Tuesday, October 25, 2011

Sonia yang Memikat

Didiagnosa mengidap diabetes tipe satu di usia delapan tahun, menyebabkannya harus mendapatkan suntikan insulin setiap hari. Di umur sembilan tahun ia harus kehilangan ayah yang meninggal karena serangan jantung. Tetapi hidup harus berjalan. Dan Sonia Maria Sotomayor menorehkan namanya dalam sejarah hukum di Amerika Serikat.

Wednesday, October 05, 2011

Memangnya Duit Itu Berak?

Ketika singgah ke kantor teman beberapa waktu lalu, saya dititipinya beberapa buah buku. Yang paling menarik hati adalah buku berjudul Menggungat dari Balik Penjara, Surat-surat A.M. Fatwa, terbitan Penerbit Teraju, 2004.  Seperti judulnya, buku ini berisi surat-surat A.M. Fatwa selama ia dipenjara dari tahun 1985-1993.

Sunday, September 18, 2011

Buku untuk Ayah

Tanggalnya 16 Maret 1985. Hari itu Ir. Sarjadi datang memenuhi undangan sohib sekaligus koleganya, Sujai Kartasasmita yang kala itu menjabat sekretaris Dewan Gula Indonesia. Kepada Sarjadi kemudian ditawarkan sebuah tugas penting dan serius. Ia diminta untuk menulis makalah yang komprehensif tentang industri pergulaan di Indonesia.

Ini permintaan yang wajar. Sarjadi adalah satu dari sedikit tokoh langka di Indonesia. Lebih dari tiga dekade (1942-1975) ia menghabiskan karier di linkungan industri gula. Dimulai dengan menjadi Volontair Chemiker di Pabrik Gula (PG) Tasikmadu hingga pernah menjadi Geemployeerde/Wakil Administratur di perusahaan yang sama sebelum akhir kariernya menjadi senior agronomist pada PT Agriconsult International di Jakarta. Karya tulisnya tentang gula juga sudah banyak. Termasuk sebuah karyanya yang paling awal, ditulis bersama Prof.Dr.Ir. Van Schuylenborgh dan dimuat di majalah Teknik Pertanian No 10, Oktober 1958. Judulnya: Pemupukan pada Tanaman Tebu.

Saturday, August 20, 2011

Masih Ada Satu Alasan untuk Bersyukur setelah 66 Tahun Merdeka

Ketika beli kopi di warung di dekat rumah, bahasa apakah yang kita pakai? Apabila kita dari terminal menuju pulang, kata-kata dalam bahasa apakah yang kita gunakan dalam berbicang dengan Bang Ojek?
Ternyata kalau ada kota di Tanah Air ini yang bisa disebut kota yang benar-benar Indonesia — dimana Bahasa Indonesia dijadikan alat komunikasi yang umum di luar perbincangan formal — jumlahnya cuma dua. Yakni kota Jakarta dan Medan. Ini bukan kata saya, melainkan menurut Bennedict R. Anderson yang menurunkan studinya dengan judul The Languages of Indonesian Politics, pada majalah Indonesia, April 1966. Katanya,
“… only in Djakarta and Medan among the larger Indonesian cities is the Indonesian language the normal vehicle of communication outside official channels.”

Wednesday, July 27, 2011

Merayakan Ulang Tahun dengan Menulis tentang Sri Mulyani


Baru-baru ini Sri Mulyani Indrawati diwawancarai oleh presenter televisi senior kenamaan AS, Charlie Rose, untuk kemudian ditayangkan di Bloomberg TV, 5 Juli lalu. Itu adalah sebuah wawancara yang menurut saya sangat berbobot.  Terpantul dari tanya jawab itu tentang siapa perempuan Indonesia yang terkenal cerdas dan berintegritas itu, bukan hanya dari wawasan dan pengetahuan yang berhasil digali dari pertanyaan-pertanyaan santun dan tajam, tapi juga dari pilihan kata mantan menteri keuangan kita dalam menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya. Ia bisa diplomatis di satu waktu. Tapi bisa lugas dan tanpa basa-basi manakala diperlukan. Sangat disayangkan wawancara itu tak cukup bergaung luas di Tanah Air. Mungkin tertutup oleh kasus-kasus berskala raksasa yang mengguncang para petinggi partai dan elit berkuasa.

Salah satu dialog yang mengesankan dan mengharukan dalam wawancara itu saya kutipkan berikut ini:

Wednesday, June 15, 2011

Surat untuk Oppung June Gregg

Hallo Oppung June Gregg,

Katakan padaku Oppung,
apa rahasia di balik panjang umurmu dan apa yang membuatmu begitu setia?


