Friday, October 30, 2009

The Small and Beautiful Pieces from the Past

Pecahan-pecahan masa lalu sering muncul dalam bentuknya yang lebih segar oleh benda-benda atau kejadian yang kita temukan di masa kini. Pasti bukan cuma saya yang setuju akan hal ini . Sekali waktu, seorang wanita yang duduk di sebelah saya di atas kereta dalam perjalanan ke tempat kerja, secara spontan saja menyelutuk begini: "Ih, ibu itu kayak Bu Iin."


Ujarannya itu begitu kentara terdengar sampai-sampai ia malu dengan muka memerah ketika ia sadar penumpang yang duduk sebarisan dengannya mendengar dengan jelas apa yang dia katakan.



"Siapa itu Bu Iin?" tanya saya, agak sok akrab. Dalam hati saya berpikir, siapa tahu ibu di sebelah bisa jadi teman ngobrol yang asyik. Setidaknya dalam 30 menit ke depan.

"Topinya itu loh, Pak. Mirip Bu Iin, guru saya di Sekolah Dasar dulu. Orangnya judes, tapi baik. Saya lancar hitung-hitungan perkalian karena Bu Iin," kata dia.

Saya diam, tapi mata saya arahkan kepada ibu bertopi yang dimaksud. Dia duduk di seberang sebelah kiri dari bangku kami, kira-kira 10 meter jaraknya. Di atas kereta itu, si ibu bertopi memang jadi kelihatan menonjol. Ia memakai topi 'koboi' yang lebar berwarna hijau telor, mirip yang sering dikenakan almarhum Lady Diana yang bisa kita saksikan pada berbagai fotonya.



"Apa Bu Iin sering memakai topi seperti itu, Bu?" saya bertanya, mencoba melanggengkan percakapan.

"Hampir setiap hari Pak. Dan antingnya yang besar-besar tak pernah ketinggalan," kata dia.

Sekali lagi saya mengarahkan pandangan kepada si ibu bertopi lebar. Dugaan saya usianya 50-an tahun. Lingkaran lebar topinya meneduhkan pipi dan keningnya dari terpaan sinar matahari pagi dari jendela kereta. Pulasan kosmetik di wajahnya dan warna merah menyala di bibirnya, membawa pikiran saya kepada pertanyaan berapa lama kira-kira ia bersolek sebelum naik ke kereta ini. Setengah jam? Satu jam?


"Kalau saya melihat ibu-ibu bertopi lebar, selalu saya teringat kepada Bu Iin. Dia sangat berkesan bagi kami murid-muridnya. Sewaktu lulus dari SD, kami sampai memeluk-meluk dia, karena sedih harus berpisah," kata wanita di sebelah saya.


Saya terdiam, tetapi tak lama kemudian saya menimpali. "Besok saya akan coba memakai topi lebar. Siapa tahu akan disangka Bu Iin." Maksud saya sebenarnya mencoba melucu. Tapi karena bakat itu tak ada pada saya, jadi lah si lawan bicara cemberut dan malah seakan mengambil jarak duduk.


Ups. Salah saya memang. Percakapan kami baru sebatas saling lempar celetukan, sudah berani-beraninya saya berguyon berakrab-akrab.


Belakangan ketika kereta sudah berhenti dan para penumpang akan turun, si ibu bertopi lebar dengan wanita yang di samping saya tadi jadi juga berkenalan.Dan ketika si topi lebar tahu dirinya disangka Bu Iin, ia terpingkal-pingkal sambil menutup mulutnya. "Nama saya si Anu, bukan Bu Iin," kata wanita itu, menyebut namanya sambil merapikan topinya. "Topi lebar ini saya pakai karena saya harus sering pergi berkeliling mengantarkan klien melihat rumah dan toko. Panas Bo!," kata dia lagi. Meskipun begitu ia mengatakan senang dan malah bangga disangka sebagai Bu Iin yang guru. Pekerjaannya yang sesungguhnya adalah broker properti.

()()()

Dalam mengenang Sarimatondang yang beautiful, saya juga sering seperti wanita yang duduk di samping saya di atas kereta. Sekilas saja sebenarnya kita terpukau oleh benda-benda tertentu, tetapi ia sudah bisa langsung menyegarkan lagi pecahan-pecahan kenangan di kampung halaman.

