mengerti selera pelanggan?. Kan kamu mestinya bisa nanya saya tadi?” si &lt;i&gt;Babe&lt;/i&gt; masih terus menyemprot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi tadi &lt;i&gt;Babe&lt;/i&gt; tidur. &lt;i&gt;Aye&lt;/i&gt; takut &lt;i&gt;ngebangunin&lt;/i&gt;…” Si Abang Cukur menyahut takut-takut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Loh&lt;/span&gt;,  siapa yang melarang kamu membangunkan konsumen kamu? Justru kamu harus  melakukan itu bila kamu ingin memberi pelayanan yang memuaskan. Makan  sekolahan nggak sih?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si Abang Cukur memerah wajahnya.  Sejenak ia mengusapnya dengan kedua tangannya sambil mengucap sesuatu.  Saya yang dari tadi menyimak, gamang juga untuk bersikap. Tentulah sulit  terlibat pada persoalan yang belum sepenuhnya saya mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu tahu? Saya akan dimarahi guru spiritual saya jika cukuran saya begini,” kata si &lt;i&gt;Babe&lt;/i&gt; sambil memandang sengit kepada Abang Cukur. Sepintas si &lt;i&gt;Babe &lt;/i&gt;menoleh ke arah saya, tetapi saya pura-pura tak melihat. Bahaya kalau ikut campur pada persoalan genting seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;i&gt;Maafin aye Be&lt;/i&gt;,” terdengar nada gemetar dan rasa bersalah dari si Abang Cukur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;i&gt;Tau nggak&lt;/i&gt;?  Bukan cuma kamu yang gregetan mau mencukur ini. Istri saya saja sudah  berkali-kali meminta agar bagian itu dicukur, tetapi tak saya ladeni.  Itu janggut kebijakan. Tau kamu? Tidak sembarangan orang punya,” kata si  Babe. Kelihatan betul dia masih kesal. Bagian bawah bibirnya yang sudah  plontos ia raba-raba. Lalu si &lt;i&gt;Babe &lt;/i&gt;kembali duduk di bangku  cukur, seolah enggan meninggalkan kios itu sebelum ada solusi yang  memuaskan. Ia tampak berpikir keras. Suasana hening.  Sekali lagi ia  pandangi wajahnya di cermin. Satu tangannya mengelus-elus janggut di  bawah dagunya yang lumayan panjang dan lebat. Berkali-kali ia menarik  nafas panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;i&gt;Maafin aye Be&lt;/i&gt;. Sumpah. &lt;i&gt;Aye kire&lt;/i&gt; Babe akan &lt;i&gt;seneng&lt;/i&gt; kalau semua &lt;i&gt;aye bersihin&lt;/i&gt; kecuali janggut di dagu. &lt;i&gt;Biasanye&lt;/i&gt; orang-orang juga begitu,” kata si Abang cukur sambil membungkuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Babe&lt;/span&gt; terdiam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nanti juga tiga hari bakal tumbuh lagi,” kata si Abang Cukur menghibur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Babe&lt;/span&gt; masih juga diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mohon maaf juga &lt;i&gt;aye ame&lt;/i&gt; gurunye &lt;i&gt;Babe&lt;/i&gt;. Yah, &lt;i&gt;namanye aye&lt;/i&gt; orang kecil&lt;i&gt; Be&lt;/i&gt;. &lt;i&gt;Gak ngerti &lt;/i&gt; sama yang &lt;i&gt;gituan, Kagak makan sekolahan…&lt;/i&gt;” si Abang Cukur tampak demikian mengkeret.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah….sudah,  sudah. Lain kali kalau mencukur hati-hati.Tidak semua orang punya  selera seperti yang kamu mau.  Ini. Ambil,” kata si Babe, menyodorkan  uang Rp20 ribuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ambil saja sisanya,” kata si Babe sambil melangkah pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si Abang cukur melongo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini  giliran saya duduk di bangku cukur.  Tapi si Abang tidak langsung  beraksi seperti biasa, yakni menyelimuti pelanggannya dengan kain lebar  penampung jatuhan rambut. Kali ini ia mengamati dengan seksama kepala  dan wajah saya. Setelah ia merasa pasti, baru ia sedikit tersenyum  seraya mempersiapkan alat-alat cukurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aman, pokoknya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Be&lt;/span&gt;. &lt;i&gt;Babe nyang &lt;/i&gt;ini &lt;i&gt;kagak&lt;/i&gt;  punya janggut, jadi aman,” kata dia, sambil mengarahkan pandang ke dagu  saya yang memang tak ditumbuhi janggut. Senyumnya tambah lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berani bertaruh, pasti &lt;i&gt;Babe kagak&lt;/i&gt; punya guru spiritual, kan?” kata dia. Kali ini mungkin mau melucu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya  diam saja. Lebih baik tidur. Tak baik ikut campur tentang urusan  janggut orang lain. Apalagi bila sampai menyangkut pada guru spiritual  segala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(selesai)&lt;br /&gt;*Catatan: Insiden itu benar-benar terjadi, tetapi cerita ini sudah saya modifikasi sedemikian rupa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27078097-731715792311305314?l=mysarimatondang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/feeds/731715792311305314/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/2010/09/insiden-di-ruang-cukur.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27078097/posts/default/731715792311305314'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27078097/posts/default/731715792311305314'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/2010/09/insiden-di-ruang-cukur.html' title='Insiden di Ruang Cukur'/><author><name>Eben Ezer Siadari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17409901844739673818</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sDOvG1QwyNo/SEYuxWm2rnI/AAAAAAAAALk/Kai8v-INR70/S220/foto-abdi2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/TINPdwMChjI/AAAAAAAAA_g/bABvQgkUUFQ/s72-c/beard.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27078097.post-68219629164437539</id><published>2010-05-21T20:13:00.000-07:00</published><updated>2010-10-16T08:20:55.354-07:00</updated><title type='text'>Diplomasi 'Pohul-pohul'</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/S_dMyYzssMI/AAAAAAAAA-8/n9IvMcJCWY8/s1600/koki+pohul2+cover.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5473928300628586690" src="http://3.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/S_dMyYzssMI/AAAAAAAAA-8/n9IvMcJCWY8/s320/koki+pohul2+cover.jpg" style="cursor: pointer; float: left; height: 320px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 237px;" /&gt;&lt;/a&gt;Walau pada mulanya agak cemas, akhirnya Ami jadi juga menginap di rumah Tante Retno. Bocah yang masih duduk di bangku SD ini cukup akrab dengan  adik ibunya itu, yang sudah beberapa lama menikah tapi belum punya momongan. Rumah Tante Retno juga tak terlalu jauh dari Bantul, tempat tinggal Ami.  Perjalanan kesana cukup ditempuh dengan sepeda motor.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang bikin Ami was-awas, inilah dia pertama kali menginap di rumah Tante Retno tanpa bersama ayah-ibunya. Padahal,  Ami takut sama Om Bonar, suami sang Tante. Maklumlah, Om Bonar orang Batak.  Badannya tinggi kurus tapi suaranya besar. “Om Bonar kan kalau bicara suaranya keras banget…..takut,” kata Ami.  Untung ayahnya bisa menenteramkan hatinya. “Kebanyakan orang Batak memang  memiliki suara keras, Ami. Tapi itu tidak berarti dia jahat,” kata ayahnya membesarkan hati putrinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan betul saja. Di rumah Om Bonar, Ami yang dibesarkan oleh orangtua berlatarbelakang budaya Jawa itu, mulai seperti terbuka matanya. Om Bonar yang bersuara keras ternyata menyambutnya dengan ramah. Bahkan yang tak bisa dia bayangkan, Om Bonar pintar memasak. Ami diajarinya memasak &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pohul-pohul, &lt;/span&gt;‘kue’ populer di kampung halaman Om Bonar yang terbuat dari tepung beras, gula dan parutan kelapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendek kata, melalui diplomasi pohul-pohul, Ami mendapat pemahaman baru tentang orang Batak dalam personifikasi Om Bonar. “Suara Om Bonar itu lo, besar sekali. Rasanya kadang seperti mendengar suara orang marah-marah. Tapi dari senyum lebar Om Bonar, sepertinya Om Bonar orang yang menyenangkan….,” begitulah pendapat Ami setelah kenal lebih dekat dengan Om Bonar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ami juga melihat sisi kelembutan lain dari  pria Batak yang dulunya dianggapnya sangar.  Ami jadi paham sejak kecil anak-anak Batak sudah terbiasa bekerja di dapur, khususnya mereka yang terlahir sebagai anak sulung seperti Om Bonar, yang  adiknya laki-laki semua.  Tak bisa mengelak, Om Bonar harus bisa memasak.  Tak cuma itu, ayah Om Bonar juga ternyata jago masak. “Di rumahku sambal buatan ayahku jauh lebih enak daripada buatan ibuku. Ayahku tampak hebat kalau sedang memasak,” begitu Om Bonar bercerita sambil mengolah tepung, parutan kelapa dan gula. Ami dan beberapa kawan sebayanya yang turut dalam proyek pohul-pohul itu, seperti tersadar betapa salahnya anggapan yang mereka pelihara, bahwa pria tak bisa memasak. Apalagi pria Batak.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/S_dMzKthlAI/AAAAAAAAA_M/_EZmmS7X15c/s1600/kris+dan+oni.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5473928314024465410" src="http://3.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/S_dMzKthlAI/AAAAAAAAA_M/_EZmmS7X15c/s320/kris+dan+oni.jpg" style="cursor: pointer; float: left; height: 239px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 320px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;()()()&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita di atas saya baca dari sebuah buku komik berjudul&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Calon Koki Pohul-pohul.&lt;/span&gt; Komik itu diterbitkan atas kerjasama SahabatGloria dan Yayasan Tifa dalam rangka program pendidikan multikulturalisme dengan pengembangan karakter. Jangan cari buku ini di toko buku, sebab ia tak dijual. Buku-buku ini dibagikan secara gratis. Tujuannya, ya itu tadi, untuk mempromosikan pemahaman yang positif tentang kemajemukan budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis teks komik ini bernama Krismariana Widyaningsih. Ia saya kenal beberapa tahun lalu, diawali dengan bertukar surat-e. Kris juga blogger dan kami saling kunjung-mengunjungi blog masing-masing. Sesekali ia mengomentari &lt;a href="http://www.mysarimatondang.blogspot.com/"&gt;My Beautiful Sarimatondang&lt;/a&gt;.  Saya juga kadang-kadang membubuhkan pesan di &lt;a href="http://www.blognyakrismariana.wordpress.com/"&gt; My Writing &lt;/a&gt;. Sesudah itu kami beberapa kali bertemu, ngopi, ngobrol, menjajal busway dan sambil bertukar-pikiran soal tulis-menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika, beberapa bulan lalu, tiba-tiba saja dia mengirimkan email. Dia bertanya, apa saja makanan yang selalu terhidang di meja makan orang Batak. Saya tertawa mendapat pertanyaan itu, sebab saya langsung terpikir pada keluarga saya di Sarimatondang dan beberapa kerabat di kampung halaman. Boro-boro ada makanan yang selalu terhidang, meja makan pun tak pernah kami kenal di masa kanak-kanak…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi rupanya Kris sangat serius dengan pertanyaan itu. Sebab ia memang sedang merancang komik untuk anak-anak dengan tema multikulturalisme. Kali ini ia ingin memperkenalkan Orang Batak. Dan itulah alasannya mengirimkan pertanyaan aneh tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seingat saya, ada beberapa kali kami duduk bersama –sambil makan mi ayam Bakmi Naga maupun menikmati sop buntut di TIM—untuk proyek yang, buat saya agak aneh ini. Dan dalam pertemuan-pertemuan itu, Kris cukup pintar menyelap-nyelipkan pertanyaan untuk menggali apa saja yang khas tentang orang Batak yang dapat dijadikan tema memperkenalkannya secara populer kepada anak-anak non-Batak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pohul-pohul dan lappet memang agak banyak mendominasi pembicaraan kami, pada akhirnya. Kris tampaknya tertarik betul, apalagi saya pernah cerita, bahwa pohul-pohul di pesta itu biasanya ukurannya besar-besar. Dan karena cetakan pohul-pohul adalah kepalan tangan orang dewasa, saya curiga itu bukan kepalan perempuan tetapi laki-laki. Kalau itu benar, kaum pria lah sesungguhnya koki pohul-pohul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/S_dMy0v9fDI/AAAAAAAAA_E/gBgaUSeZ1BQ/s1600/koki-pohul2+001.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5473928308129102898" src="http://2.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/S_dMy0v9fDI/AAAAAAAAA_E/gBgaUSeZ1BQ/s320/koki-pohul2+001.jpg" style="cursor: pointer; float: left; height: 320px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 224px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;()()()&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak dua bulan lalu, Kris dan saya sebenarnya sudah membuat janji untuk bertemu, ngopi atau makan donut bareng. Tapi lebih dari lima kali kami menetapkan tempat dan waktu pertemuan, tapi menjelang hari H, pasti salah satu diantara kami –saya yang paling sering—membatalkannya karena ada kesibukan lain yang lebih penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi pada akhirnya, bertemu jualah kami di suatu sore, dua minggu lalu, di tempat makan bakso di bilangan Klender, Jakarta. Kali ini Ami datang bersama Oni, suaminya, dosen dan calon filosof yang asli Bangka. Sambil saya menyeruput es teler di hadapan, Kris menyodorkan komik yang telah berbulan-bulan sebelumnya ia janjikan akan ia berikan. Reaksi saya yang pertama adalah terbelalak membaca judulnya,&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Calon Koki Pohul-pohul.&lt;/span&gt; Tak terukur besar hati saya, sebab tak pernah sedikit pun saya menduga, bahwa pohul-pohul akan menjadi sebuah judul yang ditulis besar-besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih gembira –dan sedikit bangga--lagi karena di dalamnya saya masih dapat menjejaki beberapa hal yang pernah kami diskusikan dulu. Ada tokoh sambil lalu yakni keluarga Sadari (hanya kurang huruf ‘i’ untuk menjadi marga saya yang Siadari itu), ada  Om Bonar (Paman saya –adik lelaki ibu-- juga bernama Bonar Damanik), tentang pria sulung yang dipaksa harus bisa memasak karena semua adiknya laki-laki (saya punya banyak teman yang begitu), dan tentang ‘sambal buatan ayah yang lebih enak daripada sambel buatan ibu.’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari adanya sedikit kelemahan grafis dalam menggambarkan pohul-pohul, komik ini sangat kreatif dan persuasif menggambarkan ‘orang Batak’ kepada anak-anak non-Batak, dan sekaligus menjadi promosi yang efektif tentang kemajemukan budaya. Tiba-tiba saya merasa diri ini sangat kecil dan berutang besar kepada Kris, yang kadang-kadang suaranya saja tidak kedengaran ketika bicara, tapi telah berbuat banyak untuk kami orang-orang Batak. Seselintas terpikir oleh saya, jangan-jangan selama ini kami orang Batak ini telah agak berlebihan mengukur diri sendiri sehingga merasa akan mampu menyelesaikan seluruh masalah keBatakan di pundak kami sendiri. Padahal ada orang-orang seperti Kris, yang dalam kesederhanaan dan kesenangannya melihat warna-warni Indonesia, bisa dimintai tolong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terimakasih ya Kris. Kapan kita ngopi lagi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Selesai)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27078097-68219629164437539?l=mysarimatondang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/feeds/68219629164437539/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/2010/05/diplomasi-pohul-pohul.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27078097/posts/default/68219629164437539'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27078097/posts/default/68219629164437539'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/2010/05/diplomasi-pohul-pohul.html' title='Diplomasi &apos;Pohul-pohul&apos;'/><author><name>Eben Ezer Siadari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17409901844739673818</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sDOvG1QwyNo/SEYuxWm2rnI/AAAAAAAAALk/Kai8v-INR70/S220/foto-abdi2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/S_dMyYzssMI/AAAAAAAAA-8/n9IvMcJCWY8/s72-c/koki+pohul2+cover.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27078097.post-4678210230238221234</id><published>2010-05-19T05:37:00.000-07:00</published><updated>2010-10-16T08:21:14.625-07:00</updated><title type='text'>Perjuangan Menuju ke Parapat</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/S_PhVUdxicI/AAAAAAAAA-k/VRgaa-r8zO8/s1600/trukdanautoba.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5472965728572377538" src="http://4.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/S_PhVUdxicI/AAAAAAAAA-k/VRgaa-r8zO8/s320/trukdanautoba.jpg" style="cursor: pointer; float: left; height: 320px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 317px;" /&gt;&lt;/a&gt;Bepergian ke Parapat adalah sebuah perjuangan. Bermacam cara dilakukan orang, asal saja bisa tiba di pemandian danau yang luas dan tak pernah menjemukan itu. Termasuk dengan menumpang truk berterali, seperti di foto-foto ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tahun 70-an dan 80-an, dari berbagai kawasan di sekitar Danau Toba orang sering berbondong-bondong satu kampung datang ke Danau Toba. Dan di masa ketika kendaraan pribadi masih jarang dan kendaraan umum pun juga sulit, mencarter (atau memborong, kata orang Sarimatondang) bus dan truk pun akan dilakukan demi mewujudkan keinginan sampai di Parapat, kota tepi Danau Toba itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenang-kenangan seperti itu muncul lagi ketika sambil mengantarkan kami mengunjungi Danau Toba beberapa waktu lalu, adik saya bercerita, di waktu kecil --mungkin ketika masih kelas tiga atau empat SD-- dia pernah iseng-iseng naik ke atas truk yang sedang berhenti tak jauh dari rumah. Tak dinyana, truk itu merupakan kendaraan yang sudah disewa oleh serombongan anak muda yang akan bepergian ke Parapat.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/S_PhVmgTqII/AAAAAAAAA-s/2l4ZRgMYBjQ/s1600/berenang.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5472965733414840450" src="http://3.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/S_PhVmgTqII/AAAAAAAAA-s/2l4ZRgMYBjQ/s320/berenang.jpg" style="cursor: pointer; float: left; height: 240px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 320px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Karena asyik bermain, tanpa sadar truk sudah berjalan dan adik saya telah berada diantara rombongan. Semula dia merasa kendaraan itu akan berhenti tak jauh dari rumah, tapi ternyata kebablasan. Truk melaju terus, hingga ke Parapat, yang jauhnya puluhan kilometer dari Sarimatondang, kmpung kami. Seharian adik saya berada dalam rombongan, jauh dari rumah dan diantara orang-orang yang tidak dia kenal. Kedua orang tua kami pun kalang kabut mencarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah pengalaman yang berharga bagi adik saya yang kini sudah punya dua anak itu. Dan tentu bagi kita juga.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27078097-4678210230238221234?l=mysarimatondang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/feeds/4678210230238221234/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/2010/05/perjuangan-menuju-ke-parapat.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27078097/posts/default/4678210230238221234'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27078097/posts/default/4678210230238221234'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/2010/05/perjuangan-menuju-ke-parapat.html' title='Perjuangan Menuju ke Parapat'/><author><name>Eben Ezer Siadari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17409901844739673818</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sDOvG1QwyNo/SEYuxWm2rnI/AAAAAAAAALk/Kai8v-INR70/S220/foto-abdi2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/S_PhVUdxicI/AAAAAAAAA-k/VRgaa-r8zO8/s72-c/trukdanautoba.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27078097.post-1584158354300013442</id><published>2010-05-17T05:12:00.000-07:00</published><updated>2010-10-16T08:21:44.998-07:00</updated><title type='text'>Surau Kecil di Mata Air Aek Simatahuting</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/S_E1aMym0RI/AAAAAAAAA90/Xhc-JALM-5A/s1600/surau.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5472213746458218770" src="http://2.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/S_E1aMym0RI/AAAAAAAAA90/Xhc-JALM-5A/s320/surau.jpg" style="cursor: pointer; float: left; height: 175px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 234px;" /&gt;&lt;/a&gt;Surau ini terletak di sepetak lahan, di sebelah kiri dari tebing menuju &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aek Simatahuting&lt;/span&gt;, mata air yang sekaligus pemandian di kampung kami. Entah sudah sejak kapan surau itu ada, didirikan oleh kawan-kawan sekampung dari etnis Jawa yang bermukim tak jauh dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aek Simatahuting&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;Ia menjadi salah satu saksi bagaimana perubahan terjadi di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aek Simatahuting&lt;/span&gt;. Dulu surau itu hanya berlantai tanah, beratap rumbia. Kini sudah berlantai semen. Yang tetap tak berubah adalah keterbukaannya kepada siapa saja. Sebab kami anak-anak Nasrani sering juga dengan bebasnya berteduh di sana bila tiba-tiba hujan turun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surau kecil ini juga jadi saksi bagaimana Aek Simatahuting kini sudah tak terlalu banyak lagi disinggahi orang. Setelah air minum masuk ke rumah-rumah, semakin sedikit orang yang mandi di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aek Simatahuting&lt;/span&gt;. Dan boleh ditebak, juga semakin tak banyak pula orang menggunakan&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/S_E1bTnEr5I/AAAAAAAAA-U/hhDyxml-EHc/s1600/aeksmt1.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5472213765468762002" src="http://1.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/S_E1bTnEr5I/AAAAAAAAA-U/hhDyxml-EHc/s320/aeksmt1.jpg" style="cursor: pointer; float: left; height: 137px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 184px;" /&gt;&lt;/a&gt;surau itu ber-sholat sesudah mandi. Itu, misalnya, terlihat dari makin banyaknya daun-daun berserak di seputar surau, pemandangan yang tak pernah terjadi di masa kami kanak-kanak. Surau itu dulu selalu bersih terawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aek Simatahuting&lt;/span&gt; sendiri kian hari kian berubah. Di tepi kiri-kanan jalanan ke kawasan mata air ini dulunya adalah perladangan yang ditumbuhi oleh pohon-pohon besar dan tanaman keras. Kalau melintasinya pagi-pagi sekali atau di siang bolong, dengan jelas masih terlihat gerombolan kera bergelantungan di dahan pohon; jauh lebih banyak dari rombongan kanak-kanak kami yang sedang berjalan menuju sungai.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/S_E1ahkEfkI/AAAAAAAAA-E/Vnn2LLgNMfg/s1600/jalan+yg+sudah+lebar.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5472213752034393666" src="http://2.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/S_E1ahkEfkI/AAAAAAAAA-E/Vnn2LLgNMfg/s320/jalan+yg+sudah+lebar.jpg" style="cursor: pointer; float: left; height: 111px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 148px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kini jalanan ke &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aek Simatahuting&lt;/span&gt; sudah lebar dan beberapa tahun lagi ia pasti sudah menjadi jalan raya beraspal. Di kanan-kiri jalan itu kini sudah makin banyak rumah penduduk. Lahan-lahan 'pertapakan' untuk rumah-rumah baru juga sudah mulai disiapkan. Hanya 50 meter dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aek Simatahuting&lt;/span&gt;, kini juga sudah ada kedai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya membayangkan, dalam diamnya surau kecil di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aek Simatahuting&lt;/span&gt; itu, tak kan pernah lupa mencatat betapa semuanya terus berjalan. Orang-orang datang silih berganti menghirup dan&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/S_E1aZvRsSI/AAAAAAAAA98/aeFpdah5Jkg/s1600/kedai.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5472213749933912354" src="http://2.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/S_E1aZvRsSI/AAAAAAAAA98/aeFpdah5Jkg/s320/kedai.jpg" style="cursor: pointer; float: left; height: 136px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 182px;" /&gt;&lt;/a&gt;mencicipi air jernih dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aek Simatahuting&lt;/span&gt;. Ada yang berterimakasih, ada yang hanya diam saja. Dan surau itu, dalam diamnya, terus mencatat, sampai kelak tiba waktunya. Ia mungkin akan membisikkannya ke dalam mimpi-mimpi kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat menikmati foto-foto Simatahuting ini, sahabat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27078097-1584158354300013442?l=mysarimatondang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/feeds/1584158354300013442/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/2010/05/surau-kecil-di-mata-air-aek.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27078097/posts/default/1584158354300013442'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27078097/posts/default/1584158354300013442'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/2010/05/surau-kecil-di-mata-air-aek.html' title='Surau Kecil di Mata Air Aek Simatahuting'/><author><name>Eben Ezer Siadari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17409901844739673818</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sDOvG1QwyNo/SEYuxWm2rnI/AAAAAAAAALk/Kai8v-INR70/S220/foto-abdi2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/S_E1aMym0RI/AAAAAAAAA90/Xhc-JALM-5A/s72-c/surau.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27078097.post-7342197889370909517</id><published>2010-02-11T01:05:00.000-08:00</published><updated>2010-10-24T00:17:05.847-07:00</updated><title type='text'>Sebentar Lagi Valentine Day</title><content type='html'>&lt;div class="note_content text_align_ltr direction_ltr clearfix"&gt;&lt;div&gt;Sebentar lagi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Valentine Day&lt;/span&gt;. Hari Kasih Sayang. Hari untuk mengingat orang-orang terkasih. Dan, saya mengingat dia lagi. Berapa tahun umurnya sekarang? Empat puluh satu tahun? Saya tidak pernah lagi menghitungnya sejak kepergiannya dulu. Yang selalu terbayang adalah wajahnya yang muda. Wajah seorang gadis di awal kuliahnya. Yang riang. Yang penuh canda. Tapi sekaligus punya stok kata-kata untuk menghibur.&lt;/div&gt;&lt;div class="photo photo_none"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;img class="" height="224" onload="var img = this; onloadRegister(function() { adjustImage(img); });" src="http://photos-a.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs165.snc3/19271_1211505815692_1470167640_30508727_8264998_n.jpg" style="margin-left: auto; margin-right: auto;" width="320" /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;div class="clear_none"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;Eva, kedua dari kanan. Penulis paling   kanan. Tiap kali mengenang dia, senyum seperti ini selalu muncul   sekelebat. Pic by W.Siadari  BA (Op. Amartya)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="clear_none"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;Bagaimana kira-kira dia sekarang? Masih kah ia suka memainkan gitarnya, dan menyanyikan lagu-lagu baru yang lagi hit, seperti kebiasaannya dulu? Masihkah ia dengan nafas dan stamina panjangnya, sambil bernyanyi-nyanyi kecil, telaten bekerja di dapur? Mencuci piring? Menanak nasi? Melap meja? Membereskan potongan-potongan sayur yang masih berserak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya selalu heran akan antusiasmenya bekerja di dapur. Seperti juga kebanyakan pria lain di kampung halaman yang harus akrab dengan dapur, saya memang tak pernah alergi pada masak-memasak, sering juga, ikut mencuci piring, menjerang air di atas tungku kayu bakar (dulu belum ada kompor gas). Dan saya selalu tidak bisa mengusir rasa bosan. Selalu saja ingin buru-buru selesai. Ingin segera meninggalkan dapur yang sumpek, penuh asap dan becek karena air sering berceceran. Tapi dia, bisa melewati itu semua dengan ketekunan yang mengagumkan. Ia seolah menganggap dapur sebagai 'tempatnya' yang paling menyenangkan. Ada saja yang selalu ingin ia bereskan di sana.&lt;/div&gt;&lt;div class="photo photo_none"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;img class="" height="208" onload="var img = this; onloadRegister(function() { adjustImage(img); });" src="http://photos-e.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs165.snc3/19271_1211989187776_1470167640_30509484_2621448_n.jpg" style="margin-left: auto; margin-right: auto;" width="320" /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;Kata teman, gaya berfoto dgn menumpangkan  kedua tangan di pinggang disebut gaya cangkir. Eva lah yang sedang  bergaya cangkir itu. Oppung (yang berdasi) sedang bersiap ke gereja  pagi2 sekali, sedangkan kami cucunya, belum berbenah samasekali....Pic  by W.Siadari BA (Op. Amartya)&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30509484&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=214671278153&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=214671278153&amp;amp;id=1470167640"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="clear_none"&gt;&lt;br /&gt;Namanya Eva. Eva Netty Siadari. Saya tidak tahu kenapa merasa lebih dekat dengan dia dibandingkan dengan adik-adik yang lain. Mungkin karena usia kami yang tidak terpaut jauh. Hanya selisih dua tahun. Mungkin itu yang membuat kami merasa setara dalam membicarakan apa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu ketika saya akan berangkat ke Jakarta, malamnya kami berkumpul. Sambil bersenda gurau, kemudian ia menyanyikan lagu yang dinyanyikan Ucok Aka Harahap yang kala itu mempunyai kaset bestseller bersama Ahmad Albar dengan label Dua Kribo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Jangan kembali,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Sebelum kau berhasil&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Sebelum kau kalahkan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Kehidupan yang keras ini."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagu itu sangat kami sukai. Mungkin karena kami berada di lingkungan keluarga Batak, yang konon senang merantau dan merantau adalah salah satu tahap dalam hidup. Merantau, yang sering kami artikan jauh dari orang tua, mandiri, dan harus menaklukkan tantangan hidup, sudah menjadi obsesi. Dan lagu itu mengukuhkannya lagi. Tapi malam itu, ketika ia menyanyikannya, saya jadi berpikir lebih dalam. Kehidupan mana yang saya akan taklukkan? Kehidupan Jakarta yang saya belum tahu akan bagaimana? Di Jakarta saya memang akan tinggal di rumah kerabat. Tapi setelah itu, apakah saya akan bisa menaklukkan Jakarta yang konon lebih kejam dari ibu tiri itu?&lt;/div&gt;&lt;div class="photo photo_none"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;img class="" height="320" onload="var img = this; onloadRegister(function() { adjustImage(img); });" src="http://photos-d.