June Gregg meniup lilin pada perayaan ulang tahunnya. Foto: AP
Aku baru saja membaca kisahmu pada sebuah berita yang dilaporkan Associated Press, 3 Juni lalu. Dan itu sungguh kisah yang mengharukan. Dikatakan, umurmu sudah 100 tahun, suatu umur yang panjang, tentu. Namun bukan itu saja yang mengagumkan darimu, melainkan kesetiaanmu untuk hanya menggunakan satu buku tabungan saja sejak ayahmu membukakannya untukmu. Waktu itu umurmu baru satu setengah tahun, di tahun 1913. Katanya, dengan buku tabungan itu ayahmu ingin menyenangkan putri semata wayangnya sekaligus untuk mengajarkan bagaimana cara berhemat. Ia menabung untukmu di rekening itu senilai US$6,11.

Katakan padaku Oppung,
bagaimana engkau bisa begitu tak tergoda sehingga sejak zaman sebelum Perang Dunia I dulu, dalam soal berurusan dengan bank engkau hanya pergi ke Savings Bank itu saja?  Di tengah demikian gencarnya persaingan bank menarik nasabah, dengan berbagai insentif yang menggiurkan, bagaimana engkau begitu kukuh tak mau berpindah ke lain hati, sehingga ketika para pegawai bank itu mencoba menelusuri rekeningmu, engkau hanya pernah berganti nomor sekali saja?. Itu pun hanya ketika  Huntington National Bank yang berbasis di Columbus itu mengambil alih Savings Bank di tahun 1980-an dan secara otomatis engkau jadi nasabah Huntington.

Katakan padaku Oppung,
bagaimana engkau bisa demikian patuh pada apa yang diajarkan oleh ayahmu, sehingga engkau tidak pernah mau berutang, selalu menabung setiap sen penghasilanmu dan hanya akan membeli sesuatu sampai engkau mempunyai uang untuk membelinya?  Begitu besarkah kekagumanmu pada ayahmu yang petani gandum itu, sehingga nasihatnya engkau dengar sepanjang hayat?

Katakan padaku, Oppung,
bagaimana caranya agar aku juga bisa berkata seperti yang engkau katakan, “Hidupku baik-baik saja karena aku tak terlalu menginginkan macam-macam,” di tengah dunia yang dibanjiri billboard di jalanan, reklame di televisi dan SMS promo di telepon genggam?

Katakan padaku ya Oppung?.

                                                                           ***

Catatan:
Oppung June Gregg tinggal di Bainbridge, Ohio, AS dan baru saja merayakan hari ulang tahunnya yang ke 100. Menurut Associated Press, sampai saat ini June Gregg masih menggunakan rekening tabungan satu-satunya untuk bertransaksi keperluan pribadinya. 

Oleh karena usianya, sejak dua tahun lalu ia berhenti menyetir dan sejak itu ia berusaha hanya sekali sebulan saja pergi ke bank untuk mengecek rekeningnya.

Oppung June Gregg dulunya bekerja sebagai pegawai kantor pos, sebelum pensiun pada tahun 1976 lalu. Selama hidupnya ia melajang.

Sebagai penghargaan atas kesetiaannya, Bank Huntington merayakan hari ulang tahunnya yang ke 100 pada 2 Juni lalu, lengkap dengan balon dan kue ulang tahun berlilin besar dengan angka 1 – 0 – 0. Hadiah lainnya adalah janji bank tersebut untuk melipatgandakan suku bunga tabungan Gregg menjadi 5% dalam 100 hari ke depan, kenaikan lima kali lipat bila dibandingkan dengan suku bunga rata-rata di sana.

eben ezer siadari

Monday, May 30, 2011

Tentang Perlunya Biografi

Dimana Anda pada tahun 1972? Mungkin ada yang belum lahir. Saya sendiri saat itu baru duduk di kelas satu Sekolah Dasar. Tidak seperti anak-anak sekarang yang sudah (dan diharuskan?) dapat baca-tulis sejak menyelesaikan Taman Kanak-kanak (TK), saya dan teman-teman sebaya baru mulai diperkenalkan dengan huruf dan angka. Mula-mula vokal saja: a,i,u,e,o dan angka 1,2,3,4,5,6,7,8,9,0. Baru kemudian dengan ba, bi, bu, be bo, dst.

Namun itu tak penting kali ini dalam cerita ini. Yang lebih penting adalah di bulan April tahun itu, majalah Indonesia terbitan Cornell University, sebuah jurnal bergengsi yang diasuh dan diisi oleh para Indonesianist kenamaan, menyajikan topik yang tak biasa. Edisi bernomor 13 itu, isinya praktis terdiri dari biografi. Tokoh-tokoh yang riwayat perjuangannya diturunkan berasal dari kurun waktu jauh sebelum kemerdekaan dan riwayat mereka itu aslinya ditulis dalam bahasa daerah dimana mereka berjuang. Itu sebabnya, salah satu keistimewaan kisah-kisah yang ditampilkan adalah karena ia diterjemahkan dari sejumlah naskah kuno, disamping karena riwayat para pahlawan itu memang belum banyak terungkap, kala itu.

Sampai jumpa lagi...

Sampai jumpa lagi...