Pecahan-pecahan kenangan itu, bila dilihat dengan kacamata masa kini, tentu tak lagi harus seperti aslinya di masa lalu. Waktu pasti telah banyak mengajarkan dan memberikan tiap orang cara memandang sesuatu. Entah itu yang kita sebut kebijaksanaan, entah yang kita juluki kedewasaan. Terlalu klise untuk diulang-ulang, tetapi memang harus selalu diingat nasihat yang entah dari siapa saya pernah mendengarnya. Bahwa masa lalu tak boleh mengurung apalagi menghentikan langkah menuju yang di hadapan. Bahwa seharusnya lah dari pecahan-pecahan kenangan, manusia belajar siapa dirinya dan kemana ia berakar. Sebab akar yang kuat tak kan pernah membuat pohon lemah, tetapi justru sebaliknya.


Beberapa pekan belakangan ini saya mencoba cara baru dalam memelihara pecahan-pecahan kenangan tentang kampung halaman. Kali ini mediumnya bukan lagi blog, tetapi fesbuk. Jika  para fesbuker umumnya menulis s
tatusnya untuk memberitahukan keberadaannya mau pun apa yang terbetik di pikirannya, saya mencoba menyuguhkan hal lain. Pada status fesbuk saya, yang saya ketengahkan adalah benda-benda atau kejadian tertentu yang bisa menyegarkan ulang kenangan pada kampung halaman.

Mula-mula agak kagok dan aneh juga. Namun, lama-lama saya temukan juga ritme pemutakhiran status dengan topik benda-benda penggugah kenangan itu. Apalagi, sejak awal akun fesbuk Par-Sarimatondang yang saya aktifkan kurang lebih enam bulan lalu itu, memang dimaksudkan sebagai perpanjangan dari blog The Beautiful Sarimatondang.

Saya usahakan mengisi status tiga kali sehari: pagi sambil berangkat kerja; siang pas jam makan dan sore hari di perjalanan pulang kantor. (Tidak selalu berhasil saya memelihara disiplin ini. Kadang-kadang bolong-bolong juga). Yang muncul pada akhirnya memang semacam kronik-kronik sepanjang satu sampai dua paragraf, yang saya usahakan diperkuat oleh gambar yang mendukung. Saya namakan kronik-kronik itu sebagai the small and beautiful pieces from the past.

Maunya saya sih, semoga kronik-kronik itu bisa menggugah pembacanya menggali lagi sesuatu yang baik dari kejadian-kejadian yang terlewat. Sebab kerap kali kita manusia di masa kini terlalu  dihanyutkan oleh pengejaran akan masa depan yang tak tentu arah sehingga sering melupakan darimana titik berangkat. Dan, ehm.  Nasihat ini bukan orisinil dari saya loh, melainkan nyontek dikit-dikit dari sana-sini setelah membaca-baca The Lexus & Olive Tree nya Thomas L. Friedman.

Berikut ini adalah beberapa bentuk status fesbuk Par-Sarimatondang yang muncul dalam bentuk kronik itu. Ingin sekali menghibur diri sendiri dan teman-teman lewat cuplikan-cuplikan tak penting itu. Tetapi kalau tidak merasa terhibur pun, kritik dan saran ditunggu. Apalagi bila sudi meng-add akun fesbuk Par-Sarimatondang: thebeautifulsarimatondang@yahoo.com.

Penguasa Lapangan Sarimatondang (26 Oktober 2009)
"Presiden boleh berganti-ganti, kabinet bertukar-tukar, rezim naik turun, tetapi kalau penguasa lapangan sepak bola Sarimatondang tetap lah mereka-mereka ini, sebelum dijadikan 'jagal.' Selamat makan siang, dear friends......"

Saya menulis status seperti ini di fesbuk tatkala baru selesai makan siang di arena jajanan kaki lima beberapa blok dari kantor. Di perjalanan, saya menyadari betapa banyaknya spanduk berjudul 'sedia soto kaki.'  Spontan saja saya teringat pada kerbau-kerbau yang selalu merumput di lapangan bola Sarimatondang. Dan, kemudian muncul lah status seperti di atas.