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs185.snc3/19271_1212002108099_1470167640_30509559_3324257_n.jpg" style="margin-left: auto; margin-right: auto;" width="199" /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt; &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30509559&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=214671278153&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=214671278153&amp;amp;id=1470167640"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="caption" style="color: black; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;Eva menyaksikan Oppung (nenek) menumbuk tepung untuk dijadikan nitak dan Tante Lores turut membantu. Pic by W.Siadari BA (Op. Amartya)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="clear_none"&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya, di atas bis yang akan membawa saya ke Jakarta, saya melihat semua anggota keluarga dengan wajah kusut ikut mengantarkan. Kusut, karena kami harus berangkat subuh dari Sarimatondang ke Pematang Siantar, yang sejam perjalanan jauhnya. Dari P. Siantar lah bis memulai perjalanannya. Tetapi kekusutan bukan karena itu saja, saya kira. Mereka sedih, mungkin membayangkan saya, yang masih kelas 2 SMA, sudah harus berpisah jauh dengan mereka. Dan mungkin hanya dalam ukuran tahun baru akan bertemu kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya melihat dia menangis. Mengapa dia menangis dan tak bisa menyembunyikan tangisnya? Tidak seperti bapak dan mamak, yang berkaca-kaca matanya tapi tetap bisa tegar? Apakah dia membayangkan, setelah saya tinggalkan, akan menjadi anak yang paling tua di rumah?. Sehingga ia lah yang akan memikul beban membimbing adik-adik?&lt;/div&gt;&lt;div class="photo photo_none"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;img class="" height="255" onload="var img = this; onloadRegister(function() { adjustImage(img); });" src="http://photos-a.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs165.snc3/19271_1212014988421_1470167640_30509569_5697989_n.jpg" style="margin-left: auto; margin-right: auto;" width="320" /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;Sekali lagi Eva bergaya cangkir ketika suatu hari tamasya keluarga ke pantai Tigaras. Pic by W.Siadari BA (Op. Amartya)&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30509569&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=214671278153&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=214671278153&amp;amp;id=1470167640"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="clear_none"&gt;&lt;br /&gt;Surat-suratnya kemudian memang menceritakan hal itu. Menceritakan bagaimana ia menjadi anak tertua di rumah. Dalam setiap suratnya, selalu ia mengabari tentang bagaimana bapak dan mamak. Bagaimana ekonomi rumah tangga kami, keluarga guru desa yang pas-pasan, selalu tambal-sulam dan pinjam sana pinjam sini. "Kadang-kadang, Bapak dan mamak bertengkar kecil-kecilan. Tapi biasa lah. Dulu waktu Abang di sini, sudah begitu, bukan?" kata dia dalam suratnya suatu kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang selalu menyenangkan dari surat-suratnya adalah ketika ia bercerita tentang adik-adik. "Si Epi sekarang lagi senang-senangnya memberi makan ayam," itu salah satu ceritanya yang membuat saya bersemangat, menceritakan salah seorang adik yang gemar beternak. Tidak lupa pula, ia menggoda saya dengan pertanyaan-pertanyaan orang 'udik' yang masih membayangkan Jakarta tak beda dengan P. Siantar yang kecil itu. "Bagaimana, sudah ketemu I'is Sugianto belum?" Itu salah satu pertanyaannya yang lucu. Sebab ia tahu, saya penggemar berat I'is. Dan mungkin ia membayangkan, kalau sudah di Jakarta, kita dengan gampang saja menyambangi rumah selebriti itu.&lt;/div&gt;&lt;div class="clear_none"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;img class="" height="206" onload="var img = this; onloadRegister(function() { adjustImage(img); });" src="http://photos-e.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs165.snc3/19271_1212285355180_1470167640_30510271_2526212_n.jpg" style="margin-left: auto; margin-right: auto;" width="320" /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;div class="caption" style="color: black; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;Di  Bukit Gundaling pada suatu hari, 30 tahun lalu. (Dari kiri: W. Siadari  BA, Penulis, Eva, Eksa, Early dan Mamak/ Ny.Siadari). Terjadi dialog  begini:&lt;br /&gt;Penulis: Huh, alot kali rambutan ini,Nampaknya bukan rambutan Binjai ini.&lt;br /&gt;Eva: Santai aja bro. Jangan terburu-buru. Enjoy aja kita di Gundaling ini.&lt;br /&gt;Eksa: Kalian ngomongin apa sih? Rambutan macam apa yg kalian bicarakan?&lt;br /&gt;Early: Rambutanku masih utuh loh. Ini kupegang2, nanti aja kumakan hehe&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30510271&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=214671278153&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=214671278153&amp;amp;id=1470167640"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Lalu ketika ia tahu saya diterima di salah satu perguruan tinggi di Bandung, suratnya tiba di asrama dalam sebuah amplop yang lebih tebal dari biasanya. Suratnya ternyata berlembar-lembar. Sebagian besar adalah nasihat. Isinya kira-kira: saya harus lebih tekun belajar. Jangan tergoda pada gadis-gadis mahasiswi yang pastilah, menurut dia, cantik-cantik. Fokus pada pelajaran saja dulu. Dan ingat, setelah lulus harus pulang kampung segera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ketawa membaca surat itu. Di tingkat persiapan, ketika saya masih harus diplonco, sudah mendapat nasihat seperti itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahun kemudian, giliran saya yang mengirimkan surat berpanjang-panjang. Karena ia memang diterima di sebuah perguruan tinggi di Medan. Tapi saya justru mengirimi dia nasihat yang sebaliknya. Saya justru mengatakan supaya dia cepat cari pacar. Cari pacar yang bisa membimbingnya. Jangan terlalu serius belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika semua orang kaget ketika saya akhirnya bisa juga kuliah di Bandung (karena rapor saya biasa-biasa saja dan saya dulu sempat frustrasi ketika bersekolah di P. Siantar), keberhasilan dia kami nilai wajar-wajar belaka. Dia murid yang pintar sejak Sekolah Dasar dulu. Satu-satunya diantara kami sekeluarga yang selalu berhasil memelihara prestasinya di dua besar. Sama seperti antusiasmenya bekerja di dapur, ia juga antusias kala belajar. Ketika masih SMP dulu, saya paling bingung mempelajari Bahasa Inggris. Saya pasti kelabakan jika ditanyakan soal tenses. Itu benar-benar membuat pusing tujuh keliling dan saya menyalahkan orang Inggris, kenapa sih harus membeda-bedakan kata kerja menurut waktu. Kenapa go harus jadi went kala peristiwa itu sudah lewat? Kenapa mereka tidak mengikuti orang Indonesia, kalau mengatakan pergi, ya pergi saja?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tertawa bila saya protes begitu. Dan suatu waktu, saya agak terkejut ketika mendengarkan suaranya di rumah tetangga sebelah mengajari kawan-kawan sebayanya tentang tenses itu. Dengan teliti. Dengan setuntas-tuntasnya. Gila. Saya bertanya dalam hati, darimana dia bisa begitu? Di kampung kami yang kala itu listrik (dari generator partikelir) hanya menyala dari pukul enam sore hingga jam 10 malam, belum ada les Bahasa Inggris. Darimana dia bisa dengan cepat belajar Bahasa Inggris yang membuat pusing itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak mengherankan bila dalam surat-suratnya selalu ia beritahu bahwa nilai-nilainya bagus. Juga tak mengejutkan bila ia bercerita ada satu dua orang pemuda yang datang ke tempat kosnya, mengajak belajar bersama. Juga tak membuat saya heran bila sesekali ia bertanya, "Boru Sundanya, sudah ada yang kecantol belum?" Boru Sunda yang ia maksudkan adalah gadis Sunda, yang selalu ia bayangkan akan menggoda saya di Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tahun kedua kuliah, ketika ada liburan panjang, saya punya kesempatan pulang kampung. Dan akhirnya bertemu dia. Wajahnya saya lihat agak kurus. Kata mamak, dia ada sedikit menderita sakit maag. Wah, saya agak khawatir. Tapi keceriaannya, kegembiraannya, dan celotehnya tentang apa saja selalu bisa menghibur saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan karena kami sudah dewasa, Ibu mengizinkan kami berdua pergi berlibur ke Danau Toba, menyambangi saudara di sana. Kami berdua saja, dengan keakraban abang dan adik, menghabiskan hari-hari kami di rumah saudara itu dengan berbicara dari hati ke hati. Tentang masa depan. Tentang rencana kami bagaimana kelak mengangkat nasib adik-adik, seandainya kami sudah bekerja. Membayangkan bagaimana kelak kami mungkin akan hidup berpencar. Saya mungkin akan mencari kerja di Jakarta, sementara dia sudah memutuskan kelak akan tinggal di Medan supaya dekat dengan mamak dan Bapak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah liburan yang mengesankan, kendati waktu itu saya melihat staminanya agak kendor. Ia sering mengeluh, nafasnya sesak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kesedihan akhirnya mulai merambat setahun kemudian. Di asrama di Bandung, saya mendapat kabar bahwa dia dirawat di Rumah Sakit. Semula mamak dan bapak menduga ia kelelahan. Tetapi akhirnya dokter memvonis, Eva menderita kelainan jantung. Penyakit jantung koroner?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sedih. Menangis di kamar. Berdoa. Apakah dia akan begitu pendek umurnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa bulan kemudian, setelah dirawat di Rumah Sakit di P. Siantar, akhirnya mamak dan bapak membawa dia ke Jakarta. Mencoba upaya terakhir di Rumah Sakit Harapan Kita. Mereka bertekad bulat, dengan pinjam sana pinjam sini, jual apa saja yang masih ada, untuk menempuh upaya pamungkas demi putrinya yang semua orang menyayanginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi kami bertemu di Jakarta. Wajahnya sudah bertambah pucat. Tapi kecantikannya, (yah, saya akan selalu mengenang kecantikannya yang membuat saya bangga dan diramah-ramahi oleh kawan-kawan sebaya) tak bisa hilang. Kami bertemu di rumah kerabat tempat mereka menginap. Saya melihat dia senang sekali bisa menginjakkan kaki di Jakarta. Dan dia tampak optimis bahwa operasinya akan berhasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kenyataan berkata lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berada di Bandung bersiap menghadapi ujian akhir semester, ketika pada suatu malam, dijemput oleh seorang saudara. Katanya, Eva sudah menjalani operasi tetapi dalam keadaan kritis. Sanak Famili itu mengajak saya ke Jakarta untuk menjenguknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya lemas. Saya kira saya harus berdoa agar dikuatkan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan betul. Di atas bis yang membawa saya ke Jakarta, famili yang menemani saya bercerita bahwa dia sudah tiada. Ia sudah dipanggil Tuhan pada malam itu, tetapi famili tidak mau berterus terang mengatakannya ketika masih di asrama tadi. Takut membuat saya kalut. Dan karena itu, menurut dia, kami akan langsung ke Bandara saja, tempat dia sudah dimasukkan ke dalam pesawat yang akan membawanya pulang ke kampung.&lt;/div&gt;&lt;div class="photo photo_none"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;img class="" height="142" onload="var img = this; onloadRegister(function() { adjustImage(img); });" src="http://photos-f.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs185.snc3/19271_1211153086874_1470167640_30508258_8245702_n.jpg" style="margin-left: auto; margin-right: auto;" width="200" /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;Kalau tak salah ini bulan Desember 1978.  Oppung sudah sakit keras. Foto ini menjelang beliau mengikuti perjamuan  kudus. Penulis duduk paling tengah berbaju biru. Eva duduk paling kanan&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30508258&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=214671278153&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=214671278153&amp;amp;id=1470167640"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="clear_none"&gt;&lt;br /&gt;Di Bandara mamak dan bapak ditemani sejumlah saudara, sudah berkumpul menunggu kehadiran saya. Saya tak bisa menangis lagi. Lebih tepatnya, saya berusaha untuk tidak menangis agar bapak dan mamak tak bertambah sedih. Saya juga mengatakan saya tidak ingin ikut ke kampung karena besok harus ujian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kami pun berpisah di Bandara. Tanpa sempat melihat dia terakhir kali dengan matanya yang terpejam. Mungkinkah itu yang menyebabkan dalam kenangan saya ia tak pernah 'pergi?' Mungkinkah itu yang membuat dia selalu saya bayangkan dalam keceriaannya, dalam kemudaannya, baik dalam mimpi saya mau pun dalam kenangan saya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari lagi akan tiba Valentine Day. Dan saya akan selalu mengenangnya sebagai adik yang manis. Adik yang baik. Dan adik yang penuh tanggung jawab. Itu sebabnya, di pengantar skripsi, saya menghabiskan dua paragraf untuk menceritakan dia, yang menyebabkan dosen pembimbing mengernyitkan dahi, dan berkata, 'kok kata pengantarnya panjang banget?'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiap kali saya bertemu dengan kawan-kawan sebayanya mau pun kawan-kawan yang mengenalnya, saya merasa terhibur, seperti diingatkan pada seseorang yang selalu hidup, tetapi hanya pergi sementara saja. Sebab, seperti saya tuliskan dalam puisi pendek di pengantar skripsi itu, saya yakin,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"seperti kemarin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; kelak engkau pun&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; memberi kami&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Penghiburan."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab saya selalu percaya, seseorang akan selalu hidup selama orang-orang yang mengasihinya mengenangnya dan mengingat kebaikan-kebaikannya. Dan, engkau akan kami kenang. Tak semenit pun melupakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;28 Februari 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;© Eben Ezer Siadari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini dibuat pada 28 Februari 2006, memperingati hari ulang tahun Eva. Tapi direpublish lagi sekadar membagi kenangan.Boleh ya?&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27078097-7342197889370909517?l=mysarimatondang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/feeds/7342197889370909517/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/2010/02/sebentar-lagi-valentine-day.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27078097/posts/default/7342197889370909517'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27078097/posts/default/7342197889370909517'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/2010/02/sebentar-lagi-valentine-day.html' title='Sebentar Lagi Valentine Day'/><author><name>Eben Ezer Siadari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17409901844739673818</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sDOvG1QwyNo/SEYuxWm2rnI/AAAAAAAAALk/Kai8v-INR70/S220/foto-abdi2.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27078097.post-8641561098311538885</id><published>2010-01-14T17:19:00.001-08:00</published><updated>2010-10-16T08:22:28.660-07:00</updated><title type='text'>Papan Tulis Mini di Gereja Sarimatondang</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/S0_DZ8yv30I/AAAAAAAAA8s/8duSV2rivHo/s1600-h/papan+mini.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5426770926587862850" src="http://4.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/S0_DZ8yv30I/AAAAAAAAA8s/8duSV2rivHo/s320/papan+mini.jpg" style="cursor: pointer; float: left; height: 240px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 320px;" /&gt;&lt;/a&gt;Papan tulis hitam itu tak terlalu besar. Ukurannya mungkin hanya seperempat kali setengah meter. Biasanya ia digantung di dinding sisi kanan-kiri gereja. Fungsinya sederhana tetapi penting: jadi semacam pemberi info kepada jemaat tentang nats khotbah dan lagu yang akan dinyanyikan sepanjang ibadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di berbagai gereja di Jakarta, terutama yang besar dengan jumlah jemaat banyak, papan tulis mini semacam ini mulai lenyap. Fungsinya agaknya telah bisa digantikan oleh berbagai piranti digital yang kian mendalam masuk dan menjadi bagian dari peralatan ibadah. Televisi berlayar datar  kini kian lazim tertempel di berbagai sudut gereja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt; Benda persegi  yang necis itu dengan cepat menarik perhatian, makin membuat kita dimanjakan karena tak perlu lagi menoleh ke buku nyanyian bila ingin bernyanyi. Di layar itu, bukan hanya nomor lagu yang tertera, tetapi juga syairnya. Sama halnya ketika nats alkitab untuk khotbah dibacakan dari atas mimbar. Bila agak malas, kita tak perlu membuka alkitab untuk mengikutinya. Di layar televisi  ia telah muncul  dalam huruf-huruf yang besar. Pada saat-saat khusus, layar monitor itu pun bisa menampilkan tayangan live ibadah yang sedang berlangsung. Praktis, tak ada tempat lagi bagi papan tulis mini yang  terlihat lamban dan kuno bila dibandingkan dengan warna-warni nan lincah piranti digital yang jadi penggantinya.&lt;br /&gt;&lt;photo 2=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saya masih punya kesempatan bertemu dengan papan tulis mini itu. Tempatnya di sebuah gereja di kampung halaman, Sarimatondang.  Pada 1 Januari silam, bersama lebih kurang 100 orang anggota jemaat, saya beribadah di sana, tepatnya di Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS). Dan papan tulis hitam mini itu sejenak membetot perhatian saya. Ia menggantung kira-kira satu meter dari tempat saya duduk.  Kapur berwarna ungu digunakan untuk menuliskan  nats khotbah dan daftar nyanyian. Papan tulis mini itu tak lagi hitam pekat, pertanda ia sudah sering dipakai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam lima tahun terakhir, ini lah kali pertama saya mengikuti ibadah tahun baru di gereja ini. Dan segera saya dapat merasakan papan tulis mini itu merupakan satu dari sedikit sekali yang masih tetap dan tidak berubah di gereja ini. Ketika untuk kesekian kali  mengedarkan pandangan, makin saya sadari gedung gereja ini sudah dipermak sedemikian rupa sehingga temboknya lebih mulus, mimbar dan altar dihias sedemikian rupa berwarna-warni tak lagi sepolos beberapa tahun lalu. Organ pengiring ibadah, yang oleh orang Simalungun zaman baheula kerap dijuluki ‘Poti Mandoding’ (Peti bernyanyi) kini benar-benar sangat mengandalkan arus listrik. Demikian juga pengeras suara sudah jadi bagian yang tak terpisahkan dari ibadah.&lt;br /&gt;&lt;/photo&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/S0_DabUHgoI/AAAAAAAAA80/QxPJOG42f6Q/s1600-h/ibadah.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5426770934780887682" src="http://2.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/S0_DabUHgoI/AAAAAAAAA80/QxPJOG42f6Q/s320/ibadah.jpg" style="cursor: pointer; float: left; height: 240px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 320px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;photo 2=""&gt;&lt;br /&gt;Tapi yang paling terlihat berubah adalah orang-orang yang menghadiri ibadah ini.  Menilik cara berpakaian dan model busana yang dikenakan, kian tak bisa lagi kita melihat beda ibadah di sebuah gereja kecil di sebuah perumahan di Jakarta atau di desa kecil seperti Sarimatondang. Jas dan kemeja yang umumnya dikenakan oleh kaum bapak, menggambarkan betapa sentuhan selera mutakhir para perancang busana kota-kota besar telah dengan cepat menjalar ke kampung halaman ini. Hal yang sama terlihat pada potongan kebaya kaum ibu-ibu yang tak kalah necis dengan pemandangan pada pesta-pesta kawin di Jakarta.  Lebih menonjol lagi bila melihat kaum remaja dan pemuda. Yang ekstrim ala Chanchuters atau yang kalem seperti Afgan, semua hadir tanpa canggung lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu tahun 1962 Marshal McLuhan memperkenalkan istilah Global Village atau kampung global.  Pakar komunikasi massa itu menggunakan idiom ini untuk menggambarkan demikian besar dan cepatnya peran komunikasi elektronik menghubungkan tiap bagian di dunia ini. Sehingga bumi ini makin menjadi kampung global, dimana makin terbuka kesempatan satu sama lain di berbagai belahan jagad saling ‘merumpikan’ satu masalah yang menarik perhatian mereka. Demikian cepatnya informasi dan komunikasi menyebar, membuat  tiap manusia mempunyai kesanggupan lebih cepat untuk membaca, menyebarkan dan bereaksi terhadap berita global pada saat yang hampir bersamaan sehingga ini semua mendorong makin munculnya kesadaran akan tanggung jawab global.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya rasa Sarimatondang desa kelahiran saya itu, kini telah juga menjadi bagian dari ‘global village,’ terlebih-lebih setelah parabola, telepon genggam dan internet merambah di banyak sudutnya. Apa yang terjadi di berbagai belahan dunia, bukan hanya diperbincangkan dan dipikirkan, tetapi juga diikuti dan dipraktikkan. Bukan hanya dari cara berpakaian orang-orang di gereja ini yang menandakan mereka telah terhubung secara sempurna dengan selera mode kota-kota besar dunia. Lebih dari itu, dari cara  para opung-opung tidak sabar untuk segera menghidupkan ponsel seusai ibadah demi mengecek SMS, tahu lah kita bahwa global village itu sudah benar-benar di depan mata.  Yang menarik perhatian mereka bukan lagi hanya berapa besar sinamot (uang mahar) si polan yang akan kawin besok pagi, tetapi juga mau dikemanakan itu berton-ton koin simpati untuk Prita Mulyasari. Bahkan yang mengundang senyum, saya pernah membaca status teman fesbuk yang isinya begini: “Hoi….kalau lagi di gereja, jangan fesbukan dong…..” Dan, tahu siapa yang menuliskannya dan kemudian memberi komentar atas status itu? : seorang pemuda Sarimatondang dan kawan-kawannya yang tengah beribadah di sebuah gereja di sana!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pagi itu  sekali lagi saya mengarahkan pandangan pada papan tulis mini yang menggantung di hadapan. Berapa lama lagi ia akan tetap di tempatnya? Saya jadi teringat pada papan tulis mini serupa yang dengan mudah dapat kita saksikan di teras restoran-restoran klasik di Cardiff, London, Santa Fe bahkan di New York. Papan-papan mini itu digunakan untuk ‘mengumumkan’ menu spesial mereka hari itu. Restoran-restoran itu bukannya tak banyak menggunakan piranti elektronik. Namun papan-papan mini itu tetap saja menunjukkan keistimewaannya sendiri. Ia unik bukan saja dari warna-warni kapur tulis yang digunakan, tetapi terlebih lagi oleh gaya tulisan di papan itu yang tampak sangat personal. Apakah papan mini itu dimaksudkan sebagai pembawa pesan bahwa di restoran ini semua makanan yang disajikan dikerjakan oleh manusia, dan bukan oleh mesin?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi saya arahkan pandangan ke papan tulis mini itu. Berapa banyak sintua (penatua, anggota majelis gereja) yang telah membubuhkan tulisannya di papan ini? Dulu sewaktu kecil dan bersekolah minggu di gereja ini, saya sering mengamat-amati bentuk-bentuk huruf dan angka yang tertera di papan  itu. Saya lantas mereka-reka sendiri, tulisan sintua mana ya kira-kira tertera di sana? Ada kalanya huruf-hurufnya terkesan seperti ukiran di papan nisan, tegas dan tebal. Menandakan penulisnya melakukannya dengan rileks. Bahkan mungkin sambil mengamat-amatinya sementara waktu, untuk mencermati apakah ada yang keliru atau tertinggal. Namun ada kalanya juga huruf-huruf itu terkesan dituliskan serba bergegas. Barangkali sintua yang bertugas sudah hampir kehabisan waktu.&lt;br /&gt;&lt;/photo&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/S0_DavYMjyI/AAAAAAAAA88/UP5CYcdrMxg/s1600-h/salaman.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5426770940166704930" src="http://4.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/S0_DavYMjyI/AAAAAAAAA88/UP5CYcdrMxg/s320/salaman.jpg" style="cursor: pointer; float: left; height: 240px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 320px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;photo 2=""&gt;&lt;br /&gt;Sampai berapa lama papan tulis mini ini akan tergantung dan setia di sana menjadi pendamping ibadah? Pertanyaan itu terbersit dengan cepat manakala saya berbincang dengan seorang kerabat di sebuah desa lain, yang jaraknya kira-kira dua jam perjalanan dari Sarimatondang. Sambil menyuguhkan kacang tojin dan kue bakar, ia bercerita tentang ‘revolusi’ yang dikerjakan pendeta baru yang melayani di gereja mereka di desa itu. Kata dia, sekarang jemaat makin ramai dan antusias mengikuti ibadah.  Rupanya ada yang baru dalam ibadah. Dibantu oleh keahlian anak sang pendeta dalam bidang IT, ibadah di gereja itu dipandu oleh musik dari laptop. Suasana jadi hidup. Lagu-lagu yang dibawakan juga makin bervariasi dengan aransemen mutakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya manggut-manggut, tetapi dengan cepat papan tulis mini di gereja Sarimatondang seperti memenuhi benak saya. Ia bersiliweran seolah bergantian dengan berbagai piranti digital yang makin memenuhi gereja-gereja di Jakarta. Dalam hati saya berpikir, tak lama lagi papan tulis mini itu akan punah. Pasti ia tak akan kuat menahan roda zaman. Namun, sambil berkata begitu ada juga rasa was-was. Jika piranti digital itu sudah bisa kita pergunakan untuk apa saja, suatu saat manusia mungkin akan muncul pada pertanyaan: apakah saya masih perlu datang ke gereja? Bukan kah dari kamar saya pada Minggu pagi saya bisa beribadah mengikuti khotbah-khotbah pendeta (selebriti rohani) melalui televisi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;()()()&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu sore beberapa hari setelah tahun baru, kami duduk-duduk sambil berbincang ringan. Bapak dan saya mengobrol tapi sambil kami masing-masing memegang telepon selular. Lalu Bapak menanyakan sesuatu yang mungkin sudah sejak malam tahun baru menggoda pikirannya. Ia ingin tahu bagaimana caranya sehingga saya bisa mempunyai alkitab digital di telepon genggam  dan apakah hal serupa bisa ia miliki di telepon genggamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu saya menerangkan pada dasarnya telepon genggam zaman sekarang umumnya sudah bisa melakukan hal itu. Ada piranti lunak yang bisa diunduh (didownload) untuk melakukan hal itu. Atau lebih praktisnya, kita bahkan bisa mendatangi gerai-gerai penyedia layanan serupa. Saya katakan, dulu saya hanya membayar Rp10 ribu untuk mendapatkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi teleponku ini bisa seperti itu?,” tanya Bapak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengiyakan. Tapi dalam hati saya berharap dan berdoa semoga Bapak yang sudah lansia itu tak mewujudkan hasratnya. Saya masih ingin dan senang melihatnya jika pada sore menjelang malam hari, duduk khusyuk di sudut ruang tamu. Membolak-balik alkitab dengan cermat, ketekunan yang selalu saya kagumi sejak dahulu. Dan berani bertaruh, ia mungkin tak kan meluangkan waktu seperti itu lagi seandainya di telepon genggamnya sudah ada alkitab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat tahun baru, friends.......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciputat, 14 Januari 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan foto:&lt;br /&gt;(1) Papan tulis mini di gereja GKPS Sarimatondang&lt;br /&gt;(2) Berdoa khusyuk menjelang ibadah berakhir&lt;br /&gt;(3) Bersalam-salaman dan bermaaf-maafan dalam formasi berbaris melingkar seusai ibadah tahun baru, tradisi di Sarimatondang yang masih terus dipelihara&lt;br /&gt;&lt;/photo&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27078097-8641561098311538885?l=mysarimatondang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/feeds/8641561098311538885/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/2010/01/papan-tulis-mini-di-gereja.html#comment-form' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27078097/posts/default/8641561098311538885'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27078097/posts/default/8641561098311538885'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/2010/01/papan-tulis-mini-di-gereja.html' title='Papan Tulis Mini di Gereja Sarimatondang'/><author><name>Eben Ezer Siadari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17409901844739673818</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sDOvG1QwyNo/SEYuxWm2rnI/AAAAAAAAALk/Kai8v-INR70/S220/foto-abdi2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/S0_DZ8yv30I/AAAAAAAAA8s/8duSV2rivHo/s72-c/papan+mini.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27078097.post-8095158649297638015</id><published>2009-12-30T05:44:00.000-08:00</published><updated>2009-12-30T05:55:09.491-08:00</updated><title type='text'>Risiko Jadi Orang Tenar di Sarimatondang</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SztbihtB7WI/AAAAAAAAA8c/Ux0nx6SNNIo/s1600-h/lucu21.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 241px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SztbihtB7WI/AAAAAAAAA8c/Ux0nx6SNNIo/s320/lucu21.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5421027225191443810" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;(Refleksi menjelang Pulang Kampung)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya orang Batak di Sarimatondang, tetapi umumnya ‘orang kita’ Timur menganggap kurang lah sopan bila menyapa mereka yang lebih tua dengan nama kecilnya. Dan, untuk menghindari hal semacam ini, ada banyak cara. Orang Batak sudah lazim memanggil seseorang dengan marganya. Pak Saragih, misalnya, adalah nama yang terhormat untuk seorang Bapak bermarga Saragih. Cara lain adalah dengan menempelkan panggilan kekerabatan di depan nama yang akan disapa. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tante Rin&lt;/span&gt; untuk seorang gadis bernama Rina, pasti lah sapaan yang membuat si Tante merasa tersanjung bila disematkan oleh anak-anak yang seusia keponakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama kecil kita bahkan seakan makin sakral manakala  sudah berkeluarga.  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Amani Rodo&lt;/span&gt; adalah julukan yang lebih ‘beradat’ untuk John setelah kelahiran anak sulungnya Rodo. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Nai Astuti&lt;/span&gt; lebih kedengaran terhormat ketimbang Dinda yang mempunyai putri sulung Astuti.   John dan Dinda kelak akan makin dihormati bila  sudah bercucu. Mereka tak lagi Amani Rodo atau Nai Astuti. Melainkan lebih dituakan dengan panggilan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Oppu Ganda Doli &lt;/span&gt;dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Oppu Dapot boru&lt;/span&gt;, bila cucu-cucu dari anak lelaki sulung mereka diberi nama Ganda dan Dapot.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/Szta1sAei5I/AAAAAAAAA8M/Io-NmRAy8nc/s1600-h/lucu20.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 287px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/Szta1sAei5I/AAAAAAAAA8M/Io-NmRAy8nc/s320/lucu20.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5421026454863252370" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Namun, dimana pun di dunia ini selalu ada pengecualian. Juga di Sarimatondang. Lekak-lekuk birokrasi dalam urusan sapa-menyapa itu bisa begitu saja diterabas dan tak dituruti  manakala menyangkut sejumlah ‘orang-orang tenar.’  