Sejak dulu, lapangan Sarimatondang memang kerap digunakan sebagai tempat menggembalakan kerbau. Tak mengherankan bila yang lebih banyak menguasai lapangan itu bukan para pemain klub Persesa (Persatuan Sepak Bola Sarimatonadang) yang legendaris tapi kini sudah tidak aktif, melainkan para hewan-hewan yang biasanya akan berubah menjadi gulai itu kalau ada pesta perkawinan.

Seorang teman berkomentar atas foto itu yang membuat saya terbahak-bahak sendirian di kantor ketika membacanya. Kata dia: "Nggak juga. Sebagian dari mereka-mereka ini ikut duduk kok di kabinet. Ha13X....."

Kegembiraan dari Membeli Lappet:

"Kalau di Sarimatondang, kalimat paling menyejukkan di pagi hari adalah kalau Mamak bilang begini:'Lao jo ho, tuhor lappet i kode ni Bapatuam Sidabutar ne!' Pasti langsung sigap berlari dg hati berbunga2"


Terjemahan bebas dari kalimat Bahasa Batak itu adalah: "Pergi dulu kau, beli lappet di kedai Pak De Sidabutar!". Dan, kalimat semacam ini di pagi hari memang jadi semacam kabar baik. Sebab hal itu berarti sarapan pagi itu tak lagi cuma dengan nasi, singkong rebus dan ikan asin. Melainkan juga lepat ketan (atau beras) yang nikmat dan mak nyus.

Status ini, seingat saya, saya tulis di atas kereta pada pagi hari dalam perjalanan ke kantor. Beberapa menit sebelumnya di rumah, saya menghabiskan segelas teh manis dan sekerat roti. Tapi itu justru mengingatkan saya pada lappet, sarapan yang dulu kami anggap mewah dalam menyambut pagi di Sarimatondang. 

Sejumlah kawan fesbuk bersahut-sahutan membaca ini karena ternyata hampir semuanya punya pengalaman serupa. Dan lucunya, karena dulu kita begitu bersemangatnya ingin pergi membeli lapet, akhirnya jadi kebingungan tatkala tiba di kedai Pak De Sidabutar itu. Soalnya ketika ditanya, 'beli lapet ketan atau lapet beras?,' si pembeli tak bisa menjawab karena sebelum berangkat tadi, dia  lupa menanyakannya kepada Mamak. Akhirnya harus pulang ke rumah lagi untuk memperjelas. Harap dicatat, kejadian ini berlangsung ketika kebiasaan ber-SMS-an masih di alam mimpi.

Magic Jar Ala Sarimatondang

"Ini adalah MAGIC JAR di rumah kami di Sarimatondang, tahun 1980-an. Serius loh!. Orang memang menyebutnya SELIMUT. Bisa jugaGOBAR. Tapi di tahun 1980-an, tiap pagi Mamak akan memasukkan nasi untuk makan siang ke panci besar. Panci itu kemudian dibungkus dgn selimut. Lalu ditaruh di kamar. Dengan begitu, sewaktu siang nanti, nasi masih hangat. Maklum lah, jangankan magic jar, kompor gas pun masih tak terbayangkan.....a small beautiful piece from the past. slamat sore dear friends..."

Yang ini saya tuliskan ketika sore-sore tatkala bersiap pulang dari kantor. Rumah selalu mengisi ingatan kita pada saat-saat berkemas meninggalkan pekerjaan. Namun, kehangatan home yang tersimbolkan pada selimut, ternyata di benak saya justru berbelok menjadi 'magic jar' ala Sarimatondang.


Beberapa teman memberi komentar atas keterangan dan foto ini. Diantaranya yang bersifat reflektif adalah dari rekan sekampung yang mengatakan begini: "Jadi ingat masa lalu, bagaimana orang tua mempunyai gagasan cemerlang untuk membuat nasi tetap hangat. Mantaf!"


Rantang Kebanggaan

"Kalau dulu sebuah keluarga sudah punya rantang, wuih, bangganya setengah ampun. Sebab, rantang akan jadi alat serbaguna untuk dipakai kala darmawisata sekolah ke Medan Fair, Belawan, Berastagi dll. Rantang juga 'dipamerkan' sebagai tempat nasi kala 'marjagal2' di gereja. Di Sarimatondang ada rumah makan 'kelas menengah' kepunyaan Wak Rantang. Mungkin karena sebagian menu masakannya ditaruh di rantang. A small piece from the past. Selamat makan siang dear friends...."

Diantara teman-teman fesbuker tatkala membaca status ini, ada  ada yang mengatakan begini: "ha..ha..betul! rantang orang simalungun biasanya dibungkus taplak meja. Jadi teringat kalau 'Marraun' hu Medan fair...berangkat subuh, singgah di Sembahe, makan pagi, ke Medan fair, ke taman buaya, dll..jadi tarsunggul diri lae.."

Saya sendiri pun punya kenangan sedih tentang rantang.

Syahdan ketika duduk di kelas tiga SMP, sekolah kami melakukan darmawisata ke Berastagi, Medan Fair, Belawan, Kabanjahe dan Parapat. Demikian bersemangatnya para orang tua membekali anaknya sehingga biasanya mereka menyiapkan rantang bekal selama di perjalanan. Mamak kala itu membeli sebuah rantang baru. Mengkilap dan mantap. Bangga rasanya menentengnya.


Ketika tiba di objek wisata Gundaling di Tanah Karo, kami mulai beristirahat untuk makan siang. Entah bagaimana ceritanya, saya belum rampung bersantap tiba-tiba rantang tempat lauk-pauk saya lenyap. Hilang dan tak tahu siapa yang mengambil. Terus terang saya jadi resah. Sepanjang perjalanan pikiran tertuju ke rantang yang hilang. Ada rasa bersalah. Apalagi itu rantang baru.

Maka ketika malam hari tiba kembali di Sarimatondang, saya menceritakan perjalanan saya dengan setengah hati. Lalu seakan tak sanggup lagi menyembunyikan rasa bersalah, saya kemukakan bahwa rantang makan saya hilang. Mohon dimaafkan, dan bersamaan dengan itu, saya mengembalikan kepada Ibu uang jajan yang jadi bekal saya. Uang jajan itu masih utuh. Seraya minta maaf, saya katakan biar lah uang jajan itu Ibu pakai untuk membeli lagi sebuah rantang baru.

Semula saya sudah khawatir Ibu akan marah akibat kelalaian saya. Ternyata tidak. Dia tertawa tetapi terlihat sekali ia menyembunyikan kekecewaan. Ia kecewa karena anaknya tak bisa sepenuhnya menikmati tamasya karena rantang yang hilang.



Hari Mencuci Sedunia
"Ini adalah SIKAT. Orang Sarimatondang menyebutnya GUNDAR. Biar lebih keren, BRUS. Bagi anak2 kos di sana pada tahun 1980-an, ini adalah benda paling dicari tiap hari Sabtu. Sebab hari itu merupakan 'hari mencuci pakaian sedunia.' Anak-anak kos berduyun2 ke Aek Simatahuting mencuci pakaian2 mereka. GUNDAR tak boleh ketinggalan selain sabun batangan cap telepon. GUNDAR bahkan bisa jadi pemicu pertengkaran bila ada yg pinjam dan lupa mengembalikan. A small piece from the past. Selamat pagi kawan2....."

Ini saya tuliskan pada hari Sabtu pagi tatkala leyeh-leyeh membalik-balik Kompas. Amartya dan mamanya berkali-kali 'memerintah' saya untuk segera mandi karena mereka sudah muak dengan aroma tubuh satu-satunya lelaki di rumah mereka itu. Tapi saya tetap saja ogah. Alih-alih bergegas ke kamar mandi, saya malah membayangkan suasana pagi pada hari Sabtu di Sarimatondang. Dan teringat lah saya pada gundar, benda yang paling dicari oleh para anak-anak kos Sarimatondang pada saat sibuk di akhir pekan.

Demikian lah cerita tentang proyek fesbuk saya bernama the small and beautiful pieces from the past.

Membosankan ya?

(selesai)

Wednesday, October 21, 2009

Namboru, Kau Harus Tanggung Jawab!


Saya membayangkan gadis itu duduk bersimpuh setengah terkulai. Kepalanya merunduk, diletakkannya di pangkuan Namboru, wanita tua yang duduk di kursi di hadapannya. Gadis itu menangis. Penuh sedu sedan. Dan ia dapat merasakan si Namboru, saudara perempuan ayahnya itu, mengelus-elus kepalanya. Si Namboru mungkin berusaha menghibur. Tapi apa mungkin? Sesungguhnya kedua wanita itu sama-sama menderita. Sama-sama dilanda sedih menyadari betapa sakitnya cinta yang dikhianati.