Sekonyong-konyong tak berlaku lagi aturan yang mengharuskan kita menyapa seseorang yang sudah tua dengan marga atau panggilan kekerabatan. Tak peduli apakah dia masih  balita yang baru bisa mengucapkan satu-dua patah kata atau kakek yang sudah uzur dengan puluhan cicit, dengan enteng dan tanpa merasa bersalah mereka memanggil para ‘orang-orang tenar’ Sarimatondang itu dengan nama kecilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian lah. Sejak saya berusia tujuh tahun, misalnya, sudah merasa tidak bersalah bila ada yang bertanya, “Eh, kau mau kemana?” dan lantas saya menjawab, “Mau membeli lappet ke kedai si BorXXX.” Padahal, yang dimaksud dengan si BorXXX  sudah bercucu, putri sulungnya bahkan jadi salah seorang guru kami di SMP Negeri Sarimatondang. Tak jauh dari kedai Pak BORXXX, ada toko kelontong milik si DEKAXXXX. Dan harap dicatat, yang dimaksud dengan si DEKAXXXX tersebut sudah seusia dengan ibu saya kala itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak perlu heran pula jika sebagian besar orang Sarimatondang kenal dan dengan seenak udelnya menyebut nama si TUBBXX bila ditanya siapa tauke daging kerbau paling laku di Sarimatondang. Mereka bahkan bisa dengan cermat menunjuk rumahnya yang berada di dekat lapangan bola Sarimatondang. Dan sebagai info bagi yang belum tahu: sang bapak yang dinamai si TUBBXX itu sudah  uzur. Bisnisnya kini diteruskan oleh anak bungsunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya ini merupakan risiko bagi orang tenar di Sarimatondang. Semua orang jadi kenal dan demi alasan praktis, tak lagi mau repot-repot mengikuti tata-krama di bidang sapa-menyapa. Dan karena menyadari ini sebagai sebuah risiko,  para orang-orang tenar itu juga tak terlalu berkeberatan kendati nama mereka dipanggil secara ‘semena-mena.’ Bagaimana pun, nama tenar tersebut merupakan konsekuensi dari rezeki dan mata pencaharian mereka. Harap maklum, sebagian besar orang-orang tenar dengan nama yang disebut-sebut tanpa pandang waktu itu adalah pebisnis-pebisnis tangguh. Sebagian besar diantara mereka  pionir dan bertahan di bisnis yang sama sampai beberapa dekade.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dugaan saya, justru  kepioniran itu yang membuat nama kecil mereka jadi kesohor, ketimbang nama marga atau nama panggilan kekerabatan. Sebagai misal. Pak BORXXX mungkin merintis usahanya ketika ia masih sangat muda sekali. Sebagian besar pelanggannya ketika itu adalah orang-orang yang masih seumur atau bahkan lebih tua dari dirinya. Karena keadaan itu, para pelanggan lantas dengan enak saja menyapa Pak BORXXX dengan nama kecilnya. Selain karena umur yang tak berbeda jauh, panggilan nama kecil itu juga simbol keakraban.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SztarVXbMVI/AAAAAAAAA78/Zj2Hrekwxs4/s1600-h/lucunenek.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SztarVXbMVI/AAAAAAAAA78/Zj2Hrekwxs4/s320/lucunenek.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5421026276986794322" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Celakanya, panggilan itu agaknya terbawa terus-menerus walau waktu terus berjalan. Ketika Pak Gultom (contoh belaka, bukan nama sebenarnya) menyuruh anaknya untuk membelikan rokok di kedai Pak BORXXX, dengan enteng saja ia berkata, “Hei Anu, belikan dulu rokok di kedai si BORXXX. Bilang sama dia, Minggu depan baru dibayar. Digabungkan saja dulu dengan catatan pembukuan Minggu lalu.”  Berkali-kali mendapat perintah sedemikian, akhirnya si anak juga turut belajar menyapa pak BORXXX dengan si BORXXX saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka begitu lah. Walau Pak BANJXX sudah ubanan, tetap saja orang mengenal saudagar berdarah Jawa ini sebagai si BANJXX (tanpa Pak), sebab dia merupakan penjual buku paling terkenal di Sarimatondang. Demikian pula  Pak MANXX yang juga orang Jawa.  Tukang koran paling laris di zaman kami merangkap pelatih kesebelasan Persatuan Sepak Bola Sarimatondang (Persesa) ini oleh orang-orang cukup disebut dengan si MANXX saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakalanya ‘orang-orang tenar’ di Sarimatondang tak disapa lewat nama kecilnya, melainkan dari ciri khas tertentu dari fisik mau pun perangainya. Sebut lah misalnya, Bang Polmer Sidabutar. Jika mencari dia di kampung kami  jangan sebut nama keren itu sebab tak kan banyak yang kenal.  Tapi coba sebut kan ‘Bang Tuyul.’ Semua tahu bahkan mengenalnya dengan akrab, si bapak yang bertubuh kecil namun gesit nan lincah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lebih lucu adalah julukan ‘reteng’ yang berarti cerewet atau bawel. Ternyata banyak orang Sarimatondang yang tenar gara-gara perangai yang begini. Sehingga bukan hanya penjual mi yang cerewet yang dijuluki ‘Wak Reteng,’ tapi ada pula ‘Opung Reteng’ yang berarti nenek yang bawel.&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SztargYo4KI/AAAAAAAAA8E/sMCLKGobFkQ/s1600-h/gajahlucu.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SztargYo4KI/AAAAAAAAA8E/sMCLKGobFkQ/s320/gajahlucu.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5421026279944675490" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu belum seberapa. Dulu sewaktu kecil, saya sempat terkaget-kaget karena baru menyadari ternyata kakek yang sehari-hari dikenal sebagai guru merangkap kepala sekolah,  mempunyai julukan yang unik menjurus seram. Dia digelari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Guru Denggal&lt;/span&gt;, yang berarti Guru tukang pilin atau tukang gebuk. Apakah ia cukup sadis dalam mengajar? Wallahualam. Tapi harus saya akui, tatkala dulu ketika kecil bermain catur dengannya, saya sering agak ketar-ketir juga bila dia sudahi menekuk wajah sedemikian rupa ketika satu per satu buah caturnya tumbang saya pecundangi (catatan: tapi saya lebih sering kalah kok....).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, belakangan ini makin saya tahu betapa mengerikannya nama julukan yang disandang para leluhur-leluhur saya. Misalnya, kakek tiga generasi di atas saya dari garis ibu, ternyata mempunyai julukan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pamangus&lt;/span&gt;. Bagi yang belum tahu, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pamangus&lt;/span&gt;  adalah sejenis julukan yang seram dan mengerikannya satu tingkat di atas penculik dan teroris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu kakek buyut kami itu bukan penculik atau teroris sungguhan. Gelar &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pamangus&lt;/span&gt; itu hanya merupakan julukan rekayasa belaka. Mungkin karena wajahnya yang agak kurang bersahabat. Mungkin juga karena ketegasannya mengambil sikap. Yang pasti, kapan-kapan kalau saya bertemu dengan orang-orang yang menyebalkan, saya sudah punya ‘amunisi’ untuk menggertak. Saya akan bilang, “Harap saudara hati-hati, ya, saya ini masih keturunan Pamangus loh. Kalau  Anda masih sekelas Sumanto saja sih, lewat…..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciputat, 30 Desember 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P.S. Tulisan ini dibuat dengan kesungguhan dan niat baik untuk mengenang Sarimatondang. Kalau ada kata atau penuturan yang menjengkelkan, mohon maaf ya.&lt;br /&gt;Sumber foto: Dari berbagai sumber. Digunakan pada tulisan ini sebagai ilustrasi lucu-lucuan memancing tawa  menyambut tahun baru.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27078097-8095158649297638015?l=mysarimatondang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/feeds/8095158649297638015/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/2009/12/risiko-jadi-orang-tenar-di.html#comment-form' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27078097/posts/default/8095158649297638015'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27078097/posts/default/8095158649297638015'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/2009/12/risiko-jadi-orang-tenar-di.html' title='Risiko Jadi Orang Tenar di Sarimatondang'/><author><name>Eben Ezer Siadari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17409901844739673818</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sDOvG1QwyNo/SEYuxWm2rnI/AAAAAAAAALk/Kai8v-INR70/S220/foto-abdi2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SztbihtB7WI/AAAAAAAAA8c/Ux0nx6SNNIo/s72-c/lucu21.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27078097.post-8201103359270527522</id><published>2009-12-27T16:21:00.000-08:00</published><updated>2010-10-24T00:19:19.102-07:00</updated><title type='text'>Oppung tak Hadir di Natal Ini.....</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/Szf6bVUd6iI/AAAAAAAAA7c/m3veoF7QNYI/s1600-h/old+couple3.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5420076024050084386" src="http://4.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/Szf6bVUd6iI/AAAAAAAAA7c/m3veoF7QNYI/s200/old+couple3.jpg" style="cursor: pointer; float: left; height: 138px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 200px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;(Sebuah Cerpen)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin pendek jarak waktu menuju Hari Natal, semakin panjang ia memikirkannya. Berdiri di dekat jendela kamar kerjanya, Sangap memandangi jalanan Jakarta yang dipenuhi kendaraan, tetapi fikirannya samasekali tak berhubungan dengan lalu lintas. Besok Hari Natal, katanya dalam hati. Dan, Marudur, anak sulungnya, akan berusia 17 tahun. Ia cemas memikirkan itu. Sangap membayangkan sebuah perayaan yang sepi. Dan, ruang kerjanya yang lapang tetapi lengang membuatnya makin betah berdiri di balik kaca. Sekretarisnya sudah lama pamit, minta izin pulang lebih awal. “Besok kan Natal Pak,” kata sang sekretaris. Ah, Natal yang malang, bisik Sangap dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Sangap bukan orang yang malang. Ia sebenarnya justru orang yang diberkati. Buktinya, Tuhan menurunkan keajaiban kepadanya. Kedua anaknya, Marudur dan Mardapot, dilahirkan pada dua hari yang baik: tanggal 25 Desember dan 1 Januari. Itu sebabnya ia menamai kedua anaknya dengan kosa kata dari Bahasa Batak itu. Marudur yang berarti berderet, dan Mardapot yang berarti berentetan. Dua-duanya ia maksudkan sebagai simbol betapa tak berkesudahannya berkat Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua hari baik di setiap akhir dan awal tahun itu menjadi masa perayaan ganda bagi keluarga Sangap: merayakan Natal sekaligus ulang tahun kedua putranya. Hidupnya yang penuh berkat juga terlihat dari jalan hidupnya. Dulu sekali, ketika ayah dan ibunya memberangkatkannya dari sebuah kampung di pedalaman Sumatera Utara sana dan menginjakkan kaki di Jakarta, umurnya baru seumur Marudur sekarang. Ia merasa diberkati karena diterima kuliah di sebuah perguruan tinggi negeri. Dan, ia nyaris tak punya bekal apa-apa kalau saja tak ada belas kasihan seorang kawan ayahnya. Keluarga itu memberinya tumpangan tinggal, sembari setiap bulan dengan was-was menanti kiriman dari kampung. Itu pun lebih sering terlambat daripada tepat waktu. Kini kariernya di lembaga pendidikan pengembangan kepribadian itu terus meningkat. Gajinya sebagai kepala program untuk pelatihan korporat , lebih dari cukup, walau tak dapat dikatakan berlebih. Sebuah rumah mungil berkamar tiga, telah ia lunasi cicilannya sejak tiga tahun lalu. Sebuah MPV 1600 cc --walau bekas--, kini mengantarnya dan keluarganya kemana mereka pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali karena merasa diberkati, Sangap memelihara tradisi yang telah dimulai ayahnya sejak dirinya masih bayi. Ia menyelenggarakan ulang tahun anak-anaknya dengan sebuah upacara kecil yang khidmat, seperti yang telah dilakukan oleh ayahnya dulu kepada dirinya dan adik-adiknya. Sangap tak pernah melewatkan sekali pun perayaan ulang tahun anak-anaknya tanpa acara berdoa bersama dan potong kue tart ulang tahun. Ayahnya, yang oleh anak-anaknya dipanggil Oppung, selalu akan menjadi tamu penting di acara itu. Sejak putra sulungnya berusia satu tahun, Sangap tak pernah alpa ‘mengimpor’ Oppung dari kampung untuk hadir pada acara ulang tahun itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, ketika Sangap masih merangkak meniti kariernya di kantornya, ia datangkan Ayahnya dengan mengongkosinya naik bus. Ayahnya masih cukup kuat waktu itu, menempuh perjalanan sepanjang tiga hari dua malam. Belakangan ketika ongkos pesawat terbang semakin terjangkau, dan ia sadar ayahnya sudah terlalu uzur untuk menghabiskan waktu yang panjang dalam perjalanan darat, setiap tahun ia kirimkan tiket pesawat pulang-pergi, membawa ayahnya ke Ibukota. Sayang, ibunya tak sempat menikmati kemewahan seperti ini. Sepuluh tahun lalu sang ibu berpulang. Sejak itu ayahnya selalu datang sendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu lah, hampir sepanjang tahun Oppung akan berkeliling untuk menjadi pemberi wejangan dari satu ulang tahun ke ulang tahun cucu-cucunya. Di bulan Agustus, giliran adik perempuan Sangap yang memboyong si Oppung ke rumahnya di Jakarta untuk merayakan ulang tahun cucu satu-satunya dari anak perempuannya itu. Bulan April dan Juli, si Oppung akan berada di rumah adik-adiknya yang lain yang tinggal di kampung untuk tugas serupa: meramaikan ulang tahun cucu-cucunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, sesungguhnya perayaan ulang tahun itu tak bisa disebut sebagai pesta. Hanya sejumlah keluarga inti yang diundang. Menu makanan pun tak terlalu istimewa. Pinadar, ayam panggang ala Batak, berikut sayur daun singkong tumbuk. Sudah barang tentu tak ketinggalan sebuah kue tart, dikelilingi lilin sejumlah umur yang merayakan ulang tahun. Sebagaimana perayaan ulang tahun dimana-mana, puncak acara adalah ketika yang berulang tahun meniup lilin, setelah doa bersama dan menyanyikan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Panjang Umur&lt;/span&gt;nya. Tetapi yang selalu menjadi bintang adalah Oppung. Setelah acara tiup lilin yang selalu heboh, biasanya akan muncul suasana senyap. Orang-orang akan bersiap mendengar wejangan Oppung kepada cucunya yang berulang tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangap tak pernah bisa menahan keharuannya pada saat-saat seperti itu. Ia merasa, dengan perantaraan ayahnya lah ia dapat sedikit demi sedikit menanamkan nilai-nilai yang baik dari tradisi keluarganya kepada anak-anaknya. Dan, sekali lagi ia merasa beruntung, karena anak-anaknya yang tergolong sudah menjadi orang Indonesia modern itu, ternyata senang juga mendengar ceramah khas kakek mereka. Mungkin karena terdengar lucu, dengan logat Bataknya yang kental itu. Mungkin juga karena gaya Oppung yang selalu bersemangat. Tetapi yang paling mengesankan tampaknya adalah cerita-cerita rakyat yang ia selipkan di sela-sela nasihatnya, berikut pepatah petitih Batak yang kaya akan pesan. Oppung seolah tak pernah kehabisan cerita dan pepatah. Selalu ada yang baru setiap tahun. Dan, tak kalah penting, Oppung pun tampaknya bisa mengagak sampai dimana para pendengarnya telah lelah, dan saat itu pula ia mengakhiri pidatonya. Semuanya biasanya bertepuk tangan dan mencium Oppung sambil berbisik, “Oppung juga panjang umurnya ya….”&lt;br /&gt;&lt;div class="photo photo_none"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30432185&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=257379363153&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=257379363153&amp;amp;id=1470167640"&gt;&lt;img alt="" class="" onload="var img = this; onloadRegister(function() { adjustImage(img); });" src="http://photos-f.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs143.snc3/17071_1178838119020_1470167640_30432185_5068064_n.jpg" style="width: 460px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="clear_none"&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;“Pak, Oppung itu filosof ya?” begitu saja tiba-tiba Marudur bertanya, suatu hari dulu seusai merayakan ulang tahunnya yang ke 10.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangap yang belum mengerti arah pertanyaan itu, sedikit terkejut. “Tidak. Oppung itu guru. Sebentar lagi akan pensiun. Kenapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kok kalau memberi nasihat seperti berfilsafat,” Marudur menjawab balik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu tidak suka?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Suka. Suka sekali. Tetapi aku  tak habis fikir darimana Oppung belajar. Emang ada sekolah untuk itu? Ada bukunya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini Sangap tersenyum, karena ia merasa punya kesempatan menjelaskan ‘kehebatan’ ayahnya dan juga tradisi di kampungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oppung belajar dari pengalaman, dari pergaulan, dari mengikuti adat istiadat di kampung,” kata Sangap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Sangap bercerita bahwa di kampungnya, setiap orang yang dituakan harus dapat memberi nasihat dalam berbagai upacara, entah itu upacara kematian, perkawinan bahkan ketika menempati rumah baru. Sebagian besar nasihat-nasihat itu sebenarnya sudah baku, begitu pula pepatah-petitih yang diucapkan. Sudah ada peruntukannya. Misalnya, ada pepatah bagi mempelai yang baru saja melangsungkan pernikahan. Ada yang khusus bagi mereka yang baru menamatkan studi. Begitu juga untuk upacara kematian, atau bagi yang merayakan kelahiran putra-putrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi, kemampuan seperti itu sudah biasa untuk orang tua di kampung Bapak,” kata Sangap, sedikit bangga. “Kamu juga bisa begitu kalau dibesarkan di sana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bapak bisa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangap sedikit tergagap mendengar pertanyaan anaknya. “Bapak harus belajar lagi,” jawab Sangap  sambil berdehem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Belajar dong, supaya bisa seperti Oppung,” Marudur berkata sambil tersenyum nakal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangap sendiri mengerti bahwa memang janggal bila hingga dirinya sudah setua sekarang, belum pernah cukup keberanian untuk memberi nasihat-nasihat di lingkungan keluarga yang terkecil sekali pun. Termasuk pada setiap perayaan ulang tahun anak-anaknya. Di kantornya pun, ia tak pernah punya nyali untuk berbicara di depan banyak orang. Ia selalu menghindar manakala ada tugas yang mengharuskannya tampil sebagai pusat perhatian. Bahkan untuk menyampaikan briefing kepada para stafnya, ia melakukannya lewat email. Atau paling banter berbicara berdua kepada seorang staf seniornya dan stafnya itu lah nanti yang menyampaikannya kepada yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangap tak lagi ingat sejak kapan tradisi merayakan ulang tahun semacam itu dimulai di lingkungan keluarganya. Yang paling jelas dalam ingatannya adalah ketika adiknya yang bungsu, suatu hari genap berusia lima tahun. Ketika itu, pagi-pagi benar ibunya bergegas berdandan lalu setengah berlari menuju pinggir jalan raya, kira-kira setengah kilometer dari rumahnya. Ibunya harus melakukan itu karena kendaraan umum menuju kota terdekat hanya lima kali sehari. Ibunya ingin mengejar bus yang pertama karena ia ingin cepat sampai kembali di rumah. Ibunya ke kota hanya untuk satu tujuan: membeli sebuah kue tart dari toko Cina di kota untuk perayaan nanti malam. Sepulang dari kota, ia juga akan segera berberes-beres, memasak, mengeluarkan lebih banyak piring dan gelas dari raknya untuk dibersihkan dan tentu saja, mendatangi rumah beberapa orang keluarga terdekat untuk menyampaikan undangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, ketika malam tiba, perayaan itu pun berlangsung, melanggengkan tradisi dari tahun ke tahun. Bernyanyi Panjang Umurnya, meniup lilin, berdoa, dan setelah itu mendengar wejangan dari ayah. Inti wejangannya selalu sebuah pengucapan syukur karena hingga di usia kesekian, yang berulangtahun dan seluruh keluarga diberi kesehatan. Lalu kemudian wejangan itu lebih diarahkan kepada yang berulang tahun. Pesan yang tak pernah ketinggalan: bersyukur lah karena diberi umur yang panjang, hormati lah orang tua dan pelihara lah perilakumu sehingga tak mempermalukan keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat lah jelas, pesan-pesan semacam itu sebenarnya tak pernah benar-benar ditujukan hanya kepada orang yang berulang tahun belaka. Sangap juga masih ingat, ketika untuk pertamakalinya ia mendatangkan ayahnya ke Jakarta untuk merayakan ulang tahun pertama anaknya, Marudur. Apakah mungkin bayi seumur itu dapat memahami pesan-pesan yang ternyata juga penuh dengan pepatah-petitih itu? Tetapi ayahnya tetap memberi wejangan sebagaimana kebiasaannya. Sangap tahu benar, wejangan itu sebenarnya terutama ditujukan kepada dirinya dan istrinya, agar tetap bersyukur, mendidik anak-anak untuk hormat kepada orang tua dan mengajari mereka berperilaku terhormat di tengah masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, ayahnya tampaknya mengerti bagaimana memanfaatkan kesempatan perayaan ulang tahun untuk terus-menerus menularkan nilai-nilai luhur dalam kehidupan kepada seluruh anggota keluarganya. Porsi wejangannya akan berubah seiring dengan pertumbuhan umur sang cucu. Ketika Marudur masih berumur tiga tahun, wejangan itu sepenuhnya masih ditujukan kepada kedua orang tuanya. Tetapi pada perayaan ulang tahun Marudur yang ke 10, Marudur pun mulai kebagian wejangan yang panjang lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aneh juga, fikir Sangap, berpuluh tahun sudah tradisi itu berjalan dan inti pesan-pesan ayahnya tak banyak berubah. Namun, mengapa dirinya, dan juga anak-anaknya tak bosan mendengarkannya? Darimana ayahnya menggali perumpamaan, ilustrasi, pepatah-petitih sehingga tiga generasi yang mendengarkannya tak juga menganggapnya sebagai pesan basi? Jangan-jangan yang menjadi pokok sebenarnya bukan lah pesannya, melainkan siapa yang menyampaikan pesan itu?&lt;/div&gt;&lt;div class="photo photo_none"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30432186&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=257379363153&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=257379363153&amp;amp;id=1470167640"&gt;&lt;img alt="" class="" onload="var img = this; onloadRegister(function() { adjustImage(img); });" src="http://photos-h.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs143.snc3/17071_1178838399027_1470167640_30432186_1681873_n.jpg" style="width: 460px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi tak ada yang abadi di dunia ini. Tiga bulan lalu, sebuah pesan lewat telegram dari adiknya di kampung tiba di meja kerja Sangap. Bunyinya: “Pulang segera. Ayah Sakit keras.” Sangap membacanya dengan jiwa yang serasa ingin segera terbang. Dalam hati ia mengumpat, mengapa sambungan telepon hingga zaman semaju ini belum juga tiba di kampung halamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tak ingat lagi berapa lama waktu dalam perjalanan ketika akhirnya ia menemukan dirinya telah duduk di sisi pembaringan ayahnya. Orang tua itu pucat, tetapi sorot matanya masih tegar. Si Oppung masih menunjukkan semangatnya ketika Sangap bercerita tentang Marudur dan Mardapot yang kian hari kian mengagumi Oppungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Natal ini, mereka menunggu Bapak. Mereka menantikan cerita-ceritamu, Pak,” kata Sangap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayahnya tersenyum, untuk kemudian menggelengkan kepala. “Akhir tahun ini aku tidak akan kemana-mana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan begitu. Bapak pasti akan sembuh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku ingin tetap di sini. Sudah lama aku tak merayakan Natal dan Tahun Baru dengan kawan-kawan sekampung. Aku ingin bersalaman dengan mereka. Sudah lama sekali…..,” ayahnya tak meneruskan kalimatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana dengan Marudur dan Mardapot? Ulang tahun mereka akan sepi tanpa Bapak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saatnya kamu yang menasihati sendiri anak-anakmu. ”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangap terkesiap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak tahu aku mau bicara apa. Bapak yang selalu punya pesan-pesan khusus. Lalu apa yang harus aku pesankan kepada mereka?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak perlu nasihat yang aneh-aneh. Nasihati mereka agar bersyukur diberi umur panjang, hormati orangtua dan pelihara lah perilaku agar tak mempermalukan keluarga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan kah Bapak selalu mengingatkan itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, tetapi mereka bukan anak-anakku. Mereka anak-anakmu. Aku hanya memulai. Kamu lah yang meneruskannya, dan melihat hasilnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tetapi mereka lebih mendengarnya jika Bapak yang mengatakannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak. Mereka mendengar aku. Tetapi kata-katamu lah yang akan mereka ikuti. Seorang Oppung hanya berarti bagi cucunya manakala Bapaknya lemah. Sekarang, sudah waktunya kamu menunjukkan dirimu tidak selemah yang mereka fikirkan. Ingat, anakmu akan berumur 17 tahun.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga hari kemudian Sangap telah berdiri bersama istri dan anak-anaknya di tengah pesta untuk memberangkatkan ayahandanya ke liang kubur. Meninggal di usia 72 tahun, meninggalkan anak-anaknya yang kesemuanya sudah berketurunan, adalah sebuah hidup yang diberkati menurut adat Batak. Karena itu, kematian seperti itu tak patut lagi ditangisi. Sebaliknya dirayakan, dengan pesta tiga hari tiga malam. Dua ekor kerbau dipotong. Juga grup musik tradisional Batak didatangkan untuk ikut meramaikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang ramai bernyanyi, menari, menyampaikan kata-kata penghiburan. Tetapi Sangap tak pernah bisa merasa terhibur. Di depan jasad ayahnya, sekali lagi ia merasa kehilangan, membayangkan hari-hari yang panjang tanpa wejangan. Dan ketika tiba untuk menyampaikan ucapan terimakasih mewakili keluarga, bukan Sangap yang bicara. Ia menunjuk adik laki-laki bungsunya, yang selama ini tinggal di kampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Kini Sangap masih tetap berdiri di dekat jendela, menyaksikan sore yang mulai turun. Desahnya terdengar panjang. Dibayangkannya perayaan ulang tahun anaknya besok. Dibayangkannya wajah Marudur yang kini mulai memelihara kumis. Lalu sanak-saudara yang berdiri melingkari kue tart di atas meja. Lalu ia bayangkan pula suara senyap itu, tanpa kehadiran Oppung. Pikir Sangap dalam hati, akankah mereka benar-benar menantikan wejangan darinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan mulai turun. Sangap kembali ke meja kerjanya, meninggalkan pemandangan di luar kaca jendela yang mulai gelap. Terpikir dalam hatinya untuk menuliskan saja apa yang akan dia ucapkan besok. Terngiang-ngaing di telinganya kata-kata ayahnya: Bersyukur lah diberi umur panjang, hormati orang tuamu dan peliharalah perilakumu. Sangap lalu duduk di belakang komputernya. Disorongkannya mouse dengan tangan kanannya, menekan tombol compose. Lalu sejenak ia berfikir untuk mengingat alamat e-mail Marudur. Ia hendak mengetik dan menuliskan pesan kepada anaknya. Mungkin akan lebih efektif mengirimkan pesan semacam ini lewat email, gumamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi niatnya ia urungkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangap mematikan komputernya dan bangkit membereskan meja kerjanya. Di jalan menuju pulang, ia masih membayangkan sebuah perayaan ulang tahun yang lengang, dengan wejangan yang sangat pendek: bersyukur, hormati orang tuamu, jaga perilaku…. Tetapi tekadnya sudah bulat, ia harus memulai lagi apa yang telah dirintis ayahnya dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(selesai)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciputat, 14 Desember 2004&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27078097-8201103359270527522?l=mysarimatondang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/feeds/8201103359270527522/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/2009/12/oppung-tak-hadir-di-natal-ini.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27078097/posts/default/8201103359270527522'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27078097/posts/default/8201103359270527522'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/2009/12/oppung-tak-hadir-di-natal-ini.html' title='Oppung tak Hadir di Natal Ini.....'/><author><name>Eben Ezer Siadari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17409901844739673818</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sDOvG1QwyNo/SEYuxWm2rnI/AAAAAAAAALk/Kai8v-INR70/S220/foto-abdi2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/Szf6bVUd6iI/AAAAAAAAA7c/m3veoF7QNYI/s72-c/old+couple3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27078097.post-5774000728582917187</id><published>2009-12-24T14:54:00.001-08:00</published><updated>2009-12-25T17:05:10.244-08:00</updated><title type='text'>Sekapur Sirih Pengganti Kartu Natal Kami.....</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SzPxROcJxUI/AAAAAAAAA60/bS1BhhyPtuE/s1600-h/family.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SzPxROcJxUI/AAAAAAAAA60/bS1BhhyPtuE/s400/family.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5418940054893086018" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dear  teman fesbukers dan onliners,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang ini saya duduk di belakang komputer. Setelah meludeskan sepiring nasi dengan ikan teri sambel dan sepapan petai—betapa berbeda rasanya menikmati makan siang di rumah. Hari ini saya libur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu saya ingat apa yang pernah dikatakan oleh Edgar Guest:&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"At Christmas, a man is at his finest towards the finish of the year;&lt;br /&gt;He is almost what he should be when the Christmas season's here;&lt;br /&gt;Then he's thinking more of others than he's thought the months before,&lt;br /&gt;And the laughter of his children is a joy worth toiling for.&lt;br /&gt;He is less a selfish creature than at any other time;&lt;br /&gt;When the Christmas spirit rules him he comes close to the sublime..." &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka mewakili keluarga kami yang kecil -- Irna, Amartya dan diri sendiri -- saya menulis surat ini. Yang isinya pasti tak terlalu istimewa, karena para teman-teman fesbukers mungkin sudah juga menerima ucapan yang sama dari banyak orang. Yakni ucapan “Selamat Hari Natal 2009,” kepada semua teman-teman fesbukers yang tak bisa disebutkan satu per satu.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SzVglg-pOEI/AAAAAAAAA7E/FVy_DFxytXg/s1600-h/25122009762.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SzVglg-pOEI/AAAAAAAAA7E/FVy_DFxytXg/s200/25122009762.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5419343924234369090" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sama seperti jutaan, bahkan mungkin miliaran orang di dunia, kami juga ingin berbagi sesuatu di Hari Natal ini. Yakni berbagi perasaan syukur dan kegembiraan. Bersyukur karena masih diberi kesempatan merayakan Natal. Yang berarti juga diberi kesempatan berpengharapan. Berpengharapan bahwa betapa kita manusia demikian berharga. Sehingga Dia sendiri tak pernah jera dan putus-putusnya dengan KasihNya. Menyambangi dan &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SzVglyza7dI/AAAAAAAAA7M/iZ6krNylW5s/s1600-h/25122009763.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SzVglyza7dI/AAAAAAAAA7M/iZ6krNylW5s/s200/25122009763.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5419343929019133394" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;menghidupi kita. Sehingga Dia mau hadir dalam rupa bayi Natal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat hari Natal temans,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;May the spirit of Christmas bring you peace,&lt;br /&gt;The gladness of Christmas give you hope,&lt;br /&gt;The warmth of Christmas grant you love.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Irna, Amartya dan Eben Siadari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Par-Sarimatondang)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;()()()&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P.S. Kalau mau kirim-kirim  dodol, kambang layang, kue bakar, sasagun, kacang tojin dan sejenisnya, monggo loh......wkwkwk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan gambar: (1) berfoto 05-12-2009, sebelum berangkat ke GKI Kwitang&lt;br /&gt;(2) dan (3) klappertaart untuk natal bikinan Irna&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27078097-5774000728582917187?l=mysarimatondang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/feeds/5774000728582917187/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/2009/12/sekapur-sirih-pengganti-kartu-natal.html#comment-form' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27078097/posts/default/5774000728582917187'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27078097/posts/default/5774000728582917187'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/2009/12/sekapur-sirih-pengganti-kartu-natal.html' title='Sekapur Sirih Pengganti Kartu Natal Kami.....'/><author><name>Eben Ezer Siadari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17409901844739673818</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sDOvG1QwyNo/SEYuxWm2rnI/AAAAAAAAALk/Kai8v-INR70/S220/foto-abdi2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SzPxROcJxUI/AAAAAAAAA60/bS1BhhyPtuE/s72-c/family.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27078097.post-2118565351325899087</id><published>2009-12-22T15:38:00.000-08:00</published><updated>2009-12-25T02:16:46.259-08:00</updated><title type='text'>Lima Kebiasaan Ibu yang Malu-maluin, tetapi....</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SzFZCt6jv4I/AAAAAAAAA6c/eDvvra_yQhg/s1600-h/ayahibu.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SzFZCt6jv4I/AAAAAAAAA6c/eDvvra_yQhg/s320/ayahibu.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5418209729923235714" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hari ini Hari Ibu. Menulis tentang apa baiknya? Saya tidak begitu banyak tahu tentang isu-isu seputar ibu. Maka sebaiknya kembali ke kebiasaan udik. Ke lingkungan paling dekat. Dan yang segera melekat di kepala adalah wajah Mamak. Mamak saya, perempuan yang mewarnai hidup kami anak-anaknya. Umurnya kini 70 tahun. Sudah pensiun dari guru SD. Dan sebagian besar kariernya sebagai guru dihabiskan mengajar murid kelas 1 dan kelas 2. Di sekolah dan di rumah kami mengenalnya sebagai ibu yang cerewet. Kadang-kadang terlalu perfect untuk hal-hal remeh. Semisal bila melihat huruf-huruf yang kita tulis melenceng dari garis-garis buku tulis yang diharuskan. Semisal bila melihat piring-piring kotor di atas meja belum dibereskan juga. Semisal bila lampu di ruang tamu belum dimatikan sebelum tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang Mamak juga mempunyai kebiasaan yang saya nilai malu-maluin. Membuat kita merasa jadi orang yang kampungan karena punya Ibu seperti dia. Tetapi sekarang, saya malah jadi tersenyum sendiri bila ingat kebiasaan-kebiasannya yang lucu, malu-maluin, menjengkelkan. Sebab itu justru membuat saya kagum, makin sayang dan makin sadar, tak akan banyak lagi perempuan modern mau melakukan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini lima kebiasaannya yang dulu kerap membuat malu, jengkel, merasa direpotkan, tetapi justru saya akan sangat salut bila masih ada perempuan-perempuan modern sekarang, yang berani beda seperti dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; Kalau makan di restoran, membawa pulang semua yang boleh diambil gratis&lt;/span&gt;. Salah satu yang paling saya ingat adalah bila kami makan di restoran mi, yang banyak bertebaran di kota Siantar. Keluarga kami tidak tergolong sering makan di luar. Paling banter pada hari gajian belaka. Itu pun tak setiap bulan. Dan pada saat begitu, Ibu paling tidak bisa lupa untuk membawa pulang sumpit bekas yang dia pakai serta sumpit-sumpit bekas kami masing-masing. Saya selalu merasa malu begitu juga adik-adik. Apalagi kalau merasa pegawai restoran itu melihati Ibu. Tapi dia cuek saja. Di rumah, sumpit itu ia pajang lagi di tempat sendok.&lt;br /&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SzHlrXC7lNI/AAAAAAAAA6s/UDtPUz5m-oA/s320/sayurmatuafoto.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5418364359786861778" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;Kebiasaan itu ternyata merembet ke hal-hal lain. Kalau dia berkunjung ke Jakarta dan kami membawanya ke restoran siap saji, ia juga mencoba 'memaksimalkan' nilai uang yang telah kami bayarkan dengan membawa aneka ragam barang yang bisa dibawa secara gratis. Gelas McD tempat soft drink. Sendok dan garpu plastik. Saos sachetan. Dan kalau ia tak menghabiskan makanannya, ia minta dibungkuskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang saya melihatnya sebagai sebuah pesan moral yang baik. Bahwa cermat lah mengeluarkan uang. Dan banyak hal di sekitar kita yang sebenarnya berguna, tetapi kita abaikan. Gelas bekas soft drink mau pun sendok dan garpu plastik itu, misalnya, banyak sekali gunanya terutama saat-saat ada banyak orang di rumah dan gelas serta sendok yang ada tidak cukup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kalau tak panas, tak mau&lt;/span&gt;. Ini menyangkut minuman. Ibu sangat fanatik pada minuman yang panas. Dan panas di sini tak identik dengan hangat. Panas ya benar-benar panas. Ia bahkan sangat membenci minuman yang panasnya suam-suam kuku. Air putih panas atau teh panas adalah favoritnya. Dan ini sudah menjadi kebiasaannya sejak kami masih kecil. Bila ia bepergian agak jauh, ia tak pernah lupa membawa termos berisi air panas. Di tengah jalan bila ia ingin minum, ia cukup membeli Aqua botol dan mencampurkan sedikit air itu ke air panas yang telah ia bawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menjengkelkan dari kebiasaannya ini adalah ia tak bisa ditawar. Kalau di rumah sendiri sih, tidak apa-apa. Yang repot bila bertamu ke rumah kerabat. Ketika disuguhi minuman, yang paling pertama ia cek adalah panasnya. Jika panasnya tak memenuhi selera dia, ia pasti meminta (meskipun dengan sopan sih) lewat pertanyaan, "Ada air yang lebih panas nggak?" Kalau tidak ada, ia samasekali tidak akan meminumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau menjengkelkan, saya menduga, ini lah salah satu hal yang membuat tubuhnya tetap bugar. Ia sendiri berpendapat air dingin tidak baik bagi kesehatan. Saya tidak tahu darimana ia mendapat keyakinan itu. Tapi saya memang percaya, air putih hangat memang banyak sekali gunanya bagi kesehatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kalau berdoa, doanya panjaaaaaaaang sekali.&lt;/span&gt; Dia akan mendoakan banyak hal dan banyak orang. Kerabat yang sakit, saudara yang masih di perjalanan, keponakan yang sedang ujian dan banyak lagi. Bayangkan lah kalau kita sudah kelaparan, dan makanan sudah terhidang di meja sementara si pus sudah pula coba-coba mau menerkam ikan asin yang teronggok di atas piring. Kita bisa jadi kesal, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi doa semacam itu makin lama makin biasa. Apalagi saya akhirnya sadar, sesungguhnya doa bukan hanya ditujukan buat Dia yang kita minta mengabulkannya. Doa adalah juga semacam 'jurnal' bagi diri kita. Seberapa ingat kita akan orang-orang yang kita kasihi. Seberapa berani kita membeberkan masalah yang ada dalam pikiran kita. Maka untuk satu hal ini, saya bisa maklum lah kalau Ibu suka bertele-tele. Meskipun kadang-kadang kalau sudah sangat lapar, saya memberanikan diri berbisik padanya, "Ma, doanya, dibikin lebih pendek ya…?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menawar dengan harga yang rendah tak terkira-kira&lt;/span&gt;. Ini merupakan alasan yang membuat saya degdegan kalau menemani Ibu belanja. Dalam menawar barang yang akan ia beli, ia tak sungkan mematok harga yang bisa membuat marah si penjualnya. Patokannya, paling awal kita harus menawar setengah dari harga yang ditetapkan si penjual. Dan ia selalu tak mau menyerah. Tak yakin pada satu toko, pergi lagi ke toko lain. Seringkali, akhirnya kembali lagi ke toko tempat pertama kali ia menawar. Dan lagi-lagi, ia bersikap biasa saja. Kalau saya sih, sudah serasa ingin menyembunyikan muka di belakang tembok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang saya baru mengerti bahwa hal semacam itu tak perlu bikin malu. Bahkan dalam beberapa hal, sering juga saya ikuti. Ketika si tukang las memperbaiki pintu pagar kami yang rusak, ia mengatakan harga jasanya itu Rp70 ribu. Saya tak kalah gertak, saya tawar Rp25 ribu (Sembari was-was, apakah saya akan kena damprat). Eh, tak dinyana, si Tukang langsung menurunkan harga yang dipatoknya jadi Rp40 ribu. Dan transaksi itu akhirnya deal di Rp30 ribu. Coba, ilmu Ibu memang manjur bukan? (Terutama kala kantong lagi bokek).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tega deh, kalau dia merasa benar. &lt;/span&gt;Yang begini ini dulu sewaktu kecil. Sekencang apa pun anaknya menangis, semisal minta dibelikan jajanan atau es mambo, ia akan kuat bertahan, manakala ia merasa permintaan itu tak perlu diladeni. Misalnya, jika kita minta jajan itu di tanggal tua. Atau ketika kita latah, baru saja dijajanin gado-gado eh minta dijajani lagi rempeyek. Dia paling sebel. Dan kalau sudah berlomba ngeyel, jangan lawan Ibu. Kita pasti kalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai sekarang untuk hal semacam ini saya belum bisa menirunya. Saya masih sering terenyuh untuk membelikan es krim buat putri saya Amartya, walau pun saya tahu, batuknya masih belum sembuh benar. Saya juga masih tak kuat menahan haru kalau melihat anak kecil menangis sesenggukan entah karena apa pun dan latas ibunya mengacuhkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ibu si Wanita Baja&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya mungkin banyak lagi yang membuat saya tersenyum sendiri bila ingat kebiasaan Ibu yang dulu saya anggap malu-maluin tetapi kini malah mulai saya tiru-tiru. Tapi untuk menghormati dia di hari ini, saya ingin mengenang lagi sikap mental baja-nya, yang membuat Ibu adalah pahlawan. Pahlawan bagi kami anak-anaknya dan bahkan untuk ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu saya duduk di kelas enam SD, ayah mengalami kecelakaan. Hari sudah sangat larut, menjelang subuh ketika berita itu kami dengar. Ayah jatuh dari motor dan terluka parah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu dijemput orang untuk melihatnya, di sebuah klinik, kira-kira 15 menit dari rumah kami. Ibu pergi setelah sebelumnya berdoa. Ia menyiapkan semua yang ia butuhkan termasuk baju hangat dan syalnya. Kami di rumah menunggu dengan was-was. Sampai saya tertidur. Sampai saya sudah sadar, bahwa hari sudah pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kira-kira pukul delapan pagi, sebuah taksi (mobil sedan tua yang lazim digunakan sebagai taksi di kampung kami) berhenti di jalan besar di depan rumah kami. Kakek memanggil saya dan adik-adik. Diminta datang mendekat ke mobil itu. Di sana saya melihat ibu memangku ayah yang punggungnya dibalut perban. Ayah masih tak sadarkan diri juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang membuat saya terpana, Ibu berujar kepada kami anak-anaknya, agar melihat dan memanggil ayah yang tentu saja tak mendengarkan itu. Dari dalam taksi itu juga, Ibu berpesan agar kami baik-baik di rumah, sebab ia akan membawa ayah ke rumah sakit di P. Siantar. Tidak ada air mata. Tidak ada wajahnya yang lelah. Wajah Ibu putih pucat, tapi sorot matanya tegar, seolah-olah berkata, "Ini belum selesai, masih banyak yang harus saya kerjakan dan saya pasti menang……"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Ibu memang menang. Lebih dari tiga bulan ayah dirawat di rumah sakit. Sampai di kemudian hari saya hafal ruang-ruang di rumah sakit itu. Sampai saya hafal lagu-lagu yang sering terdengar dari radio para suster di rumah sakit itu. Dan ayah kemudian pulih, tak kurang apa pun. Sehat seperti sediakala, sampai kini umurnya sudah 73 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah Mamak. Dan, mungkin sama seperti banyak mamak lainnya di dunia, yang masih sering menjengkelkan, masih juga sering malu-maluin, tapi dia jugalah Ibu yang membuat kita selalu percaya bahwa Surga di telapak kaki Ibu. Menjadi Ibu adalah salah satu bagian yang terindah dari hidup seorang perempuan. Dan tidak semua orang bisa mengalaminya. Terimakasih Bu. Selamat Hari Ibui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;21 April 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aslinya, corat-coret ini dibuat tatkala hari Kartini di tahun 2006. Dengan sedikit modifikasi, ditampilkan lagi sekarang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27078097-2118565351325899087?l=mysarimatondang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/feeds/2118565351325899087/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/2009/12/lima-kebiasaan-ibu-yang-malu-maluin.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27078097/posts/default/2118565351325899087'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27078097/posts/default/2118565351325899087'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/2009/12/lima-kebiasaan-ibu-yang-malu-maluin.html' title='Lima Kebiasaan Ibu yang Malu-maluin, tetapi....'/><author><name>Eben Ezer Siadari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17409901844739673818</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sDOvG1QwyNo/SEYuxWm2rnI/AAAAAAAAALk/Kai8v-INR70/S220/foto-abdi2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SzFZCt6jv4I/AAAAAAAAA6c/eDvvra_yQhg/s72-c/ayahibu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27078097.post-8144891784909271772</id><published>2009-12-14T08:16:00.001-08:00</published><updated>2009-12-14T08:32:43.297-08:00</updated><title type='text'>Jelek-jelek tapi tetap Bikin Kangen</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SyZnFrTF4MI/AAAAAAAAA6M/eeoVFUfc0-o/s1600-h/jelek.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 139px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SyZnFrTF4MI/AAAAAAAAA6M/eeoVFUfc0-o/s200/jelek.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5415128949179408578" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelantah pasti semua kita tahu. Itu minyak goreng bekas. Semisal sisa menggoreng ikan asin atau ikan tongkol. Warnanya coklat tua menjurus hitam. Jelantah yang dipakai lagi hingga berkali-kali warnanya bakal tambah hitam. Pokoknya tampangnya lumayan jelek. Di zaman ketika orang kini begitu peduli terhadap kadar kolesterol dan getol memakai minyak goreng nabati dua kali penyaringan, popularitas jelantah memang merosot. Ibu-ibu kelas menengah yang sudah berkecukupan acap kali tak lagi mau menggunakannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun di rumah kami, jelantah masih cukup populer. Soalnya masih ada saya  penggemar fanatiknya. Makin hitam warnanya, makin bagus lah kualitasnya menurut selera saya. Aroma minyak goreng biasa, di hidung saya terlalu steril. Kurang punya greget. Sebaliknya, aneka bau yang berbaur dari jelantah yang dipanaskan, sangat menggoda dan penuh sensasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba saja, misalnya, membuat telur mata sapi dari  jelantah bekas ikan asin. Kita tak hanya mendapatkan telur mata sapi, tetapi telur mata sapi dengan aroma ikan asin.  Itu salah satu lauk favorit Par-Sarimatondang. Rasa asin bukan lagi sekadar karena garam yang ditabur di atas telur (yang kadang-kadang tidak merata), tetapi juga  karena meresap dari bekas ikan asin pada jelantah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut almarhum Umar Kayam, sosiolog UGM yang konon diakui keahliannya dalam merekomendasikan restoran-restoran favorit di Yogya, jelantah adalah minyak terbaik dalam memasak nasi goreng. Saya percaya dan  saya pernah mencobanya.  Betul. Nasi goreng memakai jelantah lebih yahud dibanding dengan memakai minyak goreng baru.  Kata Kayam, lebih enak lagi kalau dibubuhi terasi secukupnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelantah pernah mengalami masa keemasan di kampung kami di Sarimatondang. Minyak jelantah itu diperlakukan sama mulianya dengan minyak goreng fresh. Dihemat-hemat dan disimpan-simpan, seperti air ajaib yang tak boleh dipergunakan sembarangan apalagi disia-siakan. Maklum lah, kala itu, kira-kira sebelum tahun 1970-an, minyak goreng sangat vital dan  dikategorikan barang mahal. Walau masakan rebus-rebusan masih dominan (dan bukan karena alasan kesehatan tetapi karena berkaitan dengan keterbatasan anggaran belanja rumah tangga)  tetapi goreng-gorengan selalu jadi yang favorit. Sayangnya, perekonomian desa yang baru berkembang dan daya beli yang pas-pasan, membuat penggunaan minyak goreng diatur sedemikian rupa. Minyak goreng yang masih fresh harus dihemat. Jelantah sebisa mungkin diberdayakan. Di tiap dapur selalu ada  ada tempat  jelantah, diklasifikasikan berdasarkan seberapa sering ia digunakan. Yang warnanya paling hitam, itulah yang pertama dihabiskan. Jika dalam manajemen inventori barangkali ini mirip dengan sistem FIFO (First In First Out). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pertama kali ‘jatuh cinta’ pada  jelantah karena masakan ibu. Ceritanya, ada kalanya jelantah bekas menggoreng ikan atau apa saja, terlalu tanggung untuk disimpan karena tinggal sedikit. Pada kasus seperti ini, ibu  sering iseng memanfaatkannya membuat nasi goreng. Jadi nasi putih sisa tadi malam, dicampurkan begitu saja ke minyak jelantah yang juga tinggal sedikit. Ditambah bumbu seperlunya -- bawang merah dan bawang putih-- (dan biasanya tanpa kecap sebab harganya mahal juga, cukup ditambah dengan garam), jadi lah nasi goreng dadakan beraroma jelantah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti kebanyakan anak-anak dimana pun di dunia yang selalu tergila-gila pada masakan ibunya,  di lidah saya nasi goreng yang begini lah yang  istimewa. Dan keranjingan pada jelantah tampaknya sudah jadi wabah, terutama kepada orang-orang Batak tatkala bernostalgia ke kampung halaman. Misalnya, saya  sering membaca cerita tentang orang-orang Batak yang ramai-ramai pulang kampung untuk keperluan menghadiri pesta perkawinan anggota keluarga yang menjadikan nasi goreng jelantah sebagai sarapan bersama pada pagi hari keesokan harinya. Nasi goreng jelantah itu bahkan dibikin lagi improvisasinya macam-macam. Nasi goreng jelantah pakai petai, nasi goreng jelantah pakai daging gulai sisa dari pesta perkawinan kemarin dan seterusnya. Boleh lah dikatakan ini merupakan nasi goreng dengan bahan-bahan sisa, tetapi lumayan beraneka rasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;()()()&lt;br /&gt;Jika jelantah untuk urusan dapur sudah begitu populernya, sebenarnya ada lagi cerita yang lebih   seru. Dulunya  ini sebuah rahasia umum yang memalukan untuk diceritakan, namun lucunya, hampir semua orang melakukannya, diam-diam atau terang-terangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syahdan, anak-anak Sarimatondang  di tahun 70-an (bahkan hingga 80-an)  tak punya kemewahan untuk berdiam  di rumah sehabis pulang sekolah. Ada-ada saja yang memaksa  mereka harus dipanggang matahari setiap hari. Apakah karena ladang yang rumputnya sudah tinggi, sawah yang saluran airnya harus diperiksa, si Piggy di belakang rumah yang harus dicarikan makanannya dan sebagainya. Ini membuat anak-anak itu harus bekerja di luar rumah di kala anak-anak kota mungkin sedang tidur siang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eksposur terhadap terik matahari menyebabkan hampir semua anak-anak memiliki kulit yang disebut ‘masak-masakon.’  Kulit tangan dan kaki  kering dan bersisik. Seandainya  ujung jari digarukkan ke kulit tangan atau kaki, segera nyata bekasnya. Saya membayangkan, seandainya musim tukar-tukaran nomor telepon genggam sudah lazim waktu itu, mencatat nomor seorang sahabat  di kulit kaki atau kulit tangan sangat dimungkinkan. Tinggal tuliskan saja pakai ujung jari nomor-nomor dimaksud di kaki atau tangan. Selama kaki tak tersentuh air, dijamin nomor itu tak kan hilang berjam-jam lamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajar jika tiap orang  ingin menyembunyikan kulit bersisik atau ‘masak-masakon,’ apalagi kalau  ingin bepergian ke sekolah, gereja atau ke kota. Apa akal? Minyak jelantah jadi penolong yang tak ada duanya. Telapak tangan dicocolkan ke tempat minyak jelantah, lalu disapukan ke seluruh permukaan kulit kaki. Dalam sekejap, kulit yang bersisik segera lenyap, berganti dengan kulit kaki yang mengkilap. Kelihatan segar persis seperti baru mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak sekarang mungkin akan berkata, ihhhh, amit-amit. Tetapi di zaman ketika body lotion masih tergolong barang  supermewah,    jelantah benar-benar jadi ‘malaikat’. Tentu ada yang bertanya, mengapa harus  jelantah, bukan minyak goreng biasa?. Nah, ini juga berhubungan dengan efisiensi. Minyak goreng yang masih baru terlalu berharga untuk dioleskan ke kaki. Lagipula, minyak goreng segar biasanya tersimpan di botol. Kurang praktis sebagai tempat mencocolkan telapak tangan. Berbeda dengan minyak jelantah yang biasanya ditempatkan di mangkok atau di piring. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebiasaan semacam ini umumnya dilakukan kaum pria, tetapi dengar-dengar kaum wanita juga tak sedikit yang melakukannya. Sarimatondang yang terletak di pegunungan, beriklim dingin tapi kering, menyebabkan kulit sangat rentan terhadap sinar matahari. Kulit bersisik terpaksa menjalar ke semua orang, tak peduli lelaki atau gadis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang-kadang jelantah naik pangkatnya. Ia tak cuma diolesi ke kaki yang bersisik, tetapi juga  menjadi minyak rambut atau gel alternatif. Ini biasanya terjadi manakala ‘Tancho’ bapak habis atau disembunyikannya. (Di Sarimatondang zaman kuda gigit besi, Tancho adalah nama generik untuk krim rambut. Dan hanya lelaki dewasa lah yang mampu membelinya). Terpaksa  jelantah disapukan ke seluruh rambut agar t tampak lebih hitam, mudah disisir dan belahan rambut bertahan di tengah tiupan angin yang kencang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang-kadang memang ada juga dampaknya yang tak terduga-duga. Misalnya, walau pun sudah berjam-jam meninggalkan rumah dan tengah asyik mengerjakan soal ujian di dalam kelas,  aroma ikan asin yang  terbawa-bawa oleh rambut hingga siang hari masih saja tercium semilir. Membuat kita serasa di dapur terus. Seringkali pula bukan hanya diri sendiri yang ikut menikmati aroma dimaksud, lalat juga  turut. Untuk keadaan-keadaan semacam ini, apalagi sikap yang lebih baik daripada bersabar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali karena jelantah yang serbaguna ini, anak Sarimatondang seperti saya pasti menyimpan kesan tertentu setiap kali melihat jelantah yang legendaris itu. Memang kita makin sering membaca tentang bahayanya mengkonsumsi minyak goreng bekas, apalagi bila sudah dipergunakan berkali-kali. Tetapi kadang-kadang dalam hidup, kita  tak bisa berlaku objektif untuk segala hal. Untuk  jelantah, misalnya, apa boleh buat, saya  rada-rada punya semacam keterkaitan emosional yang aneh. Tiap kali melihat jelantah, entah itu di tukang jualan tahu goreng atau penjual pecel lele, hati seperti diketuk-ketuk untuk selalu ingat pada jasa jelantah yang serbaguna. Apalagi saya pernah dengar cerita, ada pemuda yang begitu digila-gilai wanita karena potongan rambutnya yang selalu rapi dan tak goyah walau ditiup angin. Memang  si pemuda tak pernah terang-terangan mengakui hal itu berkat jasa si jelantah. Tetapi di dalam hatinya, pasti lah ia tak mungkin bisa menyembunyikan rasa terimakasihnya pada si minyak bekas jelek yang selalu disayang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                                       &lt;blockquote&gt; (selesai)&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Note: Foto wajah jelek di atas cuma ilustrasi belaka. Tak ada hubungannya sama sekali dengan minyak jelantah kecuali dalam soalwajah jeleknya. Sorry ya....:-)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27078097-8144891784909271772?l=mysarimatondang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/feeds/8144891784909271772/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/2009/12/jelek-jelek-tapi-tetap-bikin-kangen.html#comment-form' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27078097/posts/default/8144891784909271772'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27078097/posts/default/8144891784909271772'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/2009/12/jelek-jelek-tapi-tetap-bikin-kangen.html' title='Jelek-jelek tapi tetap Bikin Kangen'/><author><name>Eben Ezer Siadari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17409901844739673818</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sDOvG1QwyNo/SEYuxWm2rnI/AAAAAAAAALk/Kai8v-INR70/S220/foto-abdi2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SyZnFrTF4MI/AAAAAAAAA6M/eeoVFUfc0-o/s72-c/jelek.gif' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27078097.post-8368689943591676390</id><published>2009-11-16T07:17:00.000-08:00</published><updated>2010-12-06T01:21:11.806-08:00</updated><title type='text'>CInta Mallabap kepada Sarimatondang</title><content type='html'>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;img alt="" border="0" height="240" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5407981735083411394" src="http://2.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/Sw0CvD9yh8I/AAAAAAAAA4s/ysAESApUP-E/s320/sarimatondang.jpg" style="height: 240px; margin: 0pt auto 10px; width: 320px;" width="320" /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Sarimatondang atas, pusat perdagangan&lt;br /&gt;(pic by Epyphanias Siadari)&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Mengapa saya mencintai Sarimatondang? Begitu besar, begitu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mallabap&lt;/span&gt;-nya, sehingga mungkin ada yang menganggapnya berlebihan.? Atau meminjam kata gaul putri saya Amartya:&lt;span style="font-style: italic;"&gt; lebay&lt;/span&gt;?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pujangga berkata cinta seringkali tak membutuhkan alasan. Saya termasuk yang setuju. Tapi saya juga percaya, cinta pun bisa mendatangkan dan memproduksi alasannya sendiri. Berpuluh, beratus bahkan ribuan alasan dapat bermunculan tanpa pernah disangka-sangka, tatkala cinta menghadirkan dirinya. Dan begitu lah agaknya cinta saya kepada Sarimatondang. Ada seratus bahkan seribu alasannya. Dan salah satunya adalah ini:&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SxMCq2YYC2I/AAAAAAAAA5s/W_6HYDIgaco/s1600/sarmat4.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="" border="0" height="240" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5409670512577612642" src="http://1.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SxMCq2YYC2I/AAAAAAAAA5s/W_6HYDIgaco/s320/sarmat4.jpg" style="float: left; height: 150px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 200px;" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Nama gang ini agak seram: Gang Mayat&lt;br /&gt;(Pic by jerukmanis http panoramio.com/photo/15535987)&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Pada mulanya tersebut lah sebuah surat baptis. Surat baptis atas nama saya. Di surat baptis itu, saya disebutkan lahir di Sarimatondang. Tak ada yang aneh dalam hal ini. Semua anak-anak Sarimatondang mencantumkan desa kecil itu sebagai tanah kelahirannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi itu juga yang membuatnya jadi unik. Sebab sejak itu, desa kecil ini makin menempel dan identik saja dengan diri saya. Tatkala mendaftarkan saya ke Sekolah Dasar –entah disengaja atau tidak-- orang tua mengisi&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SwFvwlUabQI/AAAAAAAAA30/a1FV7axVVT4/s1600/mendung2.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="" border="0" height="240" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5404723908263439618" src="http://4.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SwFvwlUabQI/AAAAAAAAA30/a1FV7axVVT4/s320/mendung2.jpg" style="float: left; height: 240px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 320px;" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Mendung di atas SMUN 1 Sidamanik, Sarimatondang&lt;br /&gt;(pic by Bresman Silalahi)&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kolom tempat dan tanggal lahir  dengan nama Sarimatondang. Dan, begitu lah, seterusnya ketika di SMP, di SMA, kuliah, bekerja, kawin, hingga mengurus KTP, SIM, Paspor, Visa bahkan mengisi kupon undian di supermarket, desa Sarimatondang yang norak tapi menyenangkan itu, seakan tak terpisahkan lagi dari diri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia seperti terus terbawa-bawa, lengket seperti tahi lalat di celah sebelah kiri hidung saya. Dimana-mana dan kemana-mana, manakala  harus mendaftarkan diri dan disyaratkan mengisi kolom tempat lahir, otomatis saja si Sarimatondang&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SxL_GjxLTuI/AAAAAAAAA5k/0MIf3tlC5S0/s1600/sidamanik3.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="" border="0" height="320" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5409666590571187938" src="http://2.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SxL_GjxLTuI/AAAAAAAAA5k/0MIf3tlC5S0/s320/sidamanik3.jpg" style="float: left; height: 200px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 150px;" width="240" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Parabola sampai ke sudut-sudut&lt;br /&gt;(pic by jerukmanis http://panoramio.com/photo/15535987)&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;tertera. Biar pun dia udik. Biar pun dia tak terkenal. Biar pun ia mendatangkan kernyit di dahi orang yang membacanya, saya harus tetap menuliskannya. Benar-benar seperti soulmate yang ditakdirkan selalu bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujur harus saya akui, si Sarimatondang sering juga bikin capek. Beberapa teman sering susah payah melafalkannya. Dulu ada teman blogger dari Jawa Timur, gara-gara begitu susahnya dia menghafal nama blog saya, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Beautiful Sarimatondang&lt;/span&gt;, dia kesal lalu menyebutnya sebagai Sarimadu Ditendang. Beuh. Kasus-kasus salah eja sudah tak terhitung lagi. Ada yang bilang&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SwFwe9jxbCI/AAAAAAAAA4U/4VsNKueSq38/s1600/jalanraya.