Gadis itu baru saja mendapat kabar yang meluluh-lantakkan hatinya. Kekasihnya pergi, menyunting perempuan lain. Padahal, mereka sudah bertunangan lama. Bukan hanya keluarga kedua belah pihak, teman sebaya dan orang sekampung pun sudah tahu tentang perjodohan mereka. Tapi kini semua berantakan. Gadis itu malu. Juga setengah putus asa. 

Tak ia sangka akan begini jadinya. Sebab cintanya yang begitu dalam, adalah hasil dari ia memupuknya sedikit demi sedikit sampai kemudian ia pasrahkan untuk sang kekasih saja. Dan ia merasa sangat yakin. Sebab pujaan hatinya itu bukan siapa-siapa, melainkan orang yang sudah ia kenal dari kecil. Dia adalah putra si Namboru. Dan dalam tradisi Batak, anak Namboru atau lazim disebut pariban adalah jodoh yang paling pas bagi seorang perempuan.


Gadis itu tak pernah lupa bagaimana awal-mula romansa itu terjadi. Si Namboru datang ke rumahnya dan dengan takzim berbicara kepada ayahnya. Dijelaskannya keinginan hatinya untuk meminang si gadis untuk jadi menantunya. Tak sampai di situ. Si Namboru juga membujuk ibu si gadis. Menggunakan segala cara untuk mewujudkan cita-citanya.

Namboru, Marsapata tu homa Au
Tante, kepadamu lah kutukan ini
Tinodom au gabe parumaenmu
Engkau memilihku untuk jadi menantu
Damang i disomba ho
Demi itu engkau menyembah ayahku
Dainang i dielek ho
Engkau membujuk ibu
Asa tung gabe tarunduk au
Agar aku mau


Si gadis  juga masih ingat, bagaimana ayahnya berbicara kepada dirinya. Berpesan agar pinangan si Namboru dituruti saja. Sebetulnya berat baginya untuk segera memberi jawaban. Hanya rasa hormat kepada orang tua lah yang membuatnya menundukkan diri mengiyakan perjodohan itu. Lagipula, ia sudah mengenal si Namboru demikian lama. Ia bukan lagi orang asing di rumah mau pun di tengah keluarga. 

Tung maol do hualus hata mi
Sesungguhnya sulit ku memberi jawab
Damang i do naso boi tarjua au
Bujukan ayah lah yang tak mungkin kutolak
Asa saut ma sakkapmi
Sehingga terwujud lah rencanamu
Saut pangidoan mi
Terwujud permintaanmu
Au gabe parumaen mi....
Aku jadi menantumu

Kini semua yang manis itu tinggal kenangan. Setelah menamatkan studi dan meraih gelar sarjana, si pujaan hati berpaling kepada wanita lain. Ia kepincut pada gadis yang bukan boru Batak. Perempuan dari Tanah Seberang pula: orang Jawa. Si gadis merasa dilukai dua kali.

Maka si gadis yang patah hati itu hanya bisa menangis. Ingin ia marah, tetapi kepada siapa? Si Namboru yang ada di hadapannya mungkin bisa ia salahkan sebagai 'sutradara' dari semua ini. Tapi bagaimana ia akan tega melihat wanita tua yang juga tengah berwajah mendung itu? Bukan kah sesungguhnya mereka sama-sama disakiti oleh seseorang yang sama-sama mereka kasihi pula?.


Di sela sedu sedannya, akhirnya si gadis  berkata dengan terbata-bata. Menumpahkan perih hatinya di hadapan si Namboru. “Namboru, kalau kesedihan ini adalah kutukan,” kata dia, “Biar lah kau yang menanggungnya.” Sebab, “Dulu engkau sampai-sampai menyembah ayah ketika melamarku. Engkau juga membujuk ibu agar aku sudi. Dan, karena itu aku mengiyakan keinginanmu untuk jadi calon menantumu. Tetapi kini justru keputus-asaan lah upah cintaku. Ya, Namboru, engkau lah yang menanggung kutuk ini.”  