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="" border="0" height="240" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5404724705044294690" src="http://4.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SwFwe9jxbCI/AAAAAAAAA4U/4VsNKueSq38/s320/jalanraya.jpg" style="float: left; height: 240px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 320px;" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Lapangan sepak bola Sarimatondang&lt;br /&gt;(pic by Epyphanias Siadari)&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;Srimatondang, yang lainnya melafalkannya Saritondang. Lain waktu, sambil meledek nama desa kelahiran saya itu sebagai nama dangdut, Sarimatondang disulapnya menjadi Sarmadendang. Halah....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang-kadang ada juga yang merasa repot atau merepotkan diri sendiri (yang sebenarnya tak perlu) oleh nama ini. Sekali waktu ketika masih mahasiswa dulu, saya turut dalam rombongan peserta ujian SIM kolektif. Lalu tiba lah giliran saya menimbang badan. Entah karena iseng atau memang karena ingin mengerjai saya yang berwajah udik, sang polisi bertanya sambil memeriksa formulir yang sudah saya isi.&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SwFvw1h7i_I/AAAAAAAAA38/ukJCqOW3skI/s1600/smpnegeri.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5404723912615103474" src="http://2.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SwFvw1h7i_I/AAAAAAAAA38/ukJCqOW3skI/s320/smpnegeri.jpg" style="float: left; height: 240px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 320px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Siswa SMP Negeri Sarimatondang berbaris&lt;br /&gt;sebelum memulai pelakaran (pic by Epyphanias Siadari)&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;Polisi: Sarimatondang? Dimana itu?&lt;br /&gt;Saya&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;:&lt;/span&gt; Di Sumatera Utara Pak.&lt;br /&gt;Polisi: Kamu orang Batak?&lt;br /&gt;Saya: Ya Pak.&lt;br /&gt;Polisi: Saya baru dengar nama Sarimatondang. Di sebelah mana Tarutung?&lt;br /&gt;Saya: Wah, susah menjelaskan Pak. Saya ke Tarutung masih kelas 3 SD dulu. Sudah lupa.&lt;br /&gt;Polisi: Katanya orang Batak. Kok nggak tau Tarutung?&lt;br /&gt;Saya: (Diam, sambil nyengir. Sampai setua ini, saya paling takut sama polisi).&lt;br /&gt;Polisi: Kalau dari Medan, berapa jauh ini?&lt;br /&gt;Saya: Kira-kira empat jam Pak. Ke Siantar dulu.....(Sedetik setelah saya sebut Siantar, si polisi langsung menyambar...)&lt;br /&gt;Polisi: Oh, dari Siantar bisa ke Sarimatondang? Bilang dong dari tadi.&lt;br /&gt;Saya: Ya Pak. Dari Siantar sudah dekat. Setengah jam juga bisa kalau naik sepeda motor.&lt;br /&gt;Polisi: O.......Di sini banyak polisi orang Siantar. (Lalu dia berteriak sambil membalikkan badan, 'Oi.....Sianipar, ini ada orang Siantar di sini....')&lt;br /&gt;Saya: (dengan gugup) Bukan....bukan....Pak. Saya bukan orang Siantar.&lt;br /&gt;Polisi: Ah, lain kali kalau menulis tempat lahir, tulis saja tempat yang sudah familiar. Kota terdekat. Kalau kamu tulis Siantar, kan orang tak perlu bertanya-tanya merasa aneh. Atau biar lebih cepat, tulis saja Sumatera Utara. Hehehe.&lt;br /&gt;Saya: Iya Pak.&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SwFwel3HtuI/AAAAAAAAA4M/Bvm8ZRLUPSE/s1600/sd4.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="" border="0" height="240" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5404724698682996450" src="http://1.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SwFwel3HtuI/AAAAAAAAA4M/Bvm8ZRLUPSE/s320/sd4.jpg" style="float: left; height: 240px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 320px;" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;SD 4 Sarimatondang (Pic by Epyphanias Siadari)&lt;/td&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengikuti saran Pak Polisi ini. Dalam hati saya berpikir, mungkin ada baiknya tak perlu ngotot ngaku-ngaku sebagai orang Sarimatondang. Toh dunia ini sudah demikian besar dan demikian luas. Sudah terlalu banyak nama-nama kota yang harus dihafal oleh penduduknya sehingga tak perlu menambah kerepotan baru dengan sebuah nama tak penting seperti Sarimatondang. Maka ketika sudah hijrah ke Jakarta beberapa bulan sesudah lulus dari Bandung, beberapa orang teman saya biarkan mengenal saya sebagai orang Siantar. Parsiattar lebih tepatnya.&lt;br /&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;img alt="" border="0" height="240" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5407982495341152930" src="http://4.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/Sw0DbUJXCqI/AAAAAAAAA5E/dHPOh8NET1c/s320/ikanasinvendo.jpg" style="height: 240px; margin: 0pt auto 10px; width: 320px;" width="320" /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Penjual ikan asin di pasar (pic by Epyphanias Siadari)&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;Mula-mula status Parsiattar ini enak juga. Terasa keren. Dan tak perlu mengundang 'interogasi' dari sana-sini untuk mempertanyakan asal-usul kota kelahiran. Sampai suatu hari, ketika seorang teman membawa saya berkumpul dengan teman-temannya yang sebagian besar orang Siantar. The real Parsiattar. Setelah ngalor-ngidul ngobrol kesana kemari, tersangkut juga seseorang yang mau berbicara intens dengan saya. Sebut saja dia &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Parsiattar&lt;/span&gt;, karena dia saya anggap orang Siantar tulen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Parsiattar: Hm....tadi ito bilang, ito marga apa? Siadari ya?&lt;br /&gt;Saya: Iya ito. Saya Siadari.&lt;br /&gt;Parsiattar: Di Siantar banyak saya kenal marga Siadari. (Sambil menyebut beberapa nama).&lt;br /&gt;Saya: (Agak gugup). Mmm....saya agak-agak lupa. Mungkin kalau ketemu orangnya pasti kenal.&lt;br /&gt;Parsiattar: Emang ito di Siantar dimana?&lt;br /&gt;Saya: (Tambah gugup, tetapi dengan cepat ingat kawasan BDB, tempat kos ketika SMA). Di BDB, ito. Di dekat pabrik rokok itu....&lt;br /&gt;Parsiattar: Oh, dekat Jalan Medan ya....&lt;br /&gt;Saya: Ya. (Bohong, terpaksa).&lt;br /&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;img alt="" border="0" height="240" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5404723903259601154" src="http://2.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SwFvwSrZ6QI/AAAAAAAAA3s/wmunlJquV2o/s320/kebunteh.jpg" style="height: 240px; margin: 0pt auto 10px; width: 320px;" width="320" /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Perkebunan teh Sidamanik, tak jauh dari Sarimatondang&lt;/td&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;(Pic by Epyphanias Siadari)&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Parsiattar: Kayaknya baru kali ini aku lihat ito. Ito jarang kumpul-kumpul sama orang Siantar ya? Ah, sombong... Jangan malu lah jadi orang Siantar...&lt;br /&gt;Saya: (Muka merah padam) Nggak malu lah. Cuma baru sekarang ini saya tahu ada kumpulan orang Siantar (Saya terpaksa berbohong lagi).&lt;br /&gt;Parsiattar: Sebetulnya sih ito, saya juga bukan orang Siantar. Orang tua masih di Samosir. Tapi sejak SD sampai SMA aku tinggal di Siantar di rumah Bapauda. Makanya sudah jadi serasa orang Siantar.....(sambil tersenyum).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah. Saya yang dari tadi sudah mulai keringat dingin, serasa mendapat angin segar. Dunia yang seakan gelap-gulita karena harus jaga gengsi demi status Parsiattar, saya rasakan mulai terang.&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SwFwefEnC8I/AAAAAAAAA4E/OcQyaN9hBxs/s1600/jajanpasar.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="" border="0" height="240" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5404724696860527554" src="http://4.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SwFwefEnC8I/AAAAAAAAA4E/OcQyaN9hBxs/s320/jajanpasar.jpg" style="float: left; height: 240px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 320px;" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Jajanan pasar di Pasar Sarimatondang (pic by Epyphanias Siadari)&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;Sebab saatnya lah kini saya merasa perlu menanggalkan status Parsiattar bo'ongan ini. Berat sekali beban itu. Dan wanita di hadapan saya yang dengan begitu mudahnya menanggalkan status Parsiattarnya, memberi inspirasi juga kepada saya untuk berbuat serupa. Tak perlu lama-lama lagi, segera saya mewujudkan niat saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya: Ito, maaf ya. Sebenarnya aku malu mau ngomong ini, tapi harus aku katakan terus terang.&lt;br /&gt;Parsiattar: Mau ngomong apa? (Wajahnya memerah, mungkin kurang suka ada orang baru kenalan sudah berani-berani bicara hal yang memalukan).&lt;br /&gt;Saya: Maksudku, kita berdua sebenarnya sama.&lt;br /&gt;Parsiattar: Maksud ito? Nggak ngerti aku ah....(Sambil agak menjauhkan diri, mungkin dia curiga saya mau 'nembak' dia)&lt;br /&gt;Saya: Maksudku, ito, kita rupanya sama-sama bukan Parsiattar. Aku bukan Parsiattar. Aku orang Sarimatondang. Orang Sidamanik. Pernah dengar kan? Dulu banyak kebun nanas di sana. Tetapi sekarang sudah tak ada. Nanti sekali-kali ito aku bawa lah ke sana. Dari tadi aku sudah mau bilang itu, tapi malu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita itu tampak lega, tapi tak tampak nada kaget pada wajahnya. Mungkin kah dia sudah terlalu sering berhadapan dengan orang seperti saya, Parsiattar yang sebenarnya bukan the real Parsiattar?&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SwsaX6thHkI/AAAAAAAAA4c/THnB7oHRksM/s1600/kebun+teh+bah+butong+by+ardian.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="" border="0" height="240" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5407444775787896386" src="http://2.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SwsaX6thHkI/AAAAAAAAA4c/THnB7oHRksM/s320/kebun+teh+bah+butong+by+ardian.jpg" style="float: left; height: 240px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 320px;" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Perkebunan teh Bah Butong, perkebunan lain tak jauh dari Sarimatondang (pic by ardian heriwitoko )&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Akan halnya bagi saya, kejadian ini memunculkan sesuatu yang dapat digambarkan sebagai penemuan kembali. Menjadi orang Sarimatondang 'kembali' --betapa pun capek dan ribetnya untuk menjelas-jelaskan namanya--saya dapati sebagai perjumpaan dengan sebagian dari diri yang pernah terabaikan. Bagi yang berbakat romantis, bisa juga ia diibaratkan semacam tersambungnya cinta yang putus. Dan konon, menurut orang-orang yang terkenal sebagai Don Juan di masa mudanya, cinta lawas yang bersua kembali itu getarannya tak kalah dari debum suara durian matang yang jatuh. Dinanti-nanti dengan penuh harap, tetapi ketika kejadian, tak urung juga kita terkaget-kaget, untuk kemudian berlari menghampiri. Mallabap, kata orang Sarimatondang. Cinta mallabap.&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SwsaYCXT8WI/AAAAAAAAA4k/BWm_4Cqy6CM/s1600/paskibraka.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5407444777842241890" src="http://1.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SwsaYCXT8WI/AAAAAAAAA4k/BWm_4Cqy6CM/s320/paskibraka.jpg" style="float: left; height: 143px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 320px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Serombongan Paskibraka seusai melaksanakan tugas di lapangan Sarimatondang (pic by Poltak Siallagan)&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;()()()&lt;/div&gt;Sejak Amartya dan ibunya punya akun fesbuk dan mengetahui bahwa saya memakai nama Par-Sarimatondang, adakalanya mereka menyapa saya di rumah dengan panggilan itu. Misalnya, sekali waktu sepulang kerja, tiba-tiba saja Mama Amartya menyapa sambil membuka pintu: “Halo Par-Sarimatondang, sudah pulang nih....bawa apa?” Atau lain waktu, tatkala saya lupa merapikan handuk sehabis mandi, segera saja Amartya meledek, “Hmh..., mulai lagi deh Par-Sarimatondang. Apa-apa lupa. Lupa naruh handuk, lupa semuanya.....”&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SxL-Op05FtI/AAAAAAAAA5U/uRinJIktpF8/s1600/sawah2.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="" border="0" height="240" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5409665630124709586" src="http://4.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SxL-Op05FtI/AAAAAAAAA5U/uRinJIktpF8/s320/sawah2.jpg" style="float: left; height: 150px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 200px;" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Sawah menghampar luas (pic by jerukmanis http://panoramio.com/photo/15535987&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Anehnya, betapa pun nada sapaan itu seperti ledekan, seperti cemoohan, kok julukan Par-Sarimatondang yang dikenakan kepada saya itu kedengarannya tetap saja seperti nyanyian merdu ya? Apa lagi yang bisa menjelaskan ini selain karena cinta mallabap?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciputat, 10 November 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27078097-8368689943591676390?l=mysarimatondang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/feeds/8368689943591676390/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/2009/11/cinta-mallabap-kepada-sarimatondang.html#comment-form' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27078097/posts/default/8368689943591676390'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27078097/posts/default/8368689943591676390'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/2009/11/cinta-mallabap-kepada-sarimatondang.html' title='CInta Mallabap kepada Sarimatondang'/><author><name>Eben Ezer Siadari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17409901844739673818</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sDOvG1QwyNo/SEYuxWm2rnI/AAAAAAAAALk/Kai8v-INR70/S220/foto-abdi2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/Sw0CvD9yh8I/AAAAAAAAA4s/ysAESApUP-E/s72-c/sarimatondang.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27078097.post-8853872300652874443</id><published>2009-10-30T22:57:00.000-07:00</published><updated>2009-11-01T03:30:06.372-08:00</updated><title type='text'>The Small and Beautiful Pieces from the Past</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SuwDOs_8hAI/AAAAAAAAA28/SrelMTUwRco/s1600-h/lady+di.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 132px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SuwDOs_8hAI/AAAAAAAAA28/SrelMTUwRco/s200/lady+di.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5398693604442801154" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face  {font-family:"Cambria Math";  panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;  mso-font-charset:1;  mso-generic-font-family:roman;  mso-font-format:other;  mso-font-pitch:variable;  mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face  {font-family:Calibri;  panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;  mso-font-charset:0;  mso-generic-font-family:swiss;  mso-font-pitch:variable;  mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal  {mso-style-unhide:no;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  margin-top:0in;  margin-right:0in;  margin-bottom:10.0pt;  margin-left:0in;  line-height:115%;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-ascii-theme-font:minor-latin;  mso-fareast-font-family:Calibri;  mso-fareast-theme-font:minor-latin;  mso-hansi-font-family:Calibri;  mso-hansi-theme-font:minor-latin;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";  mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} h3  {mso-style-priority:9;  mso-style-unhide:no;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-link:"Heading 3 Char";  mso-margin-top-alt:auto;  margin-right:0in;  mso-margin-bottom-alt:auto;  margin-left:0in;  mso-pagination:widow-orphan;  mso-outline-level:3;  font-size:13.5pt;  font-family:"Times New Roman","serif";  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} span.Heading3Char  {mso-style-name:"Heading 3 Char";  mso-style-priority:9;  mso-style-unhide:no;  mso-style-locked:yes;  mso-style-link:"Heading 3";  mso-ansi-font-size:13.5pt;  mso-bidi-font-size:13.5pt;  font-family:"Times New Roman","serif";  mso-ascii-font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";  mso-hansi-font-family:"Times New Roman";  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";  font-weight:bold;} span.uistorymessage  {mso-style-name:uistory_message;  mso-style-unhide:no;} span.textexposedhide  {mso-style-name:text_exposed_hide;  mso-style-unhide:no;} span.textexposedshow  {mso-style-name:text_exposed_show;  mso-style-unhide:no;} .MsoChpDefault  {mso-style-type:export-only;  mso-default-props:yes;  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-ascii-theme-font:minor-latin;  mso-fareast-font-family:Calibri;  mso-fareast-theme-font:minor-latin;  mso-hansi-font-family:Calibri;  mso-hansi-theme-font:minor-latin;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";  mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoPapDefault  {mso-style-type:export-only;  margin-bottom:10.0pt;  line-height:115%;} @page Section1  {size:8.5in 11.0in;  margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in;  mso-header-margin:.5in;  mso-footer-margin:.5in;  mso-paper-source:0;} div.Section1  {page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; font-family:georgia;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;"&gt;Pecahan-pecahan masa lalu sering muncul dalam bentuknya yang lebih segar oleh benda-benda atau kejadian yang kita temukan di masa kini. Pasti bukan cuma saya yang setuju akan hal ini . Sekali waktu, seorang wanita yang duduk di sebelah saya di atas kereta dalam perjalanan ke tempat kerja, secara spontan saja menyelutuk begini: "Ih, ibu itu kayak Bu Iin."&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; font-family:georgia;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; font-family:georgia;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;"&gt;Ujarannya itu begitu kentara terdengar sampai-sampai ia malu dengan muka memerah ketika ia sadar penumpang yang duduk sebarisan dengannya mendengar dengan jelas apa yang dia katakan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; font-family:georgia;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; font-family:georgia;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;"&gt;"Siapa itu Bu Iin?" tanya saya, agak sok akrab. Dalam hati saya berpikir, siapa tahu ibu di sebelah bisa jadi teman ngobrol yang asyik. Setidaknya dalam 30 menit ke depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Topinya itu loh, Pak. Mirip Bu Iin, guru saya di Sekolah Dasar dulu. Orangnya judes, tapi baik. Saya lancar hitung-hitungan perkalian karena Bu Iin," kata dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya diam, tapi mata saya arahkan kepada ibu bertopi yang dimaksud. Dia duduk di seberang sebelah kiri dari bangku kami, kira-kira 10 meter jaraknya. Di atas kereta itu, si ibu bertopi memang jadi kelihatan menonjol. Ia memakai topi 'koboi' yang lebar berwarna hijau telor, mirip yang sering dikenakan almarhum Lady Diana yang bisa kita saksikan pada berbagai fotonya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 12pt; line-height: normal; font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa Bu Iin sering memakai topi seperti itu, Bu?" saya bertanya, mencoba melanggengkan percakapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hampir setiap hari Pak. Dan antingnya yang besar-besar tak pernah ketinggalan," kata dia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; font-family:georgia;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;"&gt;Sekali lagi saya mengarahkan pandangan kepada si ibu bertopi lebar. Dugaan saya usianya 50-an tahun. Lingkaran lebar topinya meneduhkan pipi dan keningnya dari terpaan sinar matahari pagi dari jendela kereta. Pulasan kosmetik di wajahnya dan warna merah menyala di bibirnya, membawa pikiran saya kepada pertanyaan berapa lama kira-kira ia bersolek sebelum naik ke kereta ini. Setengah jam? Satu jam?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" face="georgia" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; font-family:georgia;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" face="georgia" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; "&gt;&lt;span style=";font-size:100%;"&gt;"Kalau saya melihat ibu-ibu bertopi lebar, selalu saya teringat kepada Bu Iin. Dia sangat berkesan bagi kami murid-muridnya. Sewaktu lulus dari SD, kami sampai memeluk-meluk dia, karena sedih harus berpisah," kata wanita di sebelah saya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; font-family:georgia;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" face="georgia" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; "&gt;&lt;span style=";font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;"&gt;Saya terdiam, tetapi tak lama kemudian saya menimpali. "Besok saya akan coba memakai topi lebar. Siapa tahu akan disangka Bu Iin." Maksud saya sebenarnya mencoba melucu. Tapi karena bakat itu tak ada pada saya, jadi lah si lawan bicara cemberut dan malah seakan mengambil jarak duduk.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; font-family:georgia;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;"&gt;Ups. Salah saya memang. Percakapan kami baru sebatas saling lempar celetukan, sudah berani-beraninya saya berguyon berakrab-akrab.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; font-family:georgia;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 12pt; text-align: justify; line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 12pt; text-align: justify; line-height: normal; font-family:georgia;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;"&gt;Belakangan ketika kereta sudah berhenti dan para penumpang akan turun, si ibu bertopi lebar dengan wanita yang di samping saya tadi jadi juga berkenalan.Dan ketika si topi lebar tahu dirinya disangka Bu Iin, ia terpingkal-pingkal sambil menutup mulutnya. "Nama saya si Anu, bukan Bu Iin," kata wanita itu, menyebut namanya sambil merapikan topinya. "Topi lebar ini saya pakai karena saya harus sering pergi berkeliling mengantarkan klien melihat rumah dan toko. Panas Bo!," kata dia lagi. Meskipun begitu ia mengatakan senang dan malah bangga disangka sebagai Bu Iin yang guru. Pekerjaannya yang sesungguhnya adalah broker properti.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal; font-family:georgia;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;"&gt;()()()&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; font-family:georgia;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 12pt; text-align: justify; line-height: normal; font-family:georgia;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;"&gt;Dalam mengenang Sarimatondang yang &lt;em&gt;beautiful&lt;/em&gt;, saya juga sering seperti wanita yang duduk di samping saya di atas kereta. Sekilas saja sebenarnya kita terpukau oleh benda-benda tertentu, tetapi ia sudah bisa langsung menyegarkan lagi pecahan-pecahan kenangan di kampung halaman. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 12pt; text-align: justify; line-height: normal; font-family:georgia;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;"&gt;Pecahan-pecahan kenangan itu, bila dilihat dengan kacamata masa kini, tentu tak lagi harus seperti aslinya di masa lalu. Waktu pasti telah banyak mengajarkan dan memberikan tiap orang cara memandang sesuatu. Entah itu yang kita sebut kebijaksanaan, entah yang kita juluki kedewasaan. Terlalu klise untuk diulang-ulang,  tetapi memang harus selalu diingat nasihat yang entah dari siapa saya pernah mendengarnya. Bahwa masa lalu tak boleh mengurung apalagi menghentikan langkah menuju yang di hadapan.  Bahwa seharusnya lah dari pecahan-pecahan kenangan, manusia belajar siapa dirinya dan kemana ia berakar. Sebab akar yang kuat tak kan pernah membuat pohon lemah, tetapi justru sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 12pt; text-align: justify; line-height: normal; font-family:georgia;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;Beberapa pekan belakangan ini saya mencoba cara baru dalam memelihara pecahan-pecahan kenangan tentang kampung halaman. Kali ini mediumnya bukan lagi blog, tetapi fesbuk. Jika  para fesbuker umumnya menulis s&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;"&gt;tatusnya untuk memberitahukan keberadaannya mau pun apa yang terbetik di pikirannya, saya mencoba menyuguhkan hal lain. Pada status fesbuk saya, yang saya ketengahkan adalah benda-benda atau kejadian tertentu yang bisa menyegarkan ulang kenangan pada kampung halaman. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 12pt; text-align: justify; line-height: normal; font-family:georgia;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;"&gt;Mula-mula agak kagok dan aneh juga. Namun, lama-lama saya temukan juga ritme pemutakhiran status dengan topik benda-benda penggugah kenangan itu. Apalagi, sejak awal akun fesbuk Par-Sarimatondang yang saya aktifkan kurang lebih enam bulan lalu itu, memang dimaksudkan sebagai perpanjangan dari blog The Beautiful Sarimatondang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya usahakan mengisi status tiga kali sehari: pagi sambil berangkat kerja; siang pas jam makan dan sore hari di perjalanan pulang kantor. (&lt;em&gt;Tidak selalu berhasil saya memelihara disiplin ini. Kadang-kadang bolong-bolong juga&lt;/em&gt;). Yang muncul pada akhirnya memang semacam kronik-kronik sepanjang satu sampai dua paragraf, yang saya usahakan diperkuat oleh gambar yang mendukung. Saya namakan kronik-kronik itu sebagai &lt;em&gt;the small and beautiful pieces from the past.&lt;/em&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 12pt; text-align: justify; line-height: normal; font-family:georgia;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;"&gt;Maunya saya sih, semoga kronik-kronik itu bisa menggugah pembacanya menggali lagi sesuatu yang baik dari kejadian-kejadian yang terlewat. Sebab kerap kali kita manusia di masa kini  terlalu  dihanyutkan oleh pengejaran akan masa depan yang tak tentu arah sehingga sering melupakan darimana titik berangkat. Dan, ehm.  Nasihat ini bukan orisinil dari saya  loh, melainkan  nyontek dikit-dikit dari sana-sini setelah membaca-baca The Lexus &amp;amp; Olive Tree nya Thomas L. Friedman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini adalah beberapa bentuk status fesbuk Par-Sarimatondang yang muncul dalam bentuk kronik itu. Ingin sekali menghibur diri sendiri dan teman-teman lewat cuplikan-cuplikan tak penting itu. Tetapi kalau tidak merasa terhibur pun, kritik dan saran ditunggu. Apalagi bila sudi meng-add akun fesbuk Par-Sarimatondang: thebeautifulsarimatondang@yahoo.com.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SuwCz4V7pNI/AAAAAAAAA2s/S00mpGpBRtE/s1600-h/kerbau.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SuwCz4V7pNI/AAAAAAAAA2s/S00mpGpBRtE/s200/kerbau.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5398693143631340754" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 12pt; text-align: justify; line-height: normal; font-family:georgia;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penguasa Lapangan Sarimatondang (26 Oktober 2009)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;"&gt;&lt;em&gt;"&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;"&gt;&lt;em&gt;Presiden boleh berganti-ganti, kabinet bertukar-tukar, rezim naik turun, tetapi kalau penguasa lapangan sepak bola Sarimatondang tetap lah mereka-mereka ini, sebelum dijadikan 'jagal.' Selamat makan siang, dear friends......"&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 12pt; text-align: justify; line-height: normal; font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Saya menulis status seperti ini di fesbuk tatkala baru selesai makan siang di arena jajanan kaki lima beberapa blok dari kantor. Di perjalanan, saya menyadari betapa banyaknya spanduk berjudul 'sedia soto kaki.'  Spontan saja saya teringat pada kerbau-kerbau yang selalu merumput di lapangan bola Sarimatondang. Dan, kemudian muncul lah status seperti di atas.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 12pt; text-align: justify; line-height: normal; font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sejak dulu, lapangan Sarimatondang memang kerap digunakan sebagai tempat menggembalakan kerbau. Tak mengherankan bila yang lebih banyak menguasai lapangan itu bukan para pemain klub Persesa (Persatuan Sepak Bola Sarimatonadang) yang legendaris tapi kini sudah tidak aktif, melainkan para hewan-hewan yang biasanya akan berubah menjadi gulai itu kalau ada pesta perkawinan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 12pt; text-align: justify; line-height: normal; font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Seorang teman berkomentar atas foto itu yang membuat saya terbahak-bahak sendirian di kantor ketika membacanya. Kata dia: "Nggak juga. Sebagian dari mereka-mereka ini ikut duduk kok di kabinet. Ha13X....."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SuwEF-0i41I/AAAAAAAAA3E/jaOU_AKeNMI/s1600-h/lappet.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 154px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SuwEF-0i41I/AAAAAAAAA3E/jaOU_AKeNMI/s200/lappet.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5398694554119627602" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: normal; font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kegembiraan dari Membeli Lappet&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="uistorymessage"  style="font-size:100%;"&gt;:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: normal; font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span class="uistorymessage"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;"Kalau di Sarimatondang, kalimat paling menyejukkan di pagi hari adalah kalau Mamak bilang begini:&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;strong&gt;'Lao jo ho, tuhor lappet i kode ni Bapatuam Sidabutar ne!'&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt; Pasti langsung sigap berlari dg hati berbunga2"&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; font-family: georgia;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: normal; font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span class="uistorymessage"  style="font-size:100%;"&gt;Terjemahan bebas dari kalimat Bahasa Batak itu adalah: "Pergi dulu kau, beli lappet di kedai Pak De Sidabutar!". Dan, kalimat semacam ini di pagi hari memang jadi semacam kabar baik. Sebab hal itu berarti sarapan pagi itu tak lagi cuma dengan nasi, singkong rebus dan ikan asin. Melainkan juga lepat ketan (atau beras) yang nikmat dan mak nyus.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: normal; font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span class="uistorymessage"  style="font-size:100%;"&gt;Status ini, seingat saya, saya tulis di atas kereta pada pagi hari dalam perjalanan ke kantor. Beberapa menit sebelumnya di rumah, saya menghabiskan segelas teh manis dan sekerat roti. Tapi itu justru mengingatkan saya pada &lt;em&gt;lappet&lt;/em&gt;, sarapan yang dulu kami anggap mewah dalam menyambut pagi di Sarimatondang. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: normal; font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span class="uistorymessage"  style="font-size:100%;"&gt;Sejumlah kawan fesbuk bersahut-sahutan membaca ini karena ternyata hampir semuanya punya pengalaman serupa. Dan lucunya, karena dulu kita begitu bersemangatnya ingin pergi membeli lapet, akhirnya jadi kebingungan tatkala tiba di kedai Pak De Sidabutar itu. Soalnya ketika ditanya, 'beli lapet ketan atau lapet beras?,' si pembeli tak bisa menjawab karena sebelum berangkat tadi, dia  lupa menanyakannya kepada Mamak. Akhirnya harus pulang ke rumah lagi untuk memperjelas. Harap dicatat, kejadian ini berlangsung ketika kebiasaan ber-SMS-an masih di alam mimpi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SuwCzI7GYXI/AAAAAAAAA2c/LI6_cyA1r-U/s1600-h/selimut.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 182px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SuwCzI7GYXI/AAAAAAAAA2c/LI6_cyA1r-U/s200/selimut.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5398693130902331762" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;h3  style="font-weight: bold;font-family:georgia;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Magic Jar Ala Sarimatondang&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;h3  style=" font-weight: normal;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Ini adalah MAGIC JAR di rumah kami di Sarimatondang, tahun 1980-an. Serius loh!. Ora&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;ng memang menyebutnya SELIMUT. Bisa jugaGOBAR. Tapi di tahun 1980-an, tiap pagi Mamak akan memasukkan nasi untuk makan siang ke panci besar. Panci itu kemudian dibungkus dgn selimut. Lalu ditaruh di kamar. Dengan begitu, sewaktu siang nanti,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt; nasi masih hangat. Maklum lah, jangankan magic jar, kompor gas pun masih tak terbayangkan.....a small beautiful piece from the past. slamat sore dear friends..."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Yang ini saya tuliskan ketika sore-sore tatkala bersiap pulang dari kantor. Rumah selalu mengisi ingatan kita pada saat-saat berkemas meninggalkan pekerjaan. Namun, kehangatan &lt;em&gt;home&lt;/em&gt; yang tersimbolkan pada selimut, ternyata di benak saya justru berbelok menjadi 'magic jar' ala Sarimatondang.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Beberapa teman memberi komentar atas keterangan dan foto ini. Diantaranya yang bersifat reflektif adalah dari rekan sekampung yang mengatakan begini: "Jadi ingat masa lalu, bagaimana orang tua mempunyai gagasan cemerlang untuk membuat nasi tetap hangat. Mantaf!"&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SuwCzYlKZfI/AAAAAAAAA2k/6Xs7SjZNFU4/s1600-h/rantang.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 150px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SuwCzYlKZfI/AAAAAAAAA2k/6Xs7SjZNFU4/s200/rantang.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5398693135105287666" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;h3  style=" font-weight: bold;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Rantang Kebanggaan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;h3  style=" font-weight: normal;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;"Kalau dulu sebuah keluarga sudah punya rantang, wuih, bangganya setengah ampun. Sebab, rantang akan jadi alat serbaguna untuk dipakai kala darmawisata sekolah ke Medan Fair, Belawan, Berastagi dll. Rantang juga 'dipamerkan' sebagai tempat nasi kala 'marjagal2' di gereja. Di Sarimatondang ada rum&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;ah makan 'kelas menengah' kepunyaan Wak Rantang. Mungkin karena sebagian menu masakannya ditaruh di rantang. A small piece from the past. Selamat makan siang  dear friends...."&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Diantara teman-teman fesbuker tatkala membaca status ini, ada &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; ada yang mengatakan begini: "ha..ha..betul! rantang orang simalungun biasanya dibungkus taplak meja. Jadi teringat kalau 'Marraun' hu Medan fair...berangkat subuh, singgah di Sembahe, makan pagi, ke Medan fair, ke taman buaya, dll..jadi tarsunggul diri lae.."&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Saya sendiri pun punya kenangan sedih tentang rantang. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Syahdan ketika duduk di kelas tiga SMP, sekolah kami melakukan darmawisata ke Berastagi, Medan Fair, Belawan, Kabanjahe dan Parapat. Demikian bersemangatnya para orang tua membekali anaknya sehingga biasanya mereka menyiapkan rantang bekal selama di perjalanan. Mamak kala itu membeli sebuah rantang baru. Mengkilap dan mantap. Bangga rasanya menentengnya.&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ketika tiba di objek wisata Gundaling di Tanah Karo, kami mulai beristirahat untuk makan siang. Entah bagaimana ceritanya, saya belum rampung bersantap tiba-tiba rantang tempat lauk-pauk saya lenyap. Hilang dan tak tahu siapa yang mengambil. Terus terang saya jadi resah. Sepanjang perjalanan pikiran tertuju ke rantang yang hilang. Ada rasa bersalah. Apalagi itu rantang baru.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Maka ketika malam hari tiba kembali di Sarimatondang, saya menceritakan perjalanan saya dengan setengah hati. Lalu seakan tak sanggup lagi menyembunyikan rasa bersalah, saya kemukakan bahwa rantang makan saya hilang. Mohon dimaafkan, dan bersamaan dengan itu, saya mengembalikan kepada Ibu uang jajan yang jadi bekal saya. Uang jajan itu masih utuh. Seraya minta maaf, saya katakan biar lah uang jajan itu Ibu pakai untuk membeli lagi sebuah rantang baru.&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Semula saya sudah khawatir Ibu akan marah akibat kelalaian saya. Ternyata tidak. Dia tertawa tetapi terlihat sekali ia menyembunyikan kekecewaan. Ia kecewa karena anaknya tak bisa sepenuhnya menikmati tamasya karena rantang yang hilang.&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SuwCmyc7dpI/AAAAAAAAA2U/T24E9CpHqQI/s1600-h/gundar.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SuwCmyc7dpI/AAAAAAAAA2U/T24E9CpHqQI/s200/gundar.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5398692918711776914" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Hari Mencuci Sedunia&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;"&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Ini adalah SIKAT. Orang Sarimatondang menyebutnya GUNDAR. Biar lebih keren, BRUS. Bagi anak2 kos di sana pada tahun 1980-an, ini adalah benda paling dicari tiap hari Sabtu. Sebab hari itu merupakan 'hari mencuci pakaian sedunia.' Anak-anak kos berduyun2 ke Aek Simatahuting mencuci pakaian2 mereka. GUND&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;AR tak boleh ketinggalan selain sabun batangan cap telepon. GUNDAR bahkan bisa jadi pemicu pertengkaran bila ada yg pinjam dan lupa mengembalikan. A small piece from the past. Selamat pagi kawan2....."&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ini saya tuliskan pada hari Sabtu pagi tatkala leyeh-leyeh membalik-balik &lt;em&gt;Kompas.&lt;/em&gt; Amartya dan mamanya berkali-kali 'memerintah' saya untuk segera mandi karena mereka sudah muak dengan aroma tubuh satu-satunya lelaki di rumah mereka itu. Tapi saya tetap saja ogah. Alih-alih bergegas ke kamar mandi, saya malah membayangkan suasana pagi pada hari Sabtu di Sarimatondang. Dan teringat lah saya pada gundar, benda yang paling dicari oleh para anak-anak kos Sarimatondang pada saat sibuk di akhir pekan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Demikian lah cerita tentang proyek fesbuk saya bernama&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt; the small and beautiful pieces from the past. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Membosankan ya?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(selesai)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27078097-8853872300652874443?l=mysarimatondang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/feeds/8853872300652874443/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/2009/10/small-and-beautiful-pieces-from-past.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27078097/posts/default/8853872300652874443'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27078097/posts/default/8853872300652874443'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/2009/10/small-and-beautiful-pieces-from-past.html' title='The Small and Beautiful Pieces from the Past'/><author><name>Eben Ezer Siadari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17409901844739673818</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sDOvG1QwyNo/SEYuxWm2rnI/AAAAAAAAALk/Kai8v-INR70/S220/foto-abdi2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SuwDOs_8hAI/AAAAAAAAA28/SrelMTUwRco/s72-c/lady+di.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27078097.post-8694156649297620934</id><published>2009-10-21T23:35:00.000-07:00</published><updated>2009-10-23T04:45:57.483-07:00</updated><title type='text'>Namboru, Kau Harus Tanggung Jawab!</title><content type='html'>&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 194px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SuGHJ-WoD6I/AAAAAAAAA2M/3QNWdZen93k/s200/byrdfamily_zoom.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5395742433993035682" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Saya membayangkan gadis itu duduk bersimpuh setengah terkulai. Kepalanya merunduk, diletakkannya di pangkuan &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Namboru&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;, wanita tua yang duduk di kursi di hadapannya. Gadis itu menangis. Penuh sedu sedan. Dan ia dapat merasakan si &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Namboru&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;, saudara perempuan ayahnya itu, mengelus-elus kepalanya. Si &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Namboru&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; mungkin berusaha menghibur. Tapi apa mungkin? Sesungguhnya kedua wanita itu sama-sama menderita. Sama-sama dilanda sedih menyadari betapa sakitnya cinta yang dikhianati.&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Gadis itu baru saja mendapat kabar yang meluluh-lantakkan hatinya. Kekasihnya pergi, menyunting perempuan lain. Padahal, mereka sudah bertunangan lama. Bukan hanya keluarga kedua belah pihak, teman sebaya dan orang sekampung pun sudah tahu tentang perjodohan mereka. Tapi kini semua berantakan. Gadis itu malu. Juga setengah putus asa. &lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tak ia sangka akan begini jadinya. Sebab cintanya yang begitu dalam, adalah hasil dari ia memupuknya sedikit demi sedikit sampai kemudian ia pasrahkan untuk sang kekasih saja. Dan ia merasa sangat yakin. Sebab pujaan hatinya itu bukan siapa-siapa, melainkan orang yang sudah ia kenal dari kecil. Dia adalah putra si &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Namboru.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Dan dalam tradisi Batak, anak &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Namboru&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; atau lazim disebut &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;pariban&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; adalah jodoh yang paling pas bagi seorang perempuan.&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Gadis itu tak pernah lupa bagaimana awal-mula romansa itu terjadi. Si &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Namboru&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; datang ke rumahnya dan dengan takzim berbicara kepada ayahnya. Dijelaskannya keinginan hatinya untuk meminang si gadis untuk jadi menantunya. Tak sampai di situ. Si &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Namboru&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; juga membujuk ibu si gadis. Menggunakan segala cara untuk mewujudkan cita-citanya.&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Namboru, Marsapata tu homa Au&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Tante, kepadamu lah kutukan ini&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tinodom  au gabe parumaenmu&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Engkau memilihku untuk jadi menantu&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Damang i disomba ho&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Demi itu engkau menyembah ayahku&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dainang i dielek ho&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Engkau membujuk ibu&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Asa tung gabe tarunduk au&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Agar aku  mau&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Si gadis  juga masih ingat, bagaimana ayahnya berbicara kepada dirinya. Berpesan agar pinangan si &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Namboru&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; dituruti saja. Sebetulnya berat baginya untuk segera memberi jawaban. Hanya rasa hormat kepada orang tua lah yang membuatnya menundukkan diri mengiyakan perjodohan itu. Lagipula, ia sudah mengenal si &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Namboru&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; demikian lama. Ia bukan lagi orang asing di rumah mau pun di tengah keluarga. &lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Tung maol do hualus hata mi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Sesungguhnya sulit ku memberi jawab&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Damang i do naso boi tarjua au&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Bujukan ayah lah yang tak mungkin kutolak&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Asa saut ma sakkapmi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Sehingga terwujud lah rencanamu&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Saut pangidoan mi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Terwujud permintaanmu&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Au gabe parumaen mi....&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Aku jadi menantumu&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kini semua yang manis itu tinggal kenangan. Setelah menamatkan studi dan meraih gelar sarjana, si pujaan hati berpaling kepada wanita lain. Ia kepincut pada gadis yang bukan &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;boru&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Batak. Perempuan dari Tanah Seberang pula: orang Jawa. Si gadis merasa dilukai dua kali.  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Maka si gadis yang patah hati itu hanya bisa menangis. Ingin ia marah, tetapi kepada siapa? Si &lt;em&gt;Namboru&lt;/em&gt; yang ada di hadapannya mungkin bisa ia salahkan sebagai 'sutradara' dari semua ini. Tapi bagaimana ia akan tega melihat wanita tua yang juga tengah berwajah mendung itu? Bukan kah sesungguhnya mereka sama-sama disakiti oleh seseorang yang sama-sama mereka kasihi pula?.&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Di sela sedu sedannya,  akhirnya si gadis  berkata dengan terbata-bata. Menumpahkan perih hatinya di hadapan si &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Namboru&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;. “&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Namboru&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;, kalau kesedihan ini adalah kutukan,” kata dia, “Biar lah kau yang menanggungnya.” Sebab, “Dulu engkau sampai-sampai menyembah ayah ketika melamarku. Engkau juga membujuk ibu agar aku sudi. Dan, karena itu aku mengiyakan keinginanmu untuk jadi calon menantumu. Tetapi kini justru keputus-asaan lah  upah cintaku. Ya, &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Namboru&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;, engkau lah yang menanggung kutuk ini.”  &lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Hape dung tarunduk au di hatami&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Ternyata setelah aku memenuhi keinginanmu&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Hupasahat sasude na holokki&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Dan kuserahkan cinta sepenuh hati&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Nang akka dongan naposo nga sude umbotoi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Teman dan kolega pun semua sudah tahu&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Dung leleng au nga sai tarpaima i&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Setelah lama ku menunggu&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Dapot anakmi ma sarjana nai&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Dan putramu menamatkan kuliahnya&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Panikkotan do upani holokki&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Ternyata hanya kesia-siaan yang jadi ganjaran sayangku &lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Boru Jawa boru Jawa dipasaut anak mi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Justru gadis Jawa yang dipersuntingnya&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 133px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SuGFjqZ5FCI/AAAAAAAAA18/zslXF8GsrT8/s200/2008_07_23_10_36_09_mertua_detail.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5395740676291367970" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;***&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Mungkin cerita itu agak terlalu melankolis dan dramatis. Terlalu emosional dan berlebihan pertumpahan air mata yang terjadi. Tapi tak bisa lagi saya mencari cara yang lebih baik untuk menggambarkan lagu  berjudul &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Namboru Marsapata Tu Homa&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; (Tante, Kepadamu lah Kutukan Ini).   Pernah lebih lima kali  dalam satu hari saya memutar ulang lagu ini. Mencoba menghafal syairnya dan merenungkan suasananya, seraya tak henti-henti mengagumi suara Grup &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ladies&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;, kelompok vokal perempuan yang  menyanyikannya. Tetap saja yang tergambar di benak  adalah keadaan haru biru. Preman Pasar Senen yang sangar-sangar itu pun saya kira pasti tertegun dengan mata basah bila menyempatkan diri mendengar dan merenungi kisah dalam lagu ini.&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Perjumpaan dengan lagu &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Namboru&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; sebenarnya kebetulan belaka.  Beberapa bulan lalu, Leo Siadari, keponakan yang bermukim di Bandung, datang menginap di rumah membawa laptopnya. Lalu semua koleksi lagu-lagu yang tersimpan di sana dia&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; copy&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; ke laptop saya, termasuk lagu-lagu Batak.  Ada ratusan jumlahnya. Dan, ketika sebelum lebaran dokter menganjurkan agar saya banyak istirahat dan minum air putih,  maka sepanjang liburan  kemarin saya memutuskan untuk menghabiskan sebagian besar waktu luang untuk leyeh-leyeh sambil mendengar lagu-lagu Batak. Saat itu lah saya terkesima ketika menyadari ternyata begitu banyak lagu Batak yang bercerita tentang &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Namboru&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; yang dimintai pertanggung-jawaban oleh calon menantunya karena perjodohan yang kandas. Lagu &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Namboru, Marsapata Tu Homa&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;, (Sudah saya googling berkali-kali, tetapi belum ketemu siapa pencipta lagu ini. Sabar ya.....) hanya lah salah satu saja.&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Namboru&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; dalam adat  Batak memang sering digambarkan memiliki kedudukan yang strategis. Walau dalam tradisi patrilineal kedudukan perempuan selalu berada di bawah bayang-bayang pria, tak berarti kaum perempuan tak punya cara untuk menembus kebuntuan struktur silsilah yang tak berpihak pada mereka. Dan kaum &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Namboru&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; kerap berhasil memainkan kartu trufnya sehingga tak terlempar terlalu jauh dari lingkup keluarga besarnya.&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Salah satunya adalah dengan menyodorkan anak lelakinya untuk mempersunting putri paman, seperti yang terjadi pada kisah dalam lagu &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Namboru, Marsapata Tu homa&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;. Dengan berbagai cara si &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Namboru&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; membujuk dan merayu kakak atau adik lelakinya agar sudi mengambil anaknya sebagai menantu. Siapa pula pria yang tak kan luluh oleh wajah memelas adik/kakak perempuannya? &lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Si &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Namboru&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; tak bisa disalahkan bila gencar melakukan lobi-lobi seperti itu. Keinginanya pasti lah untuk sesuatu yang baik. Yakni untuk mempertahankan dan melanggengkan jejaring kekerabatan. “Daripada kepada orang lain, kan lebih baik  dijodohkan kepada seseorang yang sudah karib dan tau bibit, bebet dan bobotnya?” begitu lah kira-kira pertimbangannya.&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kenginan si &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Namboru&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; makin tak bisa ditolak karena rasa berutang mau pun tanggung jawab para lelaki Batak kepada saudara perempuannya demikian besar. Jika dari sosiologi kita mengenal konsep keluarga batih yang terdiri dari hanya ayah, ibu dan anak-anak, dalam tradisi Batak secara &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;de facto&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; si &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Namboru&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; pun kerap termasuk ke dalam keluarga inti. Sebab, para &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Namboru&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; lah biasanya yang 'diimpor' untuk jadi pengasuh anak-anak. Dari sana tercipta  hubungan yang mendalam antara anak-anak dengan &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Namboru&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;nya. Seringkali karena rasa hormat dan keakraban kepada &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Namboru&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;, si gadis tak bisa berkata tidak  tatkala dijodohkan dengan anak &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Namboru&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sayangnya, banyak cinta yang berbelok di tengah jalan.  Dan sang &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Namboru&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; jadi serba salah karena lakon yang 'disutradarai'nya ternyata tak berlangsung mulus. Anak manusia punya jalannya sendiri. Dan orang tua tak pernah sepenuhnya bisa mendiktenya. Seperti kata Kahlil Gibran,  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;your children are not your children;they come through you but not from you&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;, maka mereka yang dijodohkan acap kali berubah pikiran justru di saat-saat terakhir. Lalu luka dan perih tak bisa terhindarkan.&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Itu pula yang tergambar pada satu lagu lama yang saya lupa siapa penyanyi dan penciptanya (Kalau tidak salah, salah satu personil perempuan Eddy's Group). Lagu itu mengiris-iris hati. Terus terang, untuk lagu yang ini saya tak pernah berhasil menginterpretasikan suasana yang  bersahabat antara si gadis dengan si &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Namboru&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;,  seperti pada lagu yang dinyanyikan Grup &lt;em&gt;Ladies&lt;/em&gt;. Walau nadanya lembut dengan tempo lambat, liriknya penuh amarah dan sindirian  kepada sang &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Namboru&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Bila pada lagu terdahulu saya dapat membayangkan si gadis tak bisa menumpahkan kekesalannya kepada si &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Namboru&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; karena keduanya merasa sama-sama terluka, pada lagu kedua ini kemarahan si gadis tampaknya lebih besar. Dan ini dapat dipahami. Bayangkan lah. Sesungguhnya si gadis sudah  sempat menjalin cinta mendalam dengan seorang pria. Hanya karena ingin menyenangkan hati kedua orang tuanya  akhirnya ia sudi memenuhi keinginan si &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Namboru&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;. Tak dinyana, risiko yang telah ditempuhnya itu diganjar pengkhianatan. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Maka gadis itu protes dalam keputusasaannya kepada &lt;em&gt;Namboru&lt;/em&gt;. "&lt;em&gt;Namboru&lt;/em&gt;, katakan, kemana aku harus pergi?. Walau aku tak akan mengutukmu, tapi ganjaran dari penderitaan ini pasti akan kau tanggung. Jangan anggap remeh!" &lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Sai tudia Nama au da namboru da&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Kemana lah aku pergi wahai Namboru&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Marsapata tu ho ma Lakka ni tondi hi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Kau lah yang menanggung kutuk atas takdirku&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Ai ilumi ma namambaen damang dainang&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Airmata mu yang berlinang membuat ayah ibu terbujuk&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Bogas hi ikkon marsirang Mangoloi hatami&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Lalu aku harus memutuskan cinta demi menuruti kemauanmu&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Reff&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Tumagon tuhalak&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;'Apakah lebih baik (dijodohkan) kepada orang lain?'&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Didok ho tu dainang&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Kau berkata kepada ibu&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Sirang mai bogas hi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Dan putus lah cintaku&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Atik pe martopi hian&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Padahal, siapa tahu itu lah sesungguhnya belahan jiwaku&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Hape dung hon mulak Tanda ki o amonge&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;ternyata setelah pertunangan terlaksana&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Boru ni halak dipasaut anak mi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Anakmu justru mempersunting perempuan lain&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Alani hatam ma songonon taonon hu&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Karena anjuranmu lah, aku menderita begini&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Alai anggo bura tahe tung dao doi sian au&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Walau aku tak kan mengutuki engkau&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Sude sapatakku Na tu ho o amonge&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Namun, percaya lah balasan dari semua ini &lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;So tung leas roham jalo on mu doi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Pasti akan kau terima dan jangan anggap enteng&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pada suatu hari tatkala asyik mendengar lagu-lagu ini pada laptop di kamar tidur, saya dikejutkan oleh suara istri saya dari belakang. Rupanya ia mulai curiga dan penasaran mengapa saya bisa begitu tergila-gilanya pada lagu yang di telinganya tak lebih dari lagu cengeng mendayu-dayu ala Iis Sugianto. Ketika saya mengatakan bahwa lagu ini bercerita tentang seorang gadis yang protes kepada &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Namboru&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;-nya karena sang pacar kepincut dengan wanita Jawa, istri saya ngakak setengah mati. Mungkin  ia merasa lucu karena lagu itu melibatkan orang Jawa. Tetapi mungkin juga karena ia selalu tak habis pikir kenapa suaminya masih juga mau dininabobokan lagu picisan yang mengilik-ilik keharuan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kemudian dengan sedikit bercanda dia memberi pendapat bahwa si gadis tak seharusnya protes kepada si &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Namboru&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;. “Mestinya dia tanya dong kepada cowok yang tak tahu diri itu, kenapa dia meninggalkannya,” kata dia.&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;“Lho, kok kamu menyalahkan perempuan itu? Kok kamu tak membela kaum mu sih?” Saya bertanya.&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“Saya bukan bermaksud mau membela siapa-siapa. Saya tak mau turut campur dengan urusan cinta orang lain. Tapi jelas lah saya  harus membela &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Namboru&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;,” kata dia sambil tertawa.&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Saya ikut tertawa tetapi sekaligus menyadari ada yang  aneh. Walau banyak lagu yang menggambarkan begitu sadisnya seorang &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Namboru&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;, herannya sampai sekarang saya belum pernah bertemu dengan perempuan Batak yang tidak ngefans sama &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Namboru&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;-nya. Selalu saja mereka berkata yang bagus-bagus tentang sang &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Namboru&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Atau hanya di depan kita kah mereka begitu?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;(selesai)&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ciputat, 18 Oktober 2009&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Catatan: Mohon bantuan pembaca memberi informasi siapa pencipta kedua lagu tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27078097-8694156649297620934?l=mysarimatondang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/feeds/8694156649297620934/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/2009/10/namboru-kemana-aku-harus-pergi.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27078097/posts/default/8694156649297620934'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27078097/posts/default/8694156649297620934'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/2009/10/namboru-kemana-aku-harus-pergi.html' title='Namboru, Kau Harus Tanggung Jawab!'