Hape dung tarunduk au di hatami
Ternyata setelah aku memenuhi keinginanmu
Hupasahat sasude na holokki
Dan kuserahkan cinta sepenuh hati
Nang akka dongan naposo nga sude umbotoi
Teman dan kolega pun semua sudah tahu
Dung leleng au nga sai tarpaima i
Setelah lama ku menunggu
Dapot anakmi ma sarjana nai
Dan putramu menamatkan kuliahnya
Panikkotan do upani holokki
Ternyata hanya kesia-siaan yang jadi ganjaran sayangku 
Boru Jawa boru Jawa dipasaut anak mi
Justru gadis Jawa yang dipersuntingnya

***

 
Mungkin cerita itu agak terlalu melankolis dan dramatis. Terlalu emosional dan berlebihan pertumpahan air mata yang terjadi. Tapi tak bisa lagi saya mencari cara yang lebih baik untuk menggambarkan lagu berjudul Namboru Marsapata Tu Homa (Tante, Kepadamu lah Kutukan Ini). Pernah lebih lima kali  dalam satu hari saya memutar ulang lagu ini. Mencoba menghafal syairnya dan merenungkan suasananya, seraya tak henti-henti mengagumi suara Grup Ladies, kelompok vokal perempuan yang menyanyikannya. Tetap saja yang tergambar di benak  adalah keadaan haru biru. Preman Pasar Senen yang sangar-sangar itu pun saya kira pasti tertegun dengan mata basah bila menyempatkan diri mendengar dan merenungi kisah dalam lagu ini.


Perjumpaan dengan lagu Namboru sebenarnya kebetulan belaka. Beberapa bulan lalu, Leo Siadari, keponakan yang bermukim di Bandung, datang menginap di rumah membawa laptopnya. Lalu semua koleksi lagu-lagu yang tersimpan di sana dia copy ke laptop saya, termasuk lagu-lagu Batak. Ada ratusan jumlahnya. Dan, ketika sebelum lebaran dokter menganjurkan agar saya banyak istirahat dan minum air putih, maka sepanjang liburan  kemarin saya memutuskan untuk menghabiskan sebagian besar waktu luang untuk leyeh-leyeh sambil mendengar lagu-lagu Batak. Saat itu lah saya terkesima ketika menyadari ternyata begitu banyak lagu Batak yang bercerita tentang Namboru yang dimintai pertanggung-jawaban oleh calon menantunya karena perjodohan yang kandas. Lagu Namboru, Marsapata Tu Homa, (Sudah saya googling berkali-kali, tetapi belum ketemu siapa pencipta lagu ini. Sabar ya.....) hanya lah salah satu saja.

Namboru dalam adat Batak memang sering digambarkan memiliki kedudukan yang strategis. Walau dalam tradisi patrilineal kedudukan perempuan selalu berada di bawah bayang-bayang pria, tak berarti kaum perempuan tak punya cara untuk menembus kebuntuan struktur silsilah yang tak berpihak pada mereka. Dan kaum Namboru kerap berhasil memainkan kartu trufnya sehingga tak terlempar terlalu jauh dari lingkup keluarga besarnya.

Salah satunya adalah dengan menyodorkan anak lelakinya untuk mempersunting putri paman, seperti yang terjadi pada kisah dalam lagu Namboru, Marsapata Tu homa. Dengan berbagai cara si Namboru membujuk dan merayu kakak atau adik lelakinya agar sudi mengambil anaknya sebagai menantu. Siapa pula pria yang tak kan luluh oleh wajah memelas adik/kakak perempuannya? 

Si Namboru tak bisa disalahkan bila gencar melakukan lobi-lobi seperti itu. Keinginanya pasti lah untuk sesuatu yang baik. Yakni untuk mempertahankan dan melanggengkan jejaring kekerabatan. “Daripada kepada orang lain, kan lebih baik dijodohkan kepada seseorang yang sudah karib dan tau bibit, bebet dan bobotnya?” begitu lah kira-kira pertimbangannya.

Kenginan si Namboru makin tak bisa ditolak karena rasa berutang mau pun tanggung jawab para lelaki Batak kepada saudara perempuannya demikian besar. Jika dari sosiologi kita mengenal konsep keluarga batih yang terdiri dari hanya ayah, ibu dan anak-anak, dalam tradisi Batak secara de facto si Namboru pun kerap termasuk ke dalam keluarga inti. Sebab, para Namboru lah biasanya yang 'diimpor' untuk jadi pengasuh anak-anak. Dari sana tercipta  hubungan yang mendalam antara anak-anak dengan Namborunya. Seringkali karena rasa hormat dan keakraban kepada Namboru, si gadis tak bisa berkata tidak  tatkala dijodohkan dengan anak Namboru.

Sayangnya, banyak cinta yang berbelok di tengah jalan.  Dan sang Namboru jadi serba salah karena lakon yang 'disutradarai'nya ternyata tak berlangsung mulus. Anak manusia punya jalannya sendiri. Dan orang tua tak pernah sepenuhnya bisa mendiktenya. Seperti kata Kahlil Gibran, your children are not your children;they come through you but not from you, maka mereka yang dijodohkan acap kali berubah pikiran justru di saat-saat terakhir. Lalu luka dan perih tak bisa terhindarkan.


Itu pula yang tergambar pada satu lagu lama yang saya lupa siapa penyanyi dan penciptanya (Kalau tidak salah, salah satu personil perempuan Eddy's Group). Lagu itu mengiris-iris hati. Terus terang, untuk lagu yang ini saya tak pernah berhasil menginterpretasikan suasana yang  bersahabat antara si gadis dengan si Namboru, seperti pada lagu yang dinyanyikan Grup Ladies. Walau nadanya lembut dengan tempo lambat, liriknya penuh amarah dan sindirian kepada sang Namboru.
Bila pada lagu terdahulu saya dapat membayangkan si gadis tak bisa menumpahkan kekesalannya kepada si Namboru karena keduanya merasa sama-sama terluka, pada lagu kedua ini kemarahan si gadis tampaknya lebih besar. Dan ini dapat dipahami. Bayangkan lah. Sesungguhnya si gadis sudah sempat menjalin cinta mendalam dengan seorang pria. Hanya karena ingin menyenangkan hati kedua orang tuanya akhirnya ia sudi memenuhi keinginan si Namboru. Tak dinyana, risiko yang telah ditempuhnya itu diganjar pengkhianatan.
Maka gadis itu protes dalam keputusasaannya kepada Namboru. "Namboru, katakan, kemana aku harus pergi?. Walau aku tak akan mengutukmu, tapi ganjaran dari penderitaan ini pasti akan kau tanggung. Jangan anggap remeh!" 

Sai tudia Nama au da namboru da
Kemana lah aku pergi wahai Namboru
Marsapata tu ho ma Lakka ni tondi hi
Kau lah yang menanggung kutuk atas takdirku
Ai ilumi ma namambaen damang dainang
Airmata mu yang berlinang membuat ayah ibu terbujuk
Bogas hi ikkon marsirang Mangoloi hatami
Lalu aku harus memutuskan cinta demi menuruti kemauanmu

Reff
Tumagon tuhalak
'Apakah lebih baik (dijodohkan) kepada orang lain?'
Didok ho tu dainang
Kau berkata kepada ibu
Sirang mai bogas hi
Dan putus lah cintaku
Atik pe martopi hian
Padahal, siapa tahu itu lah sesungguhnya belahan jiwaku
 Hape dung hon mulak Tanda ki o amonge
ternyata setelah pertunangan terlaksana
Boru ni halak dipasaut anak mi
Anakmu justru mempersunting perempuan lain
 

Alani hatam ma songonon taonon hu
Karena anjuranmu lah, aku menderita begini
Alai anggo bura tahe tung dao doi sian au
Walau aku tak kan mengutuki engkau
 Sude sapatakku Na tu ho o amonge
Namun, percaya lah balasan dari semua ini 
So tung leas roham jalo on mu doi
Pasti akan kau terima dan jangan anggap enteng


***



Pada suatu hari tatkala asyik mendengar lagu-lagu ini pada laptop di kamar tidur, saya dikejutkan oleh suara istri saya dari belakang. Rupanya ia mulai curiga dan penasaran mengapa saya bisa begitu tergila-gilanya pada lagu yang di telinganya tak lebih dari lagu cengeng mendayu-dayu ala Iis Sugianto. Ketika saya mengatakan bahwa lagu ini bercerita tentang seorang gadis yang protes kepada Namboru-nya karena sang pacar kepincut dengan wanita Jawa, istri saya ngakak setengah mati. Mungkin  ia merasa lucu karena lagu itu melibatkan orang Jawa. Tetapi mungkin juga karena ia selalu tak habis pikir kenapa suaminya masih juga mau dininabobokan lagu picisan yang mengilik-ilik keharuan.
Kemudian dengan sedikit bercanda dia memberi pendapat bahwa si gadis tak seharusnya protes kepada si Namboru. “Mestinya dia tanya dong kepada cowok yang tak tahu diri itu, kenapa dia meninggalkannya,” kata dia.