/><author><name>Eben Ezer Siadari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17409901844739673818</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sDOvG1QwyNo/SEYuxWm2rnI/AAAAAAAAALk/Kai8v-INR70/S220/foto-abdi2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SuGHJ-WoD6I/AAAAAAAAA2M/3QNWdZen93k/s72-c/byrdfamily_zoom.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27078097.post-9210930508788834361</id><published>2009-10-01T23:54:00.000-07:00</published><updated>2009-10-04T20:09:17.861-07:00</updated><title type='text'>Scarlet Ribbons</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SsWk9OAd3RI/AAAAAAAAA1E/oo1wJ5MDP8Q/s1600-h/gempa1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SsWk9OAd3RI/AAAAAAAAA1E/oo1wJ5MDP8Q/s320/gempa1.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5387893900857695506" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;em&gt;The Cats&lt;/em&gt; termasuk grup yang cukup populer bagi kami anak-anak Sarimatondang, di tahun 1980-an. Bukan karena televisi dan radio sudah canggih menjangkau kampung kami. Bukan pula karena toko kaset sudah merambah ke desa yang kecil itu. Melainkan karena satu-dua Om atau Tante yang kuliah di P.Siantar, adakalanya membawa kaset-kaset Barat ketika mereka pulang dari tempat kos-nya. Sambil menyetrika, atau bahkan menyiangi kebun cengkeh, mereka sering memutarkan lagu-lagu yang mungkin lagi in di kota. Termasuk lah nyanyian grup &lt;em&gt;The Cats&lt;/em&gt;, grup musik dari Volendam, Belanda itu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SsWlVx1R3PI/AAAAAAAAA1M/zsRZwnHw9l8/s320/gempa2.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5387894322791308530" /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;Tatkala membaca berita-berita tentang gempa di Sumatera Barat, lalu mencoba berempati pada mereka yang menderita dan bersedih, saya jadi ingat salah satu lagu &lt;em&gt;The Cats&lt;/em&gt; yang saya suka: &lt;em&gt;Scarlet Ribbons&lt;/em&gt;. Lagu yang bercerita tentang ayah yang gundah karena tak berhasil mendapatkan pita merah untuk mengikat rambut putrinya. Padahal pita itu  demikian diimpi-impikan sang putri, sampai-sampai membawanya dalam doa sebelum tidur. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Lalu saya membayangkan, berapa banyak ayah di Sumatera Barat, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;yang tak sempat membelikan '&lt;em&gt;Scarlet Ribbons&lt;/em&gt;' buat putri mereka, baik karena gempa telah membawa si buah hati, atau justru telah merenggut nyawa sang ayah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Scarlet Ribbons&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I peeked in to say goodnight&lt;br /&gt;And then I heard my child in prayer&lt;br /&gt;“Send for me some scarlet ribbons&lt;br /&gt;Scarlet ribbons for my hair.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;All the stores were locked and shuttered&lt;br /&gt;All the streets were dark and bare&lt;br /&gt;In our town no scarlet ribbons&lt;br /&gt;No scarlet ribbons for her hair.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Through the night my heart was aching&lt;br /&gt;Just before the dawn was breaking.&lt;br /&gt;I peeked in and on her bed&lt;br /&gt;In gay profusion laying there&lt;br /&gt;Scarlet ribbons, scarlet ribbons &lt;br /&gt;Pretty scarlet ribbons for her hair.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;If I live to be a hundred&lt;br /&gt;I will never know from where&lt;br /&gt;Came those lovely scarlet ribbons&lt;br /&gt;Scarlet ribbons for her hair...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Lagu&lt;em&gt; Scarlet Ribbons&lt;/em&gt; adalah lagu yang optimistik. Selalu ada jalan untuk mendapatkan &lt;em&gt;'scarlet  ribbons'&lt;/em&gt; buat mereka yang terkasih. Dan, di tengah&lt;/span&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 194px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SsWlj9e8KVI/AAAAAAAAA1U/VpPeEPXtXks/s320/gempa4.gif" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5387894566437005650" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;kebingungan saya oleh bencana demi bencana di Tanah Air, saya cuma bisa memberi penghiburan yang klasik. 'Besok selalu ada harapan.' &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;(selesai)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sumber Foto:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Foto1: www.bintangsatria.files.wordpress.com&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Foto2:www.riniwidyasari.files.wordpress.com&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Foto3:www.imagecows.com/uploads/3a4f-gempa-sumatra-girl.gif&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27078097-9210930508788834361?l=mysarimatondang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/feeds/9210930508788834361/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/2009/10/scarlet-ribbons.html#comment-form' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27078097/posts/default/9210930508788834361'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27078097/posts/default/9210930508788834361'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/2009/10/scarlet-ribbons.html' title='Scarlet Ribbons'/><author><name>Eben Ezer Siadari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17409901844739673818</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sDOvG1QwyNo/SEYuxWm2rnI/AAAAAAAAALk/Kai8v-INR70/S220/foto-abdi2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SsWk9OAd3RI/AAAAAAAAA1E/oo1wJ5MDP8Q/s72-c/gempa1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27078097.post-1509683255941431593</id><published>2009-08-29T21:45:00.000-07:00</published><updated>2009-09-01T00:21:06.047-07:00</updated><title type='text'>Tentang Tante Lores dan Segelas Kecil Milo</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SpoHdspOS7I/AAAAAAAAA0s/YO0eiG-J_oE/s1600-h/susucoklat.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 150px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SpoHdspOS7I/AAAAAAAAA0s/YO0eiG-J_oE/s200/susucoklat.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5375617312001772466" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face  {font-family:"Calisto MT";  mso-font-alt:"Book Antiqua";  mso-font-charset:0;  mso-generic-font-family:roman;  mso-font-pitch:variable;  mso-font-signature:3 0 0 0 1 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal  {mso-style-parent:"";  margin:0in;  margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:12.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1  {size:8.5in 11.0in;  margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in;  mso-header-margin:35.4pt;  mso-footer-margin:35.4pt;  mso-paper-source:0;} div.Section1  {page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;  &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;Segelas coklat &lt;/span&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;Milo&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt; pasti tak istimewa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bagi kebanyakan anak-anak &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;sekarang. Tapi 30 tahun lalu ia sangat menghipnotis. Dan, seorang bocah Sarimatondang yang menjelang remaja, begitu menginginkannya. Sampai terbayang-bayang.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Terbawa ke dalam mimpinya dan berbisik dalam hati: “Nanti kalau aku sudah besar dan bisa cari&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;uang sendiri, akan kubeli &lt;/span&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;Milo&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt; sekaleng penuh. Kuminum terus-menerus tak henti-henti dan sepuas-puasnya….”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;Tak perlu diherankan. Di masa itu satu-satunya saluran televisi nasional hampir setiap malam menayangkan iklan coklat bubuk itu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Lewat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mana Suka Siaran Niaga&lt;/span&gt; TVRI advertensi &lt;/span&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;Milo&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt; muncul berupa gambar hidup serombongan anak-anak yang dengan segala kegesitannya menenggaknya penuh gairah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sampai tumpah-tumpah. Berkeringat dan lelah, tetapi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;senyum mereka penuh kepuasan. Cerdas. Kuat. Modern. Semua anak-anak pasti ingin berbagi kegembiraan begitu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;Anak-anak Sarimatondang &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;menontonnya dengan kagum. Juga si bocah yang menjelang remaja itu. Dan, &lt;/span&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;Milo&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt; jadi nama yang akrab sekarib kerabat. Semua anak tahu nama itu. Bisa membayangkan seperti apa rupanya sampai serinci-rincinya. Sayangnya, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;pada saat yang sama ia terasa jauh. Bahkan tak tersentuh. Sebab Milo di kampung yang perekonomiannya masih mengandalkan pertanian tradisionil itu, adalah minuman mahal dan di luar prioritas budget rumah tangga. Tak ada kedai yang menjualnya. Juga di pasar desa yang hanya beroperasi dua hari dalam sepekan, ia sulit ditemukan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;Bagaimana pula mengharapkan ada pedagang yang menjual &lt;/span&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;Milo&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;? Kala itu hampir tak ada keluarga yang bisa secara rutin menikmati&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;hidangan ala &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Empat Sehat&lt;/span&gt;, apa lagi &lt;/span&gt;&lt;st1:city style="font-style: italic;"&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;Lima&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Sempurna&lt;/span&gt;. Kecuali untuk para bayi, susu adalah minuman langka yang hanya terhidang pada saat-saat hari gajian atau sehabis menjual hasil panen. Itu pun baru sebatas susu kental manis kaleng yang kadang-kadang takaran airnya sengaja dibikin berlebih agar hemat dan cukup dibagikan kepada kakak-beradik. Coklat bubuk &lt;/span&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;Milo&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Wah, para ibu-ibu harus berpikir seribu kali untuk tertarik membelinya. Apalagi kalau &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;segera terlintas untuk membandingkannya dengan air tajin beras merah, alternatif ‘susu coklat’ yang bisa dihidangkan dengan cuma-cuma. Pasti tercipta rasa bersalah tiap kali muncul godaan ‘bermewah-mewah’ dengan minuman sekelas &lt;/span&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;Milo&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;Maka bocah asal Sarimatondang itu tak bisa berbuat banyak kecuali menyimpan mimpinya tentang &lt;/span&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;Milo&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt; dalam-dalam. Tak pernah terlintas untuk memintanya kepada ibunya karena jawabannya sudah dapat ia tebak. Kedua orang tuanya hanya guru desa dengan pendapatan yang pas-pasan. Punya anak enam orang, semuanya masih kecil-kecil. Juga di rumah masih menumpang dua orang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;namboru&lt;/span&gt; (adik perempuan ayah) dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Oppung&lt;/span&gt; (kakek). Meminta disediakan minuman kelas atas seperti &lt;/span&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;Milo&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt; pasti akan dicap sebagai sikap mentang-mentang atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pajago-jagohon.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SpoHm0Yvo7I/AAAAAAAAA00/KOm6GrZ5uX4/s1600-h/weisse_rose_small.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 194px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SpoHm0Yvo7I/AAAAAAAAA00/KOm6GrZ5uX4/s200/weisse_rose_small.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5375617468698960818" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: center;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;()()()&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;Tapi selalu ada jalan. Dan dunia ini adalah lahan bagi berbagai perjumpaan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;Syahdan, bertahun-tahun kemudian &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;si bocah Sarimatondang sepenuhnya menjadi remaja. Ia menamatkan sekolah SMP-nya. Di desanya belum ada sekolah SMA, sehingga&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;alternatif paling masuk akal adalah melanjutkannya ke Pematang Siantar. Ini adalah sebuah &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;kota&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt; dagang dan &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;kota&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt; birokrasi nomor dua terbesar di Sumatera Utara. Jauhnya 25 kilometer dari kampung halaman. Ke sini lah anak remaja itu dikirimkan orang tuanya indekos. Tak perlu susah-susah mencari rumah. Sebab di &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;kota&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt; ini sudah lama bermukim seseorang yang &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;ia sapa dengan panggilan Tante.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Adik ibunya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;Sang Tante bekerja sebagai &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;guru &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Bahasa Inggris di sebuah SMEA Negeri. Suaminya, yang akrab dengan panggilan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bapauda&lt;/span&gt; yang berarti adalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Om&lt;/span&gt;, bekerja sebagai guru juga. Anak mereka tiga orang, masih kecil-kecil. Yang paling sulung bahkan baru di bangku TK. Rumah mereka cukup besar dengan jendela yang banyak dan lebar-lebar. Model rumah Nias, kata orang-orang, menyebut pulau kelahiran si &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bapauda&lt;/span&gt;. Letak rumah itu di kawasan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;di dekat sebuah pabrik rokok. Masih banyak lahan kosong dan pohon-pohon di sekitarnya sehingga bila malam tiba, sepi segera terasa. Tentu dalam hemat orang tua si remaja asal Sarimatondang itu, ini adalah tempat ideal untuk belajar. Apalagi ada Tante yang bakal bertindak sebagai ibu pengganti. Si remaja van Sarimatondang menyambutnya dengan senang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;Yang tak disangka-sangkanya adalah &lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;rumah ini menjadi tempatnya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pertama kali menggenapi mimpinya minum coklat &lt;/span&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;Milo&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt; yang telah lama menghantuinya. Pengalaman itu begitu berkesan dan mendalam sehingga tak pernah lekang dari kenangannya sampai kelak ia tua. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Dan, uniknya, hal itu didapatinya dengan cara yang agak berbeda dengan ‘dendamnya’ tatkala menyaksikan siaran TVRI tempo hari. Jika dulu ia berangan-angan akan memuaskan rasa penasarannya pada coklat &lt;/span&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;Milo&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt; dengan menenggaknya bergelas-gelas tiada henti sampai tumpah-tumpah, meminum coklat &lt;/span&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;Milo&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt; di rumah itu justru dialaminya dengan cara lain, yang di kemudian hari, ia jadikan ‘&lt;span style="font-style: italic;"&gt;trade mark’&lt;/span&gt; mengenang sang Tante.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;Coklat Milo yang dirindukannya itu hadir dalam bentuk gelas kecil yang sekali tenggak sudah habis. Setiap pagi si Tante tak pernah alpa menghidangkan minuman tersebut sebagai pelengkap sarapan seisi rumah, termasuk bagi si udik van Sarimatondang. Menu sarapan boleh berganti-ganti. Kadang-kadang nasi goreng dengan suwiran telur dadar. Kala lain roti dengan selai kacang atau srikaya. Besok lusa nasi putih dengan sepotong tongkol dan tumis kangkung. Namun yang tak pernah ketinggalan adalah coklat &lt;/span&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;Milo&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt; hangat itu. Selalu dalam segelas kecil yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sekali tenggak, isinya pasti lenyap.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;Ya, sekali tenggak habis lah coklat hangat itu. Sebab gelas yang jadi tempatnya disuguhkan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;berukuran kecil. Sebuah gelas bening yang terbuat dari beling, kira-kira setengah ukuran gelas standar. Tanpa tangkai. Dan coklat itu selalu dalam keadaan hangat yang terukur, sehingga siap diminum tanpa perlu harus menunggu lebih agak dingin lagi.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kalau mengikutkan perasaannya, kadang-kadang si remaja Sarimatondang memang masih merasa kurang dengan porsi seirit itu. Benar-benar kurang dramatis ia rasakan ‘pertemuan’nya dengan coklat &lt;/span&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;Milo&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt; bila dibandingkan dengan cita-citanya semasa masih bocah dulu. Tapi melihat seisi rumah juga disiplin mencukupkan diri dengan gelas kecil, ia menyesuaikan diri juga. Bahkan makin lama &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;justru menerimanya sebagai cara baru meminum coklat hangat: tidak boleh berlebih-lebih, tidak boleh ada sisa. Cukup di gelas kecil &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;sekali tenggak. Dan kebiasaan yang ditanamkan sang Tante pun membekas sampai jauh.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;()()()&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SpoHm0Yvo7I/AAAAAAAAA00/KOm6GrZ5uX4/s1600-h/weisse_rose_small.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 194px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SpoHm0Yvo7I/AAAAAAAAA00/KOm6GrZ5uX4/s200/weisse_rose_small.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5375617468698960818" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;p style="text-align: center;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;Lalu ajal&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;menjemput Tante. Ia dipanggil Tuhan. Pada dinihari 7 Agustus lalu, saya menerima telepon dari kampung halaman yang mengabarkan berita duka itu. Tante Lores, demikian saya memanggilnya (nama panjangnya, Lorestina Damanik) menghembuskan nafasnya yang terakhir di rumah sakit tempatnya dirawat di Pematang Siantar. Tak terlalu mengejutkan, sebenarnya. Sebab sudah lama ia menderita diabetes yang berkomplikasi dengan penyakit lain. Berkali-kali ia menjalani perawatan di berbagai rumah sakit di P.Siantar, &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;Medan&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt; bahkan juga pernah dibawa &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;ke &lt;/span&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;Penang&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;Tetapi, apakah betul ada kata ‘siap’ ketika kita menerima kabar duka? Tak pernah, saya kira. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Ia selalu datang seolah sebagai kejutan. Sebagian karena &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;memang tak diduga-duga. Tapi bahkan ketika semuanya pun sudah demikian terang benderang, tetap saja datangnya kematian terasa menyentak. Perpisahan dengan orang yang terkasih selalu terasa terlalu cepat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;Maka itu lah yang membuat dada serasa sesak ketika menyadari si Tante telah tiada. Di ujung telepon pagi dinihari itu, terdengar suara tangisan Boi, putra sulung Tante, tersendat-sendat tapi demikian keras. Ayah seorang putri itu penuh sedu sedan dan hanya bisa terbata-bata menjawab ucapan belasungkawa yang kami sampaikan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Boi yang periang,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang suka bercanda dan punya banyak teman di seantero Siantar, begitu tidak berdayanya pada menit-menit awal&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kepergian Mamaknya. Keadaan yang saya kira menyelimuti juga ayahnya, Bapauda Zendrato, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;dan tiga orang adiknya, Wilga, Peter dan Rina.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;Tante Lores sebenarnya sudah hampir dekat pada masa pensiunnya sebagai pegawai negeri. Usianya 60. Anak-anaknya semua sudah dewasa. Tinggal seorang lagi yang belum menikah. Ia sudah sempat menggendong dua cucu. Dalam tradisi Simalungun, meninggal dunia dalam keadaan semacam ini&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sudah dianggap nyaris &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sayurmatua&lt;/span&gt;, sebuah status terhormat dalam mengakhiri hidup.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;Namun tetap saja ia&lt;span style=""&gt;  terasa &lt;/span&gt;pergi terlalu pagi.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dan  itu pasti lah karena rasa kehilangan ini datangnya berlandaskan cinta. “&lt;i style=""&gt;Brief is life, but love is long&lt;/i&gt;,” kata tokoh dalam drama karangan&lt;span style=""&gt; seorang &lt;/span&gt;penyair Inggris. Dan kita mengaminkan itu sebagai sebuah bentuk keluhuran manusia. Bahwa di satu sisi kita mengakui perjumpaan dan kebersamaan dalam hidup alangkah fana. Tapi pada saat yang sama manusia beruntung diberi kemungkinan mengenang. Memelihara dan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;memupuk kasih sayang. Dan itu lah yang sesungguhnya akan bertahan lama. Abadi. Tak punah dimakan zaman.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;Saya akan mengenang Tante Lores terutama oleh ketegasannya, disiplin yang diteladankannya dan hidup sederhana yang demikian mendarah daging pada dirinya dan kemudian ia tanamkan kepada keluarganya. Ketegasan dan disiplin pula lah &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;yang barangkali ingin&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ia pertunjukkan kepada saya dan seisi rumahnya, lewat pengalaman meminum&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;segelas kecil Milo yang habis sekali tenggak, selama dua tahun saya mondok di rumahnya. Seolah ia ingin menunjukkan bahwa untuk segala hal ada porsinya. Termasuk untuk hal-hal yang enak dan menyenangkan, seperti segelas coklat hangat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;Sekali waktu tatkala Tante masih gadis dan menempuh kuliah di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas HKBP Nommensen di P. Siantar, ia memboyong saya menginap di tempat kos-nya. Saya masih duduk di sekolah dasar ketika itu. Mungkin kelas III atau IV, saya sudah lupa. Yang jelas, saat itu masa liburan panjang sedang berlangsung. Dan agaknya, ia merasa kasihan dan perlu memberi pengalaman ‘&lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;kota&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;’ kepada saya keponakannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;Tempat kosnya bersama sejumlah mahasiswi lainnya adalah sebuah rumah bertingkat di tepi jalan besar di kawasan Pecinan. &lt;/span&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;Para&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt; anak-anak kos ini tinggal di lantai dua. Dan selama ‘berlibur’ di &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;sana&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;, setiap pagi sang Tante akan membangunkan saya dan meminta agar cepat-cepat mandi. Lalu ia akan memanggilkan penjaja kue yang lewat di jalanan (sampai sekarang saya masih ingat nama kue sarapan ala Tionghoa yang populer: Cipeng), sebuah ritual yang saya tunggu-tunggu. Sebab kue Cipeng itu begitu nikmat saya rasa. Setelah itu, baru ia memberi ‘kuliah singkat’ yang intinya adalah meminta agar saya baik-baik di rumah, sebab dia akan pergi kuliah sebentar. Jangan pergi kemana-mana, tetap lah di rumah. Lalu ia menunjuk ke lemari bukunya yang tidak terlalu besar. Di &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;sana&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt; sudah tersedia komik-komik cerita Alkitab yang rupanya sudah disediakannya bagi saya sebagai lalapan melewatkan waktu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;Sambil kuliah ia mencari duit. &lt;/span&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;Sore hari si Tante sudah ditunggu oleh murid-murid les privat Bahasa Inggrisnya. Umumnya rumah para murid itu tak jauh dari tempat kos si Tante. Ke sana, cukup ditempuh dengan berjalan kaki, dan itu sebabnya selama liburan itu saya juga turut diajaknya menemaninya mengajar. Seperti biasa, sejak dari rumah dia sudah mewanti-wanti agar nanti ketika si Tante menjalankan tugas mengajarnya, saya harus duduk manis mendengar dan memperhatikan saja. Tak boleh berisik. Tak boleh lasak. Duduk dan diam di tempat.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;Tentu saya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mengiyakan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;Dan sampai kini pengalaman itu tak juga bisa lupa. Bahkan seolah kembali jadi segar pemandangan tatkala Tante duduk di ujung meja makan di rumah murid les privatnya itu, sementara sang murid duduk di salah satu sisinya. Sesekali si Tante beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri papan tulis kecil yang sudah tersedia pula di dekat meja makan itu. Saya hanya bisa melihat dari tempat duduk yang agak jauh., di ujung meja lainnya. Dengan mata yang seolah tak rela berkedip. Mungkin karena takjub melihat murid si Tante yang umurnya hanya beberapa tahun di atas saya, tetapi sudah cas cis cus berbahasa Inggris.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;Sambil si Tante mengajar, adakalanya sang murid permisi sebentar dan pergi ke dapur. Sekembali dari sana, si murid sudah duduk manis lagi mengikuti pelajaran meskipun kali ini di tangannya sudah ada es mambo yang dijilatinya sambil menyimak apa yang diucapkan gurunya. Sekali lagi, dari jauh saya kembali takjub. Bukan  lagi pada cas cis cus-nya bahasa Inggris sang murid, melainkan membayangkan betapa nikmatnya es mambo. Tak sedikit pun saya lihat Tante keberatan dengan keadaan itu. Wajah dingin dan seriusnya tetap ia perlihatkan sepanjang jam pelajaran les privat. Kadang-kadang saya merasa tersiksa karena tak bersalah apa-apa kok ikut kebagian ‘wajah dingin’ itu. Tetapi biasanya segera sesudah kami melangkah keluar dari pintu rumah sang murid, si Tante kembali menjadi Tante yang saya kenal. Yang tegas tetapi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;akrab. Dan di ujung jalan, pernah ia bertanya, “Kau pasti menginginkan es mambo seperti yang tadi &lt;/span&gt;&lt;st1:state&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;kan&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:state&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;? Nah, sekarang kita akan beli es mambo.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;Di lingkungan keluarga besar, taraf hidup ekonomi keluarga si Tante lah yang paling mapan dibandingkan dengan kakak mau pun adik-adiknya. Namun kesederhanaan hidupnya tampaknya tak banyak berubah bahkan ketika anak-anaknya sudah lepas dari tanggungannya. Sedari dulu ‘makan di luar’ selalu menjadi acara penting bagi keluarga itu. Namun ‘penting’ dalam hal ini dugaan saya bukan karena frekuensinya yang begitu sering, melainkan karena persiapan dan perencanaan budget untuk ‘makan di luar’ itu begitu cermatnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;Dulu ketika anak-anaknya masih kecil dan saya tinggal di rumah itu, pergi ke ‘Pajak Horas’ (di Siantar, Pajak =Pasar) merupakan acara yang akan membuat heboh seisi rumah. Sebab selain belanja keperluan keluarga, si Tante akan mengajak kami&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;jajan mie pangsit atau bihun kuah di sebuah kedai langganannya di lingkungan pasar itu. Seminggu sebelum acara itu tiba, anak-anak&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sudah demikian &lt;span style="font-style: italic;"&gt;looking forward&lt;/span&gt;nya. Termasuk dengan duduk manis mengerjakan pe-er di sore hari agar ikut ‘diajak’. Dan kunjungan ke ‘Pajak Horas’ itu memang selalu sukses. Rugi pula bila &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;dilewatkan. Sebab harus menunggu satu bulan lagi baru ada kunjungan serupa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;Tiap kali akhir Tahun tiba, semua anggota keluarga besar berkumpul di rumah kakek di Sarimatondang. Keluarga si Tante akan tiba paling pagi dan sore hari kembali lagi ke Siantar. Di kala seperti ini, pasti si Tante lah yang paling awal dan paling rajin mewanti-wanti anak-anaknya serta keponakan-keponakan lain agar segera pergi ke kebun belakang rumah. Ia meminta mereka untuk memanjat kelapa, memetik daun singkong, labu siam mau pun&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;cabai, menebang pisang yang sudah tua bila ada, untuk kemudian dimasukkan ke mobil yang nanti akan membawa mereka pulang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;Selintas mungkin akan muncul pikiran, untuk apa sih si Tante repot-repot membawa hasil bumi itu? Bukan kah di Pajak Horas di Siantar sayur-mayur semacam itu dengan mudah ia dapatkan? Tapi dari mengamati kebiasaannya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;berkali-kali, akhirnya saya temukan juga pesan yang ingin disampaikannya.  Sebab nanti sore-sore sebelum ia dan keluarganya pulang, ia akan mengumpulkan para keponakan-keponakannya yang telah repot-repot memetik sayur itu. Lalu ia membagi-bagikan uang, sebagai ‘jerih-payah’ telah ikut berpeluh mengumpulkan hasil bumi tadi. Sebuah pesan yang baik, sebab dengan begitu para anak-anak tadi akhirnya dapat memahami bahwa uang yang mereka terima itu bukan sedekah, melainkan upah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;Rumah mereka di Siantar adalah persinggahan yang teduh. Bukan hanya karena besar dengan jendela yang banyak dan lebar-lebar, melainkan oleh keramahan dan keramaian anak-anaknya yang samasekali tak pernah menunjukkan diri sebagai ‘anak &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;kota&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;.’ Boi dan Peter, dua anak lelaki di keluarga ini, dalam pandangan saya adalah adik-adik yang serbabisa untuk berbagai hal ‘pekerjaan lelaki.’ Memanjat kelapa, memotong dan menguliti ayam, mengupas nangka bahkan mencangkul dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;menyiangi makam kakek adalah ketrampilan-ketrampilan anak kampung yang sangat mereka kuasai dan sampai sekarang saya tak tahu entah darimana mereka pelajari. Bersama-sama dengan mereka kita akan merasa direriungi oleh adik-adik yang sigap memberi pertolongan. Sama seperti ayah-ibu mereka yang juga tak kalah tangkas membantu tetek-bengek kepada keluarga kakak dan adik-adiknya, yang sering membutuhkan pinjaman dana untuk membiayai sekolah anak-anak mereka.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: center;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;()()()&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;Kini telah berpekan-pekan beliau pergi. Pelan-pelan air mata akan mengering. Duka akan lenyap.Tetapi yang indah dan baik akan tetap terkenang. Sebab &lt;span style="font-style: italic;"&gt;brief is life, but love is long.&lt;/span&gt; Dan Tante telah mencapai finish pada pertandingan yang ia jalani. Isi doa dan harapan kita tentu lah ia telah memenangi dan disemati mahkota oleh Dia yang empunya kehidupan. Pada saat yang sama kita yang ia tinggalkan mewarisi kasih dan cintanya, yang telah ia pertunjukkan sedemikian rupa. Sehingga sampai puluhan tahun kemudian, saya masih tetap mengenang Tante sebagai perempuan teladan dalam soal ketegasan dan disiplin. Diantaranya lewat segelas kecil &lt;/span&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;Milo&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt; setiap pagi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;Selamat jalan, Tante.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;" class="MsoNormal"&gt;selesai&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;ciputat, 30 agt 2009&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27078097-1509683255941431593?l=mysarimatondang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/feeds/1509683255941431593/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/2009/08/tentang-tante-lores-dan-segelas-kecil.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27078097/posts/default/1509683255941431593'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27078097/posts/default/1509683255941431593'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/2009/08/tentang-tante-lores-dan-segelas-kecil.html' title='Tentang Tante Lores dan Segelas Kecil Milo'/><author><name>Eben Ezer Siadari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17409901844739673818</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sDOvG1QwyNo/SEYuxWm2rnI/AAAAAAAAALk/Kai8v-INR70/S220/foto-abdi2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SpoHdspOS7I/AAAAAAAAA0s/YO0eiG-J_oE/s72-c/susucoklat.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27078097.post-3997082406870864563</id><published>2009-08-01T04:13:00.000-07:00</published><updated>2009-08-03T00:38:44.089-07:00</updated><title type='text'>Gadis yang Memainkan Piano</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SnQo0FWnHKI/AAAAAAAAAzs/jAZpSmK0qHI/s1600-h/iringi2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 150px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SnQo0FWnHKI/AAAAAAAAAzs/jAZpSmK0qHI/s200/iringi2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5364957931360427170" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 10"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 10"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CPC4%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="PlaceType"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="PlaceName"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="State"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="City"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Garamond; 	panose-1:2 2 4 4 3 3 1 1 8 3; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:35.4pt; 	mso-footer-margin:35.4pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman";} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:georgia;font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Tak sampai berjam-jam. Hanya beberapa menit saja sebenarnya. Tapi gadis itu telah berhasil mencuri hati. Dan membawanya penuh-penuh. Sampai &lt;span&gt; &lt;/span&gt;jauh. Sampai berpuluh tahun. Tak lekang juga. Tetap tinggal sebagai kenangan.&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;Seorang gadis yang memainkan pianonya. Mengiringi ibadah yang ramai dipadati pengunjung yang sebagian besar adalah kami para mahasiswa. Dan diam-diam dari jauh mata mengamatinya penuh kagum.&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;Betapa dekat irama yang dimainkannya. Tapi begitu tak terjangkaunya dia. Sebab hanya beberapa saat itu saja kesempatan melihat dirinya. Gadis yang tak kami tahu siapa namanya. Dimana ia tinggal, kemana akan pulang dan siapa yang akan mengantarkannya. Tapi mahasiswa udik ini, yang hanya bisa membayangkannya penuh rasa minder, telah terenggut perhatiannya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Begitu lah. Sampai berpuluh tahun kemudian, siluet &lt;span style="font-style: italic;"&gt;‘gadis yang memainkan piano’ &lt;/span&gt;itu kerap muncul tiap kali melihat orang memainkan bahkan membicarakan piano. Juga tatkala beberapa tahun lalu, istri saya memberi usul yang mengejutkan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Menurut dia, saatnya anak kami Amartya &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;belajar piano. Banyak sudah dipelajarinya bacaan perihal sisi-sisi positif mengenalkan musik kepada anak sejak usia dini. Dan belajar piano, menurut istri saya, adalah salah satu cara terbaik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style=";font-family:georgia;font-size:100%;"&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/6161/1865/1600/mainpiano.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left;" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/6161/1865/320/mainpiano.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 10"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 10"&gt;&lt;link style="font-family: georgia;" rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CPC4%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;span style=";font-family:georgia;font-size:100%;"&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="PlaceType"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="PlaceName"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="State"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="City"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Garamond; 	panose-1:2 2 4 4 3 3 1 1 8 3; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:35.4pt; 	mso-footer-margin:35.4pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman";} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Bukan hanya itu yang mendorong dia memberi usul yang rada progresif itu bagi ukuran lelaki kampungan seperti saya. Di masa kuliah ia juga punya sahabat dekat dan hingga kini masih tetap dekat. Seorang wanita yang pandai memainkan piano.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Konon, menurut istri saya, di rumah si teman ada lebih dari satu piano. Keluarga itu memang keluarga pemain piano. Tiap kali si teman&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;gundah atau malah sedang bersukacita, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;sang teman akan duduk dan membiarkan jarinya menari-nari di atas tuts piano. Tak perduli tempat dan waktu. Apakah saat mereka sedang berada di rumahnya. Atau di aula kampus yang ada pianonya. Bahkan ketika berjalan-jalan di mal dan menemukan piano dijejerkan untuk dijual. Sang teman akan begitu saja dengan kecintaannya memainkan piano itu. Nah, istri saya berpikir, punya anak gadis yang bisa memainkan piano, pasti membuat rumah penuh keriangan, bukan?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Tak pelak &lt;span style="font-style: italic;"&gt;‘gadis yang memainkan piano’&lt;/span&gt; menjadi semacam ideal bagi istri saya dan saya. Dengan budget yang tertatih-tatih kami kemudian mencicil sebuah piano tua, sebab membeli yang baru jelas tak mampu. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Ketika mendatangi toko &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;piano bekas itu, kami naksir berat pada sebuah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Steinway &lt;/span&gt;yang dimata saya tak beda jauh dengan lemari kayu butut di rumah kami di kampung halaman. Jelas lah, kami kesengsem padanya bukan karena modelnya tapi terutama pada harganya yang  &lt;em&gt;acceptable&lt;/em&gt; dengan kantong. Ketika kami mengamat-amati si &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Steinway &lt;/span&gt;itu, wiraniaga toko ada menerangkan sejarah perjalanannya hingga dilego ke toko itu. Dia bercerita siapa saja yang pernah memilikinya, dari mulai orang beken hingga orang biasa-biasa saja. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="font-family: georgia;" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SnQo0WVdRDI/AAAAAAAAAz0/n3U6hrzHqEg/s1600-h/pianobsd.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SnQo0WVdRDI/AAAAAAAAAz0/n3U6hrzHqEg/s200/pianobsd.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5364957935918990386" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Saya tak terlalu hirau pada celoteh si wiraniaga. Yang pokok, mata saya berbinar-binar tatkala benda seberat 300 kg itu sudah bertengger di ruang tamu kami. Paling menyenangkan lagi, kami tak membutuhkan kabel atau aliran listrik untuk membunyikannya. Kapan suka, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;dentingkan saja tutsnya. Dan sambil tertawa-tawa seperti anak-anak yang baru mendapatkan mainan baru, piano itu sampai berminggu-minggu saya mainkan dengan cara saya sendiri. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Amartya sering mencibir polah saya yang urakan  karena rupanya di tempat lesnya, benda ini diperlakukan cukup tertib. Persis seperti perlakuan supir kepada mobil juragannya…&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Itu &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style=""&gt;lima&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style=""&gt; tahun lalu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Sekarang piano tua itu masih juga menghias rumah kami. Tapi dalam memandanginya manakala saya sedang leyeh-leyeh di sofa di dekatnya, makin berwarna-warni lah yang muncul di pikiran. ‘&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Gadis yang memainkan piano’&lt;/span&gt; yang selama bertahun-tahun sering muncul hanya berupa siluet dalam angan, kini menjelma pada sosok yang lebih nyata. Yakni pada sosok putri saya, tatkala ia dengan ‘penuh perjuangan’ memainkan lagu-lagu yang dipelajarinya di tempat kursusnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style=""&gt;Ada&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style=""&gt; rasa iba tiap kali dulu Amartya dengan bersusah payah harus memelototi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;buku John Thompson’s dan Beyer-nya, mengulang not-not yang dirasakannya sulit. Ia bahkan pernah menangis karena tak kunjung mulusnya sebuah lagu ia selesaikan. Lalu kami bicara dari hati ke hati. Dan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;untuk sementara kami memutuskan dia istirahat dulu dari les piano. Tak berapa lama, ia berpindah dari kelas&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;piano klasik ke pop, yang kami anggap lebih mudah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SnQ2Qvt87TI/AAAAAAAAA0U/_wRvR9XqlKM/s1600-h/vokal.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SnQ2Qvt87TI/AAAAAAAAA0U/_wRvR9XqlKM/s200/vokal.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5364972717420113202" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Sampai kini pun, menurut saya, ia belum berhasil melalui bagian-bagian yang paling menentukan dalam bermain piano. Menurut dugaan saya yang awam ini, ia kerap terlalu patuh pada buku ‘partitur’ di hadapannya ketimbang menggunakan intuisinya. Padahal, di bidang lain, semisal ketika kami nyasar &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;menuju suatu tempat, justru Amartya lah yang sering pemberi solusi lewat feeling dan rekaan ingatannya yang tajam.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="font-family: georgia;" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SnQoz6p-ZzI/AAAAAAAAAzk/lTNFehHm5dk/s1600-h/iringi.jpg"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style=""&gt;Ada&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style=""&gt; kalanya ia seperti demikian bencinya sehingga berhari-hari tak menyentuh benda kayu persegi empat yang kadang-kadang memang terlihat angker itu. Ibunya berusaha membujuk. Saya tak kurang akal, berusaha merayunya dengan mengatakan bersedia menjadi vokalis bersuara ‘mbah surip’ asalkan ia mau mengiringi. Ia bergeming. Seolah duduk di hadapan tuts itu adalah siksaan baginya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="font-family: georgia;" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SnQoz6p-ZzI/AAAAAAAAAzk/lTNFehHm5dk/s1600-h/iringi.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SnQoz6p-ZzI/AAAAAAAAAzk/lTNFehHm5dk/s200/iringi.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5364957928488855346" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Sering saya hampir menyerah. Tapi istri saya tidak. Rupanya ia sudah tak asing lagi pada kisah-kisah tentang sulitnya anak-anak diajak akrab dengan piano. Dan referensinya tentang hal ini tak main-main. Menurut dia, sebagian besar pianis terkemuka di Tanah Air, mempunyai kesulitan serupa menghadapi anak-anak mereka di masa awal. Tetapi kebanyakan berakhir dengan &lt;i style=""&gt;happy ending.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Entah darimana ia dapat inspirasi, tetapi saya pernah rada-rada manggut-manggut (jarang-jarang lho….)&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ketika istri saya berkata bahwa sebagian besar orang memang akan benci melihat musik sebagai disiplin. Tapi anak-anak –suka atau tidak—sejak dini harus diperkenalkan dengan cara demikian. Saya mencoba berkilah bahwa banyak musisi hebat tidak datang dari sekolah musik, melainkan karena mencintai musik dengan hatinya. Istri saya menjawabnya dengan berkata, bahwa kami tidak sedang mencetak seorang musisi. Sebab, kata dia lagi, apakah Amartya kelak jadi pianis atau tidak, anak kami itu sendiri lah yang akan menentukan. Yang sedang kami lakukan, menurut istri saya, adalah &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;memberi kesempatan kepada anak kami mengenal musik dari sisinya yang lain. Bukan dari ‘sisi menyenangkan’ dan ‘sisi glamour’nya, yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dengan cuma-cuma telah didapatkannya dari melihat penampilan para musisi di panggung show,.  Melainkan dari&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sudut ‘&lt;span style="font-style: italic;"&gt;berakit-rakit ke hulu&lt;/span&gt;’ nya bermain musik. Dengan demikian kelak ia bisa menghargai musik sebagai sebuah perjalanan. Yang pada gilirannya, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;menghargai pekerjaan apa pun dari sudut pandang yang demikian.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Seiring dengan waktu,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tanpa sadar kami berbagi peran sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;yin&lt;/span&gt; dan&lt;span style="font-style: italic;"&gt; yang&lt;/span&gt;. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Evil&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Angel&lt;/span&gt;. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Si gelap dan si terang. Si galak dan si lembut. Istri saya menjelma menjadi ‘ratu tega’ yang memaksa-maksa Amartya berlatih. Bila perlu membiarkan anak kami itu bersungut-sungut tak menentu arah. Sedangkan saya jadi si melankolik yang dengan setengah terpaksa, melembut-lembutkan suara untuk membujuk bila Amartya ngambek.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="font-family: georgia;" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SnQqybbSJaI/AAAAAAAAA0M/VP2MDFBvyXw/s1600-h/dgnbutiti.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 150px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SnQqybbSJaI/AAAAAAAAA0M/VP2MDFBvyXw/s200/dgnbutiti.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5364960101949121954" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Tak bisa dikatakan kami telah berhasil. Bahkan makin hari saya makin&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;menurunkan harapan dengan mengatakan, tak ingin  lagi membayangkan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;kelak Amartya  jadi pianis hebat yang melakukan konser tunggal di gedung kesenian kota-kota besar dunia. Juga harapan agar&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt; ia jadi komponis yang lagu-lagu ciptaannya dimainkan oleh orkestra terkenal, saya jauh &lt;/span&gt;&lt;st1:state&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style=""&gt;kan&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:state&gt;&lt;span style=""&gt;.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Cukup lah hati ini akan terhibur bila di hari tua saya nanti ia sesekali menjenguk kami dan memainkan lagu &lt;i style=""&gt;Anju Au&lt;/i&gt; &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;menemani saya menyeruput teh di sore hari. Atau mungkin meramaikan malam &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style=""&gt;Natal&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style=""&gt; keluarga dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Away in A Manger &lt;/span&gt;yang legendaris itu. Dan sudah akan merupakan bonus yang istimewa jika&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;nanti di suatu masa saya  duduk di meja makan di rumahnya, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;dia menjerang air untuk membuatkan kopi sambil berceloteh tentang musik. Seperti Rachael Ray &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;memasak sambil tak henti-hentinya nyerocos tentang hidangan yang sedang ia siapkan (sexy, &lt;/span&gt;&lt;st1:state&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style=""&gt;kan&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:state&gt;&lt;span style=""&gt;?).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Maka kami gembira bukan kepalang ketika pada liburan panjang bulan kemarin, sanggar seni Lifia tempat Amartya bergabung, mengikutkannya untuk pentas menunjukkan kebolehannya. Pemimpin sanggar ini sekaligus juga guru les piano dan vokal putri kami. Dan ia tampaknya ingin menguji keberanian anak didiknya tampil di audiens yang lebih luas. Amartya kebagian memainkan piano dan mengiringi teman-temannya, di samping juga menyanyikan ‘Ke Ujung Dunia’ nya Gita Gutawa. Dalam dua pekan, mereka tampil di tiga mal: BSD Plaza, &lt;/span&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;st1:placename&gt;&lt;span style=""&gt;Bintaro&lt;/span&gt;&lt;/st1:placename&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;st1:placetype&gt;&lt;span style=""&gt;Plaza&lt;/span&gt;&lt;/st1:placetype&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style=""&gt; dan Slipi Jaya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="font-family: georgia;" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SnQqxSF6j1I/AAAAAAAAAz8/C-a7rAKNcTA/s1600-h/piagambintaro.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SnQqxSF6j1I/AAAAAAAAAz8/C-a7rAKNcTA/s200/piagambintaro.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5364960082263707474" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Tak usah  dibayangkan ini sebuah pentas profesional dengan tata acara dan tata cahaya yang selangit. Ini tak lebih dari ajang melatih percaya diri. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Tapi bohong lah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;jika saya mengatakan tak serius mengikuti persiapan Amartya untuk event ini. Kami bahkan berusaha sekuat tenaga untuk berlagak sebagai ‘manajer’ yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;all out&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt; mendukung dan menyemangati Amartya yang agak &lt;span style="font-style: italic;"&gt;moody&lt;/span&gt; ketika berlatih. Pengalaman serupa sudah pernah kami rasakan, ketika dulu sekali, putri kami itu bersama puluhan teman-temannya harus tampil di acara yang sedikit lebih serius,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Family Recital Piano&lt;/span&gt; di sebuah gedung di Pondok Indah. Amartya sempat demam beberapa hari, tetapi untungnya mulus juga di hari H.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="font-family: georgia;" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SnQqx_JEgDI/AAAAAAAAA0E/k85PyBF02Tw/s1600-h/piagambsd.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 150px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SnQqx_JEgDI/AAAAAAAAA0E/k85PyBF02Tw/s200/piagambsd.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5364960094356537394" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Kali ini Amartya tak perlu demam &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;dalam mempersiapkan diri untuk ‘show’nya. Ia memang sempat senewen ketika dalam latihannya di rumah, beberapa kali macet di bagian reffrain &lt;span style="font-style: italic;"&gt;First Love-&lt;/span&gt;nya Nikka Costa, lagu yang akan dimainkannya. Ia bahkan sempat terpikir untuk memainkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bunda&lt;/span&gt;-nya Melly Goeslaw saja, lagu yang lumayan lancar di jemarinya. Kala lain, hanya beberapa hari menjelang hari H, ia dikejutkan perubahan acara, karena ia juga harus mengiringi teman-temannya menyanyikan lagu ‘Gembala.’&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="font-family: georgia;" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SnQqybbSJaI/AAAAAAAAA0M/VP2MDFBvyXw/s1600-h/dgnbutiti.jpg"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Thank God&lt;/span&gt;, Amartya berhasil melewati keraguannya sendiri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Dan, ketika tiba hari H –sambil kami berjibaku memacu kecepatan di jalan raya karena takut terlambat ke tempat acara – alangkah leganya hati menyaksikan Amartya dan kawan-kawannya dapat menikmati detik-detik menegangkan itu. Mal dimana pun memang tak bisa kita harapkan akan bisa hening dan sepi dari lalu lalang orang. Tetapi dengan berbagai keterbatasan itu, anak-anak ini mampu mencuri perhatian pengunjung. Pada awalnya para penonton dadakan itu hanya setengah hati bertepuk tangan, tapi pada beberapa penampilan puncak memberi aplaus meriah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style=""&gt;Ada&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style=""&gt; yang aneh. Menyaksikan Amartya memainkan piano pada keyboard, sambil sesekali ia mencuri pandang ke arah kami ayah-ibunya seakan meminta restu, hanya sekelebat saja siluet '&lt;span style="font-style: italic;"&gt;gadis yang memainkan piano&lt;/span&gt; ' dari masa puluhan tahun lalu  itu sempat melintas. Bayangan itu dengan cepat meredup dan tak bersisa. Sebab, si buah hati semata wayang agaknya  telah mampu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;merajai hati ayahnya. Lebih kuat dan lebih dalam. Lebih manis &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;dan lebih lembut. Lebih tulus dan lebih jujur. Sekaligus lebih akrab dan apa adanya. Bahkan dibandingkan dengan pianis mana pun. Termasuk dengan gadis yang memainkan piano pada suatu ketika di suatu masa puluhan tahun silam. Yang tidak pernah saya tahu siapa namanya, kemana ia pulang dan siapa yang akan mengantarkannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" face="georgia" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" face="georgia" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style=";font-family:georgia;font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Ciputat, Sabtu, 1 Agustus 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Keterangan foto (dari atas ke bawah)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;1. Amartya memainkan piano pada keyboard mengiringi teman-temannya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;2. Sebelum berangkat sekolah, pada usia 8 tahun&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;3.Mengiringi teman-temannya di plaza BSD&lt;br /&gt;4. Amartya menyanyikan lagu 'Ke Ujung Dunia'&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;5.Mengiringi teman-temannya di plaza Bintaro&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;6.Bersama Bu Titi, guru les piano dan vokalnya di S;ipi Plaza&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;7.Seusai acara mendapat pembagian piagam di Plaza Bintaro&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;8. Amartya memamerkan piagam seusai pentas di plaza BSD&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27078097-3997082406870864563?l=mysarimatondang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/feeds/3997082406870864563/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/2009/08/gadis-yang-memainkan-piano.html#comment-form' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27078097/posts/default/3997082406870864563'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27078097/posts/default/3997082406870864563'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mysarimatondang.blogspot.com/2009/08/gadis-yang-memainkan-piano.html' title='Gadis yang Memainkan Piano'/><author><name>Eben Ezer Siadari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17409901844739673818</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sDOvG1QwyNo/SEYuxWm2rnI/AAAAAAAAALk/Kai8v-INR70/S220/foto-abdi2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SnQo0FWnHKI/AAAAAAAAAzs/jAZpSmK0qHI/s72-c/iringi2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27078097.post-6580808382920032264</id><published>2009-07-20T18:43:00.000-07:00</published><updated>2009-07-22T22:06:09.330-07:00</updated><title type='text'>Buku yang Dikerjakan dengan Kegembiraan</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Judul buku&lt;/span&gt;: 8 Etos Kerja dalam Bisnis&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penulis&lt;/span&gt;: Jansen Sinamo&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Editor&lt;/span&gt;:Agus Santosa. Christina M. Udiani, Eben Ezer Siadari&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tebal&lt;/span&gt;: 318 Halaman&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penerbit&lt;/span&gt;: Institut Darma Mahardika, Jakarta&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tahun&lt;/span&gt;: 2009 (edisi revisi, cetakan kesembilan)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Harga&lt;/span&gt;: Rp60.000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SmUjfyOhDaI/AAAAAAAAAzE/fo56BlnMtkE/s1600-h/etos.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 150px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SmUjfyOhDaI/AAAAAAAAAzE/fo56BlnMtkE/s200/etos.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5360729960420019618" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebutkan atau tidak, tiap penulis selalu punya mimpi. Semacam keinginan atau cita-cita tentang seperti apakah kelak  nasib buku yang ditulisnya. Terkadang, orang mengatakan buku tak ubahnya seperti anak kandung penulisnya. Yang dipelihara dan digadang-gadang suatu saat nanti akan mencapai level tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jansen Sinamo bukan pengecualian. Sejak 10 tahun lalu ia tak kenal lelah  memperkenalkan ETOS lewat training yang dijalankannya mau pun melalui bukunya yang pada edisi revisi paling mutakhir ini mengambil judul &lt;span style="font-style: italic;"&gt;8 Etos Kerja dalam Bisnis&lt;/span&gt;. Ia  punya mimpi. Dan, mimpinya  tak berubah dari dulu. Ia ingin buku karyanya ini tak sekadar pengisi tren musiman memenuhi permintaan pasar sesaat. Melainkan buku yang  “….hidup bersama  isi yang dikandungnya, memandu dan menginspirasi pembacanya.”  Ia membayangkan buku yang ditulisnya itu akan menjadi semacam ‘kitab suci’ para pekerja dalam menjalani apa pun pekerjaannya. Dan  karena peran yang penting itu, buku itu pun dibayangkannya akan  “….terus hidup hingga melewati abad 21. Bahkan, sintas dari abad ke abad.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak bulan lalu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;8 Etos Kerja dalam Bisnis&lt;/span&gt; sudah beredar di toko-toko buku ternama di seluruh Tanah Air. Buku setebal 318 halaman ini adalah cetakan yang kesembilan. Sejak diterbitkan perdana pada 1998, buku ini telah mengalami revisi beberapa kali hingga mencapai bentuknya yang seperti sekarang. Mulai dari berupa materi training fotokopian hingga menjadi buku yang elegan, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;8 Etos&lt;/span&gt;  seakan tak pernah berhenti dikupas, disiangi, dipupuk dan diperkaya oleh penulisnya. Seiring dengan training Etos yang dikembangkan oleh Jansen Sinamo, permintaan terhadap buku ini terus bertumbuh sementara  stok di pasar sudah menipis. Ini pula alasan lain menerbitkan lagi buku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hampir 10 tahun buku ini sudah dicetak hingga 60 ribu eksemplar. Trainingnya telah diikuti puluhan ribu orang di berbagai tingkatan. Dan Jansen Sinamo, selain dijuluki sebagai Mr Ethos, oleh majalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Campus Asia&lt;/span&gt; dinobatkan pula sebagai  satu dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;100 Educators of The Year Indonesia&lt;/span&gt; dalam edisi awal tahun ini. Ia juga dipilih sebagai salah satu intelektual hebat yang memberi dampak pada masyarakatnya&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(The Great Intellectual Impacting Society.)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;()()()&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari di akhir tahun lalu, Bang Jansen, demikian saya menyapa penulis buku ini, menelepon  dan mengajak saya berbincang-bincang sambil menikmati sarapan. Pada saat itu ia mengemukakan niatnya untuk menerbitkan edisi revisi buku &lt;span style="font-style: italic;"&gt;8 Etos&lt;/span&gt;. Ia menginginkan saya membantunya sebagai penyunting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja ini merupakan kehormatan besar bagi seorang penulis. Tapi pada saat yang sama, saya merasa berat. Kenapa berat? Karena sudah berkali-kali saya membaca  buku &lt;span style="font-style: italic;"&gt;8 Etos &lt;/span&gt;karyanya itu dan buku tersebut dalam hemat saya merupakan karya klasik yang  nyaris sempurna. Hampir tak ada lubang-lubang yang perlu ditutup. Buku &lt;span style="font-style: italic;"&gt;8 Etos&lt;/span&gt;, menurut penglihatan saya, merupakan yang pertama dan terlengkap bila bicara tentang etos di dunia kerja di Tanah Air.Dan karena itu beberapa kali saya mencoba menanyakan kepada Bang Jansen, apakah ia tidak akan merasa menyesal mempekerjakan lagi seorang penyunting bagi buku yang sudah ‘jadi’ itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bang Jansen ketika itu, memberikan jawaban yang tak pernah saya lupa. Menurut dia, dalam tiap peke