“Lho, kok kamu menyalahkan perempuan itu? Kok kamu tak membela kaum mu sih?” Saya bertanya.

“Saya bukan bermaksud mau membela siapa-siapa. Saya tak mau turut campur dengan urusan cinta orang lain. Tapi jelas lah saya harus membela Namboru,” kata dia sambil tertawa.

Saya ikut tertawa tetapi sekaligus menyadari ada yang  aneh. Walau banyak lagu yang menggambarkan begitu sadisnya seorang Namboru, herannya sampai sekarang saya belum pernah bertemu dengan perempuan Batak yang tidak ngefans sama Namboru-nya. Selalu saja mereka berkata yang bagus-bagus tentang sang Namboru.
Atau hanya di depan kita kah mereka begitu?
(selesai)

Ciputat, 18 Oktober 2009
Catatan: Mohon bantuan pembaca memberi informasi siapa pencipta kedua lagu tersebut.

Thursday, October 01, 2009

Scarlet Ribbons



The Cats termasuk grup yang cukup populer bagi kami anak-anak Sarimatondang, di tahun 1980-an. Bukan karena televisi dan radio sudah canggih menjangkau kampung kami. Bukan pula karena toko kaset sudah merambah ke desa yang kecil itu. Melainkan karena satu-dua Om atau Tante yang kuliah di P.Siantar, adakalanya membawa kaset-kaset Barat ketika mereka pulang dari tempat kos-nya. Sambil menyetrika, atau bahkan menyiangi kebun cengkeh, mereka sering memutarkan lagu-lagu yang mungkin lagi in di kota. Termasuk lah nyanyian grup The Cats, grup musik dari Volendam, Belanda itu.

Tatkala membaca berita-berita tentang gempa di Sumatera Barat, lalu mencoba berempati pada mereka yang menderita dan bersedih, saya jadi ingat salah satu lagu The Cats yang saya suka: Scarlet Ribbons. Lagu yang bercerita tentang ayah yang gundah karena tak berhasil mendapatkan pita merah untuk mengikat rambut putrinya. Padahal pita itu  demikian diimpi-impikan sang putri, sampai-sampai membawanya dalam doa sebelum tidur.
Lalu saya membayangkan, berapa banyak ayah di Sumatera Barat, yang tak sempat membelikan 'Scarlet Ribbons' buat putri mereka, baik karena gempa telah membawa si buah hati, atau justru telah merenggut nyawa sang ayah?

Scarlet Ribbons

I peeked in to say goodnight
And then I heard my child in prayer
“Send for me some scarlet ribbons
Scarlet ribbons for my hair.”

All the stores were locked and shuttered
All the streets were dark and bare
In our town no scarlet ribbons
No scarlet ribbons for her hair.

Through the night my heart was aching
Just before the dawn was breaking.
I peeked in and on her bed
In gay profusion laying there
Scarlet ribbons, scarlet ribbons 
Pretty scarlet ribbons for her hair.

If I live to be a hundred
I will never know from where
Came those lovely scarlet ribbons
Scarlet ribbons for her hair...


Lagu Scarlet Ribbons adalah lagu yang optimistik. Selalu ada jalan untuk mendapatkan 'scarlet  ribbons' buat mereka yang terkasih. Dan, di tengah
kebingungan saya oleh bencana demi bencana di Tanah Air, saya cuma bisa memberi penghiburan yang klasik. 'Besok selalu ada harapan.' 
(selesai)
Sumber Foto:
Foto1: www.bintangsatria.files.wordpress.com
Foto2:www.riniwidyasari.files.wordpress.com
Foto3:www.imagecows.com/uploads/3a4f-gempa-sumatra-